
"Kak, kak Sean bangunlah."
Tiga pemuda tengah membangunkan sosok Sean tanpa baju tergeletak di atas kasur rumahnya sendiri. Entah kenapa bisa saja begitu, Sean pun juga bingung. Kenapa dia bisa berada di rumah saja? Dalam hatinya bukankah dia masih berada di posko pengungsian bersama kak Angelina.
"Kami menemukan kamu di depan pintu, apa Kakak baik-baik saja? tanya Boby.
"Apa?" posisi mencoba mengingat apa yang terjadi.
"Adeh." Mengaduh sakit di kepala yang benar-benar parah.
"Aaaagh"
Sean merintihkan rasa sakit itu begitu lama membuat adik-adik juniornya pada ketakutan akan penderitaan aneh yang menimpanya.
"Kak, tenanglah." Oval datang membawa obat sakit kepala Paramex.
"Tidak, jangan kasih obat itu untukku, saya tidak terbiasa untuk minum obat medis, saya lebih suka pengobatan tradisional." Menolak obat yang sudah mau disodorkan dengan segelas air putih.
"Terima kasih sudah mau membantu, saya bisa menangani ini sendiri."
Sean membuka titik akupuntur di dua belahan kening hanya dengan jari. Menyalurkan energi spiritualnya untuk menerobos segala hal yang menyumbat jalur darah di otak. Perlahan semua rasa sakit akhirnya hilang dengan perlahan.
Rasanya seperti ada sesuatu yang sangat penting hilang dari hidupku, entah apalah itu yang menyanggal hati dan pikiranku
*
Turun dari kasur Sean pun keluar kamarnya, menghampiri tiga junior yang lagi panas berbincang-bincang dengan cangkir cappucino menemani pagi ini.
Duduk di salah satu kursi yang kosong Sean termenung mendengarkan pembahasan mereka. Setelah beberapa saat Boby bertanya, "Kak Sean kapan kita akan ke China?"
"Rencana itu tidak mungkin aku lupakan, kita ke China lima hari dari Sekarang." Sean bicara dengan keputusan pasti.
Mengambil kesimpulan dari ucapan Sean. Ester versi banci berkata, "Oooo, aike tau nih. Pasti nungguin gaji cair kan."
"Ya, karena kita membutuhkan uang untuk terbang ke sana, juga kebutuhan hidup sehari-hari nantinya," sahut Boby menjawab opini Ester.
"Hei ngomong-ngomong Kanmu sekarang di mana?" tanya Sean.
"Tenang kak, dia sekarang ada di apartemen mertua," ucap Boby sambil menyuguhkan secangkir cappucino hangat untuk Sean.
"Jangan bercanda apa benar itu." Pasang muka tidak percaya.
"Ish ish, kakak tidak percaya, bahkan mertuanya itu mantan Wali Kota Busan." Ester bicara dengan nada sangat jujur dan bukan sekedar hoax belaka.
"Benarkah itu, hebat sekali ya dia, aku saja masih jomblo," santai lidah Sean mengucapkan perkataan kualat seperti itu.
Kaget bagai ketiban perahu. "Haaaa!!" Mereka bertiga benar-benar tidak percaya apa yang sudah dikatakan Sean barusan.
"Kak Sean, terus kak Lisa itu siapa?"
"Ha, Lisa!! Siapa itu."- Air mata Sean menitik setetes berseluncur di garis pipi-"Kenapa aku menangis?"
"Ada yang salah," batin Oval gundah. "Apa hal ini berkaitan dengan sakit kepala yang dideritanya?"
"Kak Sean, coba kau ingat-ingat lagi tentang kak Lisa," ucap Boby.
"Tidak, aku sama sekali tidak kenal dan tahu Lisa itu siapa." Menyeka pipi.
Ester rupanya kebetulan menghidupkan televisi yang tengah meliput berita dunia entertainment.
" ... Sudah dikabarkan artis bintang atas kita Lisa na Yonguk tiba-tiba berhenti mundur dari dunia entertainment. Sekarang media berusaha menghubungi kontaknya tapi sama sekali tidak aktif dan dapat di hubungi. Apakah Lisa hilang ..."
"Padahal cantik begitu kenapa berhenti dari dunia perfilman?" sahut Sean mengakui kecantikan profil wanita yang sedang di putar dalam televisi.
Boby, Oval, dan Ester seketika memulai diskusi dadakan mereka.
"Agen 99(Oval) apa pendapat anda tentang hal yang menimpa kak Sean?"
"Agen 89(Boby) aku punya hipotesa kalau ingatan tentang kak Lisa pada kak Sean sudah terhapus keseluruhan tanpa meninggalkan jejak."
"Jadi sekarang mereka sudah putus, bagus dong."
"Agen 00 (Ester) emang kosong otak Lo kalau di siang hari. 'ya otak pelakor'."
"Ee, kok aike yang disalahin."
Sean menatap aneh tingkah laku mereka bertiga, menggelengkan kepalanya sembari meneguk segelas cangkir cappucino. Masuk ke dalam kamar, tidak lama kemudian keluar dengan baju olahraga.
"Sudahlah tidak usah repot-repot mikirin hal yang sia-sia."
Sean menatap dingin kemudian merangkul jaket parasut yang tergantung di paku pintu untuk segera di kenakan. Ia pun keluar dengan raut tatapan wajah yang mengabaikan.
"Kalian sekarang ada agenda tidak di pagi Minggu ini?" ucapnya di sela-sela kepergian dari rumah.
"Ada, kami mau singgah ke tempat apartemen mertua Kanmu," Boby menjawab pertanyaan Sean.
"Lihat ini." Sean memperlihatkan sebuah buku usang. "Ini aku dapatkan dari Senior Zico."
"Jadi kakak mau berlatih??" Boby pasang wajah gregetan.
"Iya. Aku mulai sekarang harus lebih kuat." Mengepalkan tinju dengan cool.
"Waaah, saya mau ikut tapi ... malas." Boby tidak pede setelah memperhatikan perutnya yang semakin di depan.
"Jangan malas berlatih dan olahraga Boby gimana caranya bisa kayak Aderai idola kamu," Sean menyindir dengan cara halus lagi sakit di pusar.
"Kapan-kapan Boby ikut kakak, ya."
"kalau begitu aku duluan ya Boby." Sean melambaikan tangan, pergi dengan berlari kecil. Ia mengawali pagi ini dengan joging terlebih dahulu.
*
Setelah berlari jauh selama beberapa jam mencari tempat yang pas untuk berlatih, Sean pun akhirnya sampai di tempat yang menurutnya cocok untuk menjadi kamp latihan individu, lapangan rumput luas dan taman bunga tersembunyi, juga pastinya jauh dari keramaian.
"Fuiih," menyender pada pohon jomblo tengah padang rumput, Sean memejamkan mata sembari hilangkan rasa penat.
Angin musim semi membawa haluan rasa rindu tak menentu akan sosok yang terasa sudah hilang. Oh kenangan indah yang terlupakan di manakah engkau.
Pohon jomblo itu seakan berbisik padanya wahai manusia kita ini senasib, aku selalu cemburu pada sepasang merpati yang hinggap di dahanku, dan disaat yang sama aku selalu bermimpi punya kekasih yang menemani hari-hariku memandangi rumput dan langit.
"Wahai pohon yang bisa berbicara, aku mendengar keluh kesahmu," bicara sambil minum air botol yang dibeli di tengah jalan.
"Apa!! Kamu bisa memahami ucapanku!!" Pohon jomblo ini merasa tidak yakin.
"Kalo aku tidak paham, maka aku tidak akan bisa mendengar kamu bicara." Menyakinkan sang pohon jomblo.
"Terima kasih sudah mendengar keluh kesahku, wahai anak muda apa yang akan kamu lakukan di sini?" tanya Sang pohon.
"Aku di sini untuk berlatih," jawab Sean atas pertanyaan dari Sang pohon.
Ia pun mengeluarkan sebuah buku yang didapatkan dari Zico itu dari dalam bajunya. Keusangan buku itu terlihat jelas dan cukup terlihat sangat tua.
"Huruf apa ini!!" Sean tidak memahami tulisan bahasa yang di rangkum dalam buku itu, bosan melihat kosa kata yang tidak dikenalnya ia membolak-balik halaman hingga habis.
"Wahai anak Adam, apa gerangan yang buat engkau menjadi seperti itu?"
Sean menatap pohon itu dengan penuh harapan semoga dia punya solusi.
"Apakah kamu mengerti dengan bahasa pada buku ini?" Memperlihatkan halaman buku kepada pohon jomblo.
"Hoho, kakek yang sudah hidup ribuan tahun ini dapat membantumu, ini adalah tulisan bahasa Arabian Kuno. Kalau kamu berkenan mari belajar denganku." Pohon jomblo menawarkan pertolongan gratis.
"Benarkah?"
IQ tinggi Sean bergejolak akan penasarannya ia dengan bahasa yang sama sekali tidaklah dimengerti itu. Pohon jomblo tua itu sangatlah baik ia mau mengajari Sean untuk memahami isi dari buku itu dengan maksud tanpa mengharapkan imbalan.
Berjam-jam Sean sama sekali tidak bosan mengenyam perjalanan ia untuk memahami bahasa bangsa Arabian itu. Tahap demi tahap tidak terasa halaman buku sudah banyak sekali di terangkan.
"Cobalah ilmu ini terlebih dahulu."
Sean membuka parasutnya kemudian berdiri agak menjauh dari pohon jomblo. Ia mengingat semua bab yang telah di pahami makna dan hikmah.
Menutup mata lalu menggerakkan tubuhnya sesuai alunan gerakan yang sudah dihafal.
Di dalam buku rangkuman tua itu punya sepuluh bab yang menjelaskan tentang beladiri kuno yang sudah lama punah, yaitu teknik beladiri kehendak ilahi.
"Tubuhku kenapa sangat cocok dengan beladiri ini?"
Sean sangat menghayati langkah-langkah dari petunjuk buku, seakan-akan ada energi yang begitu sangat besar berkumpul pada titik pusat Qi kemudian menyebar ke titik-titik Meridian tubuh.
Apakah Beladiri ini memang di ciptakan oleh salah satu pewaris Over Power di zaman dahulu? Teknik beladiri yang punah ini menghantarkan nama Zico menjadi petarung terkuat sedunia.
"Jiwa patarungku membara, tidak ada kata berhenti untuk terus berlatih!!!"
Sean semakin lihai dengan gerakan beladiri kehendak ilahi sesuai tata cara yang di artikan oleh pohon jomblo.
"Oh tuhan aku sekarang mulai mengerti dengan makna gerbang pertama."
Melihat kegigihan Sean berlatih di tengah padang rumput. Pohon jomblo kini sangat bahagia mendapati kehadiran Sean menemani waktunya walaupun hanya sebentar saja.
Sudah lama ia tidak menemukan orang yang mau bertegur sapa dengannya dan setidaknya memahami kesepian yang selalu diucap ketika ada orang berteduh di bawah lebatnya daun yang subur ia tumbuhkan.
"Anak ini benar-benar punya bakat."
To be continued