Over Power

Over Power
Menuju Tirai Bambu



Sean tidak pernah sama sekali absen datang ke padang rumput untuk berbincang dengan Baba si pohon jomblo, mengambil ilmu tentang buku kuno dan berlatih selama seminggu belakangan ini.


Setiap pulang sekolahlah ia singgah ke sana dan terus berlatih hingga petang, bahkan sampai tengah malam, dengan tujuan utama yang terpatri yaitu harus bisa di akui oleh keluarga Xiao saat esok tiba di China mencari keberadaan adik. Tujuan kembali ke keluarga dan di akui agar bisa mendapatkan pertolongan mereka untuk mencari adiknya di luas hamparan tanah China.


"Kak, kemarin kamu sudah minta izin Bu Kepsek, kan." Malam hari Boby datang ke kamar Sean untuk menanyakan perihal itu.


"Sudah, asal kau tahu Bu Kepsek ternyata pensiunan UHP lho, Bos Jin meminta langsung untuk memindahkan kita ke China, pindah ke sekolah khusus UHP yang didirikan oleh tiga keluarga besar, jadi untuk lima bulan ini aku belajar di sana hingga lulus, dan kalian pastinya setahun lebih." Sean menjelaskan secara rinci mengenai bagaimana perihal ke pergian mereka ke China.


"Di China ada sekolah khusus UHP kakak!!!" Boby benar-benar tidak menyangkalnya.


"Iya. Maka bersiap-siaplah, karena kita akan berada di lingkungan baru nantinya." Tidur melentang di atas kasur, Sean bicara sambil pejamkan mata.


"Aku bakal setahun lebih belajar di sana ya." Boby beranjak pergi tinggalkan pintu kamar Sean setelah menutup pintu.


Boby masuk ke dalam ruangan luas bekas kamar orang tua Sean yang sudah di rombak menjadi hamparan kasur yang pas bagi mereka berempat tidur, melompat ke bagian kosong Boby langsung start bobok.


Di atas kasur itu, hanya ada Oval, dan Ester sudah masuk Boby menjadi berjumlah tiga orang, lantas di mana Kanmu?


*


Di sebuah gedung Apartemen di kota Seoul nan megah. Setelah tragis kota Busan hancur para pengungsi yang selamat mendapatkan pertolongan berupa jalur imigrasi yang dirancang oleh pemerintah, pindahkan mereka ke taman perumahan yang di bangun hanya butuh waktu tak lama. Benar-benar negara yang sudah terakreditasi negara maju, kepemimpinan presiden Korea Selatan ini bisa di acungi jempol.


Tapi Ayah Nara yang seorang mantan Wali Kota memilih untuk tinggal di apartemen Seoul ini, rencananya ingin memajukan ekonomi keluarga lewat tabungan untuk dijadikan aset, sekalian maksudnya yang sebenarnya adalah tidak mau melepas pergi menantunya.


Kanmu berbincang dengan Pak mertua mantan Wali Kota. Duduk di atas sofa hijau, langgengnya hubungan dengan Nara yang juga duduk dekat berdempetan di atas sofa yang ia duduki.


"Ayah, ini aku akan pergi ke China, dan kata Master kami di pindahkan ke sekolah khusus UHP di sana," bicara sambil nunduk.


"Oh begitu. Tidak apa-apa, berapa lama di sana nantinya." Menyedu aroma teh hangat yang di suguhi oleh Nara tadi, lalu diminum agak seteguk saja.


"Satu tahun aku akan belajar di sana, baru kembali."


"Satu tahun!!!" Nara sangatlah terkejut mendengar lama Kanmu tidak akan bertemu dengannya.


"Tidak masalah, tapi kan nanti setelah pulang kalian bisa langsung nikah, bukan." Sang Ayah menenangkan pikiran putrinya.


"Berarti kami sama-sama sudah tamat SMA, Kanmu jangan menghilang ya, kamu harus pulang biar kita langsung nikah." Nara mulai terima hubungan LDR itu, berpisah selama setahun.


"Benar ratuku. Lihatlah diriku nanti ketika pulang, rajamu akan menjadi orang yang lebih hebat dari sekarang." Mencubit pipi tembem Nara.


"Sakit tau ..." balas cubit.


"Ehem-ehem." Ayah Nara menegur. Sekejap mereka jadi malu menghentikan tingkah kekanakan pasangan yang seperti itu.


"Semoga semua ini berjalan lancar ya, kamu Kanmu harus janji." Ayah Nara menatap serius.


Berdiri sigap, Ia menunduk hormat. "Demi kehormatanku."


Nara dan Ayah yang saling tatap pun tersenyum. "Benar-benar aku tidak salah pilih, buktikan Kanmu."


"Baik Ayah."


Setelah selang beberapa lama, akhirnya Kanmu meninggalkan apartemen di antar oleh Nara menuruni lift bersama hingga ke pintu masuk gedung Apartemen.


"Sudah sampai sini saja Nara, sudah malam."


Lengang sebentar, Kanmu melirik wajah sedih dari raut tunangannya.


"Hei ada apa? Aha, coba kamu tutup mata," ujar Kanmu, sepele tapi setelah mendengar ucapan itu Nara kembali happy, apa ya pasti ada kejutan, apakah ciuman? Nara pun memejamkan matanya dengan senyum tipis manis di bibir merah mudanya.


"Bukalah matamu."


Di saat kelopak matanya terbuka, seketika menjadi jeli melihat apa yang tengah di lakukan oleh Kanmu. Aksi berlebihan di tempat umum. Ia pasang sikap seorang pelamar yang menyodorkan sebuah kotak cincin tepat di hadapannya, menyerang mata para jones yang berlalu lalang masuk keluar gedung. Hei lihat, pria yang tercengang itu berjalan menatap lama mereka berdua hingga tidak sadar kepalanya membentur pintu masuk.


"Kanmu," ekspresi wajah kebahagiaan seorang wanita.


Kanmu berdiri lalu memasangkan cincin ikatan janji itu di jari tengah Nara, dan itu pas sesuai ukuran.


Cincin itu adalah hasil patungan uang yang di kumpulkan oleh sahabat empat serangkai ditambah uang sumbangan dari Sean bentuk kepedulian mereka terhadap perpisahan Kanmu dan Nara.


Memegang pipinya begitu lama, Kanmu tersipu menatap Nara melambaikan tangan di tengah lift yang akan tertutup.


Balas lambaian perpisahan sementara, pandangan Kanmu akan sosok Nara berakhir ketika pintu lift sudah menutup untuk bergerak naik ke atas.


Ia pun beranjak pergi dari sana dengan perasaan lega.


Di saat Nara kembali ke kamar apartemen, ia berdiri di tepi kaca pembatas sebagai pengganti dinding agar bisa melihat pemandangan indah kota dari sana.


Menatap kearah bawah, sudah tidak ada Kanmu di sana. Rada pahit menyeruak di dadanya, kenapa harus pergi jauh ke China. Sedih keluh kesah di wajah Nara terlihat jelas.


***


 


Pagi hari sebelum matahari terbit tepat jarum jam menunjukkan pukul lima, mereka semua yang ada di kediaman keluarga Sean sudah berpakaian rapi dengan koper dan tas-tas sandang kecil tergantung di dada.


Berbaris di pagar tinggi satu meter, mereka berlima seperti sedang menunggu sesuatu.


Dua mobil Jeep tiba-tiba muncul menghampiri mereka.


Yang berwarna putih di kendarai oleh kak Angelina, dan Jeep yang di belakangnya nih dua sosok sebaya dengan Sean, yaitu Zack dan Yoona, pelajar yang lulus ikut tes agen undangan bersama Sean sebelumnya.


Sean menghampiri Jeep hitam itu.


"Lama tidak berjumpa, yo kawanku Sean. Semakin tampan saja kamu sejak terakhir kita bertemu."


Bersalaman.


"Sean berangkat bersamaku," lantang suara kak Angelina menghentikan Sean untuk masuk ke dalam Jeep yang dikendarai Zack.


"Sorry bro, sepertinya kak Angelina ada urusan denganku."


"Tidak masalah."


Ester yang sudah duduk manis di bangku depan Jeep putih itu terpaksa harus pindah bertukar dengan Sean.


Semuanya sudah ready. barang bawaan juga sudah lengkap di masukkan. Boby dan Oval duduk di kursi tengah Jeep putih. Ester dan Kanmu di kursi tengah Jeep Hitam. Dua Jeep itu pun melaju tinggalkan halaman rumah Sean.


Jarak yang dekat hanya menempuh lima belas menit untuk sampai ke bandara Incheon dari rumah. Kader-kader agen hebat untuk UHP cabang Korea sudah berdiri di depan pintu masuk bandara, lima orang itu kini bertambah dua orang Zack dan Yoona. Menjadi tujuh orang untuk pindah ke sekolah khusus UHP yang didirikan langsung oleh tiga keluarga besar yang memimpin China.


"Kak Angelina kami pergi dulu," ucap Sean mewakili mereka semua yang akan berangkat.


Jin datang berjalan cepat di sana untuk melepas kepergian empat muridnya, Sean, Zack, dan Yoona.


"Master." Empat serangkai serentak memberi hormat.


"Kalian bertujuh sesuai dengan apa yang telah aku katakan menjadi perwakilan Korea untuk belajar di sana, ini Sean kartu surat UHP Korea yang harus kau serahkan pada pemimpin Sekolah nanti setelah kalian sampai."


"Baiklah," mengambil surat yang di serahkan.


"Kalau begitu sampai jumpa."


Mereka bertujuh beranjak pergi setelah berpamitan pada Jin dan kak Angelina. Masuk ke dalam bandara untuk bersiap-siap menunggu jadwal penerbangan ke China yang terbang dua jam sepuluh menit lagi. Mereka sudah dipesan tiket sedari sehari yang lalu langsung diwakili oleh seorang petugas UHP.


Beberapa saat kemudian


Penerbangan menuju negeri tirai bambu oleh pesawat Korean Airline sudah lepas landas dengan bunyi nyaring pesawat yang khas. Mendesis ke segala penjuru bandara.


Akhirnya tak lama melaju di lintasannya, sayap pesawat seakan mengepak naik tiba-tiba bersatu dengan udara, terbang melesat tinggalkan tanah kota Seoul.


Selamat tinggal Seoul. Sampai berjumpa lagi.



To be continued