Over Power

Over Power
Yang diincar



Kala itu Busan berada pada kehancuran yang nyata. Di langit makhluk mitologi Naga berputar sambil di tunggangi oleh pasukan Black Demond bak lebah yang berfokus pada penyerangan sesuai komando ketua serbu luluh lantakkan segala yang ada di bawah sana.


Berbagai macam serangan sihir mematikan merenggut nyawa prajurit Nasional dan tentara U.H.P yang sudah berkoalisi untuk saling membantu melawan Black Demond. Walau sudah berkerja sama. Hasilnya nihil karena melawan kekuatan sihir yang tidak bisa di jelaskan orang awam, di luar imajinasi.


Senjata-senjata canggih pun tidak berkutik hanya jatuhkan beberapa dari mereka. Korban Black Demond lebih sedikit dari korban yang di derita kaum protagonis dalam cerita ini. Itulah fakta yang hanya bisa dijelaskan pada perang dadakan kota Busan yang akan tercatat sebagai sejarah. Tanggal 25 Januari runtuhnya Busan. Hari tragis dengan mayat-mayat tak berdosa menjadi korban kerakusan para petinggi Black Demond untuk menguasai dunia.


"Haha, inilah saatnya batu permata kehidupan pertama Batu Garnet akan aku dapatkan."


Asyura membuka titik pondasi mana-nya untuk merasakan hawa dari keberadaan batu Garnet. Kekuatan baru Garnet yang begitu besar ada tersimpan di perut Bumi kota Busan. Itu sangat jelas bisa dirasakan oleh Asyura yang sudah berlevel tinggi dalam mengendalikan mana.


"Oi pak tua, Batu Garnet sudah aku temukan, itu ada di perut kota. Apa sekarang aku boleh menyelesaikan ini dalam waktu singkat?" Asyura berbicara dalam mode telepati.


"Lakukan sesukamu, yang penting kita mendapatkan Batu itu."


Senyum jahat. "Baiklah."


Mengangkat kedua tangan ke atas, seluruh awan hitam yang mengepung kota bergemuruh lahirkan halilintar bergulat di langit. Menggetarkan jiwa.


"Akulah penguasa petir."


Seluruh badan Asyura memancarkan sengat listrik yang sangat dahsyat di atas langit Busan itu. Ia juga menyerap tegangan elektromagnetik langit dan bumi yang saling beradu menyatu pada tubuhnya. buat seluruh manusia yang melihat kekuatan dari Asyura berada pada perasaan tidak tenang. Bulu kuduk jadi merembes kaku.


Sesuai instruksi ketua haluan pasukan sihir penunggang naga Black Demond, memerintahkan semua prajurit nya untuk segera mengungsikan diri. Menjauh dari kota sehingga langit kota dengan cepat kembali kosong dan lengang dari naga yang berterbangan bak lebah.


Semakin besar dan membesar energi petir Asyura lama kelamaan punya hawa bencana yang akan meluluhlantakkan kota. Para prajurit yang melihat pun pada lari ketakutan untuk segera pergi dari kota Busan.


*


"Jendral pukul mundur semuanya, suruh semua orang pergi dari kota." Jin memberi usulan pada Jendral Kaja.


"Apa maksudmu?" tanya Jendral Kaja masih belum paham akan situasi.


"Jendral, aku tahu segala hal tentang Asyura. Dia punya julukan sebagai penguasa petir. Ini adalah kekuatan kehancuran miliknya yang akan membombardir kota, kita tidak bisa menghentikannya. Lebih baik anda segera perintahkan semua orang untuk pergi dari sini, dari pada menimbulkan korban jiwa yang lebih banyak," jelas Jin panjang lebar.


"Baiklah, mungkin ini adalah keputusan yang paling tepat untuk saat ini." Mengangguk Jendral Kaja bertopi pelaut ini menyetujui pendapat Jin.


Teng, teng, teng.


Lonceng raksasa peringatan bencana besar akhirnya terpaksa di bunyikan. Baik itu pos pengungsian U.H.P maupun rumah sakit dan semuanya harus di tinggalkan untuk lari keluar kota. Rakyat yang masih hidup pun mengikuti perintah, mereka nampak berlarian di setiap jalan yang bisa mengarah pada jalan keluar dengan cepat dari kota Busan ini.


"Ayah cepat-cepat," tarik tangan Sang Ayah yang buncit dan tidak kuat lari. Nara terjebak untuk tidak meninggalkan Sang Ayah ini.


"Ha-ha-ha. Ayah sudah tidak mampu." Terengah-engah Pak Wali Kota penuh keringat dengan rasa penat yang luar biasa.


Ditengah keramaian orang yang sibuk atas keselamatan diri mereka, bergerubung lari ketakutan dalam keegoisan. Hingga Pak Wali Kota saja tidak di kenal, tabrak dan senggol tanpa menoleh sedikitpun. Buat Nara semakin terhambat untuk segera pergi bersama Ayah yang kini sudah berada pada batasnya untuk melangkahkan kaki.


"Naiklah ke punggungku Pak," ucap seorang pemuda yang jongkok menyerahkan bahunya agar segera dinaiki.


"Kanmu!!!" Nara terkejut dengan kehadiran Kanmu yang lagi-lagi datang menolong, buat ia tersipu dong.


"Tidak apa-apa, ayo Pak kita harus cepat."


"Ba-baiklah." Naik ke atas punggung Kanmu yang kokoh.


Pak Wali Kota sangat bersyukur mendapatkan pertolongan yang tak terduga dari seorang anak muda yang suka menolong. Kanmu pun mengangkat lari Pak Wali Kota dalam gendongan.


"Apa kamu calon menantuku?" lepas mulut Pak Walkot.


"Apaan sih!!" Marah Nara pukul kepala sulahnya.


"Ha." Wajah Kanmu merona malu.


Melihat Kanmu jadi berpikiran yang tidak-tidak. "Tak usah pikirkan perkataan Ayah ku."


Mereka bertiga pun mengungsi dari pusat bencana. Beriringan lari di sepanjang jalan menuju arah ke luar kota. Nara yang mendapatkan pertolongan lagi yang kini sosok dia menolong selamatkan Ayahnya. Buat Nara semakin mencintai lelaki yang bernama Leeh Kang Mu itu.


*


Teman-teman yang bersama di perjalanan ke Busan termasuk Pak Supir dan Guru Leem telah berhasil berkumpul kembali dengan Sean, Oval, Boby, dan Ester.


"Hei Oval apa kekuatan mu telah pulih?" Boby bertanya pada Oval. Karena situasi genting mereka sangat membutuhkan kemampuan sihir Oval.


"Sedikit lagi ..." Wajah Oval tidak pasti.


Sean pun berjalan mendekati Ester yang lagi gendong Oval, kemudian ia meletakkan tangannya tepat di punggung Oval. Aliran energi Sean tiba-tiba mengalir masuk ke dalam tubuh seperti charger yang sedang berfungsi mengisi daya smartphone.


"Entah kenapa apa yang dilakukan Kak Sean ada manfaatnya. Mana di tubuhku pulih dengan sendirinya."


Setelah tangan Sean beranjak. Oval yang sudah kembali sehat melompat dari tubuh Ester. "Terima kasih kak Sean."


"Keluarkan kemampuan mu segera!!" Sean memerintah Oval, mengingat keadaan sudah terlalu genting.


"Kemarilah ..." Sebuah suara entah dari mana memanggil Sean.


Di saat yang sama Lubang teleportasi Oval sudah terbuka dengan satu persatu siswa dan guru dari High School Art Seoul masuk ke sana. Memindahkan mereka semua kembali ke Kota Seoul tepatnya halaman sekolah.


Semuanya sudah masuk, Tinggal Sean yang ling-lung di dekat lubang teleportasi.


"Kak ayo masuk," panggil Oval.


Sean malah menghiraukan. "Kau pergilah terlebih dahulu. Ada sesuatu yang harus aku lakukan." Sean mengatakan hal itu dengan serius.


Oval pun kecemasan memanggil Sean yang berjalan sendirian menjauh darinya. Hingga sosok Oval yang berteriak itu lenyap bersamaan dengan sihir teleportasi yang sudah kehabisan waktu untuk berfungsi.


* Kota Seoul


"Siaal ..." Oval keluar dari lubang teleportasi dalam kekesalan.


"Oval, kenapa kamu menjadi seperti ini? Mana kak Sean?" Pertanyaan Boby langsung menghampiri Oval.


"Entahlah dia pergi saja. Tidak ingin masuk ke dalam," cerungut Oval berjalan pergi dari sana.


"Tumben Oval mengkhawatirkan orang yang baru dikenal?" Boby garuk-garuk kepala. Apakah Oval punya perasaan istimewa pada Sean. Kemungkinan terbesarnya Sean sudah di anggap sosok Kakak baginya.


* Kembali ke Kota Busan


Kota Busan sudah kosong dari warga, seperti kota mati tidak ada kehidupan. Akibat bencana malam nan panjang ini. Ironisnya Jin bersikeras pada Ayana untuk tetap tinggal di kota.


"Jin!! Turuti lah keinginan ku sekali ini saja. Ayo kita pergi dari sini bersama." Ayana memeluk Jin dengan erat sambil meneteskan air mata.


"Ayana pergilah!!"


Jendral Kaja pun memukul pundak Ayana buat dia manjadi pingsan. Terlihat di sana Kak Angelina hadir menyambut tubuh Ayana untuk segera di bawa ke helikopter.


"Terima kasih Jendral. Tolong jaga Ayana, dan titip salam jika aku sudah tiada," ucap Jin dengan mimik wajah sedihnya untuk pertama kali kita lihat. Sedikit tepian mata Jin berwarna merah.


"Apa ini benar-benar keputusan yang tepat untuk kau ambil," ucap Jendral Kaja saat dia berhenti di tengah jalan.


"Ya ... ada suatu yang harus aku urus, kesan di antara kami berdua akan segera aku akhiri. Walaupun itu dengan kematian."


Berpisah.


*


GELEGAR!!!!


Ledakan raksasa bagaikan bom atom menyapu Kota Busan. Petir yang menyambar-nyambar dari langit juga menyerang seluruh sudut-sudut kota.


Tidak ada yang tersisa lagi di Kota Busan. yang tertinggal hanyalah besi dan karat serta reruntuhan menjadi kenangan. Apa yang di perjuangkan juga ikut terkubur menjadi sia-sia. Pusat Kota Busan berlobang raksasa nan dalam. Di tengah itu ada cahaya memancar dari sebuah batu. Itukah batu permata kehidupan Garnet yang diincar oleh Asyura?


To be continued