
TESS!
Tiang besi berdiameter seperti batang pohon gede meluncur lurus jatuh kebawah dengan tarikan kecepatan gravitasi sesuai dengan berat isi volume berpadu sehingga itu terlihat sangat cepat, tertimpa beban seperti itu akan jadi seperti apa?
"Ibu." Apa yang dilihat oleh mata berdarah adalah sosok Ibu Xiao yu yang sudah tiada.
Tersenyum manis tapi wajahnya meneteskan air mata kesedihan, di balik tirai putih dan selendang yang tertiup angin.
\* Bab for justice \*
Xiao Chen menoleh kekanan dan kekiri bersungut-sungut fokus mencari sumber kekuatan besar yang membuat dirinya khawatir. Di tengah perjalanan itu ia dikagetkan oleh sebuah suara.
"Adik tolong anakku, kumohon tolong dia."
Terperanjat kaget seperti tersambar petir, mata Xiao Chen membesar. "Kakak!!! Tidak salah lagi itu suara kakak." Xiao Chen berlari mengikuti sumber suara yang ia percayai itu adalah suara kakaknya.
"Kakak di mana kau?" Deru langkahnya semakin cepat mengikuti arah.
Hingga di balik lorong yang ditembus itu ia melihat sosok seorang anak yang akan ketiban tiang besi besar.
"Apa!!"
Xiao Chen bergerak cepat, ia menyudu tiang besi itu menggunakan bahu melalui gaya dorongan melompat, sehingga tiang besi dapat berpindah haluan begitu sangat jauh tidak jadi menimpa kepala Sean.
"Hei nak kau tidak apa-apa!" Xiao Chen cemas. Lantas anak itu pingsan tubuhnya tergolek ke aspal.
"Kau kenapa." Xiao Chen membalikkan tubuh Sean, ia terkejut setelah melihat keadaan menyedihkan di wajah anak itu. Matanya mengalirkan darah, hidung dan bahkan telinga. Pucat pasi seakan akan mati tak lama lagi.
Xiao Chen yang seorang keturunan keluarga Xiao asli dengan bakat emas dari kecil ia tentu telah menguasai teknik pernafasan kehidupan dan pengobatan, ia segera memeriksa kondisi Sean melalui menyentuh urat nadi leher supaya dapat mengetahui penyebab sakitnya.
"Seluruh gejala seperti ini tidak salah lagi adalah efek samping dari menggunakan teknik pernafasan kehidupan keluargaku secara berlebihan."
Sejenak Xiao Chen tertegun.
"Apa dia ini salah satu anak bermarga Xiao? Tapi aku tidak pernah melihatnya." Xiao Chen berada pada dilematis dalam, pikirannya tertuju pada suara kakak yang memanggil.
"Ah sudahlah, yang penting saat ini adalah mengobati anak ini."
Xiao Chen menghidupkan energi api kehidupan (salah satu bagian teknik pernafasan kehidupan) pada tangan kanannya.
"Untuk gejala mematikan ini cukup dengan teknik yang telah ku kuasai selama sepuluh tahun." Meletakkan tangannya pada ujung kaki Sean, energi api kehidupan beresonansi dengan daging dan tulang membuat tubuh Sean bergetar seakan hal itu tampak seperti tersentrum.
Berkala tangannya bergerak perlahan menuju lutut, lalu lanjut ke arah atasnya, kemudian saat tiba di tengah perut ia berhenti.
"Puncak permasalahan ada disini, aku harus menyelesaikan dengan cepat." Peluh keringat mulai membasahi sekujur tubuh Xiao Chen.
BUAAR!!!
Tekanan besar berasal dari tubuh Sean, cahaya violet memancar kemana-mana halangi pandangan Xiao Chen. "Astaga, kakuatan yang sangat besar."
"Aaaaaaaagh," Sean terpekik. Matanya terbuka dengan pancaran cahaya yang sama.
Tanah di sekitar lokasi pasar bergetar olehnya. Buat para agen yang sedang mengadakan pemakaman tergaduh karena getaran itu sampai di tempat mereka.
"Wooaa, aduh." Tak seimbang kaki Cha Yong, (junior yang kena marah) yang sedang menyangkul tanah terjatuh.
"Kekuatan ini tidak dapat ku ketahui, benar-benar kuat, ilmuku untuk melihatnya bagaikan sebuah jarum di hadapan lautan luas. Tubuh anak ini istimewa, dapat memulihkan sendiri ya, dia sudah baikan."
Xiao Chen menarik tangan ke bagian atas, saat bagian perut terlewati, getaran dan pancaran cahaya berhenti. Lalu berkahir pada titik leher. Sedikit mengeluarkan tenaga dalamnya, urat leher Xiao Chen muncul, "Haik." Mengangkat tangan seperti Manarik sesuatu di atas mulut Sean.
"Uhuk ... uhuk."
Sean siuman, ia langsung berjongkok untuk memuntahkan cairan berwarna hitam, banyak sekali debit cairan yang dikeluarkan perutnya.
Xiao Chen prihatin ia mengurut pundak Sean. "Hei nak, kamu beruntung karena aku ada di sini." Xiao Chen agak nahan nafas.
Beberapa saat kemudian.
Muntahnya selesai Sean menoleh ke pada Xiao Chen dengan wajah menunduk penuh rasa terima kasih.
"Sungguh kehadiranmu membuatku bersyukur."
Bulu kuduk Xiao Chen meremang setelah menatap mata Sean. Ia pun makin menfokuskan matanya pada mata Sean.
"Matamu seperti mata kakakku, siapa kau sebenarnya!!" Xiao Chen mencengkram kedua bahu Sean dengan mata terbuka lebar.
Sean sedikit merasa aneh. "Kakakmu??" Ekspresi Sean bingung.
Xiao Chen memeluk erat tubuh Sean dengan tangisan di wajahnya. "Oh, benar sekali kau adalah keponakan ku yang selalu aku rindukan."
"Ha?"
Lama sekali mereka berbincang setelah pelukan dadakan itu, semuanya menjadi jelas. Sean menceritakan identitasnya bahwasanya ia adalah putra dari putri keluarga Xiao bernama Xiao yu. Sehingga Xiao Chen makin yakin inilah putra kakaknya. Masalah suara yang datang menghampiri telinga Xiao Chen merupakan suara harapan Ibu yang kasih sayangnya sepanjang masa.
"Keponakan, ingat kataku ini. Kau sudah menguasai pernafasan kehidupan, tapi jangan kau gunakan berlebihan ini punya efek samping buruk pada vitalitas tubuhmu."
Sean tertegun ia merasa sedih atas kesalahannya. "Saya akan selalu mengingatnya Pak."
"Pak? Apa maksudmu, panggil aku paman Xiao mengerti!!" Xiao Chen mana mungkin senang jika dipanggil pak oleh anak darah nadi kakaknya.
"Hehe, ya Paman Xiao. Sean mengerti." Mengepalkan kedua tangan lalu membungkuk.
Brum, brum.
Lamborghini dengan lambang elang emas beserta mobil-mobil bawahan menghampiri mereka berdua, buat Sean agak berfikir canggung, "hei ada apa ini?"
"Jenderal, kami telah memenuhi perintah," hormat Xiu Min setelah turun dari pintu mobil Lamborghini.
"Apa! Paman adalah seorang jenderal UHP China?" Sean menatap dengan wajah kagum.
"Haha, ya iya lah, adek siapa ini." Hidung Xiao Chen agak naik. Melihat sikap jenderal yang bisa kayak gitu Cha Yong sedikit ingin tertawa tapi di tahannya.
"Aduh aku dikacangin," batin Xiu Min.
Xiao Chen mengusap kepala Sean. "Sean sekarang kamu sekolah di IU kan?"
"Benar Paman."
"Aku ingin kamu kembali ke keluarga. Bisakah kamu ikut denganku saat aku jemput suatu saat," ujar Xiao Chen.
"Baik Paman." Sean mengiyakan dengan mengangguk.
"Haik." Cha Yong tanggap ia langsung membuka pintu mobilnya untuk Sean.
Mobil-mobil itu akhirnya keluar pasar melalui gerbang peot yang sudah habis terbakar, mengikuti arah laju Lamborghini.
Pasar yang biasanya selalu ramai dengan pengunjung, kini telah kosong tidak ada lagi yang bersisa. Yang ada hanyalah bau arang dan bara yang masih dapat menyala merah.
East Baijing, UHP office.
Dua manusia lajang berumur tiga puluh tapi masih belum nikah lagi-lagi cek cok berdebat karena hal sepele.
"Dasar nenek peot masa mie gue Lo habisin semua." Ini namanya Ye Ji biasa di panggil Pak Ye, dia berpostur tubuh bulat kayak bakso. Pipi bulat mengembul semuanya. Eh tapi jangan salah dia adalah salah satu agen aktif terbaik di China.
"Ha! Kakek buncit apa maksudmu, bukannya kamu yang bilang kita semua yang ada di kantor adalah keluarga, menurut ku, makna keluarga adalah punyamu itu punyaku." Ini Bu Tong kalo ketemu sama Pak Ye selalu bertengkar, sifatnya emang agak cengengesan, seenaknya saja.
"Lalu punyaku tidak punyamu, ya. Dasar nenek peot masih aja perawan nikah sono."
Geram di sindir seperti itu Bu Tong menginjak kaki Pak Ye. "Auch."
Mereka berdua duduk di sebuah meja saling berhadapan. Pak Ye tak mau kalah.
"Ooo berani ya, ok." Pak Ye dengan pikiran bulusnya melancarkan rencana, mengangkat kaki hendak menginjak, mudah terbaca Bu Tong mengangkat kedua kakinya, eh si Pak Ye ternyata mengincar rambut kriwil Bu Tong.
"Adududuh, sakit tau!!"
"Umm rasin tarikan mautku."
Bu Tong tak terima rambut terikat rapinya jadi kusut, ia berdiri dari kursi duduknya. "Ye tua, hari ini kau makin ganteng deh." Bu Tong langsung menjambak rambut Pak Ye.
"Sakit woi," balas jambak
Jenderal Xiao Chen bersama asistennya Xiu Min tiba di kantor, berjalan menuju ruang kerja mereka. Setelah sampai mereka pun membuka pintu, penampakan itu sudah dianggap suatu hal yang lumrah.
"Hum, uhum." Xiao Chen mengeraskan batuk pura-pura.
Lantas mereka berdua baru sadar berhenti melakukan pertengkaran yang sia-sia, dan langsung berdiri memberi hormat.
"Hehe, Jendral." Bu Tong cengeges senyum cabe.
"Saya Ye Ji hadir Jendral," sahut Pak Ye lantang.
"Ya, duduklah kalian berdua. Kita akan sibuk, Xiu Min berikan dokumen itu pada mereka." Xiao Chen duduk di kursi putar yang memang itu adalah tempat terkhususkan untuknya.
Xiu Min membagikan beberapa arsip laporan pada Pak Ye dan Bu Tong, lantas mereka pun sedikit membaca dan menganalisa.
Xiu Min berdiri dekat papan tulis memulai meeting untuk hari ini.
"Insiden beberapa saat yang lalu telah menggemparkan negara, terpaksa perekonomian masyarakat umum rugi besar terutama para pedagang. Akhir-akhir ini banyak keluarga bangsawan melapor pada kita kalo mereka kehilangan anggota keluarganya, itu terbukti di tragedi shicang orang yang di bunuh hanya DNA bangsawan.
Sudah diverifikasi bahwa dalangnya adalah Black Demond apa maksud dari mereka? Kesimpulan hari ini apa yang akan kita lakukan untuk antisipasi tindak lanjut."
Ketiga orang itu melihat ke arah Xiao Chen.
"Tong Yan kau pergi ke kantor forensik nasional untuk menerima hasil autopsi korban lalu tolong lakukan wawancara dengan siswi Akademi IU bernama Wen Qing." Tatap Xiao Chen beri amanah pada Bu Tong.
"Siap." Tong Yan menerima tugas.
"Ye Ji, kau menyamarlah, menyusup ke dalam Black Demond yang ada di China, dapatkan informasi penting. Ingat jangan buat mereka curiga, dan jangan terlalu dalam mencuri, kau bisa saja di lacak atasan mereka."
"Saya mengerti jenderal," ujar Pak Ye wajah tegar.
"Xiu Min mana anggota baru kita tadi?" tanya Xiao Chen dagu terangkat.
"Maaf Jendral, Cha Yong masih belum tiba dia, tadi kamu suruh untuk mengantarkan murid Akademi IU." Xiu Min bicara agak sedikit senyum canggung.
"Haisss, ya sudah bilang padanya nanti kau dan dia bergabung ke dalam militer untuk menangkap para anggota Black Demond, dalam ekspedisi nasional revenge," ucap Xiao Chen agak kecewa karena salah satu anak buahnya ada yang tidak hadir di rapat penting ini.
"Cukup untuk hari ini, kita akan berkumpul lagi setelah semua ini berkahir, jangan ada yang mati. Sekian."
Tradisi atau kebiasaan Xiao Chen mengakhiri upacara rapatnya, ia memukul meja rapat itu dengan jari telunjuk tiga kali.
*
Di lain tempat Sean dan Cha Yong mampir langsung ke zona pasar Akademi, restoran RM paling terkenal di Akademi milik Kakek Juna.
"Aku yakin kakak nggak bakalan rugi deh ikut sama aku." Sean tersenyum tulus duduk di meja restoran Akademi.
"Wah, di sini rame terus yah, bahkan sampai mengantri." Cha Yong tertegun melihat kesekitar tempat.
Ho, jadi ini ya alasan Cha Yong tidak lekas balik ke kantor, ia tergiur sama ajakan Sean setelah mendengar nasi padang, kuah gulai, rendang yang diceritakan Sean sepanjang perjalanan.
Pelayan restoran hadir dengan ranjang pesanan mereka berdua, banyak sekali pesanannya ranjang tersebut jadi penuh.
"Apa ini meja anak yang bernama Sean?" tanya pelayan restoran senyum sapa.
"Benar." Serentak Sean dan Cha Yong.
"Ini semua gratis dari chef, dan ini adalah imbalan atas misi yang sudah kau tuntaskan."
"Ashiaap, udah nggak sabar aku nih." Mata Sean bersinar terang.
Pelayan restoran dengan senyum manisnya menata pesanan ke atas meja.
"Selamat menikmati," ujar pelayan resto menyudahi lalu kembali ke dapur dengan ranjang pengangkut pesanan yang sudah kosong melompong.
"Mari Kak Cha," ajal Sean mempersilahkan.
"Mari."
Sean pun beraksi duluan. Cha Yong si bolos rapat pertama tertegun melihat kecepatan Sean makan fantastis. Ia pun jadi terpengaruh untuk segera mencicipi.
Saat satu sendok itu masuk ke mulut "Um, lezat." Ia jadi ikut-ikutan tak mau kalah menyantap hidangan.
"Enak!!"
Saling bertatap senyum, penat karena tragedi shicang kini telah terlupakan.
To be continued.