
Bukan hanya teori saja yang harus kamu pahami, apa yang telah kau lakukanlah yang akan membuahkan hasil. Karena usaha seharusnya tidak akan membohongi hasil.
(Over Power)
___________________
Wajahnya penuh dengan lumuran lumpur yang melekat, badannya bermandikan air keruh lagi mengotori pakaian, padahal itu adalah baju baru beli lusa kemarin saat dolar hijau masuk ke dalam rekening.
Ia menggigit lidahnya hingga berdarah, saking tidak inginnya ada suara yang akan menarik perhatian makhluk berbadan besar pastinya seram kalau di tatap dari jarak sedekat itu.
Badannya sudah hampir hilang ditelan lubang becek lumpur jadikan makhluk itu hanya bergerak maju tak sadar kalau ada mangsa bersembunyi di dekat langkah kakinya.
Tinggi lima belas meter mungkin Sean akan terlihat seperti semut yang mudah mati sekali injakannya. "Gowuaaar," gema pita suaranya menggetarkan udara.
Pepohonan ukuran kecil yang makhluk besar itu lewati jadi rusak bengkok hampir saja tumbang. Akhirnya beberapa langkah dari makhluk itu sudah bikin jaraknya dengan Sean cukup terbilang jauh.
Sean yang tidak kuasa menahan nafas sedari tadi langsung keluar dari lumpur dengan gerakan super cepat kembali ambil posisi bersembunyi di balik semak belukar. Zug.
Peka pendengaran makhluk itu melebihi kemampuan manusia, ia sudah menyadari ada gerak langkah kehidupan di sekitarnya. Matanya bulat besar seperti burung hantu jeli melihat kesekeliling. Sean dag dig dug dengan irama nafas yang tidak karuan di balik semak itu. Melihat makhluk ganas yang berbalik haluan menuju ke arahnya.
"Ayah Ibu, tolong aku." Matanya mengejam.
ZOOWS.
Ayunan lengan makhluk itu panjang dan besar menyapu hutan seperti sapuan bersih kan halaman, jadi sekarang Sean kehilangan tempat bersembunyi. "Halo." Senyum ketakutan Sean sambil melambaikan tangan.
"Lari!!!" krocopocoh deru langkah kaki Sean berpacu sekuat tenaga.
Zrugh
Tapi naas kuku makhluk itu bisa memanjang dengan cepat menghentikan langkah Sean untuk kabur, darah di mulut Sean mengalir keluar. Kuku makhluk itu telah menembus perutnya. "Ahh, aku masih lemah." Matanya perlahan menutup seperti berada diujung ajal menjemput.
.
.
.
Saat membuka matanya Sean mendapati kenangan indah bersama Ibunya dulu. Entah kenapa kenangan ini tiba-tiba muncul di ujung ajalnya.
Terlihat Sean kecil bersama ibunya di sebuah rumah tradisional China, ibunya adalah sosok putri dari keluarga kebangsawanan Xiao. Xiao Yu itulah namanya. Sean kecil terlihat menangis mengadu pada Ibunda tercinta, tangannya luka mungkin karena jatuh.
"Hiks ... hiks."
"Cup cup Sean kecil Ibu tidak boleh menangis." Ibunda menghapus air matanya.
"Sini lihat mana yang luka," senyuman kasih Ibu meniup nafasnya pada luka itu "Huf huf," seketika alakadabra, luka itu jadi hilang dan sudah tidak terasa sakit lagi.
Sean kecil pun bahagia dipelukan ibunya. Berteriak bahwa ibunya adalah peri yang hebat, lebar senyum Sean kecil menyatukan pipinya dengan pipi Ibu.
"Seanku teruslah bernafas dalam lantunan kehidupan, rasakan dirimu menyatu dengan alam melalui pernafasan. Hingga suatu saat kamu tidak akan merasa sakit lagi karena." Air mata Ibu Sean menetes.
"Ibu kenapa menangis?" Sean kecil bertanya polos.
"Karena Ibu tidak Ingin melihat Sean terluka." Ibunda Sean memeluknya dengan erat.
"Dengan bernafas? Baiklah ..." Sean kecil keluar dari pelukan Ibu, ia bergaya seperti pembela kebenaran. "Seperti ini Ibu." Mulut kecilnya ciat-ciut membesar lalu mengecil dengan bernafas asal asalan.
"Sean akan terus bernafas supaya Ibu tidak sedih lagi." Senyum polosnya yang imut buat wanita itu luluh untuk tidak bosan memeluk anaknya itu. Kenangan yang bahagia.
.
.
.
"Dulu aku tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Ibu, tapi kini sudah tidak dulu lagi, setelah aku dapat memahami buku warisan."
Mata Sean terbuka tapi tetap bertahan menahan rasa sakit, akibat kuku panjang makhluk itu masih di perut. Memukul patah kuku buat makhluk itu juga merakan rasa sakit. Sehingga dia bebas tapi dengan perut yang harus di sensor.
"Bernafas, serap vitalitas alam," ucapnya sambil menahan nyawa yang sudah hampir melayang. Ia membuka rongga mulutnya.
Lambat laun luka di perutnya mengecil lalu kembali seperti semula. Air matanya menetes ia tahu kenapa mendapatkan ingatan masa lalu itu di ujung ajal, karena kasih sayang Ibu yang masih mengawasi anaknya.
"Ibu, lihat Sean masih bernafas, Sean sudah bisa Ibu," titah harapnya agar tersampaikan pada Ibu.
"Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?" sahut Sean sembari menyeka darah di mulut, mengingat dirinya tidak boleh senang dulu karena bahaya masih ada di depan.
Makhluk itu kembali mengarahkan kuku panjangnya pada Sean, syukur Sean bisa menghindarinya dengan melompat kesamping. "Siaal, dari mana monster ini berasal? macam tidak ada kerjaan saja serang orang membabi buta."
Sean berkali-kali melompat kesana-kemari agar kuku itu tak dapat menjangkau perutnya lagi. "Jika seperti ini terus aku tidak akan bisa lama bertahan," batinnya sudah berada pada keresahan.
Makhluk itu mulai kesal, tidak tahan lagi langsung memukul Sean seperti cicak, tubuhnya terpental jauh menumbangkan pohon yang menahan tekanan dari pukulan itu.
"Akhhh." Tulang punggung jadi bengkok, darah pun keluar ketika dirinya terbatuk-batuk. Kembali menstabilkan nafas ia mengulangi caranya tadi.
"Teknik pernafasan, nafas kehidupan." Udara kembali masuk melalui mulut. Tulang punggung yang bengkok perlahan kembali meluruskan diri.
"Hah-hah-hah," nafas tersengal-sengal.
Makhluk itu perlahan mendekati Sean yang lagi memulihkan diri. Seandainya ia punya kekuatan untuk menumbangkan makhluk ganas lima belas meter ini, penderitaan
tidak perlu dialaminya.
Brak!!!
Berapa berat kaki makhluk itu? tekanannya tidak mungkin dapat dikira, makhluk lima belas meter menginjak Sean? tubuhnya gepeng bermandikan darahnya yang mengalir di tanah.
Dia masih mempertahankan diri untuk tetap bernafas kemudian memulihkan diri. Brakk!! di injak lagi, memulihkan diri lagi, di injak lagi memulihkan diri lagi. lagi, lagi, lagi, dan lagi.
Lihat wajah dari makhluk menjijikkan itu, ia tersenyum bahagia mendapatkan mainan yang bisa sembuh setelah diinjaknya berkali-kali wajah seorang pisikopat pro.
"Tidak kuat lagi, setiap berusaha bernafas paru-paruku seperti akan meledak. Aku lebih baik mati saja, Ibu maafkan anakmu ini sepertinya kita akan bertemu dengan cepat," lesu mata Sean.
"Jangan menyerah wahai pewaris."
Sekejap Sean mendapati dirinya berada di ruang kehampaan antah berantah. Dirinya bingung apakah dia sudah mati?
"Jangan menyerah," ucap suara manusia berwujud cahaya Violet.
"Siapa kau sebenarnya?" Sean berekspresi tidak karuan.
"Tidak usah khawatir kita sekarang berada didalam jiwa spiritualmu," ucap orang itu dengan logat beribawa.
"Kemarilah, kau adalah penerus jadi jangan menyerah oleh monster kecil," enteng bicaranya.
Sean pun mendekat pada wujud cahaya itu dengan muka tertunduk. Sosok cahaya itu meletakkan jarinya di kening Sean.
"Sekarang jadilah manusia yang kuat." Sosok cahaya itu mengelus-elus rambut Sean.
"Gunakan kekuatanmu di jalan yang benar."
Setelah mendengar perkataan orang itu Sean mulai tahu pasti inilah suara yang selama ini terngiang-ngiang di benaknya, dan ia mengerti bahwa orang ini pastilah orang yang baik. Sean mengepalkan kedua tangannya memberi hormat.
"Sean sangat berterima kasih pada penghulu."
Sosok itu tersenyum dalam hatinya ia tidak menyesal karena telah memilih pewaris yang baik lagi berbudi luhur. Mendekap Sean untuk berdiri sosok itu menepuk-nepuk dada Sean.
Kemudian ia perlahan naik meninggalkan Sean.
"Jika boleh tahu siapakah anda?" tanya Sean dalam penuh penghormatan.
Sosok cahaya itu berhenti dilangit jiwa spiritual Sean dengan raut berseri memberikan perumpamaan akan memperlihatkan sesuatu yang spektakuler.
Ia merenggangkan kedua tangannya lalu muncullah ribuan sosok berwujud cahaya yang mengelilingi langit ruang jiwa spiritual itu.
"Kami adalah pewaris sebelumnya, percayakan kekuatan ini padamu."
To be continued