Over Power

Over Power
Hujan



Wusssh.


Angin berguyur kencang membawa sinyal badai keseluruh daratan Korea. Awan-awan kota Seoul berkerumun menutupi pancaran sinar matahari. Hitamnya langit menurunkan air hujan tebal mambasahi kaos hitam lagi dikenakan olehnya yang sedang broken heart.


Tetesan air matanya bercampur aduk dengan derasnya hujan. Lipatan celana Jeans-nya ternoda oleh butiran debu pasir terciprat sepatu tengah berlari. Langkahnya berderu-deru mengarungi jalan kota yang sudah menjadi becek tak lama setelah hujan turun.


"Ke*pa*rat." Ludahnya setelah air masuk kedalam mulut. Disaat kakinya masih melangkah diterpa hujan.


Matanya memerah kemasukan air, dalam merenungi hatinya kecewa dengan hal yang kini membuatnya berada pada zona kegalauan korban cinta. Cinta sangatlah rapuh dan mudah goyah ketika ia dihampiri badai.


Sean menutup pintu rumah dengan keras, lalu bergesa-gesa segera menukar pakaiannya yang telah lembab habis terguyur hujan lebat. Meletakkan barang belanjaan dengan rapi di lemari baju. Ia pun lekas berbaring di sofa, sembari tergaduh oleh dering handphone tombol terlupakan di keranjang sampah. 10 panggilan tidak terjawab Lisa.


"Cih ... aku terlalu membenci hal seperti ini," gumam Sean menggerutu atas pikiran yang samruet dan malasnya ia untuk menjawab panggilan dari Lisa.


Ia pun mulai mengotak-atik pikiran untuk mencari penghibur hatinya yang sedang dalam kegalauan. "Oh ya, aku kan belum sempat mencoba smartphone baruku!" Lintas ide yang terbesit dalam benak.


Sean bangkit dari sofa dan mengambil smartphone hadiahnya dari kak Angelina tersusun rapi dalam box diatas meja kamar. Setelah mengambilnya Sean kembali pada posisi santai, meloncat ke atas kasur berselimut hangat. Cocok mengademkan suasana kini yang masih tengah hujan deras.


Tanpa perlu basa-basi Sean menekan tombol on pada fitur smartphone. Tampilan menu awalnya masih tanpak seperti smartphone pada umumnya. Anehnya kok tanpa kartu SIM-card bisa sinkron dengan internet? Sean yang kebingungan mencoba mencari tahu dari kotak informasi smartphone super ini.


"Helo junior U.H.P pasti lagi bingung nih sama smartphonenya, smartphone ini tanpa SIM-card kau sudah bisa menikmati internet bebas dan teleponan kesemua operator, jadi makin mantul kan. Kapasitas ram 1000 GB biar makin gila. Jadi jangan mengabaikan pekerjaan ya, gara-gara mabar sama temen. Bisa di sita lho."


"Buset dah, U.H.P bisa bercanda kayak gini ngasih info di box smartphone. Jadi penasaran siapa sih yang ngambil posisi ketua produksinya pasti orangnya humoris sangat nih." Sean lagi nahan tawa, plus dapat smartphone super gratis dari U.H.P secara cuma-cuma.


Setelah scroll kesana-kemari layarnya diotak-atik, ada sesuatu yang langsung menarik perhatian Sean, sebuah ikon aplikasi tertulis dimereknya Hecker Chat System. "Astaga, ini berguna sekali," gumam Sean yang langsung mencet secara spontan.


"... Welcome para stalkers lover ...."


Dilandasan pertama sudah tersedia kolom berjudul, "Masukkan akun sasaran." Terbesit langsung dalam fikiran Sean hal yang sangat penting baginya yaitu rahasia chatingan akun line Lisa. Apakah Lisa selama ini benar-benar melakukan hal pelik dibelakangnya? Atau juga apa rahasia antara Lisa dan artis top muda itu?


Ia langsung mencari akun line Lisa, dan tidak perlu menunggu lama akunnya sudah tertangkap, mengingat akun Lisa salah satu akun media yang populer dalam kalangan sosial media.


Dengan tekad kuat Sean mengecek isi riwayat chat Lisa. Di halaman utama daftar awal Kim Soo Hyun status sedang berlangsung. Ini adalah kesempatan emas bagi Sean untuk mengikuti percakapan mereka.


Duk duk.


Jantung Sean berdegup mendapati chat pria itu mengungkapkan aku suka padamu. Dalam pesannya yang baru saja terkirim. Cemas darah Sean masih loading menunggu jawaban Lisa dalam proses mengetik.


"Maaf hatiku hanya untuk Sean." Jawabnya untuk Kim Soo Hyun yang lagi enak-enaknya ingin mendengar aku juga.


Hal ini benar-benar membuat tamparan untuk Sean, Karena keegoisannya tidak mendengar kan Lisa, dan langsung berfikir negatif tanpa penjelasan darinya.


"Ha ... kau begitunya sayang sama bocah miskin?" gertak keras balas chat dari pria itu.


"Bukan urusanmu, dan ingat jangan pernah hubungi aku lagi. Aku sudah memutuskan kontrak dengan alasan projek tidak senonoh dipersidangan nanti. Bye ..." balas Lisa tegas mengakhiri percakapan dengan titel offline.


Kolom chat cowok itu sedang terketik lagi, yang mana itu belum terkirim, tapi sudah bisa dilihat oleh sistem U.H.P versi X1. Benar-benar tegnologi yang tidak bisa dianggap kentang. Dari ketikan itu tertulis.


"Dasar wanita bodoh! Hah kita lihat saja nanti karena sudah mencoba menolak ku!"


Dengan nada yang jelas dibaca kalau itu adalah perwujudan tersirat hati jahat.


"Apa yang akan direncanakan bocah ini?" resah batin Sean berposisikan pada prasangka buruk.


Sean pun merencanakan sesuatu juga dibalik permainan Kim Soo Hyun untuk mencelakai Lisa. "Gimana kalo aku stalking aja akunnya, riwayat panggilan, chat, dan lain-lain jadi mudah deh, iya kan. Hahahaha, kau dalam pengawasan ku!"


****


Hari-hari musim pergantian cuaca ini dengan curah hujan tinggi yang mana sekolah sudah berada tanggal libur hingga bulan Januari, tidak terasa sudah 5 hari Sean memantau akun Kim Soo Hyun.


Zik. Zack. Zek.


Lagi-lagi pagi ini Sean pasang wajah boring, bangun tidur dia terus mandi tidak lupa menggosok gigi di kamar mandi dengan smartphone X1 stay dimana saja dia berada, terduduk rapi di samping cermin kamar mandi.


Beep beep.


Bunyi yang mengisyaratkan akun si Kim siapalah aktif. Sean pun langsung mengetuk layar smartphone sambil meneruskan menyikat gigi dengan telinga fokus mendengarkan.


"Siapkan obatnya. Cungkrik! aku harus mendapatkannya malam ini."


"Boss aku nganternya kemana?"


"Oi Hotel Frankenstein. Para artis akan mengadakan pesta malam ini. Jadi gue dapet kesempatan nih, masukin obat itu keminuman perempuan yang kucinta. Gagagaga."


"Ashiaap Boss."


Mendengar percakapan mereka Sean spontan naik pitam. Krakk! Gundar giginya jadi patah dua deh. Ia pun mencari alamat hotel yang bernama Frankenstein lewat google map.


Pagi itu dia sudah merencanakan segala hal untuk bisa menyelinap kedalam hotel, berjam-jam ia menyiapkan persiapan dengan matang untuk menyelamatkan Lisa dari pria kotor si Kim siapalah itu.


Cuaca diluar masih mendung seperti biasa, dengan rintik hujan kecil dengan masa jangka waktu lama. Aroma dingin menusuk kedalam pori-pori kulit. Sean sudah siap 100% menjalankan rencananya.


Ia mengenakan jaket Hoodie tebal hampir menutup seluruh muka ditambah masker hitam yang makin membuat dirinya tampil tidak dikenal. Berjalan dengan cepat, arah matanya penuh dengan rasa murka yang sudah dipendam pada si Kim Soo Hyun 5 hari terakhir ini. Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 yang mana pesta akan diadakan pada pukul 20.00 PM.


"Come to Papa." Kepalan tinju Sean memanas mengeluarkan uap yang bertolakan dengan hawa dingin kota Seoul sehingga mengepulkan asap di kedua lengannya.


To be continued