
Melihat sebuah kotak aneh berwarna hitam legam bercorak tinta emas, pemuda itu terkaget. Mencengkram langsung supaya tidak lepas terbawa arus.
"Hei, apa ini adalah sebuah kotak harta?" Berfikiran seperti itu karena terfokus pada corak warna emas.
Meletakkan kotak itu di atas batu, ia bersigera menyelesaikan urusan aksinya di sungai dulu, berdiri menyingsing celana, terburu-buru mengikat pinggang dengan tali. Alangkah senangnya, karena ada kotak harta menanti untuk segera dibuka, itu pikirnya mungkin ada beberapa logam mulia tersimpan di dalam.
Penuh keceriaan, ia meninggalkan sungai dengan mengantongi kotak bertinta emas.
Ia pun berpamitan pada Ayah dan rekan kerjanya untuk pulang lebih cepat dari biasanya.
Berlari penuh harapan kalau di rumah nanti pas dibuka benar-benar kotak berisi emas.
*
Klak, pintu kayu ternganga lebar. Ia masuk ke dalam rumah berpenyangga tiang lurus batang pohon jati. Rumah yang sangat sederhana, untuk ditinggali, karena 99 persen rumah itu terbuat dari kayu seperti lantai, dinding, perabot, eksterior, dan interior. Yang tidak kayu hanyalah atap terbuat dari daun kelapa hasil teknik kerajinan tangan orang zaman dahulu.
Meletakkan di atas meja bundar di tengah rumah, gerak gerik jemari sudah tidak sabar untuk membongkar apa isi yang ada di dalam ya. Matanya menatap nanar.
Krak. Penutup kotak terbuka dengan mudah.
"Wuaaaa."
Sejenak kaget penuh ke kecewaan.
Zonk. pupus harapan untuk memeluk logam kuning karat satu kilo untuk malam nanti. "Oh tidak. Apa ini!! Sebuah biji." Mengambil satu biji besar sesenti itu, lalu menempatkan di antara dua mata hingga memerhatikan dengan juling.
"Ah sia-sia saja." Melempar biji itu ke luar rumah, tanpa pikir-pikir adakah manfaat dari sebuah biji itu?
Biji yang terabaikan hinggap di atas sebuah batu, tidak menyentuh tanah.
* Di dalam istana.
Pertengkaran antara pangeran negeri sebelah terjadi lagi dengan putri negeri ini, di dalam kamar yang dirancang khusus untuk pertunangan mereka oleh dua pihak keluarga kerajaan.
"Hei wanita, kamu itu hanyalah pemuas nafsu bagiku, tak usah banyak cincong. Lagian kamu sebentar lagi akan aku nikmati juga, ayolah sini," menjulurkan lidah penuh dengan pikiran bejat.
"Jangan sentuh aku, binatang!" bentak putri Shima saat tangan Sasuya ingin memeluknya.
Tidak tahan lagi Sasuya memeluk dengan erat tubuh cantik Shima. Buk, pecah telor. Kaki Sang Putri menendang keras adek Sasuya.
"Huaakkk." Perih, mata berair, Sasuya merengang kesakitan.
"Asal kau tahu, aku tidak sudi untuk menjadi pasangan laki-laki binatang sepertimu. Lebih baik menikah dengan pria yang berbudi baik walau hanya seorang rakyat jelata!" kecam Shima.
"Apa kamu lebih menyukai laki-laki bernama Hyung itu dari pada aku!" tanya Sasuya yang tergeropoh di lantai masih dalam menahan sakit.
"Huh, kalau iya terus mau apa, dan aku benci kalian semua termasuk keluarga kerajaan yang sudah menjual aku untuk kepentingan politik." Shima pergi begitu saja penuh dengan rasa kesal dan tidak terima akan takdir yang membuatnya harus berurusan dengan laki-laki seperti Sasuya.
Melihat Shima pergi seperti itu, berani mengabaikan tuan muda ini matanya geram penuh kebencian, ketika sakit di tempurung sudah hilang ia pun berdiri sambil tertawa jahat.
"Hmmm, Hyung namanya. Oke tinggal singkirkan saja benarkan. Shima Shima kau itu di takdirkan hanya untukku."
*
Pangeran yang merasa di duakan oleh calon istri yang menyukai pria lain pun berinisiatif merencanakan perbuatan keji dengan antek-antek yang telah di siapkan.
Malam itu telah dikumpulkan para assassin yang di sewa. Jika itu di sewa oleh anggota kerajaan apakah yang dikirim hanya pendekar kroco? Tidak. Yang di sewa langsung oleh Sasuya adalah para master pembunuh yang sudah berpengalaman.
Bergerak senyap di malam hari. Mengepung rumah kayu yang terpencil. Sang ayah pun tersentak bangun karena merasakan hal yang janggal di tengah malam itu. Membangunkan anak semata wayangnya yang tidur nyenyak.
"Hyung bangunlah," sahut Ayah dengan nada kecil tipis.
Membuka mata, Hyung terbangun dari tidurnya. "Ada apa Ayah?" Sambil mengucek.
"Lari!!!"
Sang Ayah menarik tangan Hyung menuju pintu belakang. Hyung yang baru bangun, terkejut melihat Ayah seperti itu, ia ikut kecemasan mengikuti langkah Ayah, apakah gerangan yang terjadi sebenarnya?
Sepuluh pria berpakaian ninja wajah tertutup muncul mengepung mereka dari segala arah, pedang panjang menghiasi genggaman siap membunuh, sudah tidak ada harapan untuk kabur lagi dihadapan para master klan pembunuh seperti mereka.
"Tolong jangan bunuh anakku, kalau saya yang ingin kalian bunuh, bunuh saja tapi jangan bunuh anakku." Menunduk sujud, suaranya serak di atas tanah. Tersedu-sedu dalam tangisan memohon untuk keselamatan anaknya.
ZRACK!
Runcing ujung tombak menembus leher Ayah yang sedang tersungkur.
"Ayah!!!." Tidak di sangka-sangka, hal itu terjadi sekejap saja, meninggalkan kesan pahit teramat pedih.
Air matanya terus menetes hingga warna merah lebih dominan dari pada putih jernih di sekitar retina. Mencopot tombak berlumur darah Ayah membuang jauh-jauh, lalu ia memeluk tubuh terkulai jasad Ayah dengan erat.
"Haha, Kaciaaaan."
Rupa manusia nista itu hadir ternyata, dari balik punggung barisan para assassin, memegang dua pedang favoritnya, ia berjalan dengan penuh kecongkakan mendekat pada Hyung yang berada pada kesedihan.
"Manusia sampah sepertinya tidak usah di tangisi." Sasuya menghardik benar-benar dengan bahasa yang ia simpan sebagai adab panutan baginya.
"Sialan kau makhluk tak manusiawi!" geram Hyung menatap sinis penuh kemarahan.
Berdiri lalu membentak dengan sangat keras. "Bangsawan sepertimu layak di sebut sebagai anjing!"
"Hooo, tangkap dia, sekap! Bawa ke bukit Myobo belakang istana, aku ingin memberikan sebuah pertunjukan spektakuler kepada calon istriku."
Para assassin itu mematuhi perintah tuan muda.
*
Di sebuah tepi jurang bukit indah Myobo.
Kepalanya di tutup menggunakan karung beras. Tangan terikat meronta-ronta di bawa oleh dua assassin yang menyekap, memaksa untuk stay duduk manis di tepi jurang.
Keluarga kerajaan di panggil semua oleh Sasuya seperti dia saja yang berkuasa atas negeri ini, kesombongan itu datang karena kerajaan yang di pimpin keluarganya adalah kerajaan terkuat di benua timur Hongo. Pertunangan Shima dengan Sasuya terjadi karena keserakahan Ayah yang ingin mendapatkan perlindungan dan komisi bila bisa bekerjasama dengan keluarga kerajaan Hongo melalui pernikahan mereka.
Berbaris menyaksikan, Sang Raja benar-benar mau patuh untuk mengikuti rencana aksi tak berarti Sasuya yang berlagak lebih berkuasa darinya. Kekanakan yang nyata, apa hanya untuk sombong-sombongan?
Lengkap sudah anggota keluarga kerajaan Bai-yan hadir memerhatikan pemuda tersekap dengan karung beras yang membungkus kepalanya.
"Hai negeri makmur Bai-yan, lihat siapa saja yang ingin menghalangi keinginan tuan muda ini akan berakhir seperti rakyat jelata ini. Paham kalian semua?"
"Sasuya apa yang kau lakukan!! Lepaskan dia." Shima datang kepada Sasuya dengan logat tidak suka.
"Tuan putri." Hyung terkejut melihat tuan putri mau membelanya.
Dulu Hyung dan Shima sering bertemu dan bertegur sapa di waktu kecil, dan juga kadang-kadang Shima kabur dari istana hanya untuk bisa bermain dengan Hyung. Mereka begitu dekat, hingga akhirnya tembok latar belakang terpaksa memisahkan jarak antara mereka berdua. Shima dari dulu sudah kena hati dengan adab dan kebaikan Hyung, kenapa hal ini harus terjadi? Pernikahan yang di paksakan keluarga kerajaan. Hyung baginya sudah tidak mungkin ia raih menjadi suami terbaik masa depan.
"Lepaskan Hyung, aku bakal rela menikah denganmu."
Plak. Tamparan mendarat di wajah cantiknya buat memar di bagian pipi.
Raja boneka hanya diam saja melihat putrinya diperlakukan seperti itu seperti tidak ada rasa, karena baginya Shima hanyalah batu loncatan untuk mendapatkan hati kerajaan Hongo.
"Tuan putri, tidak payah mau mengkhawatirkan orang rendah sepertiku, kini satu-satunya keluarga bagiku sudah tiada, tak masalah jika aku juga ikut berpulang hari ini, karena hal itu lebih baik untuk jiwaku." Hyung bertutur tidak ingin melihat Shima terpukul seperti itu lagi.
"Mungkin ini adalah akibat ulahku juga, karena mencintaimu yang tidak bisa aku miliki." Tetes air mata mengalir di tepis setitik air dari langit yang menurunkan hujan. Lama kelamaan debit air yang turun semakin lebat.
Hyung berdiri di bibir jurang menatap orang-orang kerajaan yang ingin acara si Sasuya ini segera berakhir, menunggu kapankah orang tidak penting ini mati, biar kami bisa menjalani aktifitas damai seperti biasanya.
Apakah kematiannya berakhir sia-sia saja, Hyung semenjak kecil punya cita-cita ingin menjadi pendekar terhebat, tapi sekarang hanya tinggal sebagai angan-angan saja.
"Hyung maafkan aku," rasa bersalah merasuk ke dalam batin Shima.
"Selamat tinggal dunia, sampai jumpa cinta bertepuk sebelah tangan ...."
"Hyung Nim ...."
Gadis itu ingin menggapai tapi sudah terlanjur.
Wusssh. Hyung Membiarkan tubuhnya jatuh ke dalam jurang.
Hah, seandainya aku bisa hidup lagi di kehidupan kedua, harapanku hanya satu beri aku kekuatan untuk bisa mengubah dunia dimana semua orang hidup setara dan bahagia.
Butiran air yang jatuh dari kelopak mata berpacu dan bersatu dengan rintik hujan, tubuhnya mengambang perlahan semakin lenyap ke bawah jurang yang dalam dan gelap gulita.
*
Shima menangis sejadi-jadinya di bibir jurang itu, melihat sosok yang diimpikan menjadi suami idamannya menghilang dari pandangan.
"Cih, menangis lah kau. Pada akhirnya kamu berakhir di pelukanku seorang," belot muncung Sasuya ingin beranjak juga.
Sup!
Shima ikut melompat ke dalam jurang itu, mengikuti langkah Hyung Nim.
"Oh tidak!! Kampret kau wanita!!!" kesal Sasuya marah membabi buta kayak orang gila, menendang apa saja yang bisa di tendang di bawah hujan deras.
*
"Bubar-bubar yei, orang itu sudah mati." Sorak salah satu anak bangsawan.
Karena hujan semakin lebat dan acara panggung buatan Sasuya juga sudah berkahir tragis sesuai keinginannya, mereka pun berlarian kembali masuk ke istana. tanpa ada rasa bahkan sang raja tidak menghiraukan putrinya ikut jatuh ke dalam jurang, mereka semua memandang yang di alami Hyung dan Shima hanyalah suatu yang biasa-biasa saja.
***
Tiba-tiba sesuatu yang menggemparkan guncangi istana kerajaan Bai-yan, membuat semuanya terdiam terpaku melihat fenomena dahsyat itu.
GOUSSS!
Sinar raksasa violet yang begitu besar datang dari langit di tengah hujan, membelah awan, kemudian masuk ke dalam jurang tempat Hyung dan Shima jatuh.
Cahayanya bagaikan matahari kedua, terangi bumi di tengah hujan di negeri Bai-yan.
Mata mereka semua yang ada di istana terbelalak, menengadah ke langit penuh dengan rasa ketakutan, ini bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh manusia.
Beberapa saat setelah langit tidak memancarkan sinar.
Bencana besar terjadi. Bukit yang di tenggeri bangunan istana roboh bagaikan longsor raksasa, tenggelamkan segala-galanya yang ada di atasnya. Teriakan mereka lenyap di telan tanah dan bebatuan.
Sasuya yang kaget terpaksa melompat ke jurang supaya tidak ikut tenggelam oleh tanah longsor.
Setelah bencana itu terjadi, Sosok perkasa muncul dari dalam jurang, ia bisa terbang sembari menggendong Shima tersenyum sayang padanya. Ya, dialah Hyung manusia yang terpilih mendapatkan kekuatan untuk memimpin manusia di masa itu.
Kekuatan Over Power yang di wariskan dari generasi ke generasi hari ini telah di wariskan untuk pertama kalinya.
Setelah sepasang kekasih itu selamat dari tragedi barulah aku Baba di temukan tuanku Hyung Nim secara tidak sengaja, saat di mana tuanku dan putri Shima bermukim di rumah yang terpencil itu, yakninya rumah tempat ia dan ayahnya tinggal sebelumnya.
Aku hidup karena hujan lebat hari itu, di mana bibit kehidupan yang bertengger di atas batu bergeser menyentuh tanah. Tumbuh seketika dalam wujud manusia pohon muda.
Mereka berdua hidup bahagia penuh dengan cinta, hingga menikah dan memiliki sembilan putra seorang putri.
Setelah sepuluh tahun berlalu
Karena kejeniusan tuanku ia membangun ulang negeri Bai-yan hingga menjadi kerajaan terkuat, menjadi seorang raja agung yang disegani dan menaklukkan daratan. Lalu Melakukan perdamaian dengan ras-ras selain manusia untuk hidup berdampingan.
Hingga di penghujung hayatnya, ia memerintahkan hukum pada seluruh negara untuk menegakkan kehidupan saling toleransi tanpa memandang status dan latar belakang, bahwa manusia semuanya setara dan harus saling menghormati.
Saat itu sebelum ajalnya menjemput, aku di panggil lalu ia berkata, "Wahai Baba manusia pohon abadi, jadilah pohon hingga suatu hari seseorang dapat mengembalikan bentukmu."
Aku pun mengikuti titahnya, di saat-saat terakhir hayatnya. Aku melihat wajah keriputnya itu. Wajah seseorang yang sangat resah.
* Kembali pada zaman ini
Angin sepoi-sepoi di dalamnya ada sepasang burung merpati melengser hinggap pada dahan sebatang pohon di tengah padang rumput itu. Pohon yang dapat bicara itu tersenyum.
"Hei Jemu, Siska, kalian sudah pulang," bicara pada sepasang merpati yang hinggap, tapi sebanyak apapun ia bicara sama sekali tidak dihiraukan.
Tidak setahun dua tahun ia mengalami hal seperti itu jadi sudah terbiasa, bagaimana hidup sendirian tanpa ada tempat untuk menyampaikan keluh kesah? Ya, kesepian tiada banding, ingin mengutarakan perasaannya tapi sayang karena yang mendengarkan itu tiada.
"Mmm, melihat kalian berdua, seperti melihat kakak ipar dengan tuanku hahaha."