Over Power

Over Power
Mengungkap kebenaran-2



Di Akademi IU itu, ada sebuah tempat yang kawasannya megah penuh dengan berbagai macam bunga seperti; mawar, tulip, matahari, melati, bugenvil, pentas dan lain-lain menghiasi perkarangan.


Di tengah perkarangan itu mempunyai air mancur dan kolam yang luas, di sononya lagi ada gazebo rancangan arsitek Akademi IU terbaik, tempat menikmati pemandangan itu semua.


"Kok bisa-bisanya aku menyukai seorang pencuri."


Malam itu Xin yu duduk di gazebo melihat panorama bulan yang indah, cahayanya memantul pada kolam sehingga kejernihannya menyilaukan.


Bulan purnama nampak jelas di permukaan air kolam itu bagaikan sebuah cermin. Lingkungan damai dan tenang bisa kita rasakan.


"Apa itu semua benar kalau dia yang mencuri?" Xin yu mengingat ekspresi wajah Sean ketika ia sedang berterus terang.


"Sadar Xin yu, sadar, katanya pencuri itu tidak boleh kita percayai ucapannya." Menepuk-nepuk pipi.


"Bagaimana tuan putri, enak tidak aku bakal nguliti kamu peke ini!!!"


Suara bisikan aneh menghampirinya entah dari mana asalnya.


Dug, dug.


Pikiran Xin yu berubah seakan-akan kosong penuh dengan ketakutan. Ia teringat dengan masa lalu kelamnya saat kecil dengan pencuri yang membuat ia trauma hingga sekarang.


"Aaaaaaa," teriaknya sambil menutup telinga dengan kedua tangan.


"Hai." Seseorang datang menepuk pundak Xin yu.


Seketika Xin yu tersadarkan. "Siapa itu!"


"Sadarlah .... aku tahu kamu itu punya trauma di masa lalu soal pencuri tapi jangan sampai salah sangka kepada orang yang kamu cintai."


Xin yu menoleh ke belakang, ia melihat sosok seorang gadis misterius dengan rambut panjang hingga menutupi kedua matanya.


"Kau adalah sosok tuan putri yang naif, bodoh, dan suka menyimpulkan sesuatu secara langsung tanpa memikirkan kebenarannya."


"Siapa kamu?"


"Aku? Kamu tidak usah repot-repot mengetahui siapa aku, aku kesini cuma mau menyampaikan saran dan berbagai hal dari tuanku Wen Qing."


"Qu, Queen?"


Gadis rambut panjang itu terdiam sejenak, kemudian mengeluarkan sebuah map berwarna hijau lalu melemparkannya ke arah Xin yu.


"Terserah mau percaya atau tidak, itu adalah kebenarannya."


Setelah Xin yu memeriksa isi dari dokumen asli itu ia terkejut bagaikan ketiban perahu.


"Astaga."


"Bagaimana, ternyata adik tersayang mu itu juga ikutan ya, memfitnah orang yang tidak bersalah, coba kau pikirkan mana mungkin ada anak kelas yang bukan kelas Bintang menyelinap masuk ke dalam zona yang di jaga ketat hanya untuk mengambil dompet adikmu, payah."


Beberapa tetes air matanya berjatuhan ke kertas dokumen yang ia pegang, rasa sesal, kesal, menyesal memenuhi dada. Sungguh ia berada pada dilema yang patah di tengah jalan.


"Hiks-hiks." Xin yu menangis.


"Huh, secara terperinci lagi membebaskan dia dari tuduhan, apa kau menemukan sidik jari anak itu di dompet adikmu, katanya mau jadi agen UHP, tapi masalah sepele ini saja kau tidak mengerti."


Mata gadis misterius itu terlihat sebelah dengan tatapan kasihan.


"Untuk apa kau menangis sekarang, aku bisa memperlihatkan kepadamu keadaan orang itu lewat kekuatan mata Tuhanku."


Mata Tuhan adalah istilah kemampuan yang diberikan kepada pewaris terkuat mata-mata keluarga Wen yang dapat melihat segala hal tentang orang yang ditargetkan, walaupun hanya melalui sebuah foto.


SYUNG! Bagaikan hologram memancar dari mata gadis itu, view Sean di ruangan penghakiman berdarah nampak jelas dengan keadaan semuanya sudah membeku.


"Dua puluh menit lagi dia akan mati."


Apa!


Xin yu melihat tampilan hologram dengan wajah penuh kesedihan, menyaksikan keadaan Sean sedang di ujung tanduk.


"Huh, dasar wanita naif, secara tidak langsung kau ikut menyiksanya di dalam ruangan itu. Bayangkan saja orang normal hanya dapat beberapa menit bisa bertahan di suhu seperti itu, tapi tubuhnya yang istimewa dapat bertahan 24 jam lebih, aku melihat ada kekuatan dahsyat tersegel di tubuhnya."


Ketika gadis bermata Tuhan itu ingin melihat lebih dalam seketika rasa sakit menyerang matanya hingga mengeluarkan darah. "Agh!"


Hologram ter non-aktifkan.


"Hei apa kau tidak apa-apa." Xin yu khawatir dengan apa yang menimpa gadis misterius itu.


"Tidak usah khawatir tentang ku." Ia menepis tangan Xin yu dengan cepat.


"Oh, ya wanita munafik, ada satu hal yang penting aku sampaikan kepadamu dari tuanku Wen Qing, 'hei rival cintaku, semoga harimu menyenangkan'. Itu katanya, ok hanya sampai itu saja, aku undur diri dulu tuan putri. Ummm semuanya tergantung kau, apakah kamu benar-benar mencintainya, buktikan! ... sampai jumpa."


Gadis misterius itu mendadak lenyap dengan kemampuan teleportasi.


Berdiri kaku Xin yu mencengkram map hijau itu sangat kuat, mulutnya mencebek lantaran besarnya penyesalan teramat sangat menyeruak di seluruh emosi.


"Bodohnya aku." Menyeka air matanya.


"Aku harus bisa menyelamatkan Sean!" gumamnya dengan tekad yang kuat.


15 menit menuju sakaratul maut.


Queen sudah duluan berlari menuju ke tempat ruang penghakiman berdarah di puncak hutan kawasan Akademi yang tersuruk, untuk menyelamatkan Sean.


Sempat dirinya terjatuh karena jalan yang licin akibat becek rintik hujan yang mulai turun membasahi bumi Baijing.


"Aduh!" Ia pun berusaha berdiri tanpa mengeluh.


"Tidak ada waktu lagi ..." Ancang-ancang mengambil langkah cepat.


BUAR! Petir gelut di langit, awan-awan hitam sudah menyelimuti atmosfer. Bulan purnama pun sudah tidak kelihatan lagi.


Rintik titik hujan versi deras mulai melanda, menghujam wajah Wen Qing yang masih berjuang menempuh perjalanan untuk menyelamatkan Sean.


"Waktu yang sangat pas, hujan, aku sangat bersyukur," ujar Wen Qing.


Ia merentangkan tangannya lalu kemudian membaca mantra sihir, kemudian melompat, tiba-tiba terbuat arena seluncur yang siap menghantarkan dirinya untuk berselancar di tengah hujan. Terus naik dengan tekanan kekuatan es itu bagaikan seperti terbang, memanfaatkan air yang turun dari langit.


"Aku akan segera sampai."


10 menit menuju sakaratul maut.


"Akh, ah" berusaha bernafas, semuanya sudah memutih terperangkap es, bahkan lantai ruangan itu pun juga ikut membeku. Kulit mulai terasa pedih dan mudah tergores cabik jika saja bergerak sedikit.


5 menit lagi untuk menghembuskan nafas terakhir.


Tidak bersuara lagi, bagaikan mayat mati dengan wajah yang begitu pucat, keadaan Sean benar-benar sudah kritis.


Borgol yang menyegel kekuatannya itu juga sangat merepotkan, bahkan tetap tidak rusak walaupun sudah membeku dengan suhu hampir mendekati nol derajat.


Di luar bangunan tersuruk di tengah hujan itu, Queen akhirnya sampai berpenampilan menggunakan jaket hoodie putih yang serasi dengan stylish rambutnya.


"Hei lihat ada Queen datang ke sini," sahut pria ber mantel hujan penjaga pintu masuk pada kawannya.


"Hormat kami nona Wen." Kedua penjaga pintu masuk memberi salam.


"Sebagai Kursi Kaisar pertama aku membebaskan Sean dari segala tuduhan.


"Benarkah? Kalau begitu silahkan nona ini kuncinya," serah salah satu petugas itu kepada Wen Qing dengan raut wajah ramah.


"Wah ini baru pertama kalinya aku berpapasan dengan kecantikan seperti ini," gumamnya.


"Minggir!"


Kedua petugas itu pun mempersilahkan dengan badan menunduk. Saat Wen Qing sudah masuk ke dalam....


"Yes, kita tidak bertugas di sini lagi deh, bebas, soalnya kan cuma satu orang yang di hakimi di sini."


"Hujan-hujan gini enaknya ngapain ya?"


"Bro, kita ke tempat restoran RM yok."


"Hayuuuk." Senda gurau dua orang petugas keamanan Akademi IU meninggalkan tugas yang sudah dicopot, tanpa mengetahui keadaan murid yang di hakimi, dasar petugas yang tidak bertanggung jawab.


Queen berlari masuk ke dalam dengan tergesa-gesa, akhirnya ia sampai di depan pintu tempat Sean di penjara dengan suhu dingin yang gila.


"Bertahanlah! Bertahanlah! Bertahanlah," cemas Wen Qing memasukkan kunci tapi tak masuk-masuk, mungkin karena es yang menutupi lubangnya.


Mata Wen Qing berubah menjadi bersinar putih, mengeluarkan kekuatan es yang dahsyat beri tekanan besar mendobrak pintu besi hingga tercopot.


BRAAK!


Masuk ke dalam Wen Qing teramat sangat kaget, semuanya sudah membeku, Sean nampak terbujur kaku di pojokan sana. Penuh dengan luka dan memar di sekujur tubuh.


"Sialan kau Fei Zen!!! Aku harus menghilangkan suhu dingin ini terlebih dahulu."


Kekuatan sihir Ratu es absolut benar-benar sangat tidak dapat diremehkan, Queen menyerap energi es yang ada di ruangan itu supaya tidak menyiksa Sean, menyedot es yang ada di ruangan itu semuanya ke dalam tubuh.


WOS! Sekejap ruangan itu sudah tampak tidak membeku lagi, kecuali Sean yang masih pingsan lemah merenggang nyawa, Queen dengan keadaan cemas memeriksa dada Sean apa masih hidup.


Dug, dug. Detak jantung masih berdenyut.


"Syukurlah dia masih hidup."


Queen pun berinisiatif menggendong tubuh berat Sean dengan tergopoh-gopoh keluar dari ruangan itu penuh dengan perjuangan sekuat tenaga, lantaran karena melihat mesin pendingin ruangan masih tetap mengeluarkan energi dingin.


"Bertahanlah, Sean."


To be continued