
Dor dor.
Ratusan peluru terbang mengarah makhluk besar itu, namun seakan peluru baginya hanyalah mainan yang menggelitik kulit tidak sampai membahayakan. Melebam roket di tembakkan oleh senjata alat berat baru mampu untuk menumbangkan Glutotian dua puluh meter satu persatu.
Walau kini umat manusia unggul, tapi kerusakan kota tidak bisa dihindarkan. Kisaran Milyaran dollar hangus menjadi hitungan kerugian bagi Kota Busan.
"Nara ayo cepat lompat sini," Kanmu melebarkan kedua tangannya dengan menyiapkan kuda-kuda untuk menangkap Nara yang sedang hendak melompat dari atas pagar dinding tinggi tiga meter.
"Kyaaa," pejamkan mata ia segera melompat.
Hap, lalu di tangkap oleh Kanmu dalam pelukannya, harum aroma romantisnya semerbak di tengah-tengah perang kota Busan melawan ratusan spesies Glutotian.
"Ehh," Kanmu dan Nara jadi canggung deh, jadi Kanmu menurunkannya dengan pelan.
"Te-terima kasih," ucap Nara pasang wajah menunduk ke bawah, tidak kuat menatap wajah Kanmu. Begitupun Kanmu malah saltingan, menggaruk pala yang tidak gatal.
"Ayo Nara lewat sini." Kanmu membawa Nara menuju posko U.H.P yang kini telah bersih dari makhluk Glutotian. Jadi itu adalah tempat teraman saat ini di kota Busan.
Terlihat di sana unit medis sibuk membopong mereka yang cidera dari pertempuran, ada yang sedang mengobati, dan juga ada para aparat khusus menjaga sekeliling posko dari kehadiran Glutotian.
Nara melihat hal itu semua penuh dengan rasa prihatin, gelimpangan masyarakat Busan yang terluka berkumpul di posko itu, mereka berkumpul sembari memastikan apakah keluarga mereka lengkap?
Di tenda putih berlogo elang emas sudah menunggu di dalamnya Pak Wali Kota, harap cemas masalah keselamatan putri tercinta.
"Dimana kau nak?" batinnya resah.
Di luar tenda itu akhirnya Kanmu dan Nara sudah sampai, Nara bersiap-siap masuk ke dalam hampiri Ayahnya.
"Masuklah Nara di dalam ada Ayahmu yang sudah menunggu." ucap Kanmu mempersilahkan.
"Kanmu kau akan kemana?" Sebelum ia akan masuk Nara malah tidak ingin berpisah dengan Kanmu, mencegat langkahnya.
"Aku akan ke tempat teman-teman ku, membantu mereka melawan makhluk Glutotian nanti," jawabnya datar sembari melanjutkan langkah.
Nara yang merasa bukan siapa-siapa bagi Kanmu merasa baper, ia hanya membiarkan Kanmu pergi dengan matanya yang lesu terpaku menatap ke bawah. Berlawanan arah Nara masuk ke dalam tenda sedangkan Kanmu mulai berlari menuju para sahabatnya.
Zruuup, kain tenda tersingkap.
"Syukurlah nak kamu baik-baik saja!" Air mata bahagia Pak Wali Kota meluncur, anak semata wayangnya hadir dan masih sehat wal a'fiat.
Memeluk sang putri Pak Wali Kota begitu sedih jika ia kehilangan anaknya, siapa keluarga yang masih akan tersisa lagi baginya, setelah kehilangan istri dua tahun lalu.
"Ayah aku tidak bisa bernafas."
Karena Pak Wali Kota terlalu erat memeluk anaknya, Nara jadi sulit bernafas.
Reuni dengan Ayah berakhir, tapi Nara tetap terlihat sedih duduk di kursi tenda, merebahkan wajah di atas meja. Ia lebih
seperti sedang galau, Pak Wali Kota pun sadar lalu bertanya dalam fikirannya apakah gerangan yang buat putrinya jadi galau?
"Nak Ayah mau tanya, apa kamu sudah jatuh cinta." tebak Pak Wali Kota Ayah Nara asal asalan.
"Berisik lo pak tua," cemberut Nara memalingkan wajah.
"Cie cie, cie cie," goda Pak Wali Kota bercanda dengan putri kesayangannya. Tenda jadi berisik dengan kemarahan Nara pada Ayahnya yang memancing di tengah kagalauan.
Di lain tenda posko pengungsian milik U.H.P Kanmu sudah berkumpul dengan Boby, Ester dan Oval. Namun keadaan Oval masih belum baikan setelah menggunakan mana berlebihan untuk memindahkan semua orang dari Bis menuju kota Busan.
"Boby bagaimana masalah kak Sean yang hilang?"
Mereka sekarang tengah membahas persoalan hilangnya Sean.
"Ester, opiniku menyatakan saat bis kita jatuh ke dalam jurang, pintu yang di sender tidur kak Sean terbuka. Ia jatuh duluan ke bawah jurang, saat 2,1 detik setelah itu barulah Oval mengeluarkan teknik tingkat tinggi memindahkan kita semua dalam satu waktu," Boby mengeluarkan isi pikirannya yang jenius dan tepat.
"Kalau seperti itu jadi sekarang kak Sean lagi tersesat dong di tengah hutan atau sudah mati?" Kanmu angkat bicara dengan suara tegas tapi juga terkandung cemas.
Oval yang tengah tergolek lemah di punggung Ester membuka mata sedikit seraya berkata,
.
.
.
.
°°°°°
"Astaga aku tidak menyangka hal ini bisa terjadi."
Gelisah Sean melihat keadaan kota Busan kini bagaikan kota perang. Bangunan-bangunan kota banyak yang sudah koyak dan runtuh. Asap kebakaran mengepul di manapun ia memandangi kota.
"Aku harus segera masuk ke dalam pertempuran setidaknya dapat menyelamatkan beberapa orang yang membutuhkan pertolongan."
Sean melompat dari puncak dahan pohon itu kebawah tanpa ragu, mental Sean telah di tempa oleh Glutotian selama pertarungan hidup matinya di tengah hutan sendirian. Kini ia sama sekali tidak takut mati. Tebing hanyalah sebuah taman bermain untuk di turuni dengan melompat ke bawah. Wusssh.
Suatu tempat puncak menara Busan.
"Kiikikiki, Alex apa kamu sudah mengirim makhluk Glutotianku untuk menerbangkan Bis mantan sekolahmu?"
Lidah orang itu sangat picik dan licik menjulur seperti lidah ular, orang itu memakai jubah hitam panjang bak penyihir hitam. Pola matanya tidak seperti manusia normal.
"Kau tahu senior, aku lebih suka menjadi makhluk kuat seperti ini bergabung ke dalam Black Demond dari pada bersekolah buang-buang waktu ku saja."
Disampingnya Alex berdiri dengan congkak, kain yang serupa dengan orang yang di sebutnya senior itu melekat di tubuh. Apakah Jubah hitam seperti pakaian kaum penyihir hitam ini merupakan khas organisasi Black Demond yang ia cakap barusan?
Di belakang mereka berdua seseorang tidur dengan raut wajah no life, melihat dunia seperti melihat sesuatu hal yang membosankan baginya.
"Oi Steve, Glutotian yang kau kirim dah pada mati tambah lagi," bilangnya santuy dalam posisi tidur.
"Baik tuan muda."
Orang yang tampak liar seperti Steve ini menunduk di hadapannya, siapa sebenarnya orang ini, dan apa motif dari ulah mereka yang hancurkan kota Busan menggunakan makhluk Glutotian untuk menyerang kota?
Banyak pertanyaan mulai bermunculan di benak.
"Orzomus palipus." Steve mengucapkan mantra sihir, muncul sebuah portal dari dunia lain panggil lima makhluk Glutotian ukuran dua puluh lima meter.
"Hiiiiiks," darah hitam muncrat di mulut Steve.
"Senior kau tidak apa-apa?" Alex sok perhatian.
"Ha, ha tidak masalah. Walau aku mati tetap tidak masalah, aku abdikan diriku di bawah perintah tuan muda." Steve menyeka darah hitamnya yang keluar dari mulut.
"Kalau sudah tidak bisa lagi, sudahlah jangan di paksakan." Enteng pria itu ngomong lanjutin tidur yang membosankan. "Jeritan ketakutan orang-orang cukup menarik," ucapnya dalam batin.
"Oi Alex, bocah yang kau cari sudah sampai,"
Steve memberitahu Alex akan tujuan Alex yang di bicarakan sepanjang waktu bersamanya.
"Siaaaaap, aku akan bunuh dia lalu Lisa jadi milikku huahahahahaha," seringai jahat Alex menggema.
"Berisik lo bocah nganggu tidur aja," sangkal pria itu menusuk tenggorokan Alex auto berhenti tertawa.
"Maaf tuan muda." Alex berbalik penuh hormat.
"Baiklah kalau begitu Alex berangkat senior."
Alex memancarkan aura jahat yang begitu tebal, matanya merah bercorak ular tajam. Sekejap mata ia hilang dari puncak tower itu.
To be continued