Oh My Senior

Oh My Senior
Pergi



Setelah oxcel pergi menyusul kak nisa,


"Key lo ngga papa kan? " kata kak vicko. Ia mencoba menenangkan vreya.


Vreya masih menangis, kata kata kak nisa menusuk di hatinya. Perasaannya hancur dan dia benci semua ini.


"Key. " kak vicko mencoba memeluk tubuh gadis itu.


"Jangan mendekat." vreya berjalan mundur.


"Key lo-"


"Gue bilang jangan mendekat. Gue benci lo." vreya berteriak.


"Gue cuma mau-"


"Plisss ngertiin gue." vreya memohon. Ia masih berusaha untuk tidak berdekatan dengan kak vicko.


"Gue cuma mau buat lo tenang,"


"Gue ngga mau. Ini udah yang ke dua kalinya. Gue ngga mau liat muka lo lagi."


"Key..." ia masih berusaha mendekati vreya.


"Stoppp.... Gue bilang sama lo, gue ngga mau berhubungan lagi sama lo. Gue benci lo. Gue ngga mau kenal lo lagi. " vreya pergi meninggalkan kak vicko.


"Key lo mau kemana? "


"Bukan urusan lo." vreya melanjutkan langkahnya.


"Dan jangan panggil gue key lagi." lanjut vreya. Ia pergi menggunakan motornya.


Kak vicko yang mengetahui keadaan vreya ia membiarkan vreya sendiri.


Vreya mengendarai motornya bukan ke arah rumah nya. Ia membutuhkan orang yang mengerti keadaannya saat ini.


Ia mengendarai motornya menuju rumah neneknya. Ayah ibu dari mamanya.


Rumah neneknya berada di sebuah desa. Walaupun vreya orang yang terbilang mampu, tapi nenek dan kakeknya lebih menyukai kesederhanaan.


Vreya mengendarai motornya dan terus memikirkan kata kata kak nisa yang membuat hatinya tertusuk.


Ia tidak berniat untuk merusak hubungan antara kak vicko dan kak nisa. Tapi ia hanya....


Fikiran vreya benar benar kacau.


Hari sudah mulai petang. Setelah perjalanan cukup panjang yang di iringi oleh air mata yang terus mengalir sepanjang perjalanan dan ucapan ucapan kak nisa yang terus menggema di telinganya.


Ia sampai di rumah sederhana milik kakek dan neneknya.


Ia memarkirkan motornya di halaman depan rumah.


Dengan perasaan lesu dan mata sembab ia berjalan menuju pintu.


Tok.. Tok... Tok...


"Nek... Ini yaya." ucapnya.


Mendengar suara khas dari sang cucu nenek vreya pun langsung membukanya.


Vreya memeluk erat neneknya dan menangis.


"Kenapa? Yaudah yuk masuk dulu." nenek vreya menuntun vreya masuk ke dalam. Kakek vreya sedang duduk sambil menikmati kopi.


Vreya duduk di samping neneknya.


"Kenapa? ayah kamu? " tanya nenek vreya.


Vreya menggeleng.


"Udah biarkan dia istirahat sekarang."ucap kakek vreya.


"Kamu istirahat dulu. Kalo mau cerita kamu temui nenek atau kakek ya." ucap neneknya sambil mengelus bahu vreya.


Vreya mengangguk. Ia berjalan menuju kamar vreya jika ia manginap di rumah neneknya itu.


Masalah pakaian neneknya selalu menyediakan jika sewaktu waktu vreya menginap dadakan.


Vreya berjalan menuju kamarnya. Kamar yang sederhana, sejuk alami, dan cuaca Yang cukup bagus malam ini.


Ia segera mandi untuk menyegarkan badan dan pikiranya.


Selesai mandi ia membuka jendela kamarnya dan melihat pemandangan desa.


Tak lama nenek vreya masuk ke kamar.


Ia mendekati cucunya.


"Kamu kanapa lagi? " tanya sang nenek.


"Ngga papa kok nek."


"Ngga papa gimana? Cerita sama nenek."


"Urusan pribadi yaya aja nek. "


Mengerti keadaan cucunya, ia mencoba untuk tidak memaksa vreya. "Ohh...kamu besok nggak sekolah? "


"Enggak nek. Yaya cape banget. Yaya nginep untuk beberapa hari ya nek."


Nenek vreya mengangguk.


"Ayah sama mama kamu sudah tau? "


"Mama sama ayah lagi di luar kota nek."


"Kakak kamu? "


"Nanti yaya kabarin. Oh iya nek oxcel pulang ke indonesia."


"Oh ya. Sudah lama nenek tidak berjumpa dengannya. Bukannya kakak kamu akan menggelar pernikahan? "


"Iya nek acaranya 2 minggu lagi. Oma dan opa juga datang."


"Akhirnya aku bisa menemui besan ku." nenek vreya tertawa.


Vreya tersenyum melihat nenek nya. Ia merasa lebih tenang jika berada di samping neneknya.


"Sudah lupakan masalah mu. Besok nenek akan menyuruh lilis untuk mengajakmu jalan jalan keliling desa. Bagaimana? " nenek vreya membelai rambut vreya.


"Ah. Nenek pikir kau melupakannya."


"Tidak nek. Dia sangat baik padaku dulu. Sudah lama aku tidak menemuinya. "


"Ya besok nenek akan menyuruhnya kemari. Istirahatlah."


Nenek vreya keluar kamar.


"Gue harus telfon oxcel."


Ia mengambil polselnya. Ia menekan nomer polsel oxcel. Tapi sanyangnya sinyal di desa tidak mendukung. Ia menutup jendela kamarnya kembali.


"Ah bodo amet gue ngga peduli." vreya melemparkan polselnya dan memutuskan untuk tidur.


Di sisi lain.


"Yaya kemana sih ini udah malem. Mana polselnya ngga aktif lagi." ujar kak sanjaya.Dari tadi ia sedang berusaha menelfon vreya.


Ya setelah vreya pergi kak vicko memutuskan untuk menemui vreya lagi dan meminta kejelasan. Tapi saat ia sampai di rumah vreya ia hanya bertemu dengan kakaknya. Kak sanjaya juga bilang kalo oxcel dan vreya belum pulang.


Kak vicko menceritakan semua yang terjadi. dan ia yakin bahwa saat ini oxcel pasti sedang tidak bersama vreya.


"Bang maafin gue ya. Ini semua gara gara gue. Gue bakal cari key sampe ketemu. Gue janji." kak vicko menunduk dan menyesal.


"Lo ngga usah mikir macem macem. Sekarang lo mending pulang. Ini udah melem, urusan yaya nanti gue kasi tau kabar selanjutnya."


"Bang lo bener bener ngertiin perasaan gue." batin kak vicko.


"Thanks bang, gue duluan ya." Ia mengangguk dan segera pergi dari rumah vreya.


Kak sanjaya kini sibuk mencari oxcel. Dari tadi telfonnya hanya berdering.


Oxcel kini sedang mengantarkan kak nisa pulang. Karna mobil kak nisa yang tidak memungkinkan untuk di pakai.


"Makasih ya cel. Untung ada lo kalo enggak ngga tau lagi gue mau gimana." ucap kak nisa. Ya kini mereka sedang berada di depan rumah kak nisa.


"Gue kan udah bilang, 25 jam tersedia buat lo. Eh btw lo di rumah sendiri? " jawab oxcel.


"Enggak gue tinggal ama kakek nenek gue. Yaudah cel gue masuk dulu ya."


"Lo ngga ada niatan buat ngajakin gue mampir gitu? "


"Udah malem cel. Besok aja. Bay oxcel." kak nisa masuk ke dalam rumah nya sambil melambaikan tanganya dan tersenyum ke arah oxcel.


"Nah kan gue dapet senyum nya lagi." oxcel tersenyum dan masuk ke mobilnya.


Ia membuka polselnya banyak panggilan tak terjawab dari kak sanjaya.


Ia menelfon kak sanjaya balik.


_Telfon_


Oxcel :"gimana bang? "


Kak sanjaya :"dari mana aja lo, gue telfonin dari tadi juga."


Oxcel :"ya maap bang hehe..."


Kak sanjaya :"lo lagi sama yaya nggak? "


Oxcel :"bukanya yaya tadi ama vicko ya? "


Kak sanjaya :"cepetan pulang yaya ngilang ngga tau kemana."


Oxcel :"lah serius? "


Kak sanjaya :"makanya cepet pulang."


Oxcel:"oke gue pulang sekarang. "


Oxcel memutuskan panggilanya dan segera melajukan mobilnya menuju rumah vreya.


Sesampainya di rumah vreya ia buru buru masuk dan menemui kak sanjaya.


"Bang gimana? " ia duduk di samping kak sanjaya yang sedang frustasi.


"Gimana apa nya? Ya gini." jawab kak sanjaya.


"Is gue serius bang. Yaya beneran ngilang? "


"Iya gue serius."


"Bunda ama ayah udah tau? "


"Ngga gue kasih tau. Gila kali ya, kalo gue kasi tau mama ama ayah gue ngga jadi kawin."


"Lah kenapa? "


"Pasti nanti mama bilang gini, 'jaga adik nya aja ngga becus sok sok an mau punya istri.' gitu. Ah ngga tau lagi gue."


"Lo tau tempat favorit yaya?"


"Rumah oma, tapi yakali yaya ke pranciss."


"Selain itu? "


"dimana ya? Yaya ngga pernah cerita ama gue. Gue juga bingung ni mau gimana."


"Lo udah tau masalahnya bang? "


"Iya gue udah tau. Tapi gue ngga nyalahin vicko soalnya gue juga pernah ada di posisi dia dulu. "


"Di rebutin dua cewek sekaligus? Hebat lu bang, lah gue satu aja susah."


"Resiko orang ganteng."


"Serah lu bang. Jadi gimana ini? "


"Kita cari aja besok. Ini juga udah malem, gue yakin yaya pasti baik baik aja. Yaya bukan orang lemah. Lo tidur aja besok kita cari lagi."


"Ya udah bang gue ke kamar dulu."


Oxcel dan kak sanjaya menenangkan pikiranya dan tertidur di kamar masing masing.


...