Oh My Senior

Oh My Senior
Sakit



Jam istirahat


Vreya dan teman temannya beserta anggota the cogan geng sudah duduk manis di kantin seperti biasa.


"Vreya, oxcel sakit kan? " tanya kak briyan.


"Iya, udah di ijinin kan? Tanyanya balik.


"Santai aja." jawabnya.


"Oh iya vre, lo tadi di cari bu bebis." ujar mei.


"Kenapa? Vrey lo buat ulah lagi? " tanya xelina.


"Enggak. Palingan cuma di tanya kenapa kemaren ngga masuk." jawab vreya santai.


"Nanti kita temenin ya? " tawar xelina.


"Ngga usah, gue liat tadi di ruang bk ada pak nur. Lo mau di samber ama dia?" sambar kak briyan.


"Boong bat lu. Mana mungkin pak nur ke ruang bk." ujar mei.


"Dih ngga percaya. Ya udah gue mah terserah kalian aja." jawab kak briyan.


"Tapi kalo gue pikir pikir lagi, gue ngga jadi nemenin lo ah. Nanti gue lagi yang di samber ama bu bebis." ujar xelina.


"Nah kan, ngga ikhlas." protes vreya.


"Bukan gitu vrey, lo tega ngebiarin temen temen lo ini di marahin tanpa sebab? " sambar mei.


"Ya udah, gue bisa sendiri." vreya beranjak dari duduknya.


"Mau kemana? " tanya kak vicko.


"Tadi katanya gue di suruh ke ruang bk. Gimana sih." vreya mulai kesal.


"Ya nggak sekarang juga ogeb, nanti kan bisa." mei menarik tangan vreya sampai vreya duduk kembali.


"Jangan tarik tarik, tangan gue mahal. " vreya menepis.


"Dih," mei melanjutkan makannya.


Setelah selesai makan vreya memutuskan untuk pergi menemui bu bebis.


Di ruang bk.


"Kamu kenapa kemaren ngga masuk? Tanpa keterangan lagi. Tangan kamu ngga sakit kan? Kamu bisa lah meluangkan waktumu untuk menulis surat ijin. " sambar bu bebis.


"Bukan begitu buk, kemaren saya beneran sakit. Mama sama ayah saya lagi keluar kota dan kakak saya ngga pulang buk, saya kemaren bener bener pusing dan ngga kuat buat nulis surat ijin." ujar vreya berbohong.


"Jangan mencari alasan kamu, buku saya sudah terlalu penuh dengan nama kamu." ujar bu bebis sambil menulis sebuah catatan di buku nya.


"Ya kalo ibuk bosen nulis nama saya ibuk bisa nulis nama tengah atau nama akhir saya. Misalnya ibuk tulis aja diva kalo enggak ibuk bisa panggil saya ananta." vreya bercanda.


"Jangan bercanda, kamu mau saya skor? "


"Yah buk, masa cuma ngelawak di skor sih? " protes vreya.


"Lawakan kamu ngga lucu, sudah kamu sekarang pergi dari ruangan saya." ujar bu bebis setelah selesai menulis.


"Lah kan sekarang malah di usir," guman vreya.


"Ibu masih bisa denger."


"Eh, ya udah bu bebis yang cantikk. Vreya keluar dulu yaa. Bayyy bu bebiss." vreya melambaikan tanganya manja Sedangkan bu bebis ia hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Pulang sekolah.


Vreya berjalan menuju parkiran, mei dan xelina mereka sudah pulang dengan mobil milik mei.


"Keyy." sapa kak vicko, vreya berbalik dan menatap kak vicko.


"Whyy? " vreya memiringkan kepalanya.


"Ngga usah sok inggris, inggris lo aja anjlok." goda kak vicko.


"Hemm hemm hemm. Manusia es yang pinter bahasa apa aja." Kak vicko hanya tertawa.


"lo di tanyain ama ziva." ujar nya setelah ia berhenti tertawa.


"Masa? "


"Hemm. Dia nanya in lo kenapa ngga pernah main ke rumah. "


"Terus lo jawab apa? "


"Gue bilang lo sibuk. Lo nanti punya waktu kan. Dateng ya ke rumah gue. Ajakin tu si ziva main." ajaknya.


"Emm, oke tapi nanti gue kesana agak sorean ya. Soalnya hari ini mama ama ayah balik."


"Ngga usah. Bengsin motor gue masih penuh. " ujar vreya bercanda.


"Lawak lo badut. "


"Dih kosa kata gue di colong. " vreya dan kak vicko tertawa.


"Ya udah gue duluan." ujar vreya kak vicko hanya menangguk dan tersenyum.


"Itu senyum bisa bikin hati gue leleh astaga." vreya berjalan menuju motornya.


Sampai di rumah.


Di dalam ia sudah di sambut oleh kedua orang tuanya.


"Mama, ayahh...." vreya memeluk kedua orang tua nya secara bergantian.


"Kamu baik baik aja kan nak? " ujar mama vreya.


"Iya ma, yaya baik baik aja kok. " jawabnya.


"Yaya, kamu apakan ponakan ayah sang satu itu? " tanya ayah vreya. Yang ia maksud adalah oxcel.


Ya, ayah dan mama vreya sudah mengetahui keadaan oxcel. Bahkan sudah tiga dokter yang datang ke rumah nya.


"Hah? Yaya ngga ngapa ngapain oxcel kok." jawabnya.


"Boong yah, kemaren yaya suruh oxcel buat ujan ujan jadi demam dia sekarang." sambar kak sanjaya.


"Loh kak, lo ngga ngantor? " tanya vreya.


"Ngga usah mengalihkan pembicaraan."


"Udah lah kalian ini. Oxcel nya juga udah ngga papa kok." ujar mama vreya.


"Tau tu, kakak ribet." vreya berjalan menuju kamarnya.


Setelah mengganti pakaian nya ia berjalan menuju ruang tv. Di sana audah ada kak sanjaya dan juga ayahnya.


Vreya duduk tepat di sebelah ayahnya. Belum lama ia duduk bel rumah berbunyi.


"Yaya bukain dong." teriak sang mama.


"Iya ma." vreya beranjak dari duduknya.


Ia membuka pintu secara perlahan.


"Akhirnya kak nisa dateng juga." ujarnya.


"Iya dong." ia tersenyum.


"Masuk dulu kak." vreya mempersilahkan kak nisa untuk duduk.


Mama vreya tiba tiba datang.


"Siapa nak? " tanya nya.


"Kenalin ma kak nisa. Kakak kelas yaya dan temen oxcel." ujar vreya.


"Selamat siang tante." kak nisa membungkuk kan badanya dan mencium punggung tangan mama vreya.


"Manis sekali. Mau njengukin oxcel ya?" tanya nya.


"Iya tente. Oh iya tan ini ada buah buat tante." kak nisa memberikan sekatong plastik yang lumayan besar kepada mama vreya.


"Ah repot repot."


"Enggak kok tan." jawabnya ramah.


"Ya udah langsung aja ke kamarnya. Yaya kamu anterin ya." ujar mamanya.


"Iya ma."


Vreya mengantarkan kak nisa sampai depan pintu.


"Ini kak kamarnya. Oh iya kak hati hati ya soalnya oxcel itu kalo lagi di kamar ganas. Kaya singa." ujar vreya bercanda.


"Lo bisa aja sih. Ya udah gue masuk dulu ya."


Vreya mengangguk dan lergi meninggalkan kak nisa.


Perlahan kak nisa membuka pintunya. Hingga pintu itu benar benar terbuka.


"Aaaaaaaaaaa........."


...