Over Power

Over Power
Bis to Busan



Para penjaga keamanan stasiun kota Busan sedang melaksanakan kewajiban mereka, memenuhi ikrar untuk menjaga keamanan masyarakat yang akan menggunakan fasilitas transportasi kereta api.


Terlihat dua orang petugas mendapatkan sif untuk memeriksa keadaan jalur lorong stasiun, memastikan kestabilan kereta api yang nantinya akan segera sampai.


"Hei kok bulu kudukku jadi merinding yak," ucap bapak petugas itu mengajak rekan kerjanya berbicara untuk mencairkan suasana suram ini yang mana sudah tengah malam dengan langit bulan purnama.


Bapak petugas yang berani itu masih fokus menembakkan cahaya senter ke sekeliling rel, melihat-lihat apa ada masalah yang bisa menghambat laju daratnya kereta api di stasiun.


Kebiasaan ini dilakukan sejak telah terjadinya kecelakaan beberapa saat yang lalu, merenggut nyawa penumpang karena suatu hal ada yang bisa mengeluarkan kereta dari jalurnya.


Ia pun berkata, "Kebanyakan nonton horor nih." Nada bicaranya mengejek rekan kerja yang sudah dalam mode waspada.


"Insting gua biasanya benar Bray, ayok kita lekas kembali lagian kalo di tanya pak Bambang kan tinggal di jawab aman," ngotot, bapak petugas itu menyarankan agar segera kembali.


"Ceh, eyalah udah gede kok penakut sih, insting-insting Goku apa," remeh bapak itu menghiraukan ucapan rekan kerjanya.


Sepintas ada bayangan bergerak cepat di belakang badan rekan kerja yang lagi menertawai ucapannya barusan. "Apa itu?" Bapak itu spontan menembak cahaya senternya ke arah lorong gelap. Tapi yang terlihat hanyalah dinding kosong.


"Kan nggak ada, bikin kaget aja kau, lu terlalu banyak percaya takha ... agh." Lidah bapak itu terhenti dengan mata terbujur.


Cr*ot. Darahnya menyembur.


Perutnya ditembus tangan bersisik dengan kuku-kuku jari yang runcing dan panjang, jadikan usus yang terkandung terkulai keluar. Melihat rekannya mati konyol Bapak itu gemetar ketakutan, senter yang di pegang telah terjatuh. Mual melihat usus-usus dari rekan kerjanya, isi perut sudah di ujung tenggorokan hendak dimuntahkan.


Rasa takut itu menjalar sampai ke dengkul buat lemas, sumsum tulangnya goyah tak kuasa untuk bergerak, ingin teriak sekuat tenaga tapi lehernya sudah direnggut oleh tangan bersisik itu hingga terputus. Lorong itu kembali jadi padam setelah senter yang jadi penerang hancur terinjak.


*Di alam yang berbeda


"Benar ape kate lho bro, gua sekarang percaya," sesal nada suara itu bercengkrama.


"Sekarang baru percaya, tak tempeleng lho taik." Suara itu punya rasa amarah tapi ia pasrahkan apa yang telah terjadi.


"Anak bini gua gimana nanti." Isak suara yang menyesal itu*.


°°°


Puluhan perwakilan sekolah berbaris rapi, apel khusus bersama Bu Kepsek sebelum berangkat ke tempat perlombaan yang mana tidak hanya akan menyelenggarakan lomba cerdas cermat tapi juga perlombaan pada bidang olahraga sebagai mahkota harga diri sekolah, sehingga membutuhkan Bis besar untuk mengangkut mereka sekaligus.


Supir Bis sekolah tengah bersantai dengan secangkir kopi untuk dinikmati sembari menunggu siswa-siswi yang jadi perwakilan sekolah, dirinya terlihat sudah terbiasa dengan sifat Bu Kepsek, jadi mau sejam atau dua jam senyum di bibirnya masih tetap bertahan.


"Kalian semua adalah perwakilan sekolah kita yang jadi top populer high school, jangan buat malu sekolah ... bla, bla, bla," ceramah Bu Kepsek berputar layaknya mp3 untuk didengarkan. Biasa sudah sejam lamanya suara Bu Kepsek masih punya power stamina.


Rata-rata para murid sudah tidak tahan, apa daya takut dengan kecaman dahsyat suara Bu Kepsek jadi harus berjuang demi keselamatan umum.


A few moments leter


"Ahhh." Lelah capek mereka terbayarkan, duduk di atas kursi Bis sekolah yang empuk jadi paling nikmat untuk dirasakan saat ini.


"Apa semuanya sudah lengkap?" tanya supir Bis.


"Sudah Pak," jawab guru pendamping duduk di sebelah murid kesayangannya Boby.


"Siiip," ujar supir itu sambil menekan kopling Bis lalu memasukkan giginya jadi gigi satu.


"Sekolah Bintang Busan," ujar pak Leem mengeraskan suaranya agar terdengar oleh semua penumpang.


"Jadi kita akan ke Busan? 'Horeeee'." Sorak para murid alangkah senangnya mereka akan punya perjalanan jauh yaitu Seoul ke Busan.


Seoul ke Busan cukup terbilang jauh. Butuh 4.1 jam atau 243.8 menit jika rata-rata kecepatan kendaraan 80km/jam.


"Nikmati perjalanan kalian," sahut supir itu sembari mengelus-elus kumisnya yang tipis namun panjang.


Sudah sejam perjalanan di tempuh, mereka lagi berada pada kesibukan masing-masing, ada yang mabar dideretan belakang Bis, makan-makan sendiri di balik tasnya karena kelebihan pelit, pacaran pun juga ada seakan dunia milik mereka berdua.


Sean duduk paling depan bangku bersebelahan dengan supir, ia juga sibuk dengan urusannya sendiri, membalas chatingannya dengan Lisa.


Lisa tidak ikut karena sibuk memenuhi jadwal kontrak barunya di PJ entertainment. Setelah ia menyatakan keluar dari studio sebelumnya. Olivia si mata jeli dalam memilih rekan kerja langsung merekrut Lisa yang punya bakat di atas rata-rata dalam dunia perfilman.


Pada jam kedua, rakyat Bis sudah pada tepar terakuk-akuk tidur ayam dengan tubuh menyender. Terlebih lagi Sean, karena begadang semalaman harus terlelap dalam mimpi, jendela yang terbuka membawa masuk angin jalanan jadikan rambutnya halus bergelombang diterpa bagaikan ombak.


"Ehem-ehem," sahut supir bis.


Krik, krik, krik-krik. Tidak ada respon.


Jari telunjuknya menekan tombol on pada tip audio kemudian kembali fokus menyetir, lampu disko tiba-tiba muncul otomatis turun di tengah-tengah gemparkan seisi Bis. Yang tidur jadi bangun, yang bangun jadi ambil pose tangan di atas.


Duk duk duk.


Kerasnya getaran bass pada speaker kualitas gajah bikin dada berdegup bagaikan terkena gempa. Layar Lcd tergantung di depan Bis yang semula mati kini tiba-tiba jadi menyala.



🎶" ... Oppa Gangnam style ...."🎶


Busss.


Suara pak PSY semarakkan perjalanan, para rakyat Bis bergoyang-goyang nikmati musik. Kacau balau, suasana jadi kacau balau. Dengan pelaku utama Boby serta rekan-rekannya, Pak Leem hanya tertawa terbahak menyaksikan tingkah muridnya ini.


Dari luar Bis jadi seperti ojol yang menari-nari melenggak lenggokkan ekornya selama roda berputar. Sean yang bermata panda mulai terusik, ia harus terpaksa menutup telinga agar bisa menikmati tidur tak nyenyak ini.


Karena suasana jadi begitu oleh satu tombol, Pak supir pasang wajah tak berdosa terus melajukan kendaraannya menyusuri jalan hutan barisan tebing.


****


Sudah jadi tiga jam, jarak mulai menyempit. Sejam lebih lagi Bis akan segera sampai ke Kota Busan. Keadaan kembali jadi normal, lampu disko sudah hilang bersembunyi di loteng Bis, layar Lcd juga sudah kembali mati. Yang menemani suasana kali ini adalah musik melow dan jezz hantarkan ketenangan dalam menikmati keindahan pemandangan. Jadikan Sean bisa menghayati tidur setelah keterpaksaan.


Sekarang laju Bis sekolah harus lamban karena lika-liku jalur curam buat jantung deg-degan, apa lagi itu naik turun, yang tadinya bisa dinikmati kini berubah menjadi tempat penempaan mental.


Pak supir harus menekan klakson berkali-kali agar tidak bertemu atau kecelakaan dengan lawan kendaraan yang melaju berlawanan arah, keringat dinginnya dalam ketegangan adrenalin bisa kau lihat dari kumisnya lurus kaku.


"Pak hati-hati," ujar Pak Leem takut untuk hal-hal semacam ini.


"No problem it's oke aja, santai dan rileks." Pak supir mengatakan itu seperti sudah pro saja. Ia tidak tahu bahwa akan ada bencana menunggu di depan sana.


To be continued