
Hari ini hari yang lumayan cerah dan bersahabat, pimpinan Akademi berkoar-koar menyampaikan pidato seperti biasanya setiap Senin dan Kamis, dan hari ini adalah hari Kamis. Barisan murid Akademi tersusun rapi mendengarkan beberapa petuah bijak dari pimpinan.
"Tuan muda lihat, itu dia target kita," tunjuk anak buah Fei Zen di balik lautan manusia, mereka berdua pandai mencari tempat yang susah diperhatikan guru.
"Jadi itu yang namanya Sean, sebentar lagi tidak akan ada hari untukmu tersenyum." Fei Zen menatap sinis ke arah Sean yang berdiri tak jauh darinya.
"Bui, laksanakan sesuai rencana," bisik Fei Zen ke telinga anak buahnya itu, sembari mengelus-elus kepala botaknya. Imut kepala botak Bui sedikit ada rasa untuk Fei Zen mengigitnya, tapi ia menahan hasrat itu dengan memberikan kecupan hangat di ubun-ubun.
"Ok bos, tak sabar aku menghajar bocah itu," sok gayanya merasa lebih kuat dari target.
"Lihat aja kau ikemen," senyum sembong baby face bernama Bui dengan rambut botaknya.
*
Berpisah bagai ribuan semut menyebar ke segala penjuru Akademi, para siswa-siswi kembali ke kelas mereka masing-masing setelah mengikuti apel pagi yang dijadwalkan oleh pihak sekolah.
Sean masuk ke kelas Giok Biru dengan ransel merahnya, duduk sendirian di bagian paling pojok kanan bersebelahan sama jendela bening dan transparan sehingga cahaya mentari dapat menembus kelas memberikan penerangan cukup untuk kesehatan mata ketika menjalani proses belajar mengajar.
Kriiiiiing, bel istirahat berbunyi.
Sean yang terbiasa menyendiri di kelas keluar dari kelas Giok Biru dengan tatapan kosong sembari mengecek poin hasil pencapaian yang berhasil ia dapatkan dari berbagai misi yang dituntaskan.
"Umm, syukurlah aku sudah bisa makan di kantin sekarang, terima kasih Xin yu," bicara sendiri sambil tersenyum. Langkahnya cepat meninggalkan kelas Giok Biru.
Mengendap-endap di lorong jalan kelas Giok Biru Bui beserta kawan-kawannya mulai menjalankan aksi rencana mereka yang telah dirancang secara mendadak.
"Sssss, kayaknya kelas ini udah kosong ayo."
Mereka berjumlah tiga orang bergencar mempercepat gerakan mereka dalam perasaan was-was serta mengira-ngira mana ya tasnya Sean.
"Aha, kalau tidak salah ini deh tas anak itu berwarna merah, Bro masukkan itu ke dalam sana," tunjuk Bui yakin dengan apa yang ia terka.
"Apa benar ini tasnya Bui?" ragu kawan berbadan cungkring, masih belum yakin dengan apa yang dimaksud Bui asisten kursi kedua Fei Zen.
Keplak, Bui menampol kepala si cungkring itu.
"Aduh santai bro." Si cungkring mengaduh kesakitan ia terjatuh hingga menyenggol kawan di samping.
"Kamu meragukan saya ya, aku Bui asisten kursi kedua Fei Zen yang bermartabat Raja di Akademi IU, masih tak percaya dengan apa yang aku katakan, cepat masukin ke dalam sana budek," paksa Bui dengan bertingkah laku tinggi hati dengan status yang begitu.
"Kalo salah aku nggak mau tanggung jawab ya," sungut bibir tebalnya membuka tas tak bersalah kemudian memasukkan dompet seseorang ke dalamnya.
"Okey, mari kita lihat apa yang akan terjadi."
Ligat ketiga orang itu meninggalkan kelas Giok Biru secara tergesa-gesa tanpa menoleh sedikitpun.
Setelah bel berbunyi lagi dalam lima belas menit, para siswa berbondong kembali masuk ke kelas masing-masing.
Di kelas Bintang yang terkenal sebagai kelas super elit, Bui dan Fei Zen tengah bercengkrama panas di bangku mereka yang bersebelahan.
"Gimana, udah kamu lakukan tugas yang aku amanahkan padamu?" santai gaya Fei Zen membersihkan kuku-kuku tangannya dengan menggunakan alat khusus pembersih kuku yang di beli di zona pasar.
Tata krama Fei Zen kayaknya agak kena soalnya kedua kakinya naik ke atas meja tanpa ada rasa malu dilihat tak baik oleh banyak orang.
"Beres boss, aman." Bui mengedipkan mata.
"Baiklah kalau begitu, sebentar lagi Akademi akan berguncang, haha," senyum licik Fei Zen melempar alat pembersih kuku ke arah tong sampah dan tepat masuk ke dalam keranjang itu dengan bersih.
"Bai, sumbat kapas ini ke telinga kamu." Fei Zen memberikan sebungkus kantong berisi kapas ke Bai yang setia padanya.
"Terima kasih Bos Fei," ucapnya sambil memasangkan kapas di kedua telinganya, begitu pula Fei Zen memasangkan kapas ke kedua telinganya.
Selang beberapa saat tiba-tiba sekolah diguncang oleh suara dahsyat super keras membuat seluruh kawasan seperti dilanda gempa.
"Aaaaaaaa!!!" Gelombang dahsyat menggeleger.
"Kyaaa!!!!!! Dompet ku!!!!!"
Suara gadis itu memiliki frekuensi yang mematikan, apakah ini skill tingkat tinggi yang dimilikinya sebagai salah satu manusia yang dapat menggunakan kekuatan super.
"Ada apa ini,"cemas para siswa dan siswi menutup kedua telinganya tak sanggup mendengarkan suara itu, gendang serasa mau pecah.
Ada yang kejang, tersungkur, pingsan, dan bahkan telinga yang sensitif pun jadi tersiksa mengeluarkan darah, ironisnya itu semua hanya karena frekuensi suara dahsyat dalam sepuluh detik dari seorang gadis, tapi untungnya tidak sampai menimbulkan korban jiwa.
"Astaga kenapa adik?" Xin yu berlari ke kelas Bintang 1 yang mana tidak jauh letaknya dengan kelas Bintang 3 kelas Xin yu, penuh khawatir Xin yu menghampiri kemudian memeluk tubuh gadis itu yang berdiri di tengah teman sekelas yang sudah pingsan merata.
"Kakak, dompetku hilang, hiks-hiks," air matanya membanjiri pipinya.
Penuh kasih sayang Xin yu menyeka pipi adiknya menggunakan sapu tangan yang selalu di bawanya kamana pun ia pergi, dan sapu tangan itu pulalah ia pernah menyeka bekas sisa makan Sean di bibirnya pada waktu itu yang mana telah menjadi kenangan indah baginya hingga saat ini.
"Tenang-tenang ya, kita akan menemukan dompetnya," upaya Xin yu menenangkan adiknya supaya tidak terjadi gelombang kedua.
"Benarkah?" Adik Xin yu bersungut-sungut masih dalam kesedihan mendalam.
"Kakak janji." Xin yu menyakinkan bahwa dia pasti dapat menemukan dompet tersebut.
Tak lama kemudian maka datanglah dengan bergerombol para pasukan keamanan Akademi menghampiri kelas itu dengan berbaris rapi sembari memberi hormat.
"Cari dompet adikku sampai ketemu!" Perintah Xin yu kepada mereka.
"Hei, ngomong-ngomong aku bisa kasih saran kamu buat menemukan dompet adikmu tuan putri Zhang," nimbrung secara mendadak si Fei Zen hadir di kelas itu berlagak bisa diandalkan dalam ekspedisi pencarian dompet adik Xin yu.
"Kalau begitu apa saran darimu?"
"Cukup geledah semua ransel murid yang ada di Akademi IU ini, apa kamu tidak ingat kalau sekolah kita baru kedatangan tamu keluarga miskin yang tidak bermarga bangsawan, maka coba kita persempit pencarian di kelas yang mereka tempati." Fei Zen berhasil mengatakan kata-kata itu dengan berakting mulus sebagai orang yang dapat diandalkan dalam menyelesaikan suatu masalah rumit.
Masuk akal, sehingga Xin yu menerima saran dari Fei Zen tanpa pikir panjang lagi dia memerintahkan semua pihak keamanan Akademi untuk menggeledah ransel di setiap kelas yang dicurigai.
"Periksa semua ransel murid-murid itu, mau tidak mau dompet itu harus dapat kalian temukan hari ini," tegas Xin yu kepada kesatuan petugas keamanan yang dikumpulkan.
"Baik," berpencar mulai melakukan perintah.
"Beberapa orang ikut denganku," ucap Fei Zen mengajak beberapa anggota keamanan Akademi.
"Kakak, Mei ingin ikut Kak Fei Zen menggeledah," pinta Zhang Mei-mei adik kesayangannya Xin yu.
"Baiklah kalau begitu ayo kita ikuti mereka."
Melihat rombongan yang di bawa Fei Zen di ikuti oleh kakak beradik itu, ia pun tersenyum licik sendiri di depan. "Harimau memakan umpan mereka, tuan putri akan membencimu seumur hidup tikus tanah."
Kelompok yang di bawa Fei Zen akhirnya sampai di depan kelas Giok Biru, bersama Xin yu dan Mei mengikuti dari belakang.
Masuk ke dalam kelas itu dengan menendang kursi Fei Zen terlihat angkuh. "Kasih lihat tas kalian satu-satu sampah!"
"Hai ada apa, kenapa?" ketua kelas bertanya-tanya berdiri di depan Fei Zen.
"Minggir kau." Fei Zen mendorong tubuh wanita itu dengan kencang.
"Ayo periksa tas mereka satu persatu!" perintahnya kepada para petugas keamanan.
"Kami mengerti," ujar mereka mulai menggeledah dari ransel murid Giok Biru paling depan.
Setiap mereka selesai menggeledah salah satu dari mereka pun mengatakan, "Bersih."
Xin yu terkejut ketika masuk ke dalam kelas yang kacau itu, ternyata ada Sean di antara mereka. "Sean jadi ini kelasmu," besit pikiran Xin yu akhirnya ia tahu di mana kelas Sean.
"Ada-ada aja ya sekolah ini," batin Sean setelah menyaksikan apa yang terjadi sekarang ini di kelasnya.
Wajah yang ditampilkan Sean sekarang adalah wajah yang tidak tahu apa-apa. Ia sekarang malah asyik membaca buku kuno yang tergeletak terbuka di atas meja sehingga lebih tampak mengabaikan.
"Sekarang kamu masih bisa santai, lihat saja sebentar lagi, tuan putri pasti bakal membenci kau seumur hidup." Tatap mata tajam Fei Zen ke arah Sean.
To be continued
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Fei Zen
Helo gais, sembari menunggu novel ini up coba baca novel yang tak kalah keren ini :