Over Power

Over Power
Smash(Hantam)



"Guoaaaaaar." Mengaung, suara dari makhluk Glutotian mengusik hutan. Kelelawar malam terbirit terbang terpaksa kabur untuk mengungsi di malam hari itu.


Anjing hutan mendengking dengan telinga rebah lari ketakutan menjauh dari asal suara, rakyat hutan kini berada dalam keresahan, menginginkan makhluk aneh itu agar segera pergi tinggalkan rumah mereka yang aman damai sentosa tanpa ada wujud ancaman.


"HUAHAHAHAHA-HUAHAHA."


Bergelak tawa pita trompet dari sosok kampret tinggi lima belas meter, layak untuk dikatakan rupa itu seukuran raksasa. Matanya lebar bulat bak burung hantu menatap Sean yang habis kena injak berkali-kali tak mati-mati. Nafsu psikopat nya terpenuhi.


"Bulogiante rosum (Sekali lagi ah)," dercak girang ingin menginjak lagi.


Ditengah kaki dua kali lipat ukuran gajah Afrika itu melayang dengan tekanannya yang berat seakan-akan bisa membuat bumi jadi gempa sugro, kini tertahan tidak menyentuh tanah. "Ummm." Garuk pala bingung, apa gerangan yang buat kakinya tidak merasakan kenyal badan Sean. Sekarang malah seperti ada sesuatu keras dan kuat menahan langkah kakinya.


Ternyata itu adalah perbuatan Sean sendiri berjuang mempertaruhkan hidup matinya.


Mata Sean berapi-api penuh dengan amarah seakan-akan lepas ingin membabi buta. Sekujur badannya mengeluarkan uap panas bersihkan luka-luka yang membekas menjadi hilang tanpa jejak.


"Haaaaaa." Asap juga keluar dari mulutnya,


Wajah Sean tidak terlihat seperti biasa. Ia lebih nampak tengah kerasukan dengan kedua bola mata yang bercahaya biru. Kekuatan yang besar memancar di sekelilingnya.


Sekejap mata, Sean menangkap jempol kaki gede Glutotian itu kemudian digulat untuk menghempaskan badan lima belas meter hanya dengan kekuatan.


Buaaaar.


Hentakan keras jatuhkan Glutotian untuk tidur berbaring di tanah hutan nan empuk. Buat jejak stempel lekuk tubuh dari raksasa yang akan menjadi top berita esok pagi.


Sean dengan perkasa berdiri di atas perut Glutotian, memandangi kedua bola mata super besar itu dengan tatapan tajam. Melompat Sean mengincar bola mata bagian kanan.


"Buk," pukul pecahkan mata makhluk itu, belum puas ia kembali pecahkan mata satunya lagi. "Mamua- Mamua."


Meronta kesakitan makhluk bongsor itu bergolak dalam ketersiksaan akibat kehilangan kedua bola matanya, hanya karena pukulan dari makhluk yang lebih kecil dari ukuran tubuhnya.


"Krak-krak." Sean pletukkan jari dalam ancang-ancang memukul dengan keras.


Benar-benar sadis berdiri di antara puncak hidung Glutotian nan pesek lagi lebar. Sean memukul dengan bertubi-tubi hancurkan perlahan tengkorak kepala Glutotian itu hingga malaikat Izrail bersiap menjemput ruh dari makhluk tinggi lima belas meter ini.


Tak berkutik akibat memancing Sean untuk berubah menjadi mode Over Power. Glutotian itu akhirnya merenggang nyawa mati dalam keadaan lidah terjulur kaku.


"Hah-hah-hah." Besar kempis dada Sean menghirup lalu menghembuskan nafasnya.


Retak luka terlihat di tangan beregenerasi sendiri, efek teknik pernafasan harta warisan keluarga Xiao.


Sepoi hembusan udara malam terpa poni rambut hitam Sean, wajahnya menjadi pucat masuk angin karena bajunya yang sudah berlobang-lobang, robek setelah pertarungan hidup mati.


Sean pun turun dari jasad Glutotian, membuka kemeja putih nya sehingga dapat terlihat dengan jelas betapa sexy-nya tubuh sixpack seorang pria buat para wanita tergoda. Telanjang dada Sean kembali mencari jalan untuk keluar dari hutan itu.


.


.


.


Telah berjam-jam lamanya Sean berjalan menelusuri hilir mudik turuni lembah, tapi tetap saja tidak menemukan petunjuk keberadaan manusia lain, pemukiman atau pun bisalah setidaknya menembus jalan raya.


" 'Plak' au dasar nyamuk kurang ajar, tewas kan lu di telapak tangan gua," gerutu kesal Sean pada nyamuk yang hinggap di leher.


"Buuuuus," bisik deras suara air terjun mengalir terdengar sampai ke telinga Sean.


Akhirnya Sean sampai di bibir sungai dengan air jernih, engkau dapat melihat bukti kejernihan itu lewat biasan sinar bulan menembus hingga ke dasar.


"Gluk, gluk, gluk." Sean meneguk air sungai untuk menghilangkan rasa haus yang telah di tahan dari tadi, apalagi lelah yang diakibatkan karena bertarung dengan sosok Glutotian di tengah hutan. "Yummy." Dahaga Sean lenyap.


Kemudian ia membasuh wajahnya, mengusap dengan lembut sampai bersih dari noda yang membandel, berhenti saat ia mulai sadar melihat pantulan wajahnya di air, sosok yang ia lihat dicermin alam itu sungguh sangat rupawan. Lebih tampan dari kemarin.


Ia sempat bergaya mengelus-elus pipinya yang halus mulus, putih bersih tanpa komedo dan bekas jerawat, berkecimbung menikmati pesona wajahnya sendiri. "Jadi seperti ini ya rasa punya wajah lebih tampan di atas rata-rata, sosok Sean cupu benar-benar telah tiada. Xixixixi. Kayaknya ketampanan aku sebelas dua belas ama Boss Jin," seringai Sean bicara sendiri sama pantulan dirinya.


Menghayati keinginan untuk hilangkan penat di badan Sean nyemplung ke dalam Sungai jernih ini sembari bersihkan dirinya dari lumpur dan darah yang menempel. "Yuhuuii."


"Ahhhh," helaan nafas sembari penat yang ikut keluar dari raga, setelah muncul keluar permukaan sungai yang tidak terlalu dalam.


Merasa badannya kembali bugar Sean keluar dari sungai bertelanjang dada hanya sebatas celana compang-camping dikenakan, setidaknya ada rasa malu untuk menutupi yang di bawah.


Bosan berjalan ia pun naik keatas dahan pohon , duduk di sana stay menikmati waktu jomblo ini. Kau dapat melihat luasnya hutan dengan pepohonan yang menjulang tinggi lewat dahan yang di duduki Sean. Setidaknya pemandangan itu adalah teman penghibur lara.


"Oh, ya aku kan punya smartphone X1 kenapa tidak dari tadi sih." Sean ingat kalau dia punya smartphone super canggih keluaran U.H.P yang bisa segalanya. "Lewat google map kan bisa cari jalan keluar," sahutnya bicara sendiri di atas pohon itu.


Mencari smartphone-nya dari saku celana yang basah tapi tidak ketemu-ketemu, jantungan hp canggih mahal super tiada bandingannya di dunia smartphone telah hilang. "Huaaa, smartphone ku. Sial apes banget lah dari tadi, baru mau seneng."


Dug, dug, dug, dug.


Barisan sekitar sepuluh helikopter lewat dekat dengan lokasi Sean berada, melihat helikopter itu punya lambang elang emas Sean terkejut bahwa itu adalah logo U.H.P tidak salah lagi. Sean yang tidak tau arah mana yang harus ia pilih untuk keluar dari hutan, terpaksa harus mengikuti arah barisan helikopter itu. "Akhirnya aku punya petunjuk jalan untuk keluar dari hutan ini," ujar Sean melompat dari dahan satu ke dahan berikutnya dengan gerakan cepat mengiringi laju helikopter.


Di dalam barisan helikopter terdepan, ada sosok Jin di dalamnya, duduk bersanding bersama Ayana. mereka tengah berbincang mengenai informasi yang telah mereka dapatkan dari U.H.P mengenai seluk-beluk kenapa kota Busan bisa hancur seperti sekarang.


"Ayana jangan terlalu berlebihan ketika bertugas nanti," cemas Jin memegang erat bahu Ayana.


"Jin, kamu tidak usah khawatir kan diriku tetaplah fokus dalam bekerja nanti yah, sayang." Ayana memegang erat tangan Jin yang dingin dan kaku. Kecemasan Jin ini apa kerena keadaan kota yang begitu sangat darurat dan berbahaya?


"Janji padaku Ayana, kamu harus tetap hidup."


Jin memeluk erat Ayana secara tiba-tiba.


"Kamu juga ****" Pelan suara Ayana agak tidak kedengaran oleh bising suara helikopter.


"Ayana semoga tanggal pernikahan kita tidak akan batal oleh bencana ini." Doa' Jin di dalam hati. Berharap pada tuhan semoga malam nan panjang berakhir dengan happy ending.


To be continued


___________________



Sedikit ilustrasi memberikan imajinasi untuk kakak readers yang telah membaca seri novel ini. Gambar di atas adalah sosok Jin yang tengah memegang kacamatanya. ganteng banget 😍 sebelas dua belas lah sama author. 😋 Semoga kakak suka hihi.


.


.


.


Dukung novel ini dengan like, comment saran yang membangun jika ada kesalahan, dan jangan lupa untuk di kasih Vote juga ya. Never give up.