Over Power

Over Power
Xiao Sean



Di bandara yang kosong itu sosok pria bersamurai panjang berdiri mengayun-ayunkan senjatanya sambil bercakap sombong.


"Cuma segini ya kekuatan China, lebih seru saya bertarung di Korea, untung aja sih di sini tidak ada pria jones itu."


Yang satunya lagi bertampang penyihir berjalan mendekati rekan kerjanya sambil tersenyum jelek.


"Aduh, kok cuma segini doang sih."


Ingat ketika kau melambung tinggi jatuhnya pasti sangat sakit.


KRAK!


Tanda-tanda retakan menyebar ke seluruh pijakan mereka berdua, mengelilingi lalu kemudian membuat sebuah bentuk segel aneh yang langsung membungkam ucapan barusan.


"Hei apa ini!!!" Mereka berdua sudah terjerat kaku di jaring segel aneh.


Prok, prok, prok.


"Jangan mudah meremehkan orang lain ya, dasar brandal-brandal tua."


Cha Yong muncul di balik pintu toilet sambil megang tisu, tersenyum keren seperti hero yang datang terlambat untuk menyelesaikan kejahatan sekali gerakan.


"Siapa bilang kami mudah diurus." Xiu Min mendekap bahu Cha Yong.


"Hahahaha, dasar kalian pria tua bangka." Cha Yong tertawa terbahak-bahak tak sadar dengan kondisinya.


Melihat dia yang tidak tahu malu, Xiu Min membisik ke telinga Cha Yong. "Oi, pake celanamu bodoh."


"Pufffft."


Seiji dan Steve yang lagi tersekat jaring segel terpaksa menahan tawa mereka, melihat wajah malunya Cha Yong berlari masuk kembali ke toilet.


"Hoi, apa yang kalian tertawakan." Xiu Min kurang senang dengan sikap mereka berdua.


Perlahan mayat-mayat agen yang terbantai oleh samurai Seiji sirna bagaikan hologram yang sedang dinonaktifkan. Wajah Seiji keriput merasa terhina.


"Haiss, enak ya kena tipu. Ini adalah kemampuanku halusinasi, gimana keren tidak." Xiu Min tertawa mengejek sambil acungin jempol ke arah cctv.


"Wah dia selalu membuatku terkejut." Fei tersenyum lega setelah mual tak tertahankan melihat hal kejam tadi.


"Mmm, baiklah cepat bergerak ini masih permulaan." Xiao Chen berbicara lewat mikrofon perekam yang langsung terkirim ke headset Xiu Min.


Xiu Min yang mendengar perintah langsung tanggap, ia memberi aba-aba kepada para agen UHP asli bukan halusinasi yang sudah menunggu di balik persembunyian penyergapan mereka.


"Pakai borgol khusus kita," sahut Xiu Min kepada bawahannya.


"Siap komandan."


Borgol yang sedang memborgol kedua tangan mereka berdua adalah borgol teknologi UHP terbaru, terkhusus untuk seluruh cabang dunia. Fungsinya dapat menonaktifkan mereka yang terborgol untuk tidak dapat lagi menggunakan mana atau semacamnya, sehingga tersangka tak dapat berkutik yang efek sampingnya adalah tubuh jadi lemas lemah.


Sean tersenyum di truk es krim itu. Ia sangat kagum dengan cara kerja UHP yang baru di pragakan. Tidak ada korban jiwa maupun kerugian dari kedua belah pihak.


"Waw, keren banget Paman." Sean menatap wajah Xiao Chen penuh rasa bangga.


Sedang Xiao Chen sekarang tengah fokus memikirkan sesuatu tak sadar kalo keponakannya lagi menatap kagum dirinya.


*


Lamborghini Xiao Chen kembali menancap kencang di jalanan lalu lintas kota Beijing.


"Sean terimakasih hari ini sudah memberikan aku informasi untuk segera menangkap kedua orang itu, kalo terlambat apa jadinya jika mereka berdua bisa kabur." Xiao Chen tersenyum ke arah Sean sambil mengemudi.


"Paman aku tahu apa tujuan mereka datang ke tempat ini, itu tak lain karena pasti untuk sebuah batu." Sean berucap kata dengan nada serius.


Xiao Chen yang agak cenderung suka mendengarkan informasi misteri seperti ini langsung menurunkan kecepatan Lamborghini jadi kecepatan standar.


"Ha, apa maksudmu dengan sebuah batu?"


Sean pun menceritakan kejadian tentang apa yang terjadi satu setengah bulan yang lalu saat hancurnya kota Busan. Alasan kenapa Black Demond menyerang kota. Lalu dia berasumsi kalo apa yang menimpa pasar juga adalah hal yang sama.


"Jadi begitu yah, masuk akal." Xiao Chen mengelus-elus dagu.


"Kamu sudah membantuku keponakanku, dan kini aku akan memberikan kamu hadiah, bahagailah untuk hari ini, karena aku tahu kenapa kamu mau datang jauh-jauh ke China."


Sean merasakan ada sesuatu yang disembunyikan paman darinya selama ini.


"Apa maksud paman?"


Xiao Chen tersenyum beraroma misterius. "Kau lihat saja nanti."


Malam hari dikediaman klan Xiao.


"Apa cucuku yang laki-laki akan datang hari ini?" Seorang kakek tua beruban tapi masih berbadan kekar duduk di kursi paling tinggi di antara kursi petinggi keluarga raksasa China.


"Benar tuanku." Salah satu anggota keluarga Xiao menunduk dihadapannya.


"Baiklah, aku sangat ingin melihatnya sejak sekian lama tak bertemu, jadi tolong kalian persiapkan." Mata Kakek kekar itu mulai berlinang air mata.


"Kami mematuhi." Hormat para petinggi dan seluruh anggota keluarga yang mendengarkan.


Tak lama kemudian sebuah mobil Lamborghini merah datang memarkir di luar pintu gerbang tanah kediaman Xiao yang agung. Hari ini pukul delapan malam dengan kelap-kelip lampu kunang menghiasi gerbang masuk itu. Langit gelap menjadi cerah, ditemani suasana bersahabat jutaan bintang nampak jelas.


Semua anggota keluarga Xiao antusias menyambut, mereka sudah berbaris di balik gerbang masuk, tak sabar hendak melihat bagaimana rupa dari cucu tetua agung yang mereka hormati.


"Apa dia terlihat seperti oppa-oppa Korea?" bisik salah satu gadis pada temannya.


"Kuharap seperti Chanyeol, atau Kim Tae Hyun." Memegang pipi malu.


"Haiss, mana ada palingan jelek tuh. Cupu," sindir salah satu dari mereka.


"Emangnya kamu sudah ketemu sama dia," tantang tak sependapat.


"Mau buat taruhan?" Ia membesarkan matanya, agak sombong.


"Hooo, baiklah. Kalau tidak sesuai dengan ejekan kamu tadi, kamu jadi tumbal kami ya, kamu harus minta nomornya."


"OK, siapa takut. Kalo aku menang kalian semua nih panggil aku kakak." Taruhan pun terjadi, satu banding lima puluh.


Srek-srek. Suara tapak kaki dua orang pria mendekati pintu gerbang. Hati mereka para anggota keluarga Xiao sudah pada gregetan, terutama para gadis yang bertaruh untuk melihat sosok yang jadi buah bibir selama bertahun-tahun lamanya.


SREEEET. Gerbang terbuka.


Xiao Chen nampak berjalan masuk terlebih dahulu, di susul Sean. Sean yang melihat adanya sekumpulan banyak orang di gerbang masuk jadi agak canggung kenapa semuanya terlihat diam saja seperti mematung.


"Ini adalah teknik dari salah satu pamanmu, hebat bukan. Kau tahu kamu itu terlalu tampan bisa jadi masalah nantinya bila ini nggak di hentikan."


Ruang Tetua.


Para tetua sudah duduk rapi di kursi mereka masing-masing sedangkan Sean berdiri hormat pada kakeknya yang duduk di kursi paling tinggi dan bermartabat sebagai penatua agung.


Xiao Chen berdiri di sudut pintu masuk ruangan itu, juga bersama saudara-saudara yang sepantaran umur dengannya.


"Sudah lama aku sangat merindukanmu cucuku, kamu sudah diterima di sini sebagai tuan muda, jadi jangan sungkan lagi untuk datang kesini." Kakek Sean berbicara penuh duka.


"Apa maksud anda tetua, menjadikan dia sebagai tuan muda agung keluarga Xiao harus punya kualitas dan kualifikasi. Kulihat dia pasti tidak bisa pernafasan kehidupan warisan keluarga seperti anak-anak kita seumuran dengannya."


Sean berdiri diam, hanya mendengarkan. Kelihatannya salah satu petinggi yang membantah ini tidak suka dengan kehadiran Sean.


"Cucuku, apa kamu belum bisa menguasai teknik pernafasan kehidupan?" Kakek Sean bertanya dengan nada lembut.


"Kakek, Sean sudah bisa," ucap Sean berlutut padanya.


"Buktikan, jangan hanya sekedar omong kosong belaka orang luar," cela si petinggi berwajah masam itu.


"Baiklah kalau itu maumu, berikan aku sebilah pedang."


Salah satu anggota keluarga mengambil pedang yang bersarung di pinggangnya, memberikan pedang itu ke tangan Sean.


"Pakai pedang ini untuk memotong tanganku," ujar Sean menolak pemberiannya.


"Apa benar nak," ucap paman itu terlihat ragu-ragu dengan kemampuan Sean.


"Hei, bocah. Mana mungkin kamu sudah bisa setingkat itu. Aku saja yang sudah berlatih selama puluhan tahun belum mencapai teknik tingkat tinggi seperti regenerasi total." Pria tua itu meremehkan.


"Kecuali kamu seperti Xiao Bai tuan muda agung, kebanggaan keluarga ini di generasi sekarang cucuku. Bakat Emas yang sebanding dengan Xiao Chen saat muda." Pria tua itu masih ngoceh.


"Sudahlah, semuanya berdiri kita saksikan apa yang bisa dilakukan cucuku." Kakek Sean menimpali dan berterus terang.


"Lakukan apa yang diinginkannya."


"Baik tuanku," ujar paman yang megang pedang, hendak memotong tangan kiri Sean.


Pedang itu bergerak cepat memisahkan lengan Sean yang merentang pasrah.


****, darah muncrat dimana-mana.


Sean tersenyum, seperti tidak merasakan apa-apa, "Teknik pernafasan kehidupan tingkat tinggi." Saat ia menarik nafas dalam-dalam, asap mengepul langsung dari bekas sayatan membuat terkejut para petinggi klan Xiao dan paman-paman yang menyaksikan.


Perlahan tangan kirinya beregenerasi sendiri memulihkan dari fase bayi hingga menyesuaikan dengan ukuran tangan kanannya, dan tak lama kemudian tangan kiri barunya tumbuh sehat kembali seperti tidak terjadi apa-apa.


"Tidak mungkin."


Si Kakek tua sombong yang menentang kedatangan Sean terperincit terduduk, tidak menyangka bahwa Sean sudah dapat melebihi kemampuannya.


"Xiao Chen, kapan kamu baru bisa menggunakan teknik pernafasan kehidupan regenerasi total?" tanya Kakek Sean ingin pamer sedikit.


"25 tuanku."


Pernyataan Xiao Chen barusan semakin menggemparkan keluarga Xiao. Sean adalah penerus terbaik keluarga yang tak terbantahkan saat ini.


"Cucuku, berapa umurmu sekarang?"


"18, Kek." Sean tersenyum menang.


Mendengar ucapan Sean, para petinggi selain pria tua berwajah masam merasa sangat bahagia, tidak menyangka berlian keluarga yang muncul sekali seribu tahun kini telah datang dihadapan mereka.


"Luar biasa, cucu anda Tetua agung." Sorak mereka.


"Mulai saat ini, kamu adalah penyandang marga Xiao, siapapun yang melawanmu berarti dia melawan keluarga ini."


Pak tua yang membantah tadi melarikan diri saja ia keluar dari ruangan Tetua dengan perasaan malu.


To be continued