Oh My Senior

Oh My Senior
Indah.



"Mau apa? " ucap vreya, singkat dan acuh.


Kak vicko tersenyum tipis. Ia tidak menyangka bahwa pembicaraannya ini di awali oleh vreya.


perlahan kak vicko menarik nafasnya. Sampai ia mulai bicara.


"Gimana kabar lo? " yak, mengapa ia menanyakan kabar? Bukankah kemaren mereka bertemu. Huhh bodohh sekali.


"Kaku banget, kaya ngga pernah ketemu aja." sambar oxcel. Vreya hanya diam sambil menunduk.


"Huhh gue harus gimana? Gue ngga mungkin diem aja kaya gini,apa gue maafin aja? " batin vreya.


Vreya tersenyum, cara berfikir vreya kini sudah berbeda. Setelah ia terus terusan bertanya pada dirinya sendiri kini ia menyadari semuanya, bahwa ini semua hanyalah kesalahpahaman.


Dan buat apa vreya menghindari kak vicko, ia tidak bersalah. Tapi siapa yang menghindarinya? Ia hanya butuh waktu untuk semua ini.


Kini pandangan vreya tertuju kepada pria yang dari tadi tersenyum. Vreya membalas senyuman itu.


Vreya merasa seperti di hipnotis oleh senyum manis kak vicko. Dan ia merasa hatinya benar benar meleleh saat melihat senyum itu.


"Baik. " jawabnya dengan senyum tulus yang terlintas di wajahnya.


"Akhirnya lo senyum juga ke gue. Dari kemaren gue nunggu ini. Gue kangen senyum lo." batin kak vicko.


"Cel gue mau ngomong berdua ama key, lo ngerti kan maksud gue? " ujarnya kepada oxcel.


"Santai aja gue ngerti kok, tapi yaya ngga papa? " tanya nya kepada vreya.


"Iya ngga papa, asal nanti gue di anterin pulang. "Ucap nya bercanda. Ekspresi vreya benar benar berbeda dari saat mereka memasuki kedai tersebut. Kini ia mulai bercanda dan sering tersenyum.


"Baguss akhirnya." oxcel mengacak acak rambut vreya. "Ya udah gue duluan. Broo gue tunggu ceritanya." oxcel pamit dan pergi meninggalkan kedai.


Kalian ingat ini masih sore dan hujan. Oxcel menggunakan motornya di tengah tengah hujan yang sangat deras itu. sebenarnya oxcel malas untuk pergi dari kedai, tapi semua ini ia lakukan demi vreya. Ia tidak ingin mengganggu mereka.


kembali ke vreya.


"Key, " ucap kak vicko ragu ragu.


"eh? Lo udah abis 3 gelas? Gilaaa, maaf ya tadi gue lama. Soalnya tadi gue ama oxcel makan dulu." ujar vreya berbohong, vreya dan oxcel lama datang karna vreya yang sangat susah untuk di bujuk.


"Oh iya ngga papa. " jawabnya.


"Gue pesen dulu ya. " vreya ingin beranjak dari duduknya, tapi di hentikan oleh kak vicko.


"Biar gue aja, biasa kan? " tanya kak vicko. Vreya hanya mengangguk.


Setelah memesan kak vicko kembali duduk.


"Lo mau ngomong apa ke gue? " tanya vreya.


"Gue mau minta maaf." jawab kak vicko, masih dengan nada ragu ragu.


"Enggak perlu, " vreya tersenyum.


"Kita masih bisa kaya kemaren lagi kan? "


"Bisa dong, kenapa enggak?"


Kak vicko sangat senang mendengar jawaban vreya. Ini yang ia tunggu, dan ia sangat suka sifat vreya. Vreya adalah tipe orang yang gampang melupakan masalahnya. Ya, ia bahkan telah lupa masalah kak nisa kemaren.


Tak lama pelayan pun datang membawa pesanan vreya.


Setelah nya mereka mengobrol sambil sesekali bercanda. Kini vreya dan kak vicko sudah seperti dulu lagi.


"Lo udah makan belom? " tanya vreya. Kak vicko hanya menggeleng kan kepalanya.


"Oh iya lo tadi bolos sekolah ya?" ucap vreya.


"Enggak." jawabnya.


"Boong."


"Lo juga bolos kan? "


"Beda, kalo gue kan dari pagi ngga masuk lah elo, pulang tanpa pamit. Apa coba namanya kalo ngga bolos."


"Lo dari pagi ngga masuk tapi tanpa keterangan, apa coba namanya kalo ngga bolos? " kak vicko menirukan nada bicara vreya.


"Ya in dah, biar cepet." vreya pasrah sambil meminun coklat panasnya yang tinggal setengah gelas itu.


"Enggak, kemaren lo ngga bales chat gue kanapa?" tanya nya.


"Mamposss, jawab apa ni gue." batin vreya.


"Ah itu, gue ngga punya kuota." jawab nya gugup.


"Masa? Tapi kok lo baca? "


"Udah lah lupain aja. Nanti gue bales chat lo, atau mau sekarang aja gue balesnya."


"Aneh lo." ucap kak vicko pura pura dingin.


"lah kan mulai lagi dinginnya, males ah gue." vreya melipatkan kedua tanganya di dada sambil pura pura merajuk.


"Heleh ngga usah pura pura, mending kita makan aja gue laper."


"Nah mantab. Lo traktir yee... "


"Emm... "


Vreya dan kak vicko pergi meninggalkan kedai, dan kebetulan hujan juga sudah reda dari tadi.


Sampai mereka di warung makan sederhana yang biasa mereka kunjungi.


"Mau pesen apa? " tanya kak vicko.


"Biasa."


Kak vicko akhirnya memesan, setelah itu ia duduk tepat di hadapan vreya. Tak lama makanan mereka pun datang.


Bukanya makan kak vicko malah melihat vreya yang sedang asik dengan makanan nya itu.


"Apaan liat liat, gue tau gue cantik." ucap vreya saat sadar bahwa dirinya sedang di perhatikan oleh seseorang.


"Sejak kapan lo jadi narsis kaya gini? " tanya kak vicko heran.


"Virus narsis lo nular ke gue." jawbanya santai.


"Hah... "


Akhirnya mereka pun makan. Setelah makanan habis kak vicko dan vreya pergi meninggalkan warung tersebut.


Bukanya mengantarkan pulang kak vicko malah mengajak vreya ke suatu tempat.


"Ini bukan jalan ke rumah gue." ucap vreya sedikit teriak.


"Yang mau ke rumah lo siapa? " jawab kak vicko.


"dasar gila." vreya dengan nada pelan.


"Gue masih bisa denger key." kak vicko menyambar.


Vreya menghembuskan nafasnya kasar.


Sampai lah mereka di sebuah pantai. Ya, kak vicko membawa vreya ke pantai.


"Kok ke sini? " ucap vreya sambil melepaskan helm nya.


"Udah ikut aja." ia menggandeng vreya dan berjalan menuju tepi pantai.


Mereka duduk dengan alas sendal mereka masing masing.


"Ngapain sih ke sini? Udah ampir malem juga." protes vreya.


"Udah lu diem aja." kak vicko membuka polselnya. Dan memutar lagu sheila on 7 yang berjudul KITA.


Matahari mulai tenggelam secara perlahan, di iringi dengan lagu yang masih terus berputar. Sekarang vreya paham maksud kak vicko membawanya kemari.


"Lo suka? " tanya nya. Vreya hanya mengangguk dan tersenyum. Kak vicko membalas senyuman itu.


Vreya fokus melihat matahari yang mulai tenggelam itu, sedangkan kak vicko ia fokus memandang wajah cantik vreya.


"Gue sayang lo. " batin kak vicko.


...