Over Power

Over Power
S2 - Hari yang tidak tenang



Tahun XXXX China menghadapi masa sulit.


2 bulan setelah pertunangan Sean dengan Wen Qing dan Xin yu.


"**Habbalabsta° Horaaa!!!!" Seekor orc muda yang sudah berevolusi jadi kayak manusia dari dunia lain menunggangi seekor naga.


(Hancurkan para bedebah itu!!)


Trompet bergemuruh, sorakan juga ikut menggema**.


Ribuan pasukan abnormal berdatangan dari samudera Pasifik gegerkan satelit yang berhasil memantau pergerakan mereka, mereka cepat baik itu berupa udara maupun laut. Tak terbayangkan, bagaimana gelapnya langit karena mereka.


Suasana di markas pusat UHP China menjadi sangat sibuk dan panik!


Bersedia siaga para petinggi dan ahli informatika UHP yang menyadari hal itu tidak tinggal diam. Mereka dengan cepat bersatu mengumpulkan pasukan khusus serta senjata ampuh pengembangan UHP yang dapat bersaing dengan ke-abnormalan pasukan mereka.


Semuanya harus dikorbankan demi kepentingan dan kelangsungan hidup umat manusia di negeri tirai bambu. Tiga keluarga raksasa memimpin pasukan militer yang dihimpun tersebut, tanpa harus memaksa generasi muda untuk ikut berjuang. Malah para petinggi bersepakat untuk mengirim keluar anak-anak mereka agar penerus keluarga tetap ada, yang mana takutnya apa yang ada di negeri tirai bambu tak dapat menahan serangan pasukan besar Black Demond.


"Ayah!! Jangan Ayah, jangan tinggalkan aku," tangis Xin yu memegang erat-erat tangan Ayahnya yang akan ikut berperang.


Zhang Ming melirik ke arah Sean, memeluk tubuh Sean seraya berkata, "Aku amanahkan keselamatan putriku padamu."


"Serahkan padaku."


"Ayah!!!"


Zhang Ming pergi tinggalkan area Akademi dengan beberapa himpunan pasukan yang ia komandoi.


Wen Qing yang melihat Xin yu menangis tersedu-sedu datang menghampirinya, memapah kemudian berusaha menenangkan.


Bis pengungsian sekitar berjumlah puluhan sudah berbaris rapi di halaman Akademi, para murid masuk ke dalam bis dengan barang kemasan alat pribadi mereka, dengan berat hati meninggalkan sekolah serasa rumah.


Satu persatu bis meninggalkan Akademi menuju ke tempat jauh, menjauhi asal serangan besar-besaran dari pasukan Black Demond yang ganas.


Hingga tinggallah satu bis yang tersisa, saudara Zack beserta kawan-kawan yang lain hadir dengan barang bawaan mereka menghampiri Sean dan dua tunangannya.


"Hei apa kalian tidak masuk ke dalam?" tanya Yoona.


"Kalian dulu lah, aku ingin ke kediaman Xiao untuk memastikan keselamatan adikku," jawab Sean.


Zack mendesah menepuk pundak Sean. "Baiklah kawan jaga baik-baik dirimu."


"Kak Sean cepat susul kami ya," seru Oval yang sudah menganggap Sean sebagai kakak.


"Tentu tunggu saja."


Mereka beranjak menuju bis yang sudah menunggu lama. Sean pun berbicara kepada Wen Qing dan Zhang Xin Yu.


"Kalian dulu lah berangkat dengan mereka ...."


"Tidak! Kami ikut denganmu." Wen Qing menyangkal perkataan Sean.


"Benar, mana mungkin kami meninggalkan kamu sendirian!" tekan Xin yu.


Melihat Bis sudah terlanjur berangkat dengan lambaian kawan-kawan di kaca Sean tak dapat untuk tidak memenuhi kemauan mereka berdua.


"Baiklah kalau begitu, tapi aku hanya punya satu motor," dengus Sean hiba.


"Hai, tidak perlu khawatir." Xin yu tersenyum.


Xin yu mengajak Sean dan Wen Qing untuk ke rumah pribadi nya yang ada di Akademi. Di sana terdapat garasi mobil yang bukanlah hanya bangunan pajangan belaka.


Saat pintu garasi terbuka, Sean tidak menyangka apa yang ada di dalam sana. Mobil paling eksotis, memang tak dapat diremehkan kekayaan kaluarga Zhang.


Maserati!



"Aku juga tidak bisa," ujar Wen Qing.


Kedua wanita itu menatap Sean.


"Okey, serahkan ini padaku," berlagak handal.


Mobil yang dikendarai Sean lumayan, lumayan parah!!! Melaju dengan kecepatan bak seorang pembalap. Dua wanita itu berkali-kali gusar dengan suasana serta adrenalin yang kacau.


Keponakan Xiao Chen di tanya soal cara mengemudi. Apa kata dunia.


Tiba-tiba ada ruas jalan yang macet hentikan pergerakan mobil Maserati yang Sean kendarai.


Macet tersebut disebabkan oleh pengungsian dadakan karena perang besar yang akan terjadi di pesisir pantai bagian samudera Pasifik China. Para masyarakat dihimbau untuk meninggalkan rumah mereka menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


"Bagaimana ini?" cemas Xin yu.


"Aku ada ide." Sean tersenyum Joker, membuat khawatir dua tunangannya.


"Jagan pikirkan yang tidak-tidak Sean!"


Mobil diputar ke sebuah jalan tikus yang hening dan lengang tidak terbuat dari aspal hanya beralas tanah. Turut jalan mobil mewah itu jadi menerabas jalan.


"Hati-hati."


Sebuah batu besar melonjong di tengah jalan, dengan handal Sean mengendalikan mobil supaya tidak menabrak.


Wen Qing dan Xin yu menutup mata lalu menghembus nafas lega. Mobil tidak jadi menabrak batu besar itu.


Beberapa saat kemudian.


Akhirnya mereka sampai di kediaman keluarga Xiao. Seperti tada hunian, terlihat sudah kosong tanpa orang. Sean pun masuk ke dalam bersama Xin yu dan Wen Qing.


Seorang Pak tua berdiri di dekat kolam dengan topi jerami, seperti sedang bermeditasi menikmati ketenangan suasana.


"Tuan muda ada gerangan apa membuat anda kemari, bukankah kami sudah memerintahkan kepada anda untuk meninggalkan China," sahut si pertapa itu dengan suara serak menyadari kedatangan Sean yang hendak menghampirinya.


"Kakek, alasanku kemari adalah untuk mencari adikku."


Si pertapa itu menghelus jenggot. "Tidak perlu khawatir adikmu aman dia sudah diungsikan bersama saudara yang lainnya."


Sean membungkuk dengan penuh hormat. "Terima kasih kakek, syukurlah adikku sudah aman."


"Pergilah sekarang jangan membuang waktu lagi!" Perintah si pertapa penjaga kediaman Xiao.


"Baik Kakek." Sean pun berpamitan undur diri kembali untuk mengemudi mobil pergi meninggalkan Beijing secepatnya.


"Sungguh anak yang perhatian." Senyum tipis di wajah Kakek yang berwibawa itu.


"Setelah aku memastikan keamanan Wen Qing dan Xin yu aku akan kembali ke sini untuk mencari orang yang sudah membunuh kedua orang tua ku!!" gumam Sean dengan tatapan wajah serius saat mengemudi.


*


Keadaan di pesisir pantai benar-benar gawat, hati yang tenang serasa akan sirna untuk selamanya. Pertempuran berlangsung tanpa aba-aba. Serang secara brutal. Pertarungan apa saja dilakukan yang penting bunuh!


Jenderal Xiao Chen mengangkat tangan, sebuah tapak raksasa muncul di atas awan, menyapu bersih pasukan bertunggang naga. Sungguh kemampuan yang mengerikan dari seorang putra bangsawan Xiao.


Namun lawan tidak dapat diremehkan, sosok makhluk seperti iblis menyerang Jenderal Xiao dengan pukulan dahsyat, membuat tubuh Xiao Chen terpelanting jauh, tangan dari langit yang menghambat pergerakan serangan udara ter-nonaktifkan.


Serbuan keras pasukan penyihir dari udara kembali berdatangan membuat para pasukan UHP serta Militer darat kesulitan.


Pertempuran berat sebelah, musuh terlalu banyak dan sulit dikalahkan.


Seperempat pasukan gabungan sudah terbantai habis. Akan tetapi mereka masih berjuang tetap tegar walaupun darah sudah membasahi badan.


"Serang!!!"