
Lebih baik bangkit dari pada menangis dengan kesia-siaan yang penuh akan penyesalan. Good bye masa lalu, aku datang masa depan untuk merangkulmu menjadi lebih baik.
Over Power
_______________________
Brum, brum!
Bising dengan suara motor knalpot racing yang berputar mengitarinya, bisik-bisik para brandal sok keras yang ingin mengeroyok satu orang tanpa rasa malu. Apa benar mereka pria sejati?
Wajah ketua geng itu sudah berada pada puncak kegirangan, menunggu kepuasan yang didamba menghancurkan saingan berat yang menghalanginya untuk mendapatkan seorang gadis yang mengabaikan perasaan si tuan muda.
"Hajar !!!" lantang perintah jari telunjuk kearah Sean yang sudah terkepung.
"Bagaimana ini, terlalu banyak aku juga nggak paham sama bela diri. Gawat." Mental mulai rontok begitu banyak jumlah orang yang menyerbunya sendirian.
Rasa takut dipukuli mulai merangsang kekulit Sean, ia memejamkan mata dengan sebutir keringat kening yang mampir kekelopak mata.
Dirinya berdiri pasrah untuk dihajar.
"Jangan khawatir, kau adalah sang pewaris."
Suara antah berantah muncul begitu saja. "Siapa?" Sean penasaran dari manakah suara itu berasal?
"Bukalah matamu."
Sean yang mendengar suara itupun mengikuti apa yang ia bilang, "Wah ..." takjub setengah mati ketika matanya dibuka. Gerakan semua orang itu seperti melambat dan mudah untuk dibaca.
"Berangkat, jadilah kuat."
Kepercayaan diri Sean terbangun, semangatnya melonjak tinggi. Hatinya kini terasa panas seperti kehausan keinginan bertarung.
Di saat pukulan salah satu dari mereka melayang ke wajah Sean "Buk" lehernya merenggang seperti tidak ada sakit dengan kepala yang masih tegap.
"Eto." Kejanggalan dirasakan oleh pemukul.
Asap panas keluar dipipi Sean memulihkan sedikit memar dari pukulan itu, hawa bertarung yang sangat mengintimidasi menyebar kesekitar, membuat kuduk mereka meremang.
"Kruk." Suara pletukan leher.
"Hoho, jiwa ini mulai bersemangat, maju klen semua." Tantang Sean dengan mata tajam.
"Horaaaaaaaa." Teriakan menyerbu khas mereka berdendang di jalan sepi itu.
Tonjokan demi tonjokan di lakukan Sean merubuhkan wajah mereka satu persatu seperti one shot one kill saja. Walau keringat sudah bercucuran lelah sama sekali tidak ada tampak diwajahnya.
Sebaliknya Sean menikmati pertarungan itu, siapa saja yang menghadap langsung tumbang. Hingga tidak terasa yang bersisa hanya si Alex berdiri dengan wajah tegang tidak percaya dengan hal yang tidak sesuai dengan dugaan.
"Hai ka-kawan kita teman kan, bisa di bicarakan baik-baik?" Alex berdalih untuk lari. Sungguh seperti sifat pecundang yang sesungguhnya.
"Makan nih," ucap Sean sambil melayangkan kakinya ke wajah Alex membuatnya tepar pingsan tersangkut didinding belokan jalan.
Sean pun berjalan santai di lorong itu dengan meninggalkan jejak mereka yang pada terkapar semua.
Setibanya di rumah
Sean kini isi kepalanya penuh dengan pertanyaan, terutama untuk suara yang datang secara tiba-tiba tadi. Tapi dibalik itu semua dia sangat bersyukur apakah ini adalah code harapan baru untuk bisa menjadi kuat dan membalas dendam.
"Setidaknya ada jalan untuk berubah!" Matanya berbintang dengan spatula di genggaman.Tampaknya dia sedang memasak, dan karena Sean melamun sudah sangat lama, bau gosong merambat ke hidung.
"Kayaknya ada yang terbakar deh"- Sean melihat kebawah-"astaga udah gosong." Dengan tergesa-gesa Sean mematikan kompor.
"Apes, persediaan ini yang terakhir," gumamnya dengan wajah kecewa atas nasib itu.
"Kantong kena kanker juga,nih," ucapnya ketika membuka dombet yang diambil dari saku.
"Bagaimana ya, cara mendapatkan uang? Kalo begitu aku jalan-jalan aja dulu deh keluar siapa tau ada ide."
***
"Zehehehehe ... lihat cewek itu cantik banget. Kuy santap," ujar preman paruh baya yang melirik seorang wanita muda yang lagi sendirian jalan di tempat lengang.
Wanita itu memiliki paras yang klasik dan indah bagaimana tidak bisa menarik mata yang memandang.
"Kyaaa, tolong." Wanita itu meronta ketika preman itu mulai melancarkan aksi bejatnya.
"Lepaskan aku, seseorang tolong." Teriaknya semakin keras saat preman itu memegang tangannya dengan lidah terjulur.
"Oi mesum, pergi kau!" Suara itu datang dengan sebuah pukulan yang memisahkan mereka.
Wanita itu melihat sosok yang sangat tampan datang menyelamatkan dirinya yang hampir dilecehkan, wajahnya berbinar seperti melihat seorang pahlawan. Batinnya berkata "Apakah ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama?"
Disamping itu Sean telah memberikan pelajaran kepada preman yang tidak tahu malu itu. Menghajarnya hingga gigi bercerai.
"Jangan melakukan perbuatan keji!" bentak Sean mengusir preman itu.
"Oi apa kau tidak tau siapa aku! Aku dari kelompok mafia bawah tanah Black Mamba, beraninya kau mengangguku, awas saja kau bocah," ucap preman itu sambil pergi dengan kekesalan.
"Apa kamu tidak apa-apa nona?" tanya Sean saat balik badan menghampiri wanita itu.
Mereka berdua berada pada suasana yang canggung, dengan angin dingin malam yang tambah mempengkeruhi suasana.
Sean yang gentle membuka percakapan. "Ehem ... kenapa nona keluar sendirian? Bahaya lho seperti tadi."
"Ah ... itu, aku sebenarnya tersesat," ujarnya dengan wajah yang penuh memprihatinkan. "Perkenalkan namaku Zhang Xin Yu, panggil saja Xin yu, namamu?"
"Namaku Go Sean, panggil saja Sean. Jika nona tidak keberatan nona bisa ikut saya. Mungkin saya bisa membantu anda." Sean menjawabnya sambil memulai langkah mereka berdua untuk menyusuri jalan.
"Umm baiklah."
Mengetahui Xin yu adalah orang China yang tersesat Sean bertanya penyebab dia seperti itu, "Jadi kamu adalah orang China, kenapa kamu ke Korea sampai tersesat?"
"Aku sebenarnya, ah gimana ya menjelaskannya. Intinya aku lari dari pertunangan keluarga dan kesini mencari nenek yang pernah mengasuhku. Gitu deh aku tersesat." Xin yu menjelaskan dengan senyum tipisnya yang manis, membuat Sean terpukau.
"Ooo, jadi seperti i ...."
Kruuuuk, kruk.
Perut Sean menghentikan lisannya berbicara, membuat malu seperti wajah tertampar, Xin yu mendengar suara itu pun peka dan juga tertawa melihat tingkah Sean sangat patah hati. Padahal udah susah-susah jaga image.
"Sean lapar? yuk kita ke restoran itu," tunjuk Xin yu.
"Aku tidak punya uang," jujur Sean yang tidak ingin jadi cowok munafik.
"Ah, tidak perlu sungkan aku punya kok, lihat," Xin yu memperlihatkan kartu hitam yang terlihat elegan.
Kartu kredit itu adalah black card, kartu kredit paling elit yang hanya di miliki orang-orang dengan kekayaan fantastis.
Sean yang melihat kartu dimana dulu ia pikir tidak mungkin akan pernah melihat kartu itu, kini berada dihadapannya. Dengan senyum lebar dia berkata, "Ashiaap."
"Astaga, itu beneran black card. Apa latar belakang gadis ini." bleduk di dalam hati.
Beberapa saat kemudian
"Horeeee, makan mahal cuy restoran bintang lima lagi, lihat hidangan super mewah ini," gumam hati Sean yang sudah tidak sabar.
"Selamat makan."
Sean menyantap pesanan yang telah dihidangkan, begitu banyaknya hingga meja yang mereka berdua tempati jadi penuh.
Penghibah pun mulai menghumbar gunjingan mereka, karena restoran itu berkelas jadi rata-rata pengunjung juga adalah kalangan atas, itu semua karena melihat gaya Sean yang seperti orang kelaparan. Serta tingkahnya seperti wong deso. Tapi sebenarnya yang membuat dia sangat lapar karena perkelahian tadi sore melawan geng Alex.
"Ah, akhirnya kenyang," Sean menepuk perutnya yang sudah melempem dengan sedikit sisa dibibir.
Xin yu yang memperhatikan Sean dari tadi tanpa ia sadari tangannya mengambil tisu dan mengelap sisa itu dengan kasih sayang. Adegan wangi romantis action.
Wajah Xin yu jadi seperti tomat, merahnya hampir meledak. "Maaf."
"No promblem," ucapnya dik duk. Terasa mau copot jantung Sean.
Akhirnya mereka keluar dari restoran dengan perut yang sudah lega, Sean yang berada pada kekacauan pikiran karena adegan tadi masih malu-malu kucing. Begitupun Xin yu.
"Sean anggap saja itu sebagai balas budiku," alih Xin yu mendinginkan suasana.
"A .... ya, terima kasih atas makanannya." Sean menanggapi.
"Baiklah Sean aku tidak ingin merepotkanmu lagi, kalau begitu bisakah kamu antarkan aku ke bandara?" pinta Xin yu yang hendak pulang ke China.
"Tidak masalah, ayo."
°°°
Megahnya bandara Incheon membuat pemandangan jadi sangat memukau, Sean dan Xin yu sudah berada di pintu masuk.
"Sean terima kasih atas segalanya, aku akan kembali pulang dan berencana untuk menerima pertunangan yang telah disepakati keluarga, karena aku ingin berbakti kepada mereka yang sudah susah payah membesarkanku." Xin yu menjelaskan maksud kepulangannya sebelum berpisah.
"Itu adalah keputusan terbaik, karena ketika kita sudah kehilangan mereka maka barulah kita menyesalinya." Sean menampakkan wajah sedih.
"Sean apa orang tuamu sudah tiada?" tanya Xinyu menduga.
"Benar," sahutnya pelan.
"Maaf, kalau begitu sampai jumpa," pamit Xin yu sambil melangkah pergi.
"Sampai jumpa." Sean membalikkan badannya.
"Sean .... " panggil suara manis itu kembali.
Sean yang mendengar kembali menoleh, dan kejadian yang tidak terduga terjadi, "Cup". Kecupan ciuman pertama telah tercuri oleh gadis yang baru ia temui. Ciuman pertama untuk Lisa sudah hilang tidak ada harapan. Romansa bersemi cinta semalam. Hal yang sama sekali tidak ingin dilakukan Sean yaitu mengkhianati Lisa, kini telah terjadi.
Xin yu langsung berlari dengan air mata yang mengalir di pipinya, meninggalkan Sean yang sedang hampir pingsan karena kehilangan ciuman pertama.
"Aku tidak menyesal lagi setidaknya ciuman pertamaku untuk dia yang kucintai dengan tulus, aku sangat berharap semoga tunangan ku adalah orang baik seperti Sean."
To be continued