
Keluarga Zhang merupakan sebuah tolak ukur tiang tertinggi bagaimana kekuatan kekayaan negeri tirai bambu bisa di takuti oleh dunia. Mereka menguasai seluruh sektor perdagangan baik itu dalam negara maupun luar negeri dengan menyebut diri sebagai Api Phoenix yang tak pernah padam.
Api Phoenix yang legenda mengatakan tak pernah padam di jadikan simbol keluarga dengan harapan dan makna bahwa kekayaan mereka juga tak akan pernah padam hingga sejuta generasi.
Pihak Akademi IU sangat memanjakan anak-anak bermarga Zhang, kenapa? Karena keluarga Zhang adalah pemegang saham terbesar di sana. Bahkan setiap ketua klan Zhang mampir ke Akademi pasti pihak sekolah berupaya mengerahkan segala hal yang mereka bisa untuk mengambil muka.
"Sean," gemertak hatinya saat melihat ada dia di kelas rendahan Giok Biru.
Hari ini Zhang Xin yu yang di segani dengan otoritas sebagai putri keluarga yang bermartabat Zhang sedang menggerakkan pasukan keamanan Akademi untuk menggeledah semua ransel murid yang ada di kelas Giok Biru.
"Oi tikus tanah, kau tak lihat sekarang lagi serius, enak-enak saja menikmati waktu dengan membaca buku aneh ini," cerocos Fei Zen meletakkan kaki di sanding meja belajar Sean.
"Emangnya ada apa ya?" Sean masih belum sadar kalau ini semua adalah jebakan untuk dirinya.
Naik darah Fei Zen yang berakting sok bisa di andalkan bermaksud mengambil muka adiknya Xin yu merenggut kerah baju Sean lalu mendekatkan wajahnya penuh amarah.
"Taik!! Kamu tidak tahu ya. Mei-mei adiknya tuan putri Xin yu lagi kehilangan dompetnya, kau malah bersikap seperti tidak ada apa-apa."
Wajah Sean masih bersikap abai, mudahnya ia melempar tangan Fei Zen dari kerah baju, kemudian beralih fokus kembali membaca.
Fei Zen pun mengambil langkah awal memanfaatkan keadaan ini. "Hoo, kau bersikap seperti ini karena mungkin kamu ya ternyata pelakunya, bocah miskin," ucap Fei Zen langsung menjurus kepada target utama rencana.
Sean terprovokasi matanya berubah tajam mengerikan. "Jaga lidahmu itu."
"Kalau begitu coba kita periksa apa yang ada di dalam tasmu," terjulur lidah Fei Zen mengejek dengan raut wajah licik.
"Periksa sekehendak hati kalian."
Menunjuk rendah ke arah Sean, Fei Zen menggerakkan jarinya untuk beri aba-aba kepada para petugas keamanan yang lagi berada di sampingnya.
Melihat tas Sean akan di geledah semua mata orang tertuju kepadanya sesuai keinginan Fei Zen guna kenapa ia memprovokasi Sean di awal-awal.
Di dalam hatinya Fei Zen serasa ingin berjoget dan tertawa. "Hancur sudah hidup lho."
Tring! sebuah dompet terkeluarkan dari ransel merah itu oleh petugas keamanan yang mendapat perintah. "Subjek di temukan, apakah ini benar punya nona?"
Dompet bergambar panda di angkat oleh petugas itu, lantas semua orang tertegun oleh keadaan yang tidak biasa ini.
Sean pun spontan terbujur kaku, entah kenapa ada dompet yang tidak dikenalnya ada di dalam tas merah miliknya.
"Iya itu punyaku." Mei mengakui bahwa itu benar miliknya.
Mendengar pernyataan Mei keadaan semakin rumit, Sean bangkit berdiri dari kursinya.
"Apa! Hei jangan salah aku tidak pernah mencuri, ada yang memfitnahku," berupaya membela diri.
Melihat kenyataan di depan mata, Xin yu terkejut hancur tidak ingin mempercayai hal ini, mana mungkin Sean yang mencuri dompet adiknya.
"Tidak mungkin."
Sedangkan adik Xin yu langsung menjerit kesal. "Pencuri!!"
"Kamu salah aku sama sekali tidak tahu kalau dompetnya ada di tasku," ujar Sean dengan ekspresi sebenar benarnya ingin menyatakan kalau dia bukanlah pencuri dompet itu.
"Ha, emangnya pencuri pernah mengaku mencuri, di dunia ini seandainya semua pencuri jujur pasti tak sanggup lapas menampung," geli kata Fei Zen menyerang Sean sekali lagi dengan bukti fakta kalau dompet adiknya Xin yu di dapatkan dari tas Sean.
Suara sepatu hak tinggi Xin yu melantun di lantai berjalan mendekat dengan tatapan kosong.
"Xin yu kamu percaya aku kan kalau aku bukanlah pencuri dompet adikmu." Sean berusaha menyakinkan.
Tapi Xin yu masih memendam rasa, matanya kosong dan tak percaya, apalagi yang mau di jelaskan, sebuah bukti besar sudah menjelaskan semua hal.
"Xin yu aku pasti di jebak seseorang," gemetar lidah Sean berharap Xin yu mau berpihak kepada dirinya.
"Diam!!! Jangan beri alasan yang tidak valid."
"Oke, sesuai rencana, dasar tuan putri bodoh mudah sekali kamu ditipu," unjuk hati Fei Zen yang pekat dengan sifat liciknya.
Saat Xin yu berdiri di depan Sean ia menguraikan sebutir air mata. "Aku kecewa besar padamu, mulai sekarang bagiku kau hanyalah tikus sampah," ucap Xin yu menusuk hati Sean seperti di hantam palu.
Xin yu sangat membenci pencuri karena ada suatu alasan di masa lalunya yang sangat menyakitkan bagi dirinya, kenangan akan hal itu selalu menghantui.
PLAK! Sebuah tamparan melesat di pipi Sean membuat kepalanya bergerak jatuh terpaku menatap lantai, garis merah bekas tamparan membekas dengan jelas.
"Tangkap dia, masukkan ke dalam ruangan penghakiman lalu siksa sesuai peraturan, lalu keluarkan dia dari sekolah," sinis mata Xin yu berubah jadi 180 derajat kepada Sean.
Akademi IU sangat menjunjung tinggi moral UHP, karena ini adalah sekolah pendidikan sebelum menjadi agen hebat di UHP sehingga benar-benar memperhatikan sikap muridnya dengan istilah bagaimana mungkin ada seorang agen yang membela kebenaran adalah manusia berjiwa pencuri dan kerusakan moral lainnya.
Maka setiap ada murid mengerjakan dosa besar yang melanggar peraturan pasti di hakimi dan di siksa sebelum di keluarkan supaya jera.
"Dasar pencuri, bleeek," cibir adik Xin yu.
Mengambil dompet adiknya dari tangan petugas, Xin yu dengan perasaan benci meninggalkan kelas itu bersama tangan adik yang di gandeng.
"Kakak tidak akan pernah dekat sama dia lagi kan, lihat tuh sifat aslinya, benar-benar munafik, mana mungkin kakak suka orang seperti itu," sahut Zhang Mei kepada sang Kakak cantiknya.
"Mulai sekarang kakak harus lebih jeli lagi deh, iya bagaimana mungkin kakak suka orang seperti itu," senyum manis Xin yu menghela nafas hibur diri sendiri, dan harus move on dari Sean, setelah ia mengetahui kenyataan di depan mata.
*
Semua orang di kelas Giok Biru mulai menatap jelek ke arah Sean.
Sean hanya terdiam menatap lama lantai dengan mata kekosongan, Kenapa ini bisa terjadi? Ada yang menjebak ku!.
"Tangkap dia, bawa ke ruang penghakiman berdarah," perintah Fei Zen menggerakkan petugas keamanan Akademi.
Meronta Sean tidak mau di dekati dua orang petugas itu. "Hei, kalian belum mendengarkan penjelasan ku!!"
"Sudah terima aja nasib lho," tekan Pak petugas mulai mengekang pergerakan Sean.
Kedua tangannya di bekukan oleh dua orang petugas keamanan supaya tak bisa kabur dan lepas dari jeratan kekangan tersebut.
Kemudian mereka membawa Sean seiring mengikuti Fei Zen keluar dari kelas.
"Haa, dia di bawa ke penghakiman berdarah!" terkejutnya salah seorang murid di kelas Giok Biru.
"Aduh tempat itu pasti sangat menyeramkan," bisiknya kepada kawan di samping.
"Katanya nih, pernah dulu ada yang melanggar peraturan dosa besar juga, entah mencuri atau memperkosa, dia di kabarkan tewas saat di hakimi di tempat level penghakiman berdarah."
Berbagai hal menarik menjadi perbincangan semua orang tentang apa itu penghakiman berdarah bagi Akademi IU.
Top trending topik, persoalan Sean yang mencuri dompet adiknya Xin yu menyebar luas dengan sangat cepat, gegerkan masa sehingga membuat lega para fans Xin yu.
Bahkan hari itu juga kelompok fans Xin yu yang di ketuai oleh Kung Lao langsung buat parade gembira sesuai rencana besar untuk menjatuhkan Sean.
Sorak sorai pembenci kehadiran Sean mulai mengguncang Akademi IU. Di temani suara gendang, trompet dan mainan musikal lainnya.
*Hei, hei, hei manusia munafik
Engkau tak pantas untuk tuan putri kami
Bungkam, bungkam, bungkam lalu tenggelamkan.
Hei, hei, hei aib Akademi.
Tak usah berlagak seperti artis.
Ketampananmu hanyalah sampah bagi kami.
Bungkam, bungkam, bungkam lalu tenggelamkan*.
Dengan demikian sudah sembilan puluh sembilan persen merupakan heaters Sean di Akademi IU. Kabar buruk tentang dirinya yang mencuri merupakan penyebab terbesarnya.
*
Gudang penghakiman berdarah terletak jauh di pelosok hutan Akademi yang tidak bisa ketahui oleh sembarang orang. Hanya akses privasi lalu mereka yang menjabat sebagai sepuluh kursi kaisar saja yang dapat masuk.
"Pukul sampe ****** dengan teknik seni beladiri terbaik kalian!!" Suara Fei Zen menggema di lorong rada huni lagi gelap itu.
Borgol teknologi tinggi UHP di pasang secara paksa.
"Udah aman Fei Zen, orang ini kuat sekali tenaganya," keluh salah seorang bawahan Fei Zen.
Setelah borgol itu melekat di kedua tangan Sean, lalu rantai panjang terikat di leher, Sean sudah kewalahan seperti melemas. Rasanya semua tenaga yang ia miliki seperti tersedot.
Mendekat Fei Zen terkekeh bahagia, "Enak kan, gimana berani lagi nggak mengabaikan setiap ucapan lalu menggertak ku?"
"Bacot doang, kalau berani ayo kita ke pertarungan Kaisar satu lawan satu."
Sean menatap tajam penuh amarah atas perlakuan Fei Zen yang tidak punya hati nurani, padahal sesama murid.
"Hoi, apa motif mu melakukan semua ini 'cuh'." Sean meludahi pipi Fei Zen.
"Cih, anjing. Perlu kau ketahui aku sudah lama mengejar Xin yu, sepuluh tahun, kebayang nggak ha!" tendangi perut Sean.
Buk!
"Setelah kedatangan lu di sini semuanya jadi kacau."
"Uhuk ... Uhuk." Menahan nafas sesak debu sepatu Fei Zen menyeruak kemudian terhirup.
"Ha' hacuih." Sean bersin.
PUFFFFT!!!
"Apa yang lu katawain, emangnya lucu apa?" heran Fei Zen melihat gaya Sean yang tiba-tiba tahan tawa.
"Dasar kekanakan." Nada suara pelan.
"Apa yang lu bilang? Ha!!" bentak Fei Zen mulai geram.
"You are bocil, paham, jadi laki itu sportif jangan bersikap seperti pengecut kayak gini. Kalau lu emang mau Xin yu bilang aja dari awal, aku nggak ngelarang kok kalau kau bisa buat dia jatuh cinta padamu."
BUARK! Satu gigi tercungkil terbang dari mulut. Fei Zen memukul kepala Sean dengan sangat keras.
"Ini pembukaan, hei anak-anak hajar dia sampai tidak bisa di kenali sama orang tuanya, ingat jangan berlebihan ya, hari masih panjang."
Fei Zen menyerahkan urusan untuk menyiksa Sean pada anak buahnya yang setia, mengingat bahwa dia adalah seorang pemegang kursi kedua pasti punya kelompok atau bawahan yang banyak.
"Hajar dia sampai hilang gantengnya!!" Serbu mereka menggunakan berbagai bahan seperti tongkat kayu dan senjata aneh.
Ting, tung, buk .... buk ... buk.
Sean hanya dapat menerima semua pukulan itu dengan pasrah lantaran borgol teknologi tinggi UHP dapat menyegel kekuatannya.
"Aghhhh!"
To be continued