
Pedang itu terjatuh dari tangan orang itu, memantul di lantai beberapa kali, tatapan matanya menatap tak yakin dengan apa yang disaksikan oleh kedua panca indera penglihatannya.
"Mu, mustahil."
Geger, para petinggi keluarga Xiao sampai bertepuk tangan takjub dengan aksi pembuktian dirinya yang layak untuk diangkat sebagai tuan muda terbaik generasi penerus keluarga.
"Lihatlah cucuku matanya sama persis seperti putriku saat tersenyum." Kakek Sean seorang kepala keluarga Xiao, terharu bangga.
"Kakak!!!" Teriak suara mungil yang jelas masih selalu ingat dibenak.
Pintu utama untuk masuk aula Tetua terbuka lebar, Yuning berlari masuk menerobos badan paman-paman, terutama Xiao Chen. Tepat ia berlarian menyenggol kaki Xiao Chen.
Sean yang selalu merindukan pucuk hidung mungil itu, saat Yuning berlari padanya ia merasa bagaikan melihat pemandangan di alam mimpi. Mulutnya terpelongo dengan sedikit hiasan air mata kebahagiaan di kelopak mata. Melebarkan tangan untuk menangkap tubuh mungil Yuning.
Berbepelukan di tengah tempat sakral petinggi keluarga, Sean menggendong tubuh Yuning yang masih kecil dan ringan.
"Wooaa, oppa sekarang udah makin tinggi dan tampan." Yuning mencubit pipi Sean lalu dimain-mainkan.
Sean yang masih terharu bahagia cuma bisa tersenyum diam lama menatap wajah Yuning yang tertawa.
Di pintu masuk datang sosok seorang wanita dengan tusuk konde dirambutnya yang tergulung rapi, menghela nafas seperti habis main kejar-kejaran. Wanita itu tersenyum pada Xiao Chen yang menatapnya dengan wajah kaku.
"Maaf ya suamiku, Yuning udah nggak sabar lagi ketemuan sama kakaknya," ujar wanita itu tersenyum halus.
"Ah sial, padahal rencana ku tadi mau kasih suprise untuknya," kata Xiao Chen agak kecewa.
Ekspresi wanita itu langsung down saat melihat ada rasa kecewa di mimik wajah Xiao Chen.
"Yah, mau gimana lagi, maafkan aku Chen hiks-hiks," cemberut wanita itu merasa bersalah.
"Eh kok istriku ngambekan, sudah-sudah yang berlalu biarlah berlalu. Toh mereka kan emang bakal bertemu." Xiao Chen memegang kedua bahu istrinya, juga ikutan merasa bersalah, pasti dia salah tingkah lagi nih.
"Kan gara-gara aku rencana kamu batal, huaaa." Istrinya makin menjadi-jadi tangis merasa bersalahnya.
"Cup, cup aku nggak nyalahin kamu kok." Xiao Chen memeluk istrinya penuh kasih sayang.
"Aku, aku ...."
"Sudah-sudah, ayo senyum lagi dong. Kamu nggak cantik lho kalo cemberut kayak gini." Xiao Chen menenangkan istrinya kemudian perlahan membawanya jauh-jauh dari tempat umum itu. Malu dilihat terus sama Ayah, petinggi keluarga dan saudara-saudara. Ntar dibilang suami nggak perhatian sama istri lagi.
Tapi sudah maklum kok, sifat istri Xiao Chen emang begitu. Punya kelainan pengiba hati tingkat tinggi. Jadi seluruh keluarga Xiao mereka semua udah pada ngerti.
"Kamu marah kan sama aku."
"Eh, mana ada. Aku tidak pernah marah kok sama cinta sehidup sematiku." Xiao Chen adalah seorang suami yang tabah.
Setelah mendengar hal itu Ye Ziyun istri Xiao Chen berubah 180 derajat kembali tersenyum lebar dan manis dengan pipi merah meronanya.
"Kalo gitu besok kamu harus cuti sehari ya, temani aku pergi ke mall buat shopping." Wajah berharap.
"Eh, besok aku ada rapat penting istriku."
Di pelukan Xiao Chen, Ziyun udah bersiap-siap untuk menangis gelombang kedua. Takut akan bencana yang sebenarnya dari kekuatan Ziyun, Xiao Chen langsung berinisiatif ia mengeluarkan tisu untuk mengelap air mata di wajah istrinya kemudian berkata, "Haa, itu gampang kok, besok kita pergi shopping ya. Senyum dulu dong."
Tersenyum cerah Ziyun keluar dari pelukan Xiao Chen kemudian menari-nari sambil bernyanyi.
Dalam hati Xiao Chen. "Ya Tuhan kapanlah penderitaan hamba ini berakhir." Raut kesal.
"Sayang." Istri Xiao Chen mendadak berbalik badan.
"Iya sayang." Xiao Chen langsung menghilangkan raut kesalnya dengan tersenyum hambar.
"Jangan lupa, kalung baru juga ya." Lanjut berjalan tinggalkan perkarangan aula tetua.
Wajah Xiao Chen geram gemas mengikut dari belakang, terpaksa Xiao Chen harus duluan pamit dari aula untuk kembali ke rumah bersama sang istri penguasa dirinya.
Pertemuan tetua malam itu sudah berakhir, aula tetua kini sudah kosong dengan orang-orang. Sean dan Yuning kini sedang berada di kediaman kakeknya untuk bermalam.
Sang Kakek itu bernama Xiao Bin sangatlah penyayang kepada anggota keluarganya, apalagi kepada cucu, dibalik sikap tegasnya saat berada diluar sana sebagai Kepala keluarga yang bermartabat dan ditakuti.
Tak habis pikir, kakek itu bertingkah lucu memeluk Yuning lalu menempelkan pipi keriputnya di pipi tembem imut Yuning.
"Oh cucuku yang imut. Umm gemesnya."
Lama Sean, Yuning, dan kakeknya tertawa di kediaman, dan asyik mendengarkan cerita canda imajinasi dari Yuning. Hingga Yuning bertanya, "Kakak, Ayah Ibu mana?"
Sean dan kakeknya hanya bisa terdiam sejenak, dan terpaksa Sean berkilah mencari alasan. Begitu pula kakek Bin, ia hanya sedikit membantu-bantu cerita singkat Sean.
"Ibu dan Ayah lagi liburan ke Amerika Yuning," Akhir dari ucapan Sean dan kakeknya.
" ... " Sean dan kakeknya kehabisan kata.
"Haisss."
Sean yang melihat ke kamar itu pun sudah mendapati dengan lampu padam dan Yuning yang berkelumun, ia nggak tega mengganggu, entah kenapa sesak yang dirasa oleh dadanya. Ia pun terpaksa menutup pintu kamar dengan baik-baik.
Padahal Yuning saat itu masih belum tidur di balik selimut, ia hanya memaksa diri untuk tidak bersuara saat menangis.
*
Sean dan kakeknya Xiao Bin duduk berbincang di teras kediaman bangunan tradisional nan asri itu.
"Maafkan kakek tidak bisa hadir di acara pemakaman." Kini percakapan mulai serius, air mata mengalir di mata kulit keriputnya Kakek.
Sean hanya terdiam menatap obor yang bersilang di dekat kolam halaman kediaman.
"Mungkin sekarang kamu belum mengerti, tapi suatu saat kamu pasti mengerti kenapa Kakek tidak bisa meninggalkan China, juga keluarga Xiao."
"Lalu, kenapa Kakek membiarkan kami untuk tinggal di luar sana." Sean mulai emosional.
"Itu adalah penyesalan Kakek karena tidak bisa menjadi sosok Ayah yang baik untuk ibumu."
Sean berdiri kemudian pergi begitu saja, tidak enak hati berlama-lama di dekat kakeknya.
"Haisss, ini semua karena ulah Black Demond, tunggu saja pemusnahan dari kami." Kebencian cukup tampak dari mata Kakek tua renta berbadan kekar.
*
Pagi hari Sean mampir ke rumah Paman Xiao Chen, ia terduduk di ruang tamu sambil menikmati teh herbal yang disuguhi Bibi Ziyun.
"Perkenalkan Sean, ini istriku Ziyun." Xiao Chen tersenyum haru menatap keponakannya.
"Hai, kamu Sean kan, padahal dulu masih bayi, sekarang udah gede aja. Tampan lagi," sanjung Ziyun. "Jadi Sean, mampir pagi-pagi ada apa nih."
"Sean datang kesini ingin bertanya kenapa Yuning bisa ada di sini?" tanya Sean.
"Hum, malam itu ibumu menelepon kami bahwa mereka akan pindah kembali ke China, karena aku tak sabar jadinya aku langsung terbang ke Korea, kebetulan aku bukan bermarga Xiao. Saat paginya Bibi sudah sampe di Bandara Incheon hingga pukul sepuluh pagi aku menanti di bandara, anehnya ketika mereka berdua datang sudah menitipkan Yuning padaku, bilangnya mereka bakal nyusul setelah menjemput kamu Sean, orang tuamu kelihatannya buru-buru, berjam-jam Bibi dan Yuning menanti, karena kami sudah terpanggil ya terpaksa kami duluan berangkat," jelas Bibi Ziyun.
Sean terdiam kaku, ingatannya buram masalah hari dimana waktu itu ia berada. Melihat Sean yang kini termenung Xiao Chen dan Ye Ziyun turut prihatin.
"Maaf Sean Bibi juga ikut berduka dengan kehilangan kakak, hiks-hiks, maaf kalo ada kata-kata Bibi yang salah." Ziyun langsung pergi ke pelukan Xiao Chen.
"Sudah-sudah jangan menangis lagi." Xiao Chen lagi-lagi berusaha menenangkan.
Ingatan terasa terpotong yang mana langsung mengarah pada pemandangan rumah, jasad Ayah dan Ibunya.
"Siapa sebenarnya yang membunuh mereka." Nada suara Sean penuh dengan rasa amarah.
"Tenang Sean, paman kan selalu senantiasa membantumu, aku pun juga ingin membalas perbuatan makhluk jahanam itu , tapi jangan sampai berlebihan dan mendendam karena hanya akan merugikan kamu saja. Aku juga tidak ingin kehilanganmu." Xiao Chen berniat menasehati.
Telepon Xiao Chen tiba-tiba berdering. Kemudian langsung diangkatnya.
"Oh, iya-iya, sekarang dia akan kami antarkan kembali ke sana," ujar Xiao Chen di telepon itu.
Saat panggilan diakhiri. "Nak, ini dari pihak sekolah sekarang kamu fokus belajar dulu ya. Jangan pernah ikut campur lagi masalah Black Demond."
Sean hanya diam saja seperti tidak perduli dengan ucapan Xiao Chen itu. Rasa dendam masih kental di dada.
Di gerbang masuk ke kediaman keluarga Xiao seorang pelayan Keluarga sudah standby dengan mobil menyala.
"Mas, tolong antarkan Sean kembali ke Akademi IU."
"Oalah, jadi ini tuan muda Sean yang gagah itu, benar-benar deh sesuai dengan rumornya," ujar paman sopir itu sok lucu. Sean masuk ke dalam mobil dengan wajah kurang semangat menutup pintu langsung menyender tidur.
"Mas, titip ya." Xiao Chen melambaikan tangan melepas kepergian keponakannya.
Beem, beem.
Yuning kecil berdiri di atas gedung itu, menatap kepergian mobil putih yang telah perlahan hilang dari pandangannya.
"Eh, di sini ternyata ya. Adik." Gadis berparas baik menghampiri Yuning kemudian mengajaknya untuk lekas turun ke bawah bersamanya.
"Kakak ini baik hati, dia tidak ada kata hujat dalam fikirannya," suara hati Yuning, menatap wajah gadis itu.
Xiao Yuning itu namaku, dan aku bisa membaca pikiran orang lain saat ulang tahunku yang ke lima.
To be continued