
"Hug, ah ... hufff." Menghembuskan nafas.
Terseok kaki Wen Qing berjuang melangkah dalam keadaan sedang memapah badan manusia bertubuh setengah dewa ini, atau sebut saja tubuh sang pewaris Over Power yang pastinya berat.
Sringgg
Geringan suara rantai borgol yang saling bergesek mengisi lorong bak goa itu, bagai ruang bawah tanah. Wen Qing dengan sekuat tenaga berusaha setidaknya mencapai bibir luar untuk segera memikirkan cara menyembuhkan Sean yang sedang sekarat.
Asap embun nafas dingin keluar dari mulut Sean setiap paru-parunya bekerja dengan sendirinya memompa bak mesin, yang menghirup oksigen lalu menghembuskan karbondioksida. Masih hidup.
Kedua mata Sean terlihat bengkak lebam akibat kroyokan masal yang tidak sportif kemarin, juga beberapa memar di sekujur badan, leher dan kaki.
"Isshhh, auch." Jatuh. Wen Qing terhimpit badan Sean, lalu kemudian membenarkan posisi lagi, mencoba lagi untuk keluar dari lorong gelap ini.
Sesaat mereka berdua sudah berada di ujung, Wen Qing yang lelah tak kuasa menurunkan Sean dengan pelan, hari malam nan gelap itu berada dalam keadaan hujan deras.
Jegerrrr
Cukup sebuah lampu buram terpajang di dekat pintu memberikan penerangan, agak goyang karena tertiup angin badai. Wen Qing mengambil Sebuah batu yang tergeletak lalu kemudian memukul borgol sekuat tenaga.
BUK!
Percobaan pertama masih belum, kedua! Masih juga belum berefek, ketiga! Juga masih belum. Sejenak karena terkejar waktu Wen Qing memikirkan cara alternatif.
"Ah, kenapa harus buntu seperti ini sih, jika tidak bisa membuka borgol ini, kekuatan penyembuhan ku tidak akan berfungsi sama sekali padanya," resah nya dalam batin menatap wajah Sean dengan cemas.
"Apa yang harus aku lakukan!" ujar Wen Qing, memutar otak untuk membuka borgol paling merepotkan sedunia ini.
Hari sudah semakin larut malam dengan suasana hujan yang mana rintik derasnya menjangkau mereka berdua sehingga baju jadi lembab basah.
"Biar aku bantu. Queen."
Seseorang tiba-tiba muncul mengagetkan Wen Qing, ia terlihat begitu capek dengan nada nafas tersengal-sengal habis berlari panjang untuk ke sini.
"Aku kira kamu tidak akan datang." Wen Qing menatap hambar kepada gadis itu.
"Aku sangat merasa bersalah kepadanya."
Setelah gadis yang berdiri di bawah langit hujan deras itu masuk ke kawasan teduh tersinari lampu maka nampak jelas lah wajahnya, si cantik Xin yu.
"Aku ngalah buat buka borgol ini, coba kamu yang buka."
Xin yu memeriksa borgol teknologi tinggi UHP keluaran terbaru itu dengan seksama, membaca sepatah kata mantra sihir lalu kemudian entah kenapa sebuah kunci muncul di hadapan mereka berdua.
Wen Qing menatap kaget, kemudian berkata, "Kamu cocok jadi pencuri kalo kayak gini skill yang kamu punya Xin yu."
"Aduh, jangan bahas masalah pencuri lagi deh, sihirku bersifat mantra fantasi, aku dapat memunculkan segala hal yang aku bayangkan."
"Ooo, gitu."
Xin yu pun mencoba membuka borgol tersebut menggunakan kunci yang ia ciptakan dengan mantra sihir fantasi nya.
"Tak" borgol terbuka, kunci itu pas sekali. Xin yu mengambil borgol tersebut lalu kemudian membuangnya jauh-jauh.
"Bagaimana sekarang?" tanya Xin yu menunggu jawaban Wen Qing.
"Sean koma karena energi dingin sudah merusak vitalitas tubuh, aku akan menyerap semua energi tersebut untuk menyelamatkan hidupnya," jelas Wen Qing kepada Xin yu bergerak mendekati Sean.
"Hei, apa yang akan kamu lakukan??"
Sepintas wajah Wen Qing jadi picik cabe menatap Xin yu dengan tersenyum lebar. "Aku akan mencumbui nya, kamu cemburu kan."
Xin yu pun teringat dengan ucapan utusan Wen Qing beberapa saat yang lalu bahwa ia menyampaikan pesan dari Wen Qing soal mendeklarasikan perang cinta.
"Huh,"-membuang muka-"Demi keselamatannya aku mengalah untuk sekarang."
"Jadi kamu tidak keberatan ya?" sindir Wen Qing.
"Asal kamu tahu aku sudah pernah ciuman dengannya, duluan dari kamu, ya," gerutu nyinyir pelan Xin yu masih memalingkan wajah tak kuasa melihat posisi Wen Qing yang sudah memeluk tubuh Sean.
"Untuk kali ini saja, aku ngalah."
"Ya sudah." Wen Qing mendekatkan bibirnya pada bibir Sean. Sehingga jarak wajah antara mereka berdua sungguh sangat dekat.
Xin yu yang geregetan bermuka merah panas di tengah hujan tak tahan untuk menonton adegan itu terjadi bahkan kedua telinganya jadi memerah, ia menutup wajahnya menggunakan map hijau yang sudah setengah basah.
"Anggap saja, tidak pernah terjadi." Mengulangi kata-kata itu sebanyak mungkin di dalam hatinya.
"Cup." Saat kedua bibir itu bertemu, Wen Qing pun menjalankan operasi nya kepada Sean untuk menghisap energi dingin yang ada di tubuhnya.
Mata Wen Qing bersinar putih sebagaimana ia adalah ratu es absolut yang dapat memanipulasi energi dingin es atau sejenisnya sekehendak hatinya.
Energi dingin memancar keluar dari tubuh Sean berpindah kepada Wen Qing, tubuh Wen Qing yang istimewa tidak akan berefek apapun ketika berhadapan dengan dingin.
Aurora keindahan molekul es tercipta di sekitar mereka berdua menyilaukan serta memancarkan cahaya, kegetkan Xin yu. Ia membuka map yang menutupi wajahnya, sembari tertegun mantap.
"Indahnya."
Perlahan, tubuh Sean yang rusak penuh dengan memar dan luka beregenerasi dengan sendirinya, lebam di kedua mata pun juga ikut kembali sehat. Hingga beberapa saat nanti keadaan Sean sudah pulih kembali adalah akhir dari ciuman ini.
"Aku tidak pantas untuknya, karena aku tidak mempercayainya waktu itu," dercak sesal penyesalan Xin yu menahan air mata di saat menyaksikan kejadian itu berlangsung.
"Sehingga kematiannya hampir datang menjemput, karena ulah kebodohan ku waktu itu."
.
.
.
Zhang Xin Yu 💗
\=\=\=\=\=\=\=\=\= °
Ia yang sedang tertidur panjang akhirnya membuka mata, dengan wajah merem berusaha tuk menemukan view yang lebih jelas dan jernih, hingga saat itu terjadi ia menemukan bahwa ada sosok wanita cantik menunggu ia untuk kembali siuman setelah mengalami penderitaan panjang.
"Kau akhirnya bangun," senyum manisnya tidak dapat dilukis, alangkah begitu elok rupawan bak senyum bidadari surga.
"Buahaha, jadi kamu itu berhasil mukul pantatnya?" Fei Zen tertawa terbahak-bahak bersama rombongan di kantin.
"Iya bos, keren kan."
"Lu masih bisa ketawa ya Fei Zen di saat-saat seperti ini." Xiao Ge sang kursi kedelapan menyindir Fei Zen di tengah keramaian kantin.
Bising keramaian mendadak jadi lengang. Semua mata orang tertuju kepada dua pemegang kursi kaisar itu.
"Xiao Ge, apa maksud lo bicarain gua kayak begitu."
Ket: Fei Zen masih belum tau sama sekali
kalau Sean udah keluar dari ruangan penghakiman berdarah.
"Fei Zen nasib lu sebentar lagi kelar di sini, jadi nggak usah banyak bacot," tatap mata Xiao Ge menantang.
"Aku raja di Akademi ini, siapa yang berani dengan ku?" sombongnya Fei Zen menunjuk telunjuknya kepada Xiao Ge.
"Keluar kau dari sini, bawa semua rombongan mu ke lapangan Koloseom, aku mendeklarasikan perang denganmu."
"Ho, jadi kau ingin melawanku?"
"Bukan aku, aku hanya membantunya sedikit. Pertarungan Kaisar akan diumumkan secara terbuka."
"Apa-apaan itu? Bukan kamu yang mau melawanku, lalu siapa ha?" Menaikkan dagu Fei Zen bersikap angkuh.
"Kau lihat saja nanti, dia adalah kakak sepupuku yang hebat."
Koloseom. Puluhan ribu penonton dari seluruh penjuru Akademi bahkan luar Akademi mengisi kursi. Kemeriahan sangat terasa, riuk pikuk mulai menggema di langit.
"Hula, hula, hu, lalalalaaaaaaa! Welcome back penonton setia Koloseom IU, cinta ku menyerbak luas kepada kalian, kembali lagi dengan saya MC tertampan kalian, Rooney. Baiklah pemirsa, kita mendadak mendapatkan berita hot bahwa pertarungan Kaisar laga perang antara dua kubu bukan pertarungan solo hari ini terjadi. Kubu pertama adalah seseorang pria misterius dengan aliansinya kursi kedelapan Xiao Ge!!! Beri tepukan hangat untuk mereka."
Sosok pria berjaket ungu dengan lambang naga muncul dari bagian timur Koloseom, diikuti oleh Xiao Ge beserta pengikutnya dari belakang sekitar seratus orang membawa berbagai alat senjata tumpul, meriah tepukan hangat dari penonton bisingkan arena. Di antara penonton ada Zack dan kawan-kawan ikut berpartisipasi menyemangati.
"Kubu kedua adalah Raja Akademi IU beserta pengikutnya Fei Zen, beri tepukan hangat untuknya!!"
Fei Zen bergaya sok berkuasa membawa antek-anteknya yang kurang ajar, berbagai perlengkapan tarung sudah menghiasi tangan mereka, keluar dari bagian pintu barat arena Koloseom.
Melambaikan tangan Fei Zen mendongak ke arah atas Koloseom, di sana ada ruangan penonton VIP, nampak olehnya Xin yu, Wen Qing dan beberapa pemegang kursi lainnya, ikut menikmati pertarungan laga pertarungan Kaisar yang bukan solo kayak biasa, tapi ini adalah grup. Kayak di film-film geng epik gitu.
Menatap tajam penuh permusuhan, aura membunuh keluar dari setiap kubu, siap untuk bertarung.
"Ready, fight!!!"
Pria misterius berjaket ungu lambang naga itu maju duluan berlari sekuat tenaga pimpin Xiao Ge dan pengikutnya, sedangkan Fei Zen berdiri menunggu di belakang bersikap angkuh di balik barisan pasukannya.
Zufff! Satu lompatan kaki kanannya menyimbak barisan pengikut Fei Zen, menghantarkan ia tiba secara langsung di depan Fei Zen yang dirundung berdiri sok raja. Alangkah lucu ekspresi kaget Fei Zen saat melihat mata tajam orang misterius itu tiba di hadapannya hanya sekedip matanya.
"Apa!!!"
BOOOM!!! Pukulan keras yang tidak disadari Fei Zen hantam mukanya hingga terjungkal jauh ke ujung Koloseom bahkan badannya menembus pembatas.
One shot one kill.
"Ha!" Mata Xin yu terbuka lebar. "Aku tidak tahu kalau dia sekuat itu."
"Dia adalah pahlawan bagiku, aku yakin kalau itu masih belum kekuatan penuhnya," ujar Wen Qing.
Saat kedua mata gadis cantik itu bertemu, refleks jadi tatapan persaingan. Aroma yang tidak akur menyelimuti atmosfir.
"Wuuu."
Semua penonton tercengang dengan mulut melongo. Pengikut Fei Zen gemetar ketakutan melihat punggung sosok perkasa itu sudah meludeskan bosnya, sekali pukul, padahal pertarungan masih pagi, belum memakan waktu semenit.
"Tung!" Tongkat besi Xiao Ge hantam kepala Bui, langsung pingsan di tempat karena melongo melihat punggung orang misterius itu.
"Perang woi, malah mengabaikan lawan di depan."
Belum sampai sepuluh menit pengikut Fei Zen sudah pada ****** di keroyok Xiao Ge and the geng, semuanya udah pada nyerah angkat bendera putih. Muka pada bonyok, walau udah nyerah Xiao Ge and the geng masih asyik memukul satu persatu.
"Merengek lah klen semua, pengecut," ujar salah seorang dari kubu penantang, pukul pantat muka jelek itu.
"Ampun, ampun," rengek Bui di kaki Xiao Ge.
"Hahahaha 😂😂😂." Penonton banyak yang ketawa melihat arena berdarah itu diubah jadi arena berbagai macam aksi komedi.
Apa ini hanyalah pertarungan candaan? Rasanya perbandingan kekuatan terlalu berat sebelah, mudah bagi kubu penantang menaklukkan kubu yang di tantang. Apa kemampuan nomer dua di Akademi IU hanya seperti bocah di hadapan pria misterius itu? Sehingga bikin penasaran para penonton, identitasnya.
Sosok pria misterius itu akhirnya bergerak setelah berdiri diam selama lebih dari sepuluh menit menuju ke tempat Fei Zen jatuh.
"Anjing!!" Fei Zen muntah darah dengan lima buah giginya copot, bikin rupanya jadi ompong.
Berusaha bangkit dalam keadaan puyeng setelah tertidur k.o sepuluh menit. "Woi siapa lu, ha. Kenapa lu nantang gua, emangnya lu nggak tau siapa gua, gua anak saudagar kaya di Cina, calon suami putri Zhang Xin Yu, ngerti nggak lu ha, hoiii ... ugh." Saat bicara bentak-bentak rambut Fei Zen di jambak keras oleh pria misterius itu bawa ke tengah arena Koloseom.
Fei Zen tidak berkutik saat rambutnya kena jambak. Hanya menangis minta pengampunan.
Buk! Melempar tubuh Fei Zen ke tengah arena.
Wajah bonyok Fei Zen menatap ke arah mata pria misterius itu dengan perasaan teramat sangat takut terkencing-kencing di celana. Saat pria misterius itu membuka tudung jaketnya maka tahulah Fei Zen siapa orang itu.
"Sean!"
Persidangan pun terjadi.
Semua perihal akannya telah terbantah hingga ke akar-akarnya di persidangan, Wen Qing sebagai saksi, sukses menguak fitnah yang direncanakan oleh kursi kedua Fei Zen di hadapan hakim agung bagian ruang lingkup UHP.
Dengan bukti kuat dokumen asli rancangan rapat bodoh malam itu, menguak fakta bahwa itu di susun oleh orang yang memanfaatkan kekuasaan secara ilegal, tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya, pencemaran nama baik serta penipuan publik jatuh kepada Fei Zen sebagai tersangka.
Di tengah persidangan itu tidak disangka keluarga kebangsawanan Xiao hadir bungkam semua orang, bahkan pihak Akademi yang ada di bawahnya kepincut merasa bersalah besar mau menerima ajakan Fei Zen untuk mendukung rencananya.
Keluarga Xiao secara terang-terangan mengumumkan kepada publik bahwa Sean adalah cucu darah nadi kepala keluarga Xiao ia diangkat sebagai tuan muda agung terbaik di generasi sekarang. Serta mengecam semua pihak di negara ini jika berani mengusiknya lagi.
Berita ini menyebar cepat ke seluruh penjuru negeri tirai bambu, bungkam mulut anak-anak heaters Sean di Akademi IU.
Hasil keputusan sidang menyatakan, Sean dibebaskan dari semua tuduhan, ia tidak jadi dikeluarkan dari sekolah secara tak pantas juga tidak akan di coret sebagai kandidat agen intelijen UHP.
Sebaliknya untuk Fei Zen beserta antek-anteknya, ia dikeluarkan dari sekolah, dijebloskan ke dalam penjara anak selama tiga tahun untuk dikarantina lalu di coret sebagai kandidat agen intelijen UHP.