
"Huk ... hah-hah-hah hiks, seseorang tolong aku."
Seorang gadis berlari tergesa-gesa, mengenakan rok mini dengan kemeja putih, kaos kaki hitamnya panjang sampai lutut. Ia berlari tak menentu arah diikuti oleh makhluk Glutotian tinggi lima meter.
Gadis itu sudah tampak sangat kelelahan akibat dikejar-kejar oleh sosok psikopat kampret. Mau gede atau pun kecil sifat mereka sama saja suka membunuh kaum di luar spesiesnya setiap kali bertemu.
Dinding jalan buntu itu begitu tinggi, tidak mungkin bagi seorang wanita muda yang pendek bisa memanjatnya. Ketakutan meresapi tubuhnya hingga ke dasar sum-sum tulang. Tak bisa kabur lagi, liur di bibir Glutotian menyembur-nyembur melihat mangsa sudah siap untuk di santap.
"Ayah ... aku takut." Mengejamkan mata gadis itu berjongkok di bawah dinding buntu.
Saat Glutotian lima meter itu hendak mencabik tubuh mungilnya dengan kuku-kuku tajam, sesuatu menahan tangan Glutotian, sehingga kuku menjijikkan penuh berlumur darah tak jadi sampai menjangkaunya.
"Cepat lari!" Pemuda itu menahan tangan Glutotian dengan memeluk erat sekuat tenaga.
Gadis itu pun bangkit dari jongkok untuk menjaga jarak agar tidak terjangkau oleh tangan Glutotian yang satu lagi, melompat Gadis itu berhasil lolos dari kuku lengan satunya lagi. Menstabilkan nafas gadis itu berdiri melihat si pemuda bertarung dengan Glutotian lima meter.
Tebarrr! Pemuda itu mental jauh karena terkena layang tepisan lengan Glutotia.
"Hei apa kamu baik-baik saja?" tanya gadis itu beraut wajah cemas menghampiri letak jatuh pemuda yang telah menyelamatkan hidupnya.
"Tidak apa-apa, gah ..." darah meleleh keluar mulut.
"Ayo kita segera kabur!" Gadis itu berusaha mengangkat sebelah lengan sang pemuda supaya lekas bangkit, karena sosok Glutotian sudah semakin mendekati mereka.
"Tenang aku baru saja pemanasan," ujar pemuda itu tersenyum, mengabarkan kalau ia pasti akan bisa mengalahkan Glutotian tinggi lima meter ini.
"Hei jangan bercanda lebih baik kita segera menyelematkan diri." Gadis itu mengabaikan maksud dari sang pemuda ia masihlah belum percaya kalau pemuda itu punya kekuatan untuk melawan dan sebenarnya pemuda ini salah satu agen junior di U.H.P dengan umur setara dengannya.
"Lihat ini nona, manusia bukan makhluk yang lemah hanya bisa kabur. Tenang saja aku di sini ada untuk melindungimu." Mengacungkan jempol pemuda dengan alis runcing itu tampak bisa di andalkan. Sekilas gadis itu terpukau melihat pemuda itu.
"Kehendak Surya,"-Beradukan kedua tinju menjadi satu, muncul percikan api menyebar di kedua lengannya-"Iron first". Api itu menyala terang di lorong jalan buntu nan gelap, tidak mengakibatkan luka bakar sama sekali. Seperti api yang menyelimuti juga bagian dari tubuhnya.
"Hebat ... apa manusia benar-benar bisa melakukan suatu hal seperti itu. Apa dia super heroku?" decak kagum gadis itu di balik punggung sang pemuda.
"Guoaaaaaar." Suara auman Glutotian bikin pekak telinga. Sosok tubuh mengerikan ini datang melancarkan serangannya pada pemuda api itu.
"Kemarilah, api matahari tidak akan pernah padam hingga kiamat tiba."
Saling menyerang bertemu di titik tengah mereka berdua beradu tinju. Tekanan dari kedua tinju yang bersatu buat gadis yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua kesulitan untuk mempertahankan kaki agar tetap berdiri.
"Sayang sekali kau menyentuh apiku yang akan melahap habis tubuhmu!!!"
Gooooar.
Kobaran api dari tangan pemuda beralis runcing ini menjalar ke tubuh Glutotian, mengakibatkan luka bakar yang serius dan itu terus menyebar hanguskan besar tubuh lima meter dalam sekejap.
"Gimana benarkan apa kataku 'cling'." Berbalik badan pemuda itu kasih jempol dengan senyum lebarnya hingga nampak lah gigi putih rapi berseri, seperti senyum Pepsodent.
"Heroooo." Gadis yang riang memeluk pemuda baru ia kenal, ia sangat kagum dan juga sudah jatuh hati dengan aksi heroik pemuda itu.
"E ... eeeeeh," anggau ini adalah kali pertama baginya di peluk oleh seorang wanita. Sebutir air mata lepas dari kornea. "Bye-bye status jomblo ku. Semoga kita tidak akan berjumpa lagi."
°°°°°
Mereka berdua mengendap-endap di balik bangunan yang bisa dijadikan tempat bersembunyi, berusaha menghindar dari makhluk Glutotian versi dewasa yang bisa tinggi mencapai lima belas hingga dua puluh meter. Akhirnya mereka berdua menemukan tempat persembunyian sementara di dalam mall nan sunyi tidak ada keberadaan manusia. Yang tampak di dalamnya hanya produk-produk jualan tersusun rapi di rak-rak belanjaan.
"Pilihlah makanan-makanan gratis ini, kamu lapar kan?" ujar gadis itu tengah memilih makanan ringan kesukaan.
"Hihi, dia benar-benar tipeku," gumamnya dalam hati melihat sosok pemuda itu tetap memegang kata-katanya dengan tidak memilih makanan yang tergolek free di lantai maupun rak, walau wajahnya berkata lain dan perut keroncongan. Pemuda itu tetap teguh pendirian.
"Dari tadi kita sudah berjalan bersama, aku ingin tahu siapa namamu?" tanya gadis itu agar nanti saat berpisah tidak akan menyesal nantinya.
"Namaku Leeh Kang Mu, panggil saja Kanmu."
Wajah gadis itu merona, dari tadi ia sangat ingin tahu siapa nama pemuda yang telah menyelamatkannya ini, tak di sangka setelah menahan pertanyaan akhirnya tahu juga. Cinlok. "Namanya Kanmu kan selalu aku ingat dalam sanubari ku."
"Kalau begitu aku perkenalkan diriku juga, namaku Kwon Nara putri Wali Kota Busan."
"Jadi ... kamu putri Pak Wali Kota!!" Kanmu terlihat sangat terkejut bertemu dengan sosok putri Wali Kota yang sudah dicari dari tadi.
"Hoho, pasti dia kagum dengan stasusku, banggain aku dong." Hidung Nara naik tinggi dalam hatinya ingin lebih mendapatkan pujian dari Kanmu.
"Syukurlah, ketemu juga." Menghela nafas, Kanmu mengelap keringatnya di dahi.
"Apa maksudmu seperti itu." Nara pengen tahu sepertinya Kanmu memang berkeliaran di kota untuk mencarinya.
"Kami beberapa anggota agen U.H.P di kerahkan untuk mencarimu. Ayahmu sangat khawatir," jelas Kanmu.
"Ayah ..." Nara sangat bahagia karena pak sulah itu akhirnya bisa juga ya mengkhawatirkan dirinya, padahal ia selama ini bagi Nara tidak pernah sama sekali meluangkan waktu untuknya. Alasan karena kesibukan sebagai walikota.
"Btw, kamu adalah seorang agen khusus di U.H.P? apa benar, kamu saja masih pake seragam sekolah." Nara mempertanyakan identitas Kanmu itu sebenarnya siapa.
"O ... itu di samping aku adalah seorang agen aku juga murid sekolahan mengikuti senior ku." Kanmu mengambil posisi duduk mengikuti Nara yang telah duduk juga dilantai dengan beberapa makanan.
"Dimana sekolahmu," lanjut nanya Nara kepoan.
"Aku sekolah di High School Art Seoul."
Nara yang mendengar hal itu buat tenggorokannya tersendat oleh makanan yang lagi ia makan. "Uhuk-uhuk air," pinta Nara mengulur-ulur tangan pada Kanmu.
Kanmu yang melihat Nara tersendat oleh makanannya sendiri, ligat bergegas mengambil sebotol air mineral yang tersusun di rak Market tempat mereka tumpangi untuk bersembunyi.
"Ini-ini, ini airnya," serah Kanmu ke tangan Nara.
"Gluk, gluk, gluk Ahhhh," lega Nara setelah meneguk habis sebotol air mineral itu.
"Kamu dari Seoul kenapa bisa kesasar di Busan sih ada-ada aja." Nara kembali mempertanyakan persoalan sekolah Kanmu yang mana ia bersekolah di High School Art Seoul yang terkenal.
"Aku kan juga peserta lomba, katanya tuan rumah turnamen antar sekolah tahun ini di Busan," jawab Kanmu menyengkal perkataan Nara tidak percaya kalau dia benar-benar dari kota Seoul.
"Aku mulai mengerti semua perihal tentangmu yes, benar sekolahku bintang Busan memang tuan rumah tahun ini, tapi perlombaan tahun ini dibatalkan karena kedatangan makhluk-makhluk jahat itu yang menyerang kota," sungut bibir Nara karena seharusnya kota Busan tidak akan seperti ini hancur seperti ada perang besar, dan mungkin kalau benar-benar jodoh dia dan Kanmu akan bertemu di pertandingan antar sekolah.
"Biarlah tidak usah difikirkan lagi, ayo sekarang kita pergi kembali ke post keamanan," ajak Kanmu merasa keadaan di luar sudah terlihat aman.
"Baiklah."
Nara memegang kerah lengan kemeja Kanmu sembari mengiringi langkah kakinya untuk keluar dari market , ia tampak sangat menggantungkan keselamatan nyawanya di balik perlindungan Kanmu.
"Aksi heroik mu buat aku jatuh cinta."
Wajahnya merona menatap punggung Kanmu yang penuh akan rasa tanggung jawab sebagai seorang pria sejati. Melindungi nan Hawa dan tidak menyakiti.
To be continued