Over Power

Over Power
Hanya Semalam



Rintik hujan membasahi segala hal yang ada di permukaan, awan mendung menandakan tidak bersahabatnya cuaca saat ini, terlihat Sean dan Lisa tengah berteduh di bawah atap toko mengenakan seragam sekolah.


Beem, beem.


Mobil sedan hitam itu menghampiri mereka berdua. Seperti biasa Kang Daniel pelayan keluarga Yonguk menjemput nona mudanya. Senyum gelamai gigi bonengnya yang khas menyapa. "Ayo nona."


"Sean pulang bareng aku, ya." Lisa hendak membantu Sean, mengigat karena hujan lah yang menghambat dia untuk segera pulang.


"Terima kasih, tidak usah repot-repot. Aku di sini juga menunggu adik-adik kelasku yang sedang kena hukuman." Sean menolak ajakan Lisa karena empat serangkai ini sedang dieksekusi oleh Bu Kepsek, mereka tadi siang kepergok mabar di atas loteng. Siapa ya yang ngajarin mereka bisa seperti itu?


"O, anak-anak itu ya yang jadi perwakilan lomba bersamamu, kan. Apa mereka sekarang tinggal di rumah mu?" Lisa kepo soal Sean dengan empat serangkai itu.


"Ya, mereka untuk sekarang tinggal di rumah. Btw, kamu pengen tinggal di gubuk ku juga?" Sean menggoda dengan logat bercanda.


"Iiiih Sean, sampai akad jangan pikir yang kotor-kotor." Lisa tak nyaman, dan lekas masuk ke dalam mobil membawa wajahnya yang memerah.


"Ayo tinggalkan saja orang aneh ini, Kang. Laki-laki sama saja semuanya," ucap Lisa menggerutu di dalam mobil.


"Dadah Sean, nona pulang dulu ya." Kang Daniel mewakili perpisahan mereka berdua.


BEEP.


Sean hanya tersenyum halus, melambaikan tangan ke arah jendela mobil yang perlahan menjauh. Seraya memandang ke langit yang kini jadi buram oleh awan-awan tak bersahabat dan butiran jutaan air yang menetes ke bumi.


Satu jam kemudian


"Beeeeer lama bener dah, mana mereka nih. Mana tau hari makin dingin lagi, kalau tau seperti ini jadinya. Aku bakal pulang aja bareng Lisa." Sean menyesal karena menolak ajakan Lisa untuk diantar pulang. Tobatlah Sean jangan jadi cowok plin-plan. "Eh kayak dengar sesuatu deh," gumamnya sendirian di bawah pinggiran atap itu dengan hawa yang semakin suram. Bikin bulu kuduknya meremang.


"Cuil." Jari mungil muncul secara tiba-tiba, mencolek bahu Sean.


Karena kaget Sean melenjit ketakutan. "Astaga bikin kaget saja kamu, sudah lama aku nungguin dari tadi." Rupanya itu si Oval yang datang dengan dimensi teleportasinya


"Kak Sean udah sore ayo lompat ke dalam sini, di rumah udah kami siapin mie rebus lho," ujar Oval dengan senyum lugunya.


"Baiklah, thank you ya, udah jemput kakak."


°°°


Mereka berlima sedang berpacu menghabiskan mie rebus langsung dari kuali. Siapa cepat dia dapat. Setelah beberapa ronde tinggallah Boby dan Sean yang masih bersaing panas dengan sumpitnya. Lagi-lagi juaranya Sean setelah mendapati Boby yang akhirnya tepar kekenyangan. Empat serangkai K.O


"Ah, nggak ada lawan lagi nih," ujarnya setelah menghisap kuah yang tersisa di kuali.


"Huh ..." Hela nafasnya duduk di atas sofa dengan pemandangan Boby, Kanmu, Ester versi bencong, dan Oval yang sedang tertidur lelap. Sungguh kasihan mungkin karena efek dari eksekusi Bu Kepsek.


Sean pun termenung heran memikirkan tentang kelebihan tubuh barunya ini. Sifat yang aneh. Sebanyak apapun dia makan tidak terasa kenyang sama sekali tapi malah mendapatkan tenaga lebih tidak menjadi lemak tapi malah makin buat otot-ototnya kuat. Semakin tubuhnya dipaksa semakin berkembang ketingkatan yang di atasnya itu lah perumpamaan yang ia simpulkan sampai sekarang. Kekuatan untuk terus berkembang dengan cepat.


"Aku harus cepat menjadi kuat supaya bisa melindungi orang-orang di sekitar ku." Tatapannya jadi serius.


"Sekarang aku akan mempelajari teknik pengobatan tradisi keluarga Xiao yang terkenal. Seingatku kitab warisan keluarga ini di simpan oleh Ibu dan ada di mana ya." Sean mulai menyusuri tempat-tempat yang berpotensi untuk menyimpan barang, mencari keseluruh rumah tapi tak kunjung ia temukan.


Akhirnya ada satu tempat yang belum diperiksa, gudang yang ada di belakang rumah. Memikirkan gudang Sean lekas mengambil kuncinya yang tersimpan di dalam kamar orang tua, setelah mendapatkan kunci ia pergi kebelakang dengan harapan segera mendapatkan kitab itu.


****


Tampak tumpukan barang yang menggunung di depan pintu gudang belakang rumah Sean. Keringat peluh membasahi kaos yang ia kenakan sekarang. Karena sudah begitu lamanya ia merombak isi gudang ini hanya untuk menemukan sebuah kitab warisan keluarga Ibunya.


"Tuk, tuk." Ketukan pintu oleh tangan mungil Oval dengan wajah datar.


"Oh kamu, ada apa?" tanya Sean atas kedatangan Oval yang tidak biasa.


"Nyari apa kak?" balas nanya.


"Nyari Kitab warisan teknik pengobatan keluarga yang di simpan Ibuku," sahut Sean sembari menghela nafasnya yang sudah sesak karena debu.


"O ..." Oval menutup matanya. Dirinya yang dapat menguasai magic memancarkan gelombang spiritual untuk menganalisis ruangan yang ada di gudang ini.


"Ngapain nih bocah." Sean yang tidak bisa sihir pun, tak paham dengan apa yang sedang di lakukan oleh Oval.


Membuka mata, Oval berjalan masuk ke dalam gudang hingga titik tengah lalu berhenti di sana. Mengetuk lantai tengah gudang ini hingga terasa seperti ada ruang hampa di titik yang terketuk. "Kak pukul ini." Oval menunjuk ke arah yang di ketuknya.


"Booom." Sekali pukul lantai itu berlobang dengan kotak tersimpan di dalamnya.


"Eazy kan, kapan-kapan kalau nyari sesuatu tinggal minta bantuan Oval. Nggak nganggu tidur kayak gini." Oval pergi begitu saja dengan wajah mengantuk.


"Kecil-kecil cabe rawit," gumam Sean termenung lama, mati bagaikan tertusuk tombak oleh perkataan Oval yang nyesek di dada.


Akhirnya kitab yang dicari berhasil didapatkan berada pada sebuah kotak yang ada di bawah lantai gudang. Sean tidak sabaran ingin langsung menguasai teknik pengobatan warisan keluarga Xiao ini agar ia bisa masuk ke dalam keluarga Xiao Ibunya yang ada di China dan ini adalah persyaratan dari kakek yang mana ia adalah tetua agung yang memimpin keluarga masa ini.


Ia pun membuka halaman buku itu satu persatu. Seperti biasa dengan kelebihannya dalam memahami sesuatu secara instan, Sean mempelajari buku itu seperti mencopy paste kan setiap halamannya ke dalam otak. Saking semangatnya semalaman Sean asyik mempelajari dan memahami isi dari kitab warisan ini, hingga tidak terasa hari sudah subuh barulah berada pada halaman terakhir.


Di halaman terakhir ini Sean hanya mendapatkan sepenggal kata, tertulis.


"Mati manjadi hidup, hidup menjadi mati."


Sean berada pada dilema akal pikiran. Apa hikmah yang ada di balik kata-kata ini? Adakah yang bisa memanipulasi kehidupan? atau ini hanya isi pikiran dari penulis?


Kepala Sean seakan-akan ingin meledak. Mengingat memorinya sudah terasah semalaman untuk menguasai teknik dari kitab yang di pengangnya itu. Ia pun berkata,


"Yang penting aku sudah menguasai kitab ini hanya dengan semalam siapa di keluarga Xiao yang dapat mengalahkan ilmu pengobatan ku? Baiklah sekarang hanya tinggal merencanakan kepergianku ke China untuk memastikan keberadaan Yuning."


Tangannya mengepal ke atas dengan semangat yang kuat. Setelah kepalan tangan itu di terpa mentari, ia pun baru nyadar kalo sekarang sudah di hari yang berbeda.


"Buset udah pagi," Sean kaget melihat keluar jendela kamar.


"Aaaah. Jam berapa?" Menoleh ke arah jam yang menunjukkan pukul 07.00 AM. "Gawat aku harus segera berangkat."


"Kak, cepat dimensi teleportasinya Oval udah buka nih." Kanmu memanggil Sean dari luar kamarnya.


Sean dengan tergesa-gesa berlari ke dalam kamar mandi, melempar bajunya yang ia kenakan secara instan. *Nggak malu sama pembaca?


"Suara siapa itu*."


To be continued