Over Power

Over Power
Kembali bersekolah



Teruntuk kaum Adam, kita tidak akan bisa disebut pria sejati jika seandainya membiarkan nan Hawa tersakiti, kita tidak akan di sebut laki jika kau lari dari kenyataan. Semangat berjuang, semangat beraksi.


Over Power


_____________________


"Plak." Meja dipukul.


Sosok itu kembali menjadi hal yang menjengkelkan untuk dilihat, 4 siswa tengah tertunduk karena kegarangan seorang Bu Kepsek yang menekan wajah sampai ke titik alas kaki.


"Di kasih libur malah tidak belajar klen, klen tau tidak lama lagi perlombaannya bakal dimulai, bikin pusing aja," gerutu Bu Kepsek pengen nampol satu-satu.


Klak, pintu terbuka. Pria tampan itu masuk kedalam barisan aleknya Bu Kepsek. "Maaf Bu aku terlambat."


"Sean, sebagai hukuman kamu aku kasih tanggung jawab untuk memenangkan kejuaraan ilmu pengetahuan nanti, paham?" Membusungkan dagu dengan melebarkan mata. Jadikan bulu kuduk merembes.


"Ta-tapi Bu..." Sean tergelincir lidah, karena ada suara guntur yang menyambar secara tiba-tiba.


"Pahaaaam!!!." Matanya makin parah jadi terbelalak gede, gerahamnya serasa akan menerkam.


"Baik Bu, oke sa-saya mengerti." Dengan terpaksa Sean menerima tanggung jawab itu.


"Sekarang kalian fokus belajar di taman sekolah tak usah masuk kelas, kalau klen berani tidak ada di gazebo taman sekolah pas waktu masuk kelas"-mencubit telinga satu-satu-"bakalan lebih parah dari ini."


"Yes Bu."(Serentak)


°°°



Gazebo desain Rotundas.


Ditengah taman belajar sekolah ada yang namanya gazebo, seperti pondok namun itu lebih terbangun rapi enak untuk beristirahat di sana serta bentuk yang lebih dinamis dan efisien. Berbagai macam bunga dan hal-hal yang menyenangkan mata mengitari gazebo, fresh untuk dijadikan tempat memahami ilmu. Para siswa teladan biasanya jadikan deretan kompleks gazebo sekolah ini sebagai salah satu tempat referensi belajar setelah perpustakaan.


"Ayo, perkenalkan diri kalian masing-masing." Sean memulai percakapan dengan para adik kelas yang sama sekali belum dikenal.


"Salken senpai, aku Boby dari kelas 2A siap menerima instruksi darimu." Memperkenalkan diri jadi yang pertama, orang ini bertubuh gemuk suka makan. Namun jangan menilai dari sampul, Boby ini juara umum di almamaternya.


"Saya-saya, ehem ... nama aike Lossui Ester. panggil aike Ester senpuaaai. Muah ganteng deh senpai." Sungguh ini lebih tak boleh melihat dari sampul, badannya bontot gede seperti orang dewasa. Tapi jiwa yang bertolak belakang. Reinkarnasi Lucinta Luna.


"Namaku Oval Yabai, salam kenal 'zzzzzz'." Tubuhnya kecil dan pendiam plus suka tidur.


Terakhir pemuda yang disiplin dengan alis runcing ia langsung berdiri dari duduknya dan memberi hormat dengan tegas. "Kakak, namaku Leeh Kang Mu. Panggil aku Kanmu."


Sean heran dengan juniornya ini, kenapa lama sekali ruku' memberi hormat, emang beda dari yang lain nih sifatnya. Tidak ingin menghilangkan wibawa Sean menyuruh anak itu untuk duduk.


"Sudah-sudah, ehem-ehem." Sok beribawa. "Jadi ..."- terhenti karena menatap mata mereka yang berbinar mendapati firasat aneh-"jadi ..." Wajah mereka semakin dekat menunggu lidah Sean bergerak. "Ada apa sih bocah-bocah ini," gumamnya kesal.


"Senpai apa misi kita dari U.H.P?" ceplos Kanmu karena kepolosan, hal ini lantas langsung memberikan berita petir yang tidak terduga bagi Sean.


"Eeeeeh, apa-apaan ini kenapa mereka tahu dengan U.H.P apa hubungan mereka berempat?" hati Sean berkecambung dalam kegusaran. "Tiba-tiba bilang seperti itu."


Boby mengangkat tangan. "Maafkan kelancanganku, kakak senior kami berempat sebenarnya adalah anak didik Master Jin, sekarang Master ingin kami mengikutimu."


"Apa? Boss Jin, me-mereka adalah murid Boss." Gigi Sean bergetar setelah mendengar penjelasan Boby.


"Muaaaah, iya Senpai tampan. Saranghe," ujar Ester Aike si bencong bikin rusak suasana


"Blueeeek." Melihat Ester Sean mau muntah jadinya.


Memutar otak Sean merencanakan hal yang ganjil dari keinginan Bu Kepsek. "Aha, apa smartphone kalian?"


Kanmu dan tiga lainnya mengangkat smartphone mereka setelah menggarap dari saku celana. "X1 dong"


"Siiip misi kita kali ini jadi juara PUBG, let's go."


"Siaaaap Senpai," seru mereka bersemangat dengan serentak.


Seronoknya mereka main bareng sudah berjam-jam, bahkan sekarang hampir waktunya untuk pulang Sekolah, menghiraukan perintah dari Bu Kepsek. Apa jadinya nanti ya?


"Senpai aku mendengar suara langkah Bu Kepsek mengarah kesini," ucap Boby dengan kemampuan pendengarannya yang tajam.


"Bagus Boby, semua hitungan ketiga ambil posisi, 1 ... 2 ... 3!!"


Sosok manusia garang yang jelas dapat dikenali langsung dari raut muka muncul dari tepian jalan taman Sekolah masuk kedalam kompleks gazebo. Pemandangan setingan dari mereka berlima terlihat tengah rajin membolak-balikkan halaman buku.


"Sekarang kalian boleh pulang." Perintah Bu Kepsek pada murid teladannya yang sudah ia anggap sangat pintar.


Jeli telinga Bu Kepsek bergerak-gerak dan paham. "Sean menghadap kesini dengan arah sudut 90°, sudah?"


Dengan taat Sean mengira-ngira. "Sudah Bu."


"Mundur sepuluh langkah."


Sean pun melangkah. "Sudah Bu"


"Loncat kebelakang,"


"Beneran nih Bu?"


"Loncat!!!" Bagaikan mengaung.


Jubuuuur. Percikan air kolam muncrat keatas, kolam itu memang sudah standby disana dengan air yang jernih untuk memberikan pemandangan indah maksimal.


"Uaaaah, ha .. ha ... ha." Sean keluar dari kolam itu dengan nafas tersengal-sengal mencari oksigen.


"Kalian berempat ambil posisi push up." Perintah mutlak seorang Bu Kepsek.


"Siap Bu." Dengan taat mereka mengambil posisi.


"Tidak ada yang beranjak sebelum aku perintahkan berhenti." Bu Kepsek mendekati Ester. "Sini berikan smartphone-nya."


Ester pun yang sebagai biang kerok gagalnya rencana dengan tangan bergetar menyerahkan smartphone X1 miliknya.


"Sero lo mah (seru juga nih)" Bu Kepsek pun terbuai tiduran di gazebo melanjutkan permainan. Hingga dialah yang membuat squad Sean jadi juara turnamen.


Sepulang sekolah


Alis Sean jadi berkerut, mendapati dirinya diikuti oleh mereka berempat. lorong demi lorong jalan dilewati namun masih belum berpisah. "Kenapa nih bocah-bocah ngikutin gua mulu."


Sean pun mengambil ancang-ancang berlari secepat yang dia bisa, setelah jauh berlari


sampai ketempat tujuannya yaitu rumah. Hasilnya nihil saat pintu itu ia buka, nampak lah mereka berempat sudah menunggu duduk santai didalam rumah.


"Kampret nih pada bocah-bocah," gumamnya kesal menutup pintu dengan keras.


Sean pun menghiraukan langsung masuk ke dalam kamar mengganti pakaiannya yang basah. Setelah selesai drinya kembali ke ruang tamu duduk di kursi yang ia bawa dengan melipat tangan Sean mengambil sikap wajah serius.


"Segitunya kalian menunggu misi dariku?" tanya Sean dengan nada berat.


(Manganggukkan kepala)


"Baiklah sekarang aku menginginkan dimana keberadaan Yuning adikku, setelah terjadinya insiden waktu itu." Pinta Sean berposisikan mata yang tajam.


"Siap laksanakan." Kanmu memberi hormat.


"Aku tidak memaksa kalian, dan ingat jangan sampai karena menjalankan misi kalian terlambat ke sekolah, oke."


"Oshhh" (Serentak)


Oval yang tadinya tidur membuka mata. "Gate start." Sebuah lubang dimensi terbuka dari tangannya yang ia garis melingkar di udara.


Mereka pun masuk ke dalam lubang dimensi itu setelah memberi hormat perpisahan.


Wooof, menghilang seketika.


"Pantesan mereka cepat banget, tiba-tiba sudah ada di dalam rumah." Keringat dingin Sean karena malu. "Kalau tau dia bisa seperti itu aku nggak bakalan pulang dengan jalan kaki."


Smartphone Sean tiba-tiba berdering dengan nada musik "Fire", terpampang di layar itu nama Bos Jin. Tanpa membuang waktu Sean menerima panggilan itu.


"Halo Kak, apa kabar?" ucap Sean mengawali penggilan.


"Apa mereka berempat sudah kau beri perintah?" tanya Jin langsung pada poin topik pembicaraan.


"Sudah Kak, aku menyuruh mereka untuk mencari keberadaan adikku." Sean menjawab dengan ekspresi yang jujur.


"Baiklah itu hal yang bisa aku bantu untukmu saat ini 'tuth'." Jin mematikan panggilan setelah mengatakan hal itu.


"Ayo apa yang bisa aku lakukan saat ini." Tekad Sean dengan keyakinan dan percaya bahwa Yuning pasti bisa ditemukan kembali.


To be continued