
Daratan pesisir pantai China.
Seperti yang sudah kita ketahui, perang besar sedang terjadi! Antara kesatuan UHP China melawan ribuan pasukan jahat Black Demond. UHP berada pada posisi terdesak, setelah kedatangan makhluk kuat yang mengintimidasi aura seorang ras Iblis.
Jenderal Xiao Chen sudah dipukul jatuh olehnya sekali pukul kini iya berada pada koma antara hidup dan mati, lantaran efek skill dari Jendral Iblis itu adalah hukum kematian.
"Xiao Chen itu balasan atas apa yang kau perbuat padaku di pertarungan sebelumnya," ceringis tawa.
Tiga hari kemudian.
"Kejayaan umat manusia di bumi berakhir sudah!" Auman ras Iblis itu menambah semangat juang pasukan Black Demond.
"Hoooo!!!"
Darah bergelimpangan, banyak sudah yang terbantai tidak sanggup menahan gempuran mereka, Tiga pimpinan keluarga besar berdiri tangguh di medan juang tapi sudah kewalahan. Apakah ini adalah akhir dari China?
Tujuh pilar api muncul mengitari secara tiba-tiba membuat tekanan dahsyat gentarkan pasukan himpunan UHP China.
"7 menteri Raja Iblis datang!!" teriak pasukan Black Demond bergembira kemenangan sudah di depan mata.
"Hanya seperti ini ya kekuatan China!" ejek salah satu dari mereka.
Kedatangan tujuh makhluk mitos itu semakin membuat para manusia kepincut takut. Amukan pasukan Black Demond tidak membiarkan manusia itu lari dari pertempuran.
"Hei kemana kalian pergi!!" teriak Kakek Xiao, melihat ajudannya tetua keluarga lari mundur.
"Kita tidak bisa menahan kekuatan penuh dari Black Demond sendirian seperti ini, lebih baik aku lari, kabur saja lah Pak tua jangan memaksakan kami untuk mati di sisimu."
ZREEK! Tangan runcing menembus perut Kakek Xiao, perut berlobang pikiran mulai tidak sadar.
"Hahahaha kau selama ini penasaran siapa yang telah membunuh putri dan menantumu? Akulah yang sudah membunuh mereka dengan kedua tangan ini." Menarik tangan bak monster itu dari perut Kakek Xiao.
"Jadi kau pembunuhnya ..." Kakek Xiao pun tergolek dengan nada nafas tersengal-sengal sudah diambang Kematian.
Habis sudah nasib para pengabdi keadilan UHP China. Tidak ada yang tersisa lagi, sedikit ada yang bisa kabur perumpamaan nya adalah mengangkat bendera putih.
Perang yang berlangsung tiga hari tiga malam ini dimenangkan oleh Black Demond. Setelah memeriksa daratan China antek Black Demond tidak menemukan keberadaan keluarga bangsawan, hanya rakyat biasa yang menjadi tawanan perang, dijadikan budak untuk di bawa kembali ke daratan terlarang yang tidak tergambar peta, di jadikan bahan main terkhusus para wanita, bahkan di bantai secara brutal.
Hanya seperempat dari populasi yang selamat karena berhasil mengungsi ke luar negeri.
Sieji dan Steve dibebaskan dari penjara UHP, mereka berdua pun memberikan batu legenda yang sudah dikumpulkan untuk dipersembahkan kepada Raja dengan senang hati.
*
Memasuki negara tetangga, beberapa kendala terjadi, pengurusan paspor serta pajak lainnya, namun Sean, Wen Qing, juga Xin yu berhasil melewati dengan mulus karena diselamatkan black card Xin yu yang memiliki saldo tanpa batas.
"Kita tertinggal jauh dari bis sekolah," kata Xin yu mendesah dalam.
"Tidak, menurutku kita beda jalan. Entah mereka sudah di Thailand, Myanmar, atau Vietnam kita tidak tahu kan," hipotesa Wen Qing mencoba membenarkan situasi.
"Apakah perang sudah selesai?" tanya Xin yu.
"Aku berharap kita menang ..."
Semua terdiam, Radio dihidupkan oleh Sean yang langsung menggambarkan bagaimana situasi China menggemparkan bumi persada.
"Rumah kita sudah lenyap," ujar Wen Qing.
Terdiam, Sean hanya bisa merenungi nasib yang sudah terjadi kepada kakeknya dengan berharap ketika sudah tumbuh menjadi orang yang kuat hari nanti dia akan membalasnya berkali-kali lipat.
"Sial!!!" serunya kesal dengan nada lantang ketika mengemudi.
Sebuah danau mereka lewati dan di tepi danau ini ada sebuah penginapan layak untuk mengistirahatkan tubuh sejenak setelah perjalanan jauh.
"Bagaimana apa kita akan menginap di sini malam ini?" Sean menunggu persetujuan dua bos besarnya.
"Kamu sudah lelah mengemudi seharian, jangan tunggu lagi mari kita menginap di sini," ajak Xin yu.
"Aku ngikut aja," judes Wen Qing.
Penjaga penginapan begitu terkejut dengan kedatangan tamu dengan dua wanita cantik di sekitarnya, ia terlihat berwajah mesum mengagumi bakat pemuda yang berjalan ke arahnya.
"Brother, siapa dua wanita cantik ini!" bisiknya kepada Sean yang bisa di dengar jelas oleh Wen Qing dan Xin yu.
"Mereka berdua adalah tunanganku," jawab Sean polos, membuat Wen Qing dan Xin yu jadi malu.
"Wah hebat sekali kamu, humm kalau begitu pesan kamar berapa tuan?" tanya pak mesum.
Sean tampak bingung ia pun bilang dua kamar tapi malah diserempet Xin yu dan Wen Qing meminta satu kamar saja dengan alasan uang.
Sedikit berprasangka, eh masak mobil sebagus itu dengan pakaian mahal ada masalah pada uang?
Sean menolak tapi dua wanita itu memaksa sekali, hingga Sean mengalah tidak sanggup kalau berada mulut dengan mulut dua bos besar sekaligus.
"Sesuai dengan kenyamanan kalian untuk malam ini, aku persembahkan sebuah kamar dengan tiga ranjang. Tidak kebetulan tapi ini adalah takdir. Saya undur diri dulu."
Akhirnya mereka bertiga dapat merebahkan punggung setelah pegal tubuh dibuatnya hanya duduk di mobil lebih dari satu hari. Sean tidur dengan cepat sekali mengagetkan dua wanita itu.
Sean tidur di posisi ranjang tengah, sedikit ada konflik antara Wen Qing dan Xin yu membuat kesepakatan untuk tidak mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Awas ya kalau ada diantara kita yang pindah ranjang."
"Ok."
Wen Qing yang memaksa duluan untuk bersepakat tapi setelah pura-pura tidur dalam waktu lama dia yang melanggar, melihat Xin yu sudah terlelap di ujung sana, dengan mengendap-endap masuk ke selimut Sean, rebahan, lalu mengambil posisi mantap untuk tidurnya yang seperti seorang pasangan bulan madu tanpa di sadari Sean.
Eh ternyata Xin yu juga pura-pura tidur. "Huh, mana mungkin aku membiarkan kamu menang sendiri."
Wen Qing yang sudah tidur enak di samping kiri Sean tidak tahu kalau Xin yu juga naik ke atas ranjang itu, tidur dengan memeluk Sean pada bagian kanan.
Setelah beberapa saat.
Dua wanita itu tertidur lelap, seperti tidur sedang mengadu kepada suaminya. Air mata mulai muncul kepermukaan basahi pipi, merenungi nasib keluarga mereka juga nasib negara yang dibela.
Dua orang berjubah hitam berlindung di semak-semak tepi danau dengan berlambang Black Demond agung di punggung mereka. Mengintai penginapan.
"Benarkah mereka menginap di sini?"
"Betul! Kita harus cepat kembali sekarang melapor kepada Tuan putri sebelum di sadari pria itu."
"Baiklah ..."