
Sean sekarang telah kehilangan semua ingatan akan memori indah yang sudah ia lalui bersama Lisa belasan tahun belakangan ini. Semua tentang dirinya, baik itu cinta, nama, sosok, janji, dan kenangan yang sudah di ukir dengan perasaan dari lubuk hati terdalam. Yang mana itu semua adalah bentuk pengganti keberadaan keluarga haqiqi yang telah hilang beberapa bulan ini.
Sekarang yang Sean tahu kini hanyalah dendam akan malam yang menjadikan dirinya sebagai yatim dan piatu. Kehausan dirinya untuk bertambah kuat selalu memompa tekadnya untuk berubah from zero to hero melampaui batas siapapun. Karena sosok yang dilihat lewat jari Jin itu seperti jelmaan makhluk yang mengerikan seperti malaikat kematian atau lebih tepatnya Iblis yang jahat.
"Aaa."
Memukul dengan gerakan berputar, disekitar bulatan kepalan tinjunya memiliki atmosfer Qi padat yang dapat meremukkan tulang. Hal itu terus dilakukan dengan gigih di tengah padang rumput. Sudah dilakukannya seharian tanpa istirahat.
"Wahai anak muda, tidakkah engkau merasa lelah."
Pohon jomblo yang tegak berdiri kokoh di tengah lapangan menyahuti Sean yang berada tidak jauh.
Sean berterimakasih banyak kepada pohon jomblo itu karena berkat bantuannya ia dapat mengerti sedikit demi sedikit isi buku beladiri kehendak ilahi yang sedang dipelajari sekarang.
"Sedikit lagi."
Lengang sejenak.
Semua menjadi satu, hukum gerbang pertama baik itu dalam dan luar harus menyatu agar menciptakan keseimbangan pada jiwa dan raga. Hukum gerbang pertama buka.
Resonansi pemahaman itu mempengaruhi tubuh pewarisan, Sean telah dapat menguasai kekuatan Over Power gerbang pertama, jadi kini mau ataupun tidak dia sudah leluasa jika ingin mengaktifkan bentuk tranformasi kekuatan dahsyat itu.
Matanya bersinar dengan aura yang mencekam. Rombak rambut hitamnya berkibar hanya karena gelombang angin yang dipancarkan saat gerbang pertama dibuka.
"Hah." Melayangkan tinjunya.
Zoof
"Cukup sampai disini."
Mengembalikan tubuh pada kondisi normal Sean berbalik arah mendekat pada pohon jomblo.
"Terima kasih atas bantuannya kakek pohon, setidaknya beritahu aku namamu," seru Sean penuh penghormatan.
"Namaku? Kalau begitu panggil saja aku dengan sebutan Baba."
"Benarkah, kalau begitu Baba, Sean undur diri dulu, tapi bakalan sering mampir kok ke sini untuk berlatih." Sean mengambil jaket parasut yang tengah tergeletak di bawah Baba si pohon jomblo. Tersenyum manis sambil berlari dengan melambaikan tangan di sebrang sana hingga lenyap dari pandangan Sang Baba.
"Sedikit nostalgia untuk orang tua sepertiku, anak muda ini punya aroma yang sama dengan majikan yang sudah merawatku dulu ribuan tahun yang lampau."
Rimbun dedaunan diterpa angin, gugurkan beberapa helai.
Rasa terima kasihku tidak akan pernah lenyap hingga akhir hayatku.
*
Saat di mana manusia zaman kerajaan kuno hidup tanpa bergantung pada teknologi sains dan ilmu pengetahuan. Muda mudi berpakaian tradisional daerah. Adat istiadat masih kental menghiasi negeri ini.
Seorang anak laki-laki rambut panjang yang di ikat menggunakan karet terbuat dari getah yang di dinginkan melalui proses alam, diproduksi melalui kerajinan tangan, terbukti tahan lama walau kelihatan sederhana. Ia menjinjing bingkisan di tangan sebelah kanan.
Berjalan dengan sandal jepit menyusuri jalan beralas tanah dan bukan enak senang berjalan di atas jalan yang bukan aspal, karena sewaktu hujan air akan menggenang jadikan perjalanan tidak nyaman harus menjelajahi becek lumpur di setiap kaki memijak.
Kereta kuda tiba-tiba datang. Maka hal yang tidak senang pun menimpa anak muda itu.
Zuuur.
Percikan lumpur memuncrat kemana-mana sampai mengotori pakaian lusuhnya.
Sejenak kereta yang ditarik oleh kuda itu berhenti. Tirai bunga teratai putih yang menutupi penumpang yang berbeda di dalamnya tersingkap.
"Cih, hei rakyat jelata mau apa kau datang ke tempat ini, kamu tidak pantas untuk menginjakkan kaki di tanah para bangsawan, kamu tidak tahu siapa yang ada di dalam sini bersamaku, ia adalah putri kerajaan ini."
Bengis dari wajah seorang anak muda seumuran, berpenampilan lebih baik dari segi kebersihan dan bentuk pakaian, alis matanya pun di beri calak hitam sehingga membuat itu terlihat lurus runcing. Nampaknya dia tidak suka dengan kehadiran anak miskin yang bersandal jepit itu.
"Aku hanya ingin menemui Ayahku di istana, maafkan aku tuan muda."
Sebagai orang berkasta rendah memang di haruskan untuk hormat dan tunduk jika berbicara pada orang-orang yang lebih tinggi status sosialnya, terutama di kerajaan yang berkuasa ini kerajaan Bai-yan sejarah ribuan tahun lalu yang sudah hilang.
"Siapa ayahmu sehingga punya hak untuk bisa bertapak di tanah kami," cerutu pangeran angkuh.
"Maafkan aku tuan muda, ayahku adalah seorang penjaga pintu gerbang," mendekap kedua tangannya lalu membungkuk ke arah kereta itu.
Wajah nan menawan hadir di sanding tirai bunga yang membuka sendirinya pada bagian agak belakang kereta dekat dengan anak muda sandal jepit itu berdiri.
"Jadi kamu adalah putra Bapak Chio, Hyung. mari masuk ke dalam kereta, ikut saja bersama kami kan kita satu arah," suara manisnya sungguh sangat menyentuh hati. Kemurahan hati seorang putri.
"Cuih." Pangeran itu meludah dengan sengaja, head shot menempel tepat pada kening si rakyat jelata bersandal jepit.
Dengan penuh penghinaan anak muda itu menyeka air ludah yang menjijikkan itu. Raut wajahnya langsung down setelah diperlakukan secara diskriminasi norma sosial.
"Dia tidak pantas untuk masuk ke dalam Shima, kita ini bangsawan sedangkan dia ini hanyalah remah."
"Hei Sasuya kau tidak pantas melakukan hal keji seperti itu." Tuan putri menimpali perilaku buruk yang telah dilakukan secara sembarangan, apakah layak seorang bangsawan yang berpendidikan, tapi punya akhlak bagai anjing yang tidak tahu mana sampah dan mana itu yang boleh dimakan.
Cekcok di antara mereka berdua terjadi.
"Kamu adalah tunanganku Shima, tidak pantas kau menceramahiku segala."
Melihat hal runyam itu terjadi pemuda bersandal jepit pun tidak tega. Ia merasa bersalah kepada tuan putri, karenanya tuan putri kehilangan waktu dan menghabiskan masa dengan sia-sia hanya karena sebab yang sepele.
Ia pun berisiniatif angkat bicara memotong perdebatan mereka.
"Maaf atas kelancanganku, lebih baik tuan putri dan tuan muda berangkat saja duluan." Bersidekap memandang tuan Putri dengan wajah senyum tulus. "Terima kasih tuan putri tak usah menghiraukan hamba ini, sesuai perkataan tuan muda, saya hanyalah rakyat jelata sama sekali tidak pantas berbaur dengan kalian."
"Huh, jadi kamu sudah paham, enyah!"
Berkesan buruk buat sakit hati sedari tadi, pemuda bersandal jepit senyum tipis pada tuan muda Sasuya. Mendongak ke atas lalu membalikkan badannya, ia pun berkata, "Tuan muda memanglah selalu benar, anda adalah perwujudan kebijaksanaan." Berjalan mendahului letak kereta, tapi di balik punggungnya yang di tatap tuan muda itu ia memasang wajah ingin tertawa.
"Hahaha pujilah aku sesukamu."
"Dasar manusia rendah nan sombong," batinnya melengahi suara tawa tuan muda Sasuya.
Kereta yang ditarik menggunakan tenaga kuda menyelip jalan kaki sandal jepit, lagi-lagi roda kereta menghimpit genangan air becek, hal yang sama pun kembali terjadi.
Zuuuur
Kesirap darah karena terkejut untuk kedua kalinya air becek itu muncrat hingga ke wajah.
"Kampret lu, sabar-sabar ... haish. Menjadi seorang pendekar harus punya wibawa," gerutunya mengurut dada.
*
"Ayah," panggil pemuda bersandal jepit itu.
"Hyung!!"
Pria berseragam baju besi prajurit kerajaan itu menanggapi panggilan anaknya, di mana sekarang adalah gilirannya bersama paman yang berdiri di sana untuk menjaga gerbang bagian barat daya istana.
"Hehe, Hyung datang Ayah, dengan membawa bekal seperti biasa untuk Ayah," menyodorkan bingkisan itu penuh keceriaan.
"Maaf Ayah kain pembungkusnya agak kotor," ucap Hyung dengan nada ungkapan kecewa.
"Tidak apa-apa yang penting lauk dan nasi masih tetap higienis." Sang Ayah menerima apa adanya tanpa mengeluh.
Menawarkan bekal itu pada teman rekan kerja, sosok ayah itu sangat suka berbagi.
"Waduh kayaknya aku kebelet nih."
Menatap Ayah dan kawannya menikmati lauk ia pun meminta izin untuk pergi boker tapi dengan kiasan atau istilah kata, biar tidak menggangu lidah mereka.
"Ayah, susu sapi buah kedondong hmmm... cabut dulu dong." Berlari sudah tidak tahan, bicaranya saja ngaur. Karena pegang perut sang ayah pun mengerti anaknya ini lagi kebelet mau buang ampas di perut.
"Putramu sangat baik Pak Chio, salut aku," puji kawan kerjanya.
"Biasa turunan dari ibundanya," bicara sambil mengunyah nasi.
"Pantesan."
*
"Waduduh, dimana tempat buang hajatnya nih, istana kok gede banget."
Sekilas ada sungai tidak terlalu jauh.
"Disana!!"
Berlari cepat tanpa mikir apapun lagi, ia menerobos dengan deru cepat langkahnya.
Air sungai jati itu sangat jernih juga dangkal dengan bebatuan sangat banyak. Ia pun menjinjit memilih mana batu yang lebih besar, agar dia bisa bersembunyi boker di sana supaya tidak kelihatan oleh para warga istana, malu dong apalagi itu kalau perempuan.
"Ah sudah pas."
Melakukan aksi dengan diam-diam.
Disaat yang sama sebuah kotak hitam kecil berseluncur di atas air sungai yang mengalir, kebetulan nih arah kotak itu menghantarkan kotak terhuyung-huyung langsung kepada Hyung secara tidak sengaja.
Menjongkok di atas air sungai itu, Hyung takjub, apakah ini sebuah kotak harta?
_________________
Helo readers tercinta, simak terus ya cerita tentang Hyung ribuan tahun yang lalu di kisahkan oleh Baba si pohon jomblo.🤓
To be continued