
Berkilau di tengah kegelapan, mulia indah cantik berseri bentuk dari batu itu pancarkan hawa kehidupan yang sangat kental, Asyura saking senangnya melihat rupa batu itu buat ia sangat begitu bahagia. Matanya meleleh akan segera mengambil.
"Tidak akan aku biarkan kau mendapatkan batu ini."
Masalahnya datang Jin menghalangi upaya Asyura mengambil batu itu dengan mulus.
"Hahaha, baiklah kau ingin mati rupanya," sahut Asyura yang berada sepuluh meter mengawang dari tanah.
"Majulah ..." tantang Jin menggerakkan telunjuk bentuk provokasi aktif. Asyura yang mudah emosian menyerang tanpa basa-basi.
Beradu kekuatan antara Asyura dan Jin goncangkan daratan Busan yang sudah menjadi tanah datar. Saat pukulan petir Asyura itu melesat bertemu dengan tangan sebelah kiri Jin hal yang janggal pun terjadi.
" ... "
Hilang, petir itu lenyap tidak melukai Jin.
"Aku paling benci skillmu ini Jin, skill taik sedunia. *Eraser hand."
Eraser hand* adalah salah satu skill yang paling di takuti di pertarungan. Memang namanya sangat sepele tapi punya fungsi yang sangat spesial fungsi tanpa batas. Menghapus segala macam sihir, skill apa pun itu atas nama abnormal meterial jika tersentuh oleh nya maka akan lenyap.
Itu tangan kiri sedangkan tangan kanan Jin seperti yang sudah kita ketahui dapat melihat ingatan seseorang jika menyentuh kepala target, dan di lain fungsi itu juga ada yang namanya skill reflect direction.
Dua lengan super inilah hantarkan nama Jin sebagai salah satu pemuda paling berbakat di U.H.P dengan torehan pencapaian yang begitu sangat banyak. The golden genius.
*
Berwajah masam Asyura tetap menyerang bertubi-tubi, namun sama sekali tidak berefek pada Jin karena setiap kali pukulan Asyura tertangkis tangan kirinya lantas petir yang menyengat itu lenyap tak bersisa dan tak menyakiti sedikitpun.
"Gah, gah, gah." Meninju dengan keras kepala. Asyura di perlakukan seperti anak kecil dengan kekuatannya yang sama sekali tidak berfungsi di hadapan Jin.
"Kau bisa membunuhku. Bunuh aku!! Kenapa kau sama sekali tidak menyerangku. Wajah mu itu muak aku melihatnya. Wajah berbelas kasihmu itu!!!"
Teriak depresi Asyura tergeletak tidur di hadapan Jin dengan nada paru-parunya yang sudah sulit memompa karena terlalu lelah apalagi mananya juga sudah terkuras banyak.
"Aku tidak ingin menyerang apalagi membunuh orang yang sudah aku anggap teman." Jin menatap dengan tatapan sedih pada Asyura.
"Maafkan aku Asyura, bukan aku yang sudah membunuh Karin percayalah padaku."
Asyura pun tersenyum.
CRIKKK!!!
Mata Jin kaku dengan kejutan perutnya tiba-tiba tertembus oleh pisau petir Asyura lewat punggung, bisa kita sebut itu adalah serangan seorang pengecut atau ngebokong baru menang. Serangan yang tiba-tiba datang dari belakang dan tidak dapat disadari oleh Jin.
Asyura yang ada di hadapannya hanyalah bayangan tiruan yang perlahan menghilang.
"Gah." Darah merah kental menyembur dari mulut Jin.
"Seperti biasa sifat mu tidak pernah berubah Jin. Kau naif ... kau sangat bodoh," ucap Asyura mempermainkan nyawa. Alis, raut wajah semuanya dari muka orang ini bergetar karena kegirangan. Melihat Jin tergolek dengan nafas tersengal-sengal di atas tanah.
"Hahahahaha." Tawa bahagia Asyura merasa dendam selama ini telah berakhir. Ia merasa tidak punya beban lagi.
"Ini demi Karina, orang yang sangat kucintai."
Air mata Asyura mengalir deras di tengah dirinya terpaksa untuk senyum.
"Maafkan aku sahabat."
Asyura meninggalkan Jin yang tergeletak dengan perut berlubang. Ia berbalik arah untuk mengambil Batu Garnet yang lagi minta di ambil kerena sudah lama menunggu.
"Come to Papa."
Asyura mengutip Batu itu yang mengambang bercahaya seperti mengutip buah-buahan yang sudah matang.
TRUK!!
Sebilah pedang runcing menusuk perut Asyura yang tengah menurunkan kewaspadaannya. Pedang itu sangat tajam dan berwarna hitam. Sedangkan tepian garis ketajamannya berwarna merah.
Menoleh ke belakang.
"Sieji!!! Kenapa kau melakukan ini padaku!!"
Asyura sangat murka dengan apa yang dilakukan oleh orang yang dipanggil Sieji ini. Sosok pria dengan baju kimono tradisional Jepang terikat sarungan katana di pinggang. Ia adalah seorang Samurai.
Menarik katana itu dari perut Asyura yang sudah tertusuk dalam, mengakibatkan pendarahan berlebihan pada luka tertembus ini. Ia pun memegang perut dengan erat supaya tidak kehilangan begitu banyak darah.
Tersungkur ke tanah, mata Asyura menatap tajam pada sosok Samurai itu.
"Tugasmu sudah selesai. Lord memintaku untuk membunuhmu. Dan ini hadiah atas pencapaian yang sudah kau berikan untuk Black Demond."
Membuka kantong kain yang diikat di pinggang, sebuah kristal biru muncul dari dalamnya. Pak Samurai ini melempar kristal itu masuk ke dalam kepala Asyura.
Sekejap wajah Asyura seperti kesurupan penuh dengan kesedihan dan penyesalan yang begitu besar. Rupanya kristal itu adalah ingatan asli dari Asyura tentang kematian Karina yang sebenarnya.
Sudah terjawab kalau Jin benar-benar tidaklah pelaku yang sudah membunuh Karina dalam ingatan palsu. Pembunuh Karina yang sebenarnya adalah ayahanda Asyura sendiri Lord Black Demond cabang Korea.
Melihat Jin yang juga tergeletak di pojok itu sedang sakaratul maut. Kehampaan dan keputusasaan tambah merasuk ke dalam jiwa Asyura. Pekik keras emosinya yang bercampur aduk gempakan tanah Busan.
AAAAAAA!!!!
"Kubunuh kalian semua. *****sek. KAMPRET kalian semua walau itu Ayahku sendiri!! Si tua jelmaan Iblis itu akan aku bunuh .... ummm"
Pria samurai itu menyumbal sandal Swallow-nya masuk ke dalam mulut Asyura setengah.
"Kau hanyalah pion bagi kami tak payah jadi sampah ngerti kau," ucap dia dengan penuh gaya psikopat senang melihat orang kesakitan.
Tusukan di perut sudah semakin parah ditambah kini ia susah dalam bernafas buatnya berada di ujung kematian teramat sangat pedih.
"Hihi gua bakal dapat gaji lebih nih bawa pulang Batu Garnet."
Saat dua jarinya ingin mencuil batu mulia yang tergeletak di tanah dekat tangan Asyura.
Tiba-tiba ....
BUM! Tendangan melesat pada pergelangan tangan Pak Samurai Sieji tak berakal ini, buat dirinya mental jauh dari tubuh Asyura.
Wusssh.
Sosok itu adalah Sean.
Mengambil Batu Garnet kemudian ia membopong Asyura pindah ke tempat Jin terperungkup lemah. Setelah itu Sean membaringkan mereka berdua dengan sejajar.
Meletakkan tangan kanan di perut Asyura dan tangan kiri di perut Jin Sean melakukan pengobatan teknik tingkat tinggi keluarga Xiao.
Tidak butuh waktu lama, kedua perut sahabat ini pulih kembali dan tetap hidup dalam kondisi selamat tapi keduanya masih dalam keadaan pingsan tak sadarkan diri.
Sean kemudian berdiri dengan wajah dinginnya mengepal Batu Garnet supaya tidak dapat direbut oleh musuh dari Black Demond itu. Samurai yang sudah berdiri menjatuhkan tatapan pedas pada Sean yang saling bertemu dengan maksud menantang.
"Bocah berani juga, ya."
Pedang yang dipegang ia angkat ke atas untuk meluncurkan serangan mematikan.
Udara di sekitarnya berubah menjadi tegang.
"Pernafasan tingkat tinggi, Teknik pedang Bulan."
SING. Tebasan yang membelah udara mengarah kepada Sean. Sangat cepat sekali! Sean tak dapat menghindari serangannya, dan ruang lingkup skill itu cukup luas dan badas.
Tidak menyelamatkan diri sendiri ia malah memikirkan keselamatan orang lain. Sean merangkul baju Jin dan Asyura kemudian melempar jauh mereka berdua agar tidak terkena dampak Teknik Pedang Bulan.
"Agh."
Sebelah lengan Sean putus. Serta mendapatkan pasif dari teknik pedang bulan yang melegenda. Tubuh Sean tercabik-cabik.
Baju yang baru didapatkan kembali koyak.
"Apa aku bisa selamat?"
To be continued
_________________________