Over Power

Over Power
New Place



Republik rakyat Cina, RRC, tau Tiongkok Daratan adalah sebuah negara yang terletak di Asia Timur. Beribu kota di Baijing, kota tujuan transitnya pesawat yang mereka tumpangi saat ini dari bandara Incheon Seoul.


Negara ini memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia sekitar 1,4 miliar jiwa dengan luas wilayah 9,68 juta kilometer persegi menjadikannya negara terbesar ketiga di dunia.


Negara yang seperti itu, memiliki tiga keluarga bangsawan kuat yang di takuti seperti hukum kedua setelah pemerintahan. Yakninya pertama keluarga Zhang, keluarga Zhang di juluki sebagai Pewaris Api Burung Phoenix, dan di China mereka memiliki kekuasaan segi ekonomi tertinggi.


Kedua keluarga Xiao, Penguasa tak Teruntuhkan, mereka lebih menonjol pada seni pertempuran, pengobatan, dan mereka adalah tolak ukur keberhasilan tempurnya Tiongkok, karena beberapa dekade merekalah yang memimpin pasukan militer.


Ketiga Wen, ini adalah keluarga yang sangat berbeda dari dua keluarga di atas, mereka lebih bisa disebut sebagai King-nya Mafia, atau di juluki Singa Malam Hari. Mereka mengawasi dunia bawah, mengendalikan bahkan memonopoli dengan maksud untuk kebaikan negara. Sehingga kadang masyarakat berpendapat kalau Xiao adalah Matahari Tionghoa sedangkan Wen ini adalah Bulan Tionghoa.


Setelah marak sering terjadi pertempuran di seluruh penjuru dunia termasuk RRC ini dengan Black Demond. Serta bergabungnya tiga keluarga raksasa Tionghoa dengan serikat persatuan dunia UHP, maka mereka punya inisiatif membangun sebuah sekolah khusus UHP untuk mencetak para prajurit masa depan yang bisa beradu dengan sihir dan kekuatan para pekhianat perjanjian ribuan tahun lalu, musuh umat manusia Black Demond.


Salah satu sekolah yang di idam-idamkan oleh anak negeri dengan fasilitas termewah dan sangat berkelas, bagaimana tidak, anak bangsawan negara itu seluruhnya sekitar sembilan puluh delapan persen mengenyam jenjang pendidikan di sana. Tidak sembarang orang bisa masuk ke Sekolah itu. IU Academy.


*


"Bob, aku nggak nyangka ini sekolah apa hotel?" Mulut Ester terbuka lebar, matanya juga.


Gerbang itu terlihat nampak berlebihan untuk di katakan sebagai sekolah, palang bertinta emas dengan corak megahnya, tidak di ragukan lagi ini sekolah terlalu berpusaka kepada anak-anak bangsawan.


Tujuh murid pindahan dari Seoul itu berdiri takjub mendongak ke seluruh view Academy yang benar-benar jauh dari ekspektasi mereka.


Daerah hutan terpencil di tengahnya ada tempat semegah ini, siapa pesulap yang merancang ini semua?


Sean dan kawan-kawan baru tiba setelah di jemput Bus misterius, dari Bandara yang seharusnya butuh waktu 2 Minggu baru sampai ke daerah hutan terpencil ini, dengan adanya Bus tanpa awak yang tiba-tiba muncul hanya butuh waktu satu kali tarikan nafas. Sangat cepat.


"Selamat datang."


Sosok anak kecil berdasi kupu-kupu setinggi pinggang menghampiri, comel sekali. Tapi, tatapannya sungguh amat misterius. Matanya sebelah di tutup seperti bajak laut saja.


"Saya adalah murid yang di minta untuk membantu kalian, silahkan ikuti petunjuk saya."


Sean dan kawan-kawan pun mengikuti. Di saat masuk lebih ke dalam, tekanan suasana menjadi parah, tatapan anak bangsawan berlalu lalang itu melihat kepada mereka sungguh begitu mempengaruhi dan menyesakkan dada. Tatapan seperti melihat seekor lalat.


"Kau lihat begitulah tradisi di sekolah ini. Status adalah masa depanmu. Jadi aku akan mengantar kalian ke Asrama reguler, anak yang bukan bangsawan." Menjelaskan secara singkat.


*


Di balik kemegahan di luar ekspektasi mereka tadi, ternyata diskriminasi berlebihan terjadi di sekolah UHP China yang di bangun tiga keluarga bangsawan.


Dunia yang berbeda dengan cover bangunan zona bangsawan. Pada zona masyarakat umum, terlihat fasilitas tampak tidak memadai dan terurus. Bagaikan rumah hantu halamannya saja penuh dengan hilalang rumput liar.


Satu bangunan bobrok itu terletak agak jauh dari lingkungan zona bangsawan, lebih tepatnya perlu berjalan selama dua puluh menit ke arah belakang sekolah barulah nanti ketika kita melewati satu gang sepi bisa sampai dengan istilah Terisolasi.


"Hanya kalian saja murid reguler yang berani masuk ke sekolah ini semenjak dua tahun terakhir." Dingin nada suara itu keluar dari mulut anak cibi tubuh kecil, tapi penuh dengan kewibawaan.


"Jadi selain kami bertujuh tidak ada murid reguler yang lain?" tanya Boby tidak menyangka.


Sepatah kata. "Ya." Ia dengan santainya melepas tanggung jawab dengan pergi mengabaikan mereka bertujuh yang masih butuh banyak bimbingan.


"Hei, di mana Pimpinan Sekolah? Aku akan memberikan arsip surat dari UHP Korea padanya," suara Sean hentikan langkah kakinya.


"Kau tidak perlu susah-susah. Cukup berikan itu saja padaku." Merentangkan tangan mungil. Zip. Surat lampiran di tangan Sean bergerak sendiri ke arahnya. Dengan wajah datar ia menangkap.


Acuh, dia melanjutkan langkahnya untuk meninggalkan zona umum yang terabaikan.


"Setidaknya beritahu namamu bocah!" Zack tidak tahan melihat gayanya.


"Huh, orang sampah seperti kalian tidak berhak mengetahui namaku." Membalikkan badannya lalu menunjuk ketus ke arah mereka satu persatu.


"Aku tahu nama kalian semua! Kau Zack, Yoona, Boby, Ester, Kanmu, Oval, dan kau Sean kan."- Suaranya terhenti dengan pikiran fokus pada Sean-"huh di sini tampang terlalu tampan sepertimu masih tidak ada arti. Yang berarti itu hanyalah tahta dan status. Hahahaha." Perlahan tertawa terbahak-bahak suara sombong imut itu hilang di telan gang sepi.


"Kempret lu bocah tengil," geram Yoona ingin mengejar dan menghajar tapi sebelah tangan kanannya di tahan Zack.


"Sabar-sabar, orang sabar di sayang Tuhan, Yoona." Zack agak kerepotan.


"Jadi kita bertujuh terpaksa membersihkan ini semua. Keluarkan kemampuan tersembunyi kalian, ayo kita sulap tempat kumuh ini menjadi tempat ternyaman," ucapan Sean bangkitkan semangat kawan yang lain.


"Siap kakak." Empat serangkai serentak.


"Yah, apa boleh buat," dengus nafas panjang Yoona, yang ia pikir diperjalanan, nanti pas di sekolah baru pasti akan masuk Asrama putri yang indah. Ternyata jadi kayak gini.


"Terima saja apa adanya." Zack memaklumi, mungkin ini akibat mau jadi anak pindahan.


*


Yoona, Boby, Ester, dan Oval membersihkan seluruh ruangan Asrama bagai rumah hantu itu, dengan musuh segunung debu terlelap dua tahun. Sean dan Zack membersihkan kamar-kamar yang ada, tampaknya tidak terlalu banyak hanya berjumlah lima kamar tapi satu kamar itu cukup luas.


Kanmu bekerja sendirian, ia dengan mudah membersihkan semak belukar yang menutupi halaman dengan atraksi keren bermain dengan api, menyapu bersih itu semua hingga jadi halaman asri.


Asrama yang akan mereka tinggali itu cukup berkelas, tadinya kayak rumah hantu tapi setelah di bersihkan dan di kemas serapi-rapinya tersulap menjadi mansion ala Eropa. Lama mereka mengerjakan itu semua perlu sehari penuh, dari awal tiba pukul sembilan pagi hingga tidak terasa hari sudah mau gelap, dan itu masih perlu direvisi lebih lanjut untuk kedepannya supaya terwujudlah nanti tempat tinggal yang nyaman.


"Huffff, akhirnya." Tubuh Boby keteter jatuh di atas sofa abu-abu hingga buat sofa itu beroyak. Terbakar sudah lemak, rasa penat sangat membakar raga.


"Hei semua jangan khawatir ini untuk kalian semua, sirup dingin." Yoona datang-datang dari belakang memberi kejutan semua orang yang habis berlelahan, syukur yang di rasakan mereka karena di bagian dapur terdapat kulkas yang masih bisa beroperasi. Serbuk sirup didapatkan melalui brangkas dimensi Oval.


Empat serangkai datang menyerbu, disusul dua orang sebaya Sean dan Zack.


Malam harinya


Warga Asrama terasing itu pada sudah tidur di kamar yang sudah dibagi, dengan dua kamar di lantai atas dan tiga kamar di lantai bawah. Kanmu dan Boby ada pada ruangan kamar lantai satu bagian depan, sedangkan Oval dan Ester ada di kamar sebelahnya. Kamar ketiga di lantai satu di tempati oleh Zack dan Sean. Sedangkan Yoona sendirian di lantai atas dengan kamar kosong di sebelah kamarnya. Di tangga sudah di pampang, "Tidak ada yang boleh naik ke atas, kecuali perempuan."


"Sean, apa kamu punya mimpi?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Zack, ketika mereka berdua baru bergolek di atas ranjang masing-masing yang sudah di tata.


Kamar ketiga terlihat lebih terang dari dua kamar yang ada di lantai bawah. Karena letaknya tepat di bagian belakang Asrama yang membelakangi bulan. Kamar itu punya jendela, dan saat itu Zack membuka jendelanya lebar-lebar sehingga cahaya rembulan dapat masuk.


"Aku hanya ingin bertambah kuat, sehingga aku dapat melindungi orang yang ada di sekitarku." Wajahnya berseri kena cahaya malam. "Kalau kamu?"


"Aku ingin menjadi Jenderal yang dapat membuat semua orang bisa tersenyum dan aman." Dua tangan Zack berhimpitan di bawah kepala dengan alas bantal. Matanya bersinar-benar berbinar saat mengatakan hal itu, dengan wajah mendongak ke arah loteng kamar.


"Wah, Zack aku mendukungmu."


Saling berbincang hingga tengah malam, mereka berdua akhirnya tertidur di saat datang kemarahan Yoona yang tidak bisa tidur. Karena kamar ketiga tepat berada di bawah kamar Yoona.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan pernah meremehkan seorang pejuang mimpi, karena kita tidak akan tahu bagaimana takdir akan menentukan rodanya.



Minna arigatou sudah membaca dan mampir ke sini 🙏