Over Power

Over Power
Wen Qing



Aku terlahir dari keluarga terpandang yang tidak dapat dianggap sebelah mata. Salah satu keluarga bangsawan yang paling ditakuti oleh seluruh jajaran barisan semua kalangan yang ada di negara republik raksasa ini.


Terlalu di manjakan, aku terbiasa di didik dengan perilaku congkak. Merasa akulah orang yang paling berkuasa dan tinggi. Keluargaku penuh dengan manusia nista.


"Qing'er kau adalah putri keluarga Wen, ingat itu ... berlakulah layaknya seorang ratu."


Suara Ayah selalu memenuhi fikiran tabuku.


"Qing'er tidak ada laki-laki yang pantas untukmu, kau adalah harta karun kami."


Ibu selalu mengatakan hal itu.


"Adikku adalah perempuan berlian. Siapa yang berani menyentuhnya aku bunuh!"


"Rasakan ini sampah!!!"


Bahkan kakakku terlalu meninggi-ninggikan aku, ia berani menghajar anak itu yang barusan menyatakan cinta padaku.


Dari SD hingga sekarang tidak ada yang akan berani mendekati aku lagi, mungkin seumur hidupku. Tidak ada yang pernah mengetahui apa yang ada di dalam perasanku. Kehampaan membuatku lupa diri.


Suara mereka selalu memenuhi gendang telinga!!!


"Wah, dia adalah Wen Qing putri pewaris tahta nomor satu di antara saudaranya."


"Jadi ini dia ya. Wah benar-benar cantik."


"Dia berada di level yang berbeda, berlian langka."


RATU, RATU, RATU RATU RATU ....


Hentikan!!! Cukup hentikan!!!


Aku bosan, jiwaku terhempas. Kebosanan ini jadikan aku gila. Kehampaan jadikan diriku angkuh.


Tidak ada yang bisa menandingi, kecantikanku, hartaku, pamorku. Kalian semua rakyat jelata tidak pantas memandangi aku.


Aku terjatuh ke dalam lubang keserakahan.


Keluarga Wen ku adalah keluarga yang sadis dan licik. Kami menghukum dari balik layar apa saja yang tidak mampu di lakukan oleh para polisi idiot, dan kami adalah penguasa dunia bawah.


Tempat dimana kriminal merajalela. Mereka adalah makhluk bodoh yang hanya memikirkan kesenangan belaka tanpa memikirkan sesuatu yang lebih penting dari dunia ini, aku tidak bisa menjawab apa itu, karena dunia ini bagiku tidak berarti lagi.


Mereka suka mencuri, memerkosa, menggelapkan uang, memakai narkoba, mencintai malam dari pada siang, dan kau tahu merekalah pelaku utama penghasil uang bagi kami.


Pusat perjudian kami yang ngatur. Pasar gelap adalah ladang kami. Bandar narkoba tak dapat berkutik di bawah jemari kami. Rumah pelacuran paling di favoritin sama pejabat korup dan pria hidung belang.


Sehingga warna gelap adalah lambang keluarga kami. Kebangsawanan raksasa hitam Wen.


Saat aku kecil dulu aku pernah membunuh anak seusiaku. Di malam gelap tanpa ada penerangan, Ayah malam-malam datang ke kamarku bawa anak kecil yang menangis. Kepalanya di tutup dengan kain hitam sehingga aku tidak mengenalnya.


"Ada apa Ayah?" Aku terbangun dari tidurku.


"Ambil belati ini putriku." Ayah tersenyum Joker padaku, alisnya miring dengan kelopak mata sipitnya hampir ngetem.


"Ayo, ayo putriku. Ayah ingin ngajarin kamu jadi Putri keluarga Wen yang sesungguhnya."


Perkataan Ayah menghipnotis diriku yang polos "Menjadi putri yang sesungguhnya, seperti putri Cinderella?"


"Iak, iak, setelah melakukan ini kamu jadi Putri Cinderella." Ayah makin mendekat padaku dengan belati dan ia mendekatkan lehar anak yang akan aku bunuh.


Aku sangat bodoh, mau di didik manusia sepertinya. Tidak, aku sangat bodoh karena mau hidup menjadi putrinya.


Otakku terguncang, pikiran padam. Mengiyakan perkataan Ayah. Aku menyambar belati itu lalu kemudian dengan cepat menyayat lehernya. ZREEK!! cipratan darahnya mewarnai piyama tidurku yang putih.


Meronta-ronta tubuh kecil itu sedang merasakan sakaratul maut. Hadeh, senangnya hati ini melihat dia seperti itu, kapan aku mati biar tidak hidup kayak ini lagi.


Malam itu sangatlah menghibur bagiku waktu itu.


"Hehehe, aku sudah jadi Putri Cinderella Ayah."


"Pinter anak Ayah, muah." Ayah begitu bahagia melihat aku seperti ini mengusap rambut lalu mencium pipiku penuh kasih sayang.


"Kamu udah jadi Putri Cinderella Qing'er. I love, sekarang tidur ya sayang." Ayah menghantarkan tidurku. Ia menyelimuti aku, kemudian mencium keningku. Lalu dengan wajah dingin psikopatnya pergi meninggalkan kamar setelah menutup pintu.


Aku tidak bisa tidur, sebenarnya aku sama sekali tidak ingin melakukan hal itu. Aku ingin berteriak keras, tapi tidak bisa. Aku sebenarnya sangat takut sama Ayah. Aku takut sehingga aku harus mengikuti apa yang di katakan Ayah.


Ini adalah kali pertamanya aku membunuh seseorang, a-aku nervous. Keringat dingin membasahi leherku. Lantas kegilaan membuat diriku semakin hilang.


Aku sudah jadi pembunuh, dan ternyata anak yang ku bunuh malam itu adalah sahabatku sendiri.


Darah itu mengalir di sepanjang lantai kamarku, tapi tak aku anggap sama sekali. Toh, palingan besok pagi pasti sudah di bersihin sama pelayan.


Malam itu entah kenapa tidurku berubah menjadi tak nyenyak. Saat kejadian apa yang diinginkan Ayah terjadi. Pikiran hati iblis es bangkit pada diriku.


Tubuhku tiba-tiba dingin, sekejap jadi panas kemudian tiba-tiba dingin nol derajat. Panas lagi jadi tujuh puluh derajat.


"Aaaagh."


Air mataku terburai, rasa pedih teramat sangat menyiksa tubuh kecilku.


Ayah saat itu mengetahui dan sengaja melakukan hal itu padaku. Ia memang berniat membangunkan kekuatan jahat ini dari dalam tubuhku. Ia menunggu dengan tersenyum bangga di depan mansion keluarga kami.


BUAARR!!


Mansion kami meledak oleh tekanan kekuatan ini. Esnya sangat dingin bekukan semua yang ada di sekitarku.


"Maha karya. Hahahaha, aku sangat senang, putriku tercinta kau tidak pernah mengecewakan aku."


Malam itu adalah malam yang tidak pernah aku lupakan.


Kekuatan yang aku banggakan selama ini menjadikan aku nomor satu di Akademi IU. Kekuatan yang dapat dengan mudahnya mengalahkan para cecunguk lemah, kekuatan es absolut. Ayahku saja yang seorang pemimpin keluarga Wen saat ini begitu bangga karena aku adalah pewaris kekuatan itu.


Ratu Es yang kejam. Aku terlalu banyak membunuh orang karena malam itu menjadikan jiwaku terbiasa dengan hal-hal berbau seperti darah.


Aku sangat kuat, tidak ada di Akademi yang dapat menandingi kehebatanku.


Hingga pikiran aku akan hal itu sekarang sudah patah.


Mereka mengalahkan aku dengan mudah, anak buahku pada mati tak ada yang bisa dijadikan tameng berikutnya. Apakah ini akhir untuk manusia keji sepertiku? Sungguh benar-benar halu dan tidak indah.


Kehebatan apanya, ternyata di atas langit masih ada langit. Ini adalah pembalasan untuk orang sombong.


Jangan menjadi terlalu tinggi karena sekali kau jatuh itu sangat menyakitkan.


Aku berada di ambang kematian. Aku sangat takut, ternyata seperti ini ya berhadapan dengan yang namanya ajal. Oh Tuhan, aku menyesal hidup sebagai putri keluarga Wen.


Aku sudah terlalu banyak berbuat dosa. Seandainya aku di beri kehidupan sekali lagi, aku ingin menjadi manusia yang lebih baik.


Pedang tajam itu melengser cepat kearah leher. Begitu takutnya akan kematian aku memejamkan mata ....


Kok tidak terasa sakit, apakah mati damai seperti ini pantas untuk pendosa?


Ada yang aneh, dengan perlahan aku pun mencoba untuk membuka mata. Aku sangat terkejut, aku belum mati!! Kepalaku masih utuh.


Siapakah pemilik punggung ini? Punggungnya sangat gagah. Oh tidak, aku jadi jatuh cinta dengan punggungnya. Entahlah, kenapa setelah kedatangan dirinya hatiku menjadi damai?


BOOM!! Pukulannya melesat cepat hantam wajah pria yang akan membunuhku. Sangat jauh pria itu terpental. Aku yang terduduk jadi ikut gregetan.


Ia sangat kuat, menghajar anggota kelompok itu satu persatu dengan pukulannya yang cepat. Perasaanku mana ada di IU Academy orang sekuat dia. Jika itu benar mungkin dialah satu-satunya yang berhak mendapatkan kursi pertama.


Dia yang telah menyelamatkan hidupku. Lalu apakah pantas hidupku terselamatkan. Kemudian aku terpikir dengan nazar perkataan ku beberapa saat yang lalu.


"Oh tidak, seseorang tolong aku. Jika dia perempuan maka akan aku angkat menjadi saudara, bila laki-laki apapun marganya akan aku jadikan suami**!!"


Aku sangat malu, aku tidak bisa mengatakan apapun. Perkataan itu akan menjadi hantu untukku. Apakah aku benar-benar akan menikahinya? Apakah dia mau menjadi suamiku setelah mengetahui diriku yang di masa lalu, dia adalah orang baik, mana mungkin mau menerimaku.


Hanya sebentar saja semua orang berjubah itu ludes oleh pukulannya. Dug! dug! Jantungku berdetak kencang. Dia akan berbalik badan. Aku sangat gugup untuk melihat wajahnya.


WOSH! Angin menerpa wajah tampan itu tepat saat berbalik arah untuk menatapku.


Matanya melirik padaku!!


Aku terpaksa menundukkan wajah ke aspal.


"Apakah kamu baik-baik saja?" Aku mendengar suaranya untuk pertama kalinya, kok sesak sekali nafasku. Dia memperhatikanku ya? Ah sungguh malunya aku, masa Queen terduduk lemah di atas aspal ini, apa kata orang nantinya.


"Tidak apa-apa cuma sedikit lecet kok."


Aku jadi sok tegar ini salah dia sih kok terlalu tampan, kan jadi nervous, berusaha berdiri tapi kakiku masih lemah. "Agh," kakiku terselip, aku akan jatuh.


Mataku terpejam menerima keadaan untuk terjatuh bodoh dihadapannya karena gengsi. "Malunya aku ...."


Setelah ku kira-kira sepertinya kalo udah gini pasti sakit deh, masa kok masih belum menyentuh tanah, atau tergolek.


Di saat aku membuka mata, mata kami tiba-tiba berpapasan. Setelah aku sadar ternyata ....


"Ara." Apa-apaan ini, di-dia menyambut tubuhku dipelukannya. "Kyaaa," Ya tuhan apakah ini surga yang selalu aku idam-idamkan, aku ingin seperti ini lebih lama.


"Maaf atas kelancanganku." Ia mendudukkan aku dengan pelan, baik sekali. Tapi aku sedikit kecewa kenapa cepat sekali dia menurunkan aku dari pelukannya.


"Anda tidak berada pada kondisi yang baik."


Orang ini meraba lukaku, dan ini adalah untuk pertama kalinya aku tersentuh sama pria. Diriku agak merasa aneh.


"Maaf, maukah kamu, aku membantumu?" Dia bertanya padaku dengan nada yang serak, tapi aku merasakan kalau itu bukan perkataan dari orang yang berfikiran negatif.


"Tolong bantu aku." Aku menjawab dengan lidah dingin, tapi sebenarnya di dalam hatiku kini sangat begitu ribut. Oh pangeran ku.


Aku terkejut tidak bisa berkata apa-apa lagi akan kemampuannya, kemampuan yang tidak dapat diremehkan. Ia mengusap setiap luka pada tanganku lantas hilang sembuh seketika, rasa sakitnya ikut lenyap.


Ia membuka sepatu yang terpasang di kaki kananku, oh no kenapa aku yang jadi tegang, kemudian ia berkata, "Anda seharusnya tidak berusaha berdiri tadi, karena pergelangan ini retak."


Menundukkan kepalanya untuk kakiku, aku terkejut mendorong kepalanya. "Hai kamu mau apa!!"


"Adeh!! Aku cuma mau niup, dengan nafasku semoga bisa sembuh atas izin Tuhan." Ia menatapku dengan wajah serius.


"Emang kamu itu pewaris kaluarga Xiao, punya teknik pernafasan kehidupan?" Saat itu aku ragu.


"Ya sudah kalo gitu aku pergi ya." Ia beranjak mau tinggalkan aku seorang Queen sendirian!


BOOM!! Ledakan terjadi di sekeliling mereka berdua, api makin merajalela membakar pasar.


"Hai, aku mohon bantu aku," aku menyungut mana mungkin aku mati di tempat seperti ini.


"Baiklah kalau begitu."


Wajah tampan itu terlihat sangat tulus, memegang kakiku lalu meniupnya, rasanya dingin sekali padahal kami berada di tengah kobaran api melahap pasar.


"Sudah," melempar kakiku.


"Eh, mana mungkin sudah sembuh begitu saja." Aku tidak percaya.


"Cobalah untuk berdiri, kalau nggak percaya."


Seperti nafas kehidupan keluarga Xiao yang dirumorkan, kakiku sembuh, aku benar-benar bisa berdiri normal.


Aku berdiri berhadapan dengannya, wah dia cukup tinggi ya, dan tampan. Tapi ada yang aneh deh raut wajahnya seperti kurang suka denganku, apa dia tahu aku itu siapa. Mungkin memang benar mustahil bagiku untuk bersanding dengan pria baik sepertinya.


Dia mengantarkan ku hingga selamat keluar pasar.


"Baiklah, kamu sekarang sudah baik-baik saja, kan. Aku pergi dulu, mungkin di sana ada orang yang butuh pertolongan," nadanya acuh, bikin sesak.


"Te-terima kasih."


Aku tidak menyangka ini adalah pertama kalinya juga bagiku untuk mengatakan kalimat terima kasih pada orang lain, sejak umurku enam tahun, setelah Ayah melarang ku berterima kasih pada pelayan yang mengambil sendok makan untukku.


Aku agak kecewa, dia akan meninggalkan aku begitu saja, seperti melihat orang lewat.


Eh, tapi kok dia malah berjalan mendekat padaku??? Tangannya mengarah ke wajah. Ia memegang pipiku dengan tersenyum manis.


Adududuh, hatiku terasa meleleh.


"Segala sesuatu bisa berubah." Itu katanya.


Usapan lembut tangan itu menyembuhkan luka sayatan pada pipiku. Aku sangat merasakan pergeseran regenerasi kulit pipi yang perlahan memperbaiki.


Setelah melakukan hal itu padaku ia berbalik badan sambil melambaikan tangan, punggung yang telah memberikan kesempatan kehidupan kedua itu perlahan hilang dari pandangan mata.


Aku memegang pipi yang telah sembuh ini, mengingat rasa tadi saat mana tangannya menyentuh, tangan yang hangat dan menenangkan hati. "Segala sesuatu bisa berubah, ya aku akan berusaha mulai dari sekarang."


Kok aku senyum-senyum sendiri?


To be continued