Over Power

Over Power
Broken



Kenangan dengan pakaian lama akan terlupakan dengan pakaian baru, kawan jangan jadi manusia habis manis sempah dibuang, hal yang paling menyakitkan adalah pengkhianatan.


____________


"Ini perlengkapan yang harus kalian simpan, sampai hari pelatihan mendatang," ucap wanita Prancis itu membagikan tas backpack masing-masing ke tangan para agen yang baru lulus.


"Senior kenapa harus di bulan Mei?" tanya pria berdasi yang bisa dipanggil kakak Kim atau Daud Kim


"Sesuai pertimbangan, kami memberikan keringanan untuk generasi penerus yang masih mengecap masa sekolah, tidak ada paksaan sampai kelulusan mereka, maka oleh karena itu pelatihan akan kita adakan pada bulan Mei," jelas Angelina menjawab pertanyaan Daud Kim.


"Baiklah mari ikuti saya menuju jalan keluar."


Mereka pun mengikuti Angelina, kelantai yang lebih dalam, dinding besi yang awalnya diam tidak disangka itu dapat terbelah dua dan ternyata dibalik dinding ini ada banyak kendaraan aneh berlapis baja, Angelina mengarahkan mereka pada dua mobil Jeep yang siap dikendarai.


"Saya, Daud Kim, dan Hoon Jun di Jeep ini." Mereka bertiga pun barengan masuk kedalam mobil Jeep yang berwarna putih. "Zack, Sean, dan Yoona ke Jeep sebelah."


"Siapa yang bisa mengendarai mobil?" tanya Angelina mencoba mengetahui siapa diantara mereka bertiga yang mempunyai banyak nilai manfaat.


"Aku bisa mengendarai mobil." Zack mengangkat tangan percaya diri bahwasanya ia mampu.


"Baiklah jadi kalian kali ini setidaknya tidak jadi beban bagi kami yang sudah tua ini," lurus mulut pedas Angelina.


Kedua mobil itu melaju perlahan meninggalkan tempat itu, menelusuri jalan beton yang berkelok-kelok seperti perut ular, lorongnya sangat gelap umpama terowongan tanpa cahaya.


Hingga ada lagi dinding besi yang menghalangi, namun itu lagi-lagi otomatis membelah membuka jalan.


Seribu kata tidak bisa diungkapkan. Manusia yang baru melihat ini dengan mata kepala sendiri pasti akan sangat meninggalkan kesan takjub akan teknologi U.H.P ini.


Tiba-tiba dua Jeep itu menembus kejalan yang mana itu ada di tengah-tengah danau, airnya membelah oleh lipatan besi yang terbuka memberi jalan.


Air danau masuk tapi itu tidak akan jadi penghalang jalan, melainkan hanya sebatas tepian dinding baja, karena ada penyaring yang akan membelokkan air-air mancur itu kelobang yang memutar siklus debit air.


"Hei Zack aku foto yah," girang Yoona mengambil kameranya.


"Ayo cepetan ntar kepergok kakak Angelina," ucap Zack yang lagi fokus nyetir mengikuti gerak laju mobil Jeep putih didepan.


Cekrik, cekrik.


Petikan kamera Yoona memfoto view jalan ditengah danau ini yang patut untuk diabadikan. Sean hanya terduduk diam menjomblo di belakang menatap keasyikan Zack dan Yoona bercanda di bagian depan mobil. "Mereka sepertinya lebih dari sekedar teman," bisik Sean dalam hati.


Hal ini membuat dirinya kembali galau dimana setelah melihat kejadian lalu, sosok artis top muda yang menjemput Lisa dan mencium tangannya. Sesak masih membekas. Apakah Lisa mengkhianatinya?


Diujung jalan sebrang danau bersambung ke jalan raya tengah hutan yang jarang dilewati warga, disaat mereka berhasil keluar dari jalur danau, otomatis dinding pembelah yang memberikan fasilitas jalan alternatif menutup kembali.


"Waaaw keren, hei Zack lihat! Jalan itu menghilang," sahut Yoona menunjuk kearah danau yang tampak seperti tidak ada apa-apa.


"Aku sangat bersyukur bisa bergabung," ungkap Zack dengan perasaan bahagia.


"Uhuuuuuui," teriak Yoona merentangkan tangannya sebelah keluar jendela merasakan terpaan angin kencang dengan laju Jeep yang semakin tinggi.


 


\\*


 


"Hah akhirnya bisa pulang." Sean melompat ke atas ranjangnya dengan menghela nafas panjang berharap segala lelah yang baru saja dia lewati hilang.


"Oh ya, aku penasaran dengan isi backpack yang dikasih kak Angelina." Sean pun mengambil tas backpack membukanya dan mencoba melihat isi yang ada di dalam.


Barang pertama yang dikeluarkan adalah kotak smartphone tapi sangat berbeda dengan smartphone biasa, dikotak itu saja sudah tertulis hight tegnology U.H.P versi X1. Setelah dibuka smartphone itu punya logo elang emas dipunggung, itu menandakan bahwa smartphone itu emang dirancang khusus made on perusahaan U.H.P hati Sean mulai berbunga-bunga karena harus kiss bye dengan handphone jadulnya Nokia tombol.


Ia yang masih penasaran mengeluarkan barang kedua. "Wah, ini kartu cek, dan ada surat keterangan disini," katanya sambil membaca dengan seksama.


Tertulis di surat keterangan itu, cek rekening ini bisa digunakan di semua ATM bank, dan lanjut, setiap tanggal 1 awal bulan cek ini akan diisi gaji sesuai level anggota, gaji anda untuk saat ini sepuluh ribu dolar.


Pikiran Sean mulai melayang, katakan no untuk mie instan, akhirnya ia bebas dari kantong kering. "Mau diapain yak, uangnya." Sean memikirkan hal apa yang diperlukan untuk saat ini.


"Aha, aku sangat membutuhkan pakaian."


°°°


Sean sudah berada didalam Mall terdekat, memilih pakaian yang cocok buatnya. Dirinya yang tidak mengenal fashion asal pilih saja yang penting enak dipandang, ungkap prinsipnya saat ini.


"Kamu ada disini! Kenapa tidak bilang!" Lisa menarik baju Sean yang datang secara tiba-tiba.


"Bukankah kamu lagi sibuk syuting?" tanya Sean dengan wajah yang kurang enak dipandang.


"Dan siapa itu?" tunjuk Sean ngasih skak mat bahwa ada pria bersama Lisa.


"Di-dia cuman teman syuting aku." Lisa berbicara agak kikuk.


"Tuh kan boong, jujur saja padaku." Sean dengan wajah kesal yang sudah mengambil belanjaannya langsung pergi dengan menabrak bahu pria itu.


Lisa yang merasa bersalah mengejar Sean yang sudah jauh melangkah cepat. "Sean tunggu, kamu salah sangka!" Lisa masih mengejar kendati pada akhirnya Sean lenyap begitu saja dari balik kerumunan orang.


Artis muda sukses yang terkenal ini namanya Kim Soo Hyun, langsung membuat muka geram dengan maksud tersembunyi, mendapati dirinya terabaikan oleh Lisa karena pria lain. "O jadi itu yang namanya Sean. Lihat tanggal mainnya."


Lisa masih berusaha mencari, hingga keluar Mall. Ia pun menelepon pelayannya untuk menjemput, selang beberapa saat mobil pelayannya tiba. "Tolong antar aku kearah rumah Sean." Harap cemas Lisa supaya mungkin bisa bertemu dijalan.


Hingga bertemulah Sean yang lagi berjalan di trotoar tengah menjinjing kantong belanjaan. Mobil Lisa pun menghampiri dan menghambat jalan Sean. "Tunggu Sean!" teriaknya dari mobil, dan bergegas keluar menyamperin Sean.


"Apa lagi? Benar kata Alex aku itu tidak cocok denganmu, kita berasal dari dua dunia yang berbeda. Kita jadi sahabat saja, seperti yang diridhoi Bibi." Sean melontaran kata-kata itu menghentikan langkah Lisa yang ingin mendekat.


"Tidak kamu salah paham Sean, apa kamu lupa dengan jari kelingking?" Lisa sudah bersedih air matanya menitik satu persatu, diikuti cuaca kini.


Tik, tik, tik.


Awan hitam semakin tebal, rintik hujan mulai jatuh membasahi kota Seoul, lama-kelamaan menjadi hujan yang deras. Sepertinya akhir tahun kali ini tidak akan berjalan baik.


"Sean ..." panggil Lisa sekali lagi ditengah hujan itu.


"Apa? lagian janji untuk dilanggar. Kamu sudah ciumankan dengannya," sanggah Sean memotong ucapan Lisa.


"Itu tidak benar ..." Lisa ingin menjelaskan.


"Masih mau buat alasan lihat itu!!" Sean menunjuk kelayar lebar yang terpasang di tengah distrik Gangnam, tertulis disana. "Best moments drama Minggu ini." Kemudian dalam tunjukan Sean itu ada tayangan Lisa dan pria itu yang kebetulan diputar.


Jegeeeer.


Kilatan petir makin merombak suasana yang sudah hancur ini. Lisa terdiam kaku dan tak bisa berkata apa-apa. Badai akhir tahun sekarang memang beda dari akhir tahun biasanya sebelum musim dingin akan tiba.


Sean membalikkan punggung, menatap Lisa dengan perasaan yang kecewa. "Lisa akulah yang naif maafkan aku, dari awal kita memanglah tidak akan bisa bersama," ucap Sean melangkah pergi, dengan badan yang sudah basah kuyup.


Lisa sangat menyesal atas semua ini, dan kenapa jalan cerita yang ia perani harus berciuman, itu terjadi sangat tiba-tiba, sekarang dirinya sungguh berada pada rasa bersalah yang amat besar selama hidupnya.


Hancur ....


To be continued