Over Power

Over Power
Perangkap untuk menjatuhkan



Dia berjalan kaki menuju daerah pelosokan Akademi yang mana ujung dari jalan itu ada sebuah bangunan tua nan terpencil, rumah bagi murid pendatang dari Korea.


"Ah dari kemarin mau beli smartphone baru nggak jadi-jadi," desah Sean melangkah sembari mendengus sesekali di jalan gelap sepi itu, semeter darinya ada tiang lampu penerangan jalan.


Lampu itu berkedip-kedip udah sekarat minta diganti, beberapa serangga malam berterbangan di sekitar bola lampu berharap dan berdoa semoga masih bisa tetap nyala sehingga kami tetap dapat menikmati malam panjang ini dengan cahaya.


Berhenti ditengah pancaran cahaya lampu jalan Sean menatap ke arah bulan yang abadi kilaunya di setiap malam. "Apa yang bisa aku lakukan agar bisa memukul wajah pembunuh itu, haiss. Sekarang aku merasa hampa dan tidak berdaya."


Mendongak lurus tiba-tiba sebuah skuter listrik peot menyapa Sean.


Tenonet.


"Bengogin apa? Sini naik, boncengan ama skuter baru aku, seken sih, tapi lumayanlah. Aku beli di toko prasarana zona pasar Akademi," pamer Zack bergaya seolah-olah ingin berkata, ini lho hasil kerja keras aku.


Sean agak iri, enak yah bagi mereka yang ada smartphone bisa dapat poin kontribusi dan bisa menghasilkan uang untuk membeli apapun kebutuhan di Akademi.


Cemberut, ingin menolak, tapi yah karena kalo jalan lumayan lama dan juga udah capek habis dari kelas beladiri terpaksa deh.


Menepuk pundak Zack, Sean melompat naik ke jok skuter. "Gas kan kawan."


Skuter peot itu larinya terkentut-kentut walau sekuat apapun Zack memutar pedal gas.


"Oi bisa nambah nggak kecepatannya."


"Yang nggak punya nggak usah ngiri."


Asap hitam keluar dari kanelpot. Skuter itu bergerak bagai siput kehausan.


"Happy gooo."


*


Keesokan harinya di siang hari.


Banyak murid sudah menunggu di gerbang masuk zona kelas Bintang yang elit, untuk menyambut tuan putri mereka Zhang Xin yu seperti biasa. Nggak capek apa kayak nggak ada kerjaan saja.


"Putri Xin yu tolong kabulkan permintaan kami jauhi cowok bedebah itu, kalo dapat dia keluar dari Akademi," gema suara dari pemimpin perkumpulan fans Xin yu.


"Ya!!" sorak yang serentak dari pasukan setianya.


Punggung dari seorang gadis cantik itu mengendap-endap menghindar dari keramaian brutal itu, merasa lega ia mulai berjalan cepat tapi masih mendongak kebelakang. Lalu ketika ia sudah di lorong perkelokan tepi bangunan sekolah tak sengaja menabrak sesuatu. "Buk."


"Auch," desah sakit Xin yu yang dirasakannya seperti menambrak sebuah tembok besi, bahkan dirinya sampe terduduk di lantai.


"Aduh ... kalo jalan bisa pake mata nggak, gimana sih," gerutu Xin yu sambil membersihkan debu lantai yang menempel di lengan tangan kanannya.


"Xin yu."


Spontan ia kaget melihat siapa yang ditabraknya, ternyata itu Sean, perasaan pun jadi kacau balau, ketawa canggung dan nggak tau mau ngapain.


"Maaf ya, kamu tidak apa-apa?" tanya Sean ia pun bersigera membantunya untuk berdiri.


"Ehhh, nggak apa-apa aku baik-baik aja kok." Xin yu menolak secara halus dengan langsung berusaha berdiri sendiri, ia sungguh sangat malu sekarang apa tadi ia bicara kasar didepan doi, jadi insecure deh.


"Kamu beneran nggak apa-apa?" Sean bertanya sekali lagi memastikan.


"Iya beneran kok," senyum Xin yu berharap ucapan sedikit kasar tadi nggak dibawa kehati oleh doi.


"Ya udah, kalau begitu aku pergi dulu ya."


Lewat, Xin yu pun secara spontan memegang tangan Sean menghentikan langkahnya untuk meninggalkan dirinya sendiri di perkelokan sepi itu.


"Tunggu-tunggu."


"Eh, ada apa?"


Tersipu malu Zhang Xin yu terdiam sejenak mencari alasan. "Hehe."


"Aku boleh minta nomor hpnya nggak, atau id WeChat dan akun sosial media kamu," tatapan berharap semoga ada jawaban yang memuaskan.


Sean pun juga mikir-mikir mau jawab apa, masa nanya kayak gitu kepada satu-satunya manusia yang tak punya smartphone di Akademi.


Berusaha berkata jujur, pernah pepatah mengatakan "Katakanlah hal yang benar walau itu pahit" Sean ingat kalau itu salah satu hal yang pernah diberitahu Ayah padanya waktu kecil.


"Maaf Xin yu, a, aku nggak punya hp," gagap untuk mengutarakan kalimat itu.


"Ha! Kamu nggak punya!!" Xin yu benar-benar terkejut.


Wajah Sean seperti tersungkur kebawah malu dengan apa yang diucapkan. Tapi yang penting jujur. Pikirnya sekarang Xin yu pasti lagi menertawai orang miskin seperti dirinya. Masa zaman now nggak punya smartphone.


"Apa kamu mau ikut denganku sebentar?" ajak Xin yu penuh harap, semoga ia mau untuk meluangkan sedikit waktu untuk bersama.


"Mau kemana?" Sean agak grogi, kenapa cewek nomor satu di Akademi yang punya banyak fans ini mau berlama-lama dengannya?


"Haisss, ikut aja dulu." Karena nggak mau berlama-lama Xin yu menarik cowok tak peka itu untuk mau ikut dengannya walaupun harus dipaksa kayak gini.


"Aduh, pelan-pelan jalannya."


Cekrik! bunyi sebuah kamera Canon di balik semak menangkap pemandangan Sean di tarik Xin yu, betapa dekatnya mereka berdua kayak lagi kasmaran. Hasil foto itu pun keluar langsung, pria misterius ini meniup kemudian memerhatikan foto secara seksama.


*


"Ini buat kamu." Xin yu menyerahkan kotak smartphone X2 kepada Sean, setelah mereka berdua keluar dari toko sarana smartphone di zona pasar.


"Ini, beneran nih." Wajah Sean masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang, smartphone baru yang selalu diidamkannya kini telah hadir tepat di depan mata.


"Iya ini buat kamu, di sana udah tertera nomor aku, jadi sering-sering hubungi aku ya, dan jangan lupa follback okey," ujar Xin yu melipat-lipat kedua tangannya memerhatikan raut wajah Sean yang senang sekali.


"Ep jangan senang dulu, ada syarat dariku." Kotak smartphone X2 masih ditahan Xin yu.


"Eh, apa syaratnya???"


"Setiap hari kamu harus menghubungi aku setidaknya sekali dalam sehari dan itu wajib, bisa lewat chat ataupun teleponan, kamu bisa memenuhinya?" Xin yu berucap penuh keseriusan dengan lipatan kedua tangan di dada.


"Cumu gitu doang? Itu mah gampang" tanggap Sean dengan nada enteng.


"Iya cuma gitu doang, tapi kalo kamu berani melanggar lihat aja nanti," tekan Xin yu dengan raut wajah mengintimidasi.


"Siap laksanakan," hormat Sean seperti dihadapan Jendral.


"Ini."


Kotak itu sudah di tangan. "Wah makasih banyak Xin yu."


"Aduh aku nggak sabar lagi pengen ndapatin banyak poin kontribusi lalu bisa makan di restoran RM deh sepuasnya," peluknya yang sudah berangan-angan.


"Melihatmu senang aku juga ikut senang," ucap hatinya yang tak ingin ia katakan dengan ucapan.


*


Di malam hari.


Tok tok, suara pintu diketok oleh pria bertopi dengan kecamata bulat. Sebuah kamera Canon tergantung dilehernya.


Pintu itu pun dibuka dari dalam oleh seorang anak remaja hanya peke bokser, wajahnya familiar karena selalu tampak memimpin perkumpulan fans Zhang Xin yu. Ya, dia adalah pemimpin perkumpulan itu namanya Kung Lao.


"Yo! Hei Lao, lama tak jumpa," sapa pria berkamera Canon itu dengan senyum tipis.


"Ho, hei ada apa datang ke tempat aku malam-malam?" sungut wajah Lao udah ngantuk.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu." Suasana malam jadi makin merinding.


Garuk-garuk perut Kung Lao mempersilahkan orang itu masuk. "Mari kita ke dalam dulu."


Tak lama kemudian.


BUARK!!! Pukulan keras ke meja.


"Anjing!!! Masih berani ya dia dekat-dekat dengan tuan putri kita." Amarah dahsyat dari wajah pimpinan geng fans fanatiknya Zhang Xin yu.


"Ya bagaimana setelah melihat foto-foto ini."


"Oke aku ikut," ujar Lao emosi udah meluap-luap penuh keyakinan.


"Kalau begitu ikuti aja alur ceritaku." Percakapan itu diakhiri dengan senyum licik orang itu.


*


Lampu itu selalu khas untuk digambarkan, di ruangan gelap tersuruk dengan sepuluh kursi mengitari meja bundar.


"Delapan yang hadir, dua orang absen. Zhang Xin yu dan kursi pertama kita Queen. Oke aku adalah Rajanya di sini selaku kursi kedua," ujar pria itu bernama Fei Zen.


"Udah langsung aja ketopik pembicaraannya, udah pada ngantuk nih," komplain salah satu orang yang telah menduduki salah satu kursi kaisar.


"Okey," melempar foto-foto kemesraan Sean dengan Zhang Xin yu, lalu hasil pencapaian rekor yang telah dicetak Sean di Aula olahraga pengetesan beberapa hari yang lalu.


"Kalian udah pada tahu kan anak ini, dia adalah tikus yang kita waspadai, sesuai hasil rapat kemarin kita akan menyingkirkannya dari Akademi ... bla, bla, bla ..." Bicara sendiri orang udah pada tidur. "Dan mulai besok kita menghancurkannya secara perlahan-lahan dengan menyerang mental terlebih dahulu, setuju semuanya?" antusiasnya kursi kedua itu ingin menyingkirkan Sean.


"Ya, ya. Kami setuju," ngiyakan aja serentak kembali tidur.


"kamu kerjakan saja ya kami tak ada waktu untuk melakukan hal sesepele itu," sindir seorang gadis menikmati lelap mata kantuknya.


"Okey, jadi berarti biar aku saja yang mendapatkan pujian dari Queen, hahaha kau tunggu saja besok, tikus nyasar."


***


Jikalau tiada kebaikan di dunia maka hancur sudah bumi ditelan masa. Selalu penuh dengan huru hara, pertikaian, saling membunuh dan habis sudah hidup ini hanya untuk melakukan kerusakan di atas bumi.


Pastinya Tuhan kan selalu memerhatikan dunia ini agar selalu seimbang, dan takkan mengecewakan, karena ia mengetahui apa yang tidak kita ketahui.


Terkadang ada suatu hal yang tidak kita sukai padahal itu baik untuk kita, lalu sebaliknya, terkadang itu adalah sesuatu yang kita senangi padahal itu buruk untuk kita.


Karena oleh sebab itu jangan pernah merasa kecewa dengan apa yang menimpa diri kita, ingat Tuhan takkan pernah mengecewakan hambanya.


Maka kebaikan tetaplah disertai teguh waspada, karena engkaukan selalu diintai, disesak, dijebak, bahkan diterkam dari segala arah oleh kejahatan. Jadilah kuat kebaikan sehingga kau kan terjang semua yang menghadang.


Habis gelap terbitlah terang.