Over Power

Over Power
Raja



Nama Xiao Sean melambung naik seperti roket Falcon punya space x Amerika serikat yang terbang melaju dengan kecepatan hipersonik ditambah tenaga booster penguat hingga mengorbit di angkasa.


Para heaters mendadak jadi fans beratnya. Tinggalkan ideologi yang selalu di humbar oleh Kung Lao pengaur ketua kelompok fansnya Xin yu dan selalu berkata-kata hoax belaka tentang Sean.


Who is the king? Who is the bos? Tidak ada yang tidak mengakui Sean lagi terutama di Akademi super elit IU, sekolah yang di naungi oleh tiga keluarga raksasa negeri tirai bambu.


Who is the king? Who is the bos? Ia kini menjabat sebagai kursi kaisar kedua menggantikan Fei Zen setelah dikalahkan dengan hasil telak di pertarungan kaisar secara terbuka.


“Aku ingin sekolah ini tidak ber pusaka lagi kepada tahta kebangsawanan, berubah kepada menghargai tolak ukur kemampuan bakat murid, baik itu bangsawan maupun tidak dengan visi setara.” Suara gagah itu kini dapat hadir di tempat sakral IU.


Rapat elit kini tengah memanas lagi di ruang bermeja bundar yang tidak asing bagi kita, ya ini adalah ruangan tempat berkumpulnya para sepuluh kaisar.


Semuanya serius menatap ke wajah baru itu, dan tumben hari ini Zhang Xin Yu ikut rapat membuat semua orang heran kepadanya, ia mengangkat tangan. “Aku setuju.”


Krik, krik. Sejenak suasana jadi makin canggung.


Tak mau kalah kepada Xin yu, Wen Qing adalah seorang Ratu kursi pertama duduk di tempat yang lebih tinggi dari semuanya mengangkat tangan. “Ehem ... ehem Aku, juga setuju, tapi ada syaratnya bahwa baik itu sistem ini diganti ataupun tidak otoritas hak khusus untuk keturunan tiga keluarga tidak akan terpengaruh.”


“Syarat itu diterima tanpa bantahan, aku juga tidak dapat menyanggah hal tersebut, seperti hukum mutlak di negara ini, tiga keluarga raksasa memang puncaknya yang tidak dapat kita ganggu” Sean menganggukkan kepala sambil mendesah dalam, ia mengakui kekuasaan tiga keluarga bangsawan raksasa China yang emang sekolah ini didirikan langsung oleh mereka.


Xiao Ge seorang sepupu Sean pun ikut mendukung. “Kalau begitu aku juga.”


Arata ikut mengangkat tangan memberikan dukungan sehingga memicu deret yang lain juga mengikuti langkah Arata, tapi satu orang yang tidak setuju dari sepuluh kaisar Akademi ini, yaitu adalah El si kecil jenius tapi sombong.


“Hei orang baru, seenaknya saja kau mengetuai rapat ini. Aku menolak! Atas dasar kewibawaan seorang bangsawan! Aku mengakui kebangsawanan mu tapi tidak dengan usulan bodoh ini!”


“Ho, menurut ku kamu tidak pantas berkata seperti itu, lihat votingnya. Sembilan dari sepuluh? Jadi apa mau mu?” Sean menyungging senyum tipis, dengan tatapan dingin.


Menunjuk ke arah Sean dengan luapan emosi tantangan, El bersikap sok kuat. “Aku menantang kamu untuk pertarungan Kaisar!! Hari ini juga!”


“Oke. Tapi mari kita pertaruhkan harga diri kita di pertarungan itu, tidak enak kalau seperti biasanya,” kata Sean menanggapi El.


“Lalu apa itu?” Mata El berkedip menunggu Sean mengatakan pertaruhan antara mereka berdua.


“Yang kalah harus memanggil pemenang bos alias jadi babu, hanya itu saja, gimana?” angkat bahu Sean.


“Siapa takut!”


“El apa kamu yakin?” tanya Wen Qing.


“Tidak masalah Queen, kalah atau menang aku akan selalu setia padamu,” ucap El dengan senyum imut di wajahnya lalu bergumam, "Karena kau adalah panutan ku bagaimana menjadi seorang bangsawan sejati, dan mana mungkin aku menyerahkan Queen kepada orang ketiga seperti mu begitu saja.” El menatap Sean dengan tatapan benci.


Tak lama setelah membubarkan rapat, sesuai janji hari ini juga ada pertarungan kaisar lagi, jarak lima hari setelah pertarungan kaisar Sean vs Fei Zen.


Pertarungan pun berlangsung dengan penonton antusias seperti biasa. Serta aksi MC acara si Rooney yang heboh.


“Sihir tanah ✨ Raksasa Golem ✨”


Lincah Sean menghindari hujaman pukulan dari makhluk berbadan kebo itu.


“Hei-hei, apa segini saja kemampuan kamu bisanya lari doang.”


El meremehkan atau iri ya dengan atraksi keren banget yang di pertontonkan Sean? Buat para penonton wanita terkagum-kagum, meneriakkan, “I love you!!”


“Jancuk,” kerut wajah El iri.


“Aku kasih bonus nih sihir tingkat tinggi ledakan 'amukan meteor' ini adalah sihir paling terkuat yang aku miliki, rasakan lah orang ketiga!!!”


Mendadak Atmosfir di Koloseom IU mendapatkan sinyal tekanan bahaya lantas para security mengelilingi arena Koloseom lalu menyatukan kekuatan mereka untuk membangun barier pelindung mengamankan para penonton.


“Waaaaaw.” Mata para penonton berkaca-kaca melihat bongkahan silau api meteor raksasa tiba-tiba muncul di tengah arena luas itu.


“Ini baru menantang,” senyum Sean menikmati pemandangan meteor yang akan menimpa tubuhnya.


“Gagagaga, gimana kamu takut?”


“Hah, apanya yang takut? Ini adalah ajang latihan mantap jiwa, sini aku akan perlihatkan kekuatan yang baru aku pelajari akhir-akhir ini kepadamu.” Sean mengatakannya sambil memukul raksasa Golem satu pukulan hancur!


El pun terkejut bungkam. “Astaga!”


Mengambil nafas panjang Sean menghirup angin begitu banyak masuk ke dalam mulutnya, sembari hal aneh itu pun terjadi.


Rambut Sean mendadak berubah jadi putih, matanya pun juga ikut memancarkan cahaya putih seperti saat Wen Qing mengaktifkan kekuatan es absolut, energi dingin sampai dirasa oleh kulit El.


“Tidak mungkin” El mengulum air ludahnya 'gluk'.


WOFFF!!!


Alhasil bongkahan meteor tersulap menjadi sebuah batu raksasa polos perlahan turun ke bawah yang mana disambut sebelah tangan oleh Sean dengan enteng.


“Batu ini mau ku lemparkan ke arahmu.” Sean menggertak dengan tersenyum kencur ke arah El. Rambut putih nya kembali normal jadi seperti biasa.


“A, aku nyerah!!!” pekik Suara El mengisi seluruh Koloseom, takutnya sampai membuatnya terduduk di atas lantai arena yang sudah membeku. Air seni muncrat basahi celananya.


Pemenangnya sudah ditentukan!! Sean menang telak, dan lawan juga terkencing-kencing lagi. Membuat semua orang tertawa, menikmati setiap pertarungan yang diperlihatkan oleh idola baru mereka yang over power.


“Akhirnya karma atas perlakuan sombongnya dulu terbalas, rasain tuh, bocil” ejek Boby di bangku penonton.


“Raja petarung!!!” teriak salah satu fans berat Sean dari ujung Koloseom.


RAJA! RAJA! RAJA! Gemuruh dukungan para penonton kepada Sean yang memenangkan pertarungan dengan mutlak. Sekarang secara tidak sengaja Sean dijuluki sebagai Rajanya Akademi IU.


MC pun juga ikut memanggil Sean dengan julukan itu. “Pemenagnya adalah kursi kedua Raja petarung, Xiao Sean!!!”


HOOOOOOOOOO!!!!! FIUWIIT!!!


Sean mendekati El dengan tatapan seorang raja. Saat ia berdiri tegap di depan El, si El ini langsung bersujud takut.


“Bos, ampun bos.”


“Beliin aku mie ayam ke kedai ya.”


Raut wajah dingin Sean berubah seketika menjadi tersenyum, ia mengulurkan tangannya kepada El. El pun menyambut ulur tangannya.


“Siap laksanakan.”


*


“Apa apaan tadi itu?” tanya Xin yu kepada Wen Qing merujuk kepada Sean yang juga bisa mengendalikan kempuan es absolut.


“Aku juga tidak mengetahui kalau Sean bisa seperti itu!” Menatap nanar Wen Qing juga bingung.


“Apa mungkin itu karena ciuman kalian waktu itu?” opini Xin yu.


“Mungkin saja.” Wen Qing termenung lalu mengingat sesuatu.


Lantas entah kenapa Wen Qing berekspresi sangat bahagia, ia melompat lalu berteriak, aku menang!


“Eh, kau kenapa?? Aneh.” Xin yu melihat Wen Qing menari-nari itu dengan wajah yang sangat keheranan. Apa yang membuat dia sebahagia itu? Tidak seperti tempramen biasanya nya yang dingin dan cuek.


“Hoi, kasih tau dong, emangnya ada apa?” Xin yu berubah jadi penasaran.


“Rahasia!”


“Kalau kamu mengatakannya ke aku, kita jadi best friend forever deh.”


“Beneran?”


Xin yu mengangguk.


“Kalau begitu kesiniin telinga mu biar aku bisikkan,” ujar Wen Qing.


“Ya baiklah ...” Mendekati Wen Qing supaya dia bisa dengan mudah berbisik ke telinganya.


Xin yu pun mendengarkan secara seksama apa yang dibisikkan Wen Qing, hingga di bagian akhir wajah Xin yu begitu sangat terkejut.


“Kamu curang!!” sungut Xin yu.


“Hahaha, eps. Ingat ya janji kamu kita udah jadi best friend sekarang.” Wen Qing ketawa ketus seperti orang yang menang dengan telak.


“Huh.” Wajah ngambek.


*


Di sebuah ruangan gedung pencakar langit seorang bapak berpenampilan mafia tingkat tinggi tersenyum lebar manatap televisi yang menayangkan pertarungan Sean vs El. Ia duduk di kursi putar layaknya CEO sembari santai menikmati segelas kopi di meja, lalu di samping bapak itu ada ajudannya berdiri setia.


“Baiklah Jiang Chen, mungkin kita akan sibuk untuk bertamu ke rumah pak tua itu mulai sekarang,” sahut suara serak dari seorang bapak yang berpenampilan mafia tingkat tinggi itu.


“Anda benar yang mulia.”


To be continued