Over Power

Over Power
Tersesat




Pandangannya kabur dibalut lumut, setetes darah telah mengalir dari lukanya di kepala akibat terbentur keras, Sean kini mendapati dirinya berada di tengah hutan rimbun nan angker.


Apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi? Tidur nyenyak di Bis buat dia tidak mengetahui, tiba-tiba ketika sadar sudah terkapar saja di tengah hutan belantara, hari mau malam lagi.


"Agh, ..." menahan rasa sakit di kepala, Sean perlahan berusaha berdiri sekuat tenaga walau dalam keadaan sepoyongan.


Berjalan kaki menyusuri semak tak tau arah jalan pulang, modal nekat Sean tetap mempertahankan agar segera beranjak dari tempat itu, ia sudah merasakan adanya hal yang tidak baik akan terjadi jika tetap diam di sana.


Tubuaaaar.


Ledakan keras terdengar jelas tidak jauh dari tempat ia terdampar, Sean yang sudah kembali fit berlari menuju asal dari bunyi ledakan keras itu.


Asap hitam mengepul ke atas langit di tengah hutan belantara ini, matanya tidak ingin menerima apa yang dilihatnya. Bis sekolah yang ia tumpangi tidak berapa lama lalu, sekarang hanya tinggal kenangan.


Lalu kemana awak Bis yang lain? Setelah Sean memeriksa Bis ia sama sekali tidak menemukan adanya tanda-tanda mayat.


"Gua ditinggal," camas Sean memegang kepalanya dengan dua tangan. "Pasti mereka semua sudah pergi lewat teleportasinya Oval."


Rasa takut menghantuinya, jelas saja ini adalah kali pertama baginya untuk situasi seperti ini. Tersesat di hutan antah berantah dan itu sendirian.


Jika ingin keluar harus dapat mental jadi berani itulah yang ia pikirkan untuk saat ini, terpaksa membuang rasa takut demi mendapatkan jalan pulang.


Memasukkan ban yang sudah dipotong jadi kecil-kecil ke dalam bungkusan kain bekas, lalu mengikatnya pada sebuah kayu, untuk sementara obor penerang jalan nanti sudah di siapkan. Api tinggal di ambil dari Bis habis meledak ini.


"Baiklah aku harus segera pergi dari sini," ujar Sean mengawali petualangan sendiriannya pada malam itu.


Ngasal jalan Sean pergi kearah yang ia yakini itu adalah jalan yang benar, harap ia akan menemukan pemukiman atau bisa menembus hutan ini menuju jalan raya.


Desir jangkrik berpacu bisingnya hutan di malam hari, sepatu sneakers baru beli sudah berlumuran tanah liat, berbagai medan ia lewati dengan itu, satu pijar penerang obornya sebentar lagi akan sekarat. Sejak dari tadi Sean sama sekali belum menemukan harapan.


Auuuuuuuuu.


"Saura anjing hutan!!!" Phobianya dengan anjing ia tahu beda suara antara Anjing dengan serigala.


Bulu kuduknya merinding semoga anjing hutan ini tidak akan bertemu di jalan.


Bulan purnama nampak jelas setelah awan hitam malam itu beranjak tertiup angin, jadi sedikit tidaknya ada manfaat yaitu menambah penerang malam ini.


Keringat dingin bercucuran karena perut Sean sudah keroncongan tak makan dari tadi, mana mungkin bisa menemukan orang jualan di tengah hutan antah berantah ini


Jadi ia wajib untuk menahan liur agar tidak kehilangan fokus mencari jalan pulang.


Obor yang dipegang sudah padam Sean melemparkannya karena kesal. "Siaal."


Buf ... bug ... buf.


Tanah tergoncang bagaikan sedang terjadi gempa, Sean yang setinggi 185cm saja jadi tidak bisa berdiri dengan benar. Kakinya bersilang lalu tertungkai jatuh ke dalam becek lumpur.


"Haaak ... hah ... hah ... astaga ampunilah hambamu ini tuhan."


Mata Sean spontan kaget melihat sosok mengerikan itu. Badannya yang nyungsep setengah ke dalam lumpur jadikan ia tidak dapat diketemukannya. Untung obor yang beri penerangan tadi sudah dibuang kalau belum malah bahaya bisa memberitahu posisinya. Seandainya tidak dibuang apa yang akan terjadi?


Makhluk itu berlumuran darah ditangannya yang runcing lagi bersisik amis. Makhluk macam apa ini? Getar langkahnya saja buat tanah yang dipijak jadi gempa. Kuat dan berkuasa, membunuh apa saja yang akan menghalangi, Sean harus berdoa' untuk keselamatannya saat ini.



****


Di kota Busan


Terlihat Oval dan semua orang yang ada di Bis kecuali Sean sudah sampai dalam keadaan selamat. Oval yang memaksakan diri dalam menggunakan mana harus terkapar lemah digendong oleh Ester versi pria sejati.


Rata-rata anak yang menyaksikan akibat jatuhnya Bis ke dalam jurang pada trauma berat. Guru pendamping, Pak Leem juga lagi pingsan. Sekarang mereka ada di post keamanan U.H.P Busan. Kenapa bisa seperti itu? Karena dapat kau lihat Busan berada pada situasi yang sangat kritis, hancur lebur di serang ratusan sosok monster tinggi dengan tangan bersisik yang runcing.


U.H.P dan pemerintahan sekarang sedang mengerahkan segala cara untuk menyelamatkan Kota Busan. Ratusan unit squad tentara dengan senjata api menggempur makhluk-makhluk itu. Para agen elite U.H.P juga tak luput, mereka melaksanakan misi penyelamatan dengan seluruh kemampuan yang mereka miliki.


Kota Busan kini jadi lautan api, puluhan helikopter terbang di langit Busan, menembakkan Macine Gun, senjata alat berat yang bisa melepaskan lima puluh peluru dalam satu detik. Tank pun juga ikut dikerahkan untuk menyerang.


Tak terbayangkan sebelumnya bagaimana masyarakat Kota terbantai karena haus darahnya makhluk jahat itu. Manusia yang lemah hanya bisa pasrah mendapatkan badan mereka sudah tercabik-cabik mati dalam sekejap oleh raksasa yang bisa jadi setinggi lima belas meter. Mayat-mayat bergelimpangan di sekujur jalan kota, tragis.


°°°


"Jenderal Kaja makhluk apa mereka ini?" tanya Pak Wali Kota Busan yang sedang menangis dimeja kantornya.


"Mereka kami sebut Glutotian, saya juga tidak tahu asal-usul dari makhluk ini tapi saya bisa mengklarifikasinya." Jenderal Kaja melihat keluar jendela, menggeser tirai agar bisa kelihatan lebih jelas.


"Mereka punya kebiasaan suka membunuh, sumber pangannya adalah darah yang diresap lewat kuku tangan sisik mereka.


Tubuh mereka baru lahir itu setinggi dua meter dan maksimal Glutotian dewasa akan setinggi dua puluh meter."


Pak Wali Kota semakin putus asa setelah mendengarkan penjelasan dari Jendral Kaja. Memegang foto anaknya yang gadis kisaran umur tujuh belas sembari memeluknya dalam kasih sayang. Berdoa untuk keselamatan putri satu-satunya ini.


Suara langkah tapak raksasa itu mengguncang kantor perlahan mendekati tempat mereka berdua. Mata makhluk itu berbalas tatap dengan Jendral Kaja yang kebetulan melihat keluar lewat jendela.


Makhluk itu pun tersenyum sinis lalu mengarahkan tinju beratnya kebangunan.


"Pak Wali Kota, jangan bersedih. Untuk itulah U.H.P di muka bumi didirikan. Membasmi bencana dari makhluk abnormal seperti ini."


Booom.


Lempengan bangunan kantor walikota hancur lebur, angin berat terbangkan materialnya. Tinju makhluk raksasa itu ditahan oleh mungil tangan Jendral Kaja yang kekar.


Bangunan itu hanya tersisa lantai tanpa atap dan dinding, pak Wali Kota histeris kaget, kencing dalam celana. Kepala sulahnya jadi berkilau walaupun dimalam hari terkena cahaya rembulan.


Mendapatkan kesempatan emas, Jenderal Kaja melompat dalam kecepatan menembus wajah makhluk itu satu pukulan, kepala raksasa itu jatuh terjungkal ke tanah.


"Kami akan membersihkan ini segera Pak Wali Kota, semoga salah satu anggotaku menemukan putri anda dalam keadaan sehat."


Mata Pak Wali Kota berseri seperti melihat cahaya harapan baru, setelah melihat kekuatan dahsyat dari Jendral bisa dapat memukul jatuh raksasa lima belas meter.


To be continued