
Jadilah seperti bintang yang bersinar di langit, agung dipandang dari bumi yang tak akan padam. Jangan seperti asap yang naik dengan angkuh, semakin naik maka semakin hilang.
Over Power
________________________
"Siapa yang berani melukai putra Papa?" geram seorang pria bermuka masam dengan sungut tipis yang duduk di kursi putar layaknya ketua sebuah perusahaan.
"Dia anak orang yang aku bilang itu pa, buat ngejatohin sahamnya itu lho," rengek Alex pada papanya buat mencelakai Sean.
"Panggil anak asuhmu Iyori, patahkan kakinya," perintah pria itu ditujukan ke arah sosok misterius di balik pintu.
"Makasyi Papa." Alex memasang muka manja, dan sangat senang akhirnya pembalasan akan dimulai.
°°°
Di kelas 3A
Tampak para siswa sedang duduk fokus memperhatikan pelajaran yang disuguhkan oleh guru mengitari ruang kelas dari bangku ke bangku.
Zuuuub!
Pintu geser kelas mendadak terbuka, bulatan pipi dari wanita gemuk itu sangat jelas, sosok wajah pemarah bisa dilihat dari kerutan di keningnya, dia adalah kepala sekolah High School Art Seoul yang terkenal akan kedisiplinannya.
"Go Sean! menghadap ke kantorku, SEKARANG!" lontar mulutnya mengisi ruangan kelas.
"Oi ikemen habislah kau," sindir kawannya yang duduk bersebelahan dengan Sean, menampar bahunya dengan memasang wajah meledek. Dia adalah satu-satunya teman dekat bagi Sean selama ia bersekolah disini. Namanya Hyuning Kai, tampang blesteran Korea-Prancis. Yang latar belakangnya adalah seorang putra pejabat Perusahaan pengembangan dunia hiburan Korea.
"****** aku nih, doa'in abangmu biar selamat." Anggau rasa hati Sean mendapati dirinya terpanggil langsung oleh Bu kepsek.
Biasanya masalah formal Bu kepsek bakal manggil lewat mikrofon, tapi jika masalah soal siswa bermasalah Bu kepsek bakal manggil langsung ke kelas yang artinya biasa disebut hukuman neraka oleh kalangan para siswa. Tidak ada yang keluar dari pintu kantor itu dengan wajah ceria, pasti madesu.
Glum.
Jakunnya naik turun, bumi yang dipijak berasa mulai bergoncang, keringat dingin di tangan memberikan hawa kecemasan tiada banding. Ketika ingin memutar ganggang pintu kantor kepsek.
Sosok raksasa itu menatap dalam diam, suasana yang dirasakan Sean mencekam. Seperti di genre komik aksi ini disebut aura membunuh. Bu kepsek sangar banget.
"Sean, kau tau sudah berapa hari absen di kelas?" Suara masam.
"Lebih dari izin yang diberikan sekolah, bu."
Menjawab dengan tubuh bergetar.
"Bisa-bisanya kau hadir kemarin dan tidak menghadap kesini." Mata mulai membesar, dengan geraman gigi yang membengkak.
" ... " diam terpaku.
"Aku beri kau kesempatan, jika kamu bisa mendapatkan nilai sempurna pada ujian Minggu depan disetiap mata pelajaran, uang bulananmu akan dibebaskan sampai kau lulus, bisa?" Bu kepsek memberikan sebuah tantangan saran hasil ujian.
" ... " Masih mikir, terdiam ragu-ragu.
"BISAaaaaa?" Bu kepsek mulai murka.
"Bi-bisa Bu, bisa. Saya bisa." Jantung Sean terpompa kencang karena terlalu kaget.
"Kalau kamu mendapatkan hasil drop dari nilai rata-rata."-Menggesek jari telunjuk dileher-" 'krek' kamu dikeluarkan dari sekolah."
"Siap Bu." Menganggukkan kepalanya, Sean pun keluar dari ruangan itu dengan wajah lesu.
Kantin sekolah
"Hei diam-diam bae," sapa Hyuning dengan set makanan di tangannya, duduk di samping Sean yang lagi menyantap Hamburger.
"Ah, Hyuning ada apa?" tanya Sean yang lagi stres.
"Gua mau nanya, kok badan kamu bisa cepet banget sama tinggi sama gue?." balas nanya, karena masih penasaran.
"O ... gua ke gym setiap hari dan joging setiap pagi." Sean sudah mulai terbiasa dengan kebohongan menutupi rahasianya.
"Hebat banget, tapi masih tampanan gua dong," canda Hyuning menutupi percakapan untuk menghabiskan makanan yang sudah menunggu.
" Hadeh ..." (geleng kepala)
***
Matahari sudah menyingsing ke barat, memberikan biasan langit menjadi jingga. Awan-awan terlihat jelas keorenan.
Terlihat Sean dan Lisa berada di taman dekat sekolah, mereka masih mengenakan seragam dan duduk berduaan di kursi yang telah di sediakan di sana, tapi masih agak berjarak. Malu-malu seperti biasa.
"Sean kamu dari tadi kok lesu banget." Lisa mengambil inisiatif biar tidak makin canggung.
"Ooo ... jadi seperti itu. Kalau begitu kamu harus lebih giat belajar, mulai besok dan seterusnya kamu datang ke rumahku untuk belajar bareng, ok," usul Lisa memberikan harapan, mau meluangkan waktu untuk membantu Sean belajar.
"Siap Bu," canda Sean menyeletuk mulai bersemangat lagi.
"Mooo ... malu tau dibilang kayak gitu." Lisa mendorong Sean sambil tertawa.
Tampak dari kejauhan taman, mobil BMW hitam datang menghampiri sebrang jalan taman, lalu kaca jendela tengah mobil itu perlahan terbuka, maka terlihatlah Bunda Lisa melambaikan tangan menyapa mereka berdua. Melihat hal itu, mereka berdua lekas datang ke mobil tersebut.
"Bun Sean dapat masalah di sekolah jadi mulai besok dia belajar ya, ke rumah." Lisa memohon izin kepada Bunda sambil masuk kedalam.
"Ooo ... bagus dong." Jawab Bunda Lisa dengan senyum tipis di wajahnya.
"Terima kasih Bibi." Sean memberi hormat dari luar mobil.
"Sean aku duluan ya," ucap Lisa memberi dadah dari dalam mobil yang mulai melaju pergi.
Sean pun membalas dadahannya Lisa yang hilang di bawa pergi mobil. Tinggallah ia di taman itu sendiri dengan senyum diwajahnya.
Maka disaat itu Alex pun datang bersama dua orang berbadan kekar tampak terlatih dalam bertarung. Untuk membalas dendam.
"Oi masih bisa senyum kamu ya, berduaan di taman, sakitnya tuh di sini tau. Sean aku udah lama nggak suka sama kamu karena dekat banget sama Lisa. Serang dia!" Alex memberi perintah pada dua orang besar itu seperti pegulat WWE untuk memberi pelajaran.
"Ok, maju sini kalian berdua." Acung Sean meremehkan.
Duo berotot itu tidak segan lagi karena sudah terprovokasi. Tidak disadari ternyata dua orang itu adalah ahli yang punya kemampuan. Yang satu bisa mengubah badan menjadi batu dan yang satu lagi bisa merubah lengan kanannya menjadi besi.
"Tidak mungkin." Wajah Sean yang anggap remeh memudar. Levelnya masih jauh beda.
BAM!
Lengan besi menghantam leher Sean hingga terjungkal kebelakang, sakit minta ampun, kepalanya pusing terngiang-ngiang. Pria batu itu beraksi layaknya artis Smackdown badan Sean mudah di angkat dan diberi bumbu sakitnya digulat ke tanah.
"Hukh," rintih sakit menjalar.
Sean tepar dilantai taman remuk masuk kedalam tanah. Sesak berusaha untuk bernafas didalam kepulan debu yang menyelimuti badan.
"Hahahahaha, tau rasa kau ya," gelak tawa Alex melihat Sean menderita.
Sean pingsan dengan kepala luka berdarah di dasar retakan tanah itu. Kerusakan parah yang di alaminya membuat dirinya tidak berkutik lagi.
"Easy," ejek kedua manusia abnormal yang di bawa Alex.
"Nak, berdirilah kau sungguh sangat kuat."
Lagi-lagi suara itu muncul didalam pikiran Sean yang masih terbangun. Insting Sean mulai bangkit, insting petarung sejati.
"Sffffft," suara asap panas keluar dari rongga mulut Sean.
"Aku harus menjadi kuat! Untuk Ayah dan ibu!"
ucapnya dalam batin penuh dengan api membara.
Adrenalin roda petarungnya mulai bergerak. Kini Sean bukan lagi orang lemah cupu yang mudah di bully. Di injak dan ditertawakan lemah.
Badannya berdiri dengan sendirinya, matanya tajam dengan aura membunuh yang nyata, membuat kedua kaki duo berotot itu merinding. "Cuy kok aneh ya," ujar salah satu dari mereka.
Urat Leher Sean makin jelas, "Zoom" gerak cepat. Tinjunya tiba tepat di ulu hati manusia batu membuat sekujur kulit batunya retak dan hancur. Darah keluar dari mulutnya, tidak kuat menahan pukulan keras di ulu hati sekejap matanya terbalik pingsan di tanah.
Melihat kawannya kalah, si tangan besi menyerang Sean yang sedang terdiam. "Tubuarkk" besinya tertahan tangan Sean yang saling berbenturan. Benturan kedua, dan ketiga tanah yang meraka pijak makin hancur luas. Diakhiri serangan kuat Sean dengan kaki yang menyangkut di jakun, Sakit yang amat ketika jakun seorang pria ditendang. Liurnya muncrat hingga hilang kesadaran.
Alex yang tidak punya kambing percobaan lagi, lari ketakutan sambil kencing di celana.
"Papaaaaa."
Sean berdiri di tengah kerusakan itu, otot-ototnya mengeluarkan asap memperbaiki vitalitasnya yang terkuras dari pertarungan tadi.
"Aku akan semakin kuat dan membalas dendam," Azam Sean dengan wajah penuh emosi.
"Pok, pok, pok, pok," tepuk tangan seseorang menghampirinya.
"Sudah lama kita tidak berjumpa."
Suara itu menyahut dari tempat yang tidak diketahui. Sean kebingung melihat kesekitar.
Tiba-tiba tangan tanpa bayangan itu menepuk bahu Sean.
Seseorang berwajah dingin dengan kacamata terpasang berdiri dibelakang, dan itu adalah Jin, tersenyum halus dalam tempramental seperti es. Very cool.
"Jika kau ingin semakin kuat datanglah ke alamat ini." Jin menyerahkan sepucuk surat kepada Sean yang berdiri kaku seperti membeku.
Angin sore itu membelai wajah mereka berdua, burung gagak berkoak-koak terbang di atas langit. Memberikan kesan *mystery.
To be continued*