
-07.35
Vreya menikmati pemandangan desa.
"Ngga mau makan? " tanya neneknya.
"Enggak nek yaya ngga nafsu." jawab vreya lesu.
"Oh ayo lah, nenek yakin kamu tidak makan kemarin."
"Ah nenek memang pengertian, tapi yaya ngga laper nek."
"Setengah aja ya. Kalo kamu sakit gimana? "
"Enggak nek." jawab vreya.
"Kamu makan saja, atau kakek akan memberi tau kakakmu jika kamu ada di sini." kakek menyambar dari belakang.
"Kakek selalu saja memaksa. Ya udah nek yuk makan." vreya menggandeng neneknya menuju ruang makan.
Mood vreya seketika kembali saat melihat makanan yang sudah dari lama ia rindukan.
"Nenek tau, yaya rindu masakan nenek." ucap vreya sambil mengambil lauk.
"Oh ya? Nenek bisa memasak untukmu kapan saja." nenek vreya tersenyum.
"Ah nenek, yaya sayang nenek."
"Nenek juga sayang sama kamu."
"Ah ayo lah, berhenti berdrama, kakek sudah lapar."
"Ah kakek, udah tua masih aja cemburuan." ledek vreya. Ia tau betul kakeknya yang tingkat kecemburuanya selalu meningkat kapan saja.
Mereka pun makan bersama di iringi pembicaraan ringan seperti biasa.
selesai makan vreya membantu neneknya mencuci piring.
"Nenek." sapa seseorang.
"Eh lilis, udah dateng ya. Sini duduk dulu yayanya lagi cuci piring." ujar nenek. Ya orang itu adalah lilis, teman vreya waktu kecil.
"Eh, lilis teh jadi ngga enak ini." jawab lilis.
"Ngga enak kenapa lis? " vreya menyambar dari belakang. Ya vreya telah selesai mencuci piringnya.
"Eh? Ngga papa neng." jawab lilis.
"Aduh liss kan gue udah pernah bilang, nama gue vreya bukan neneng. Lo panggil gue vreya aja ya biar gaul." vreya tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya.
"Eh?" lilis bingung.
"Udah ngga usah ah eh ah eh. Lo mau ajak gue jalan jalan kan? Yuk kita berangkat." vreya menggandeng tangan lilis.
"Nek yaya berangkat ya." vreya menyalami neneknya di ikuti dengan lilis.
"Lilis teh juga ikut neng vreya ya nek." lilis berjalan mengikuti vreya.
Kakek vreya sedang barada di perkebunan. Ia berangkat setelah selesai makan tadi. Kakek dan nenek vreya memiliki perkebunan yang luas. Maka dari itu nenek dan kakek vreya lebih memilih tinggal di desa, karna kakek nya masih harus mengurus perkebunan itu.
Vreya dan lilis berjalan keliling desa. Sampai ia berada di sebuah perkebunan teh yang sangat luas.
"Nah ini teh perkebunan milik kakeknya neng vreya." ucap lilis.
"Oh ya? Kok gue ngga tau?"
"Makanya neng sering sering atuh ke sini. Kan lilis teh jadi ada temenya." ucap lilis.
"Emang lo ngga punya temen di sini? "
"Enggak punya. Semua pada ngejauhin lilis, tapi lilis ngga tau sebabnya apa."
"Lah? Terus lo setiap hari main ama siapa?"
"Lilis teh ngga pernah main atuh neng, lilis kerja."
"sekarang kok ngga kerja?"
"Ya kan lilis kerja di tempat kakek,"
"Ohh... "
Vreya menikmati pemandangan di desa. Ia bahkan telah lupa apa yang terjadi denganya kemarin.
"Neng vreya mau lilis ajak ke rumah pohon ngga?" tanya lilis.
"Emang ada? "
"Kalo ngga ada lilis ngga bakal ngomong sama neng vreya atuh." lilis tertawa kecil.
"Oh iya ya. Hehe..."
"Ya udah ayo atuh neng." lilis menggandengnya.
Sampai lah mereka di sebuah rumah pohon yang cukup besar dan luas.
"Mau naik ngga neng? " tanya lilis.
"Boleh deh."
Vreya menaiki tangga Rumah pohon tersebut di susul oleh lilis.
"Bagus kan neng pemandanganya? " tanya lilis.
"Iya lis bangus banget. Kenapa lo ngga bawa gue kesini dari dulu sih?"
"Ya lilis teh ngga tau kalo neng yaya suka rumah pohon."
"Emm..." tiba tiba vreya teringat dengan kejadian kemaren.
"Neng vreya teh kenapa?"
"Nggak papa."
"Cerita atuh neng ama lilis."
"Masalah apa? "
Vreya menceritakan semuanya kepada lilis. Bukan apa apa tapi vreya tau kalo lilis itu orang yang dapat di percaya.
"Ihh, jahat pisan atuh." ucap lilis setelah vreya selesai bercerita.
"Ya gitu. Kalo menurut lo gue harus gimana lis? "
"Kalo menurut lilis teh. Neng vreya maafin aja . Ya lilis teh tau si eneng itu teh jahat tapi kan kita ngga boleh dendam sama orang lain."
"Ya pemikiran lo emang dewasa. Gue ngga salah cerita ama lo." vreya tersemnyum.
Sedangkan di sisi lain.
"Terus sekarang vreya nya kemana? " tanya mei.
Ya sekarang di sekolah sedang jam istirahat dan seperti biasa mei, xelina dan komplotan the cogan geng sedang duduk di kantin.
Oxcel menceritakan semuanya kepada mei dan xelina.
"Ya gue ngga tau. Gue udah coba telfon kemaren tapi Polsel nya ngga aktif." jawab oxcel.
"Emeng kejadianya separah apa sih?" tanya kak nico.
"Ya lo bayangin aja sendiri." jawab xelina.
"Lah."
"Tapi gue masih ngga percaya, nisa itu kan terkenal lembut kok bisa ya dia ngucapin kalimat sepedes itu. " sambar kak briyan.
"Sama gue juga masih ngga percaya." ujar mei.
"Tapi emeng pedes banget sih. Gue yakin pasti vreya sakit hati gara gara ucapan itu." ucap kak nico.
"Ya ya ya." mereka mengangguk angguk.
Kak vicko sedang sibuk mengirim pesan untuk vreya. Ia mencoba menanyakan kabarnya tapi...
"Oyyy....di makan itu." kak nico menyenggol lengan kak vicko.
"Udah lah vic, gue yakin yaya baik baik aja. " ujar oxcel sambil memasukan somai ke dalam mulutnya.
Kak vicko tidak menghiraukan ucapan oxcel. Ia masih fokus dengan polselnya.
Oxcel sedang fokus makan tiba tiba polselnya berbunyi.
Yak,telfon dari nenek vreya. Ia langsung menggeser ikon hijau.
_telfon_
Oxcel :"iya nek? "
Nenek :"kau tidak merindukan nenek?"
Oxcel :"nenek salah, oxcel sangat merindukan nenek."
Nenek :"oh ya? "
Oxcel :"ya."
Nenek :"hahaha kau ini."
Oxcel :"oh ya nek tumben telfon oxcel. Kenapa? "
Nenek :"ah nenek cuma mau bilang kalo yaya sekarang ada di rumah nenek."
Oxcel :"oh ya? Tapi kok yaya ngga telfon oxcel? "
Nenek :"kau tau lah di sini susah sinyal."
Oxcel :"tapi nenek kok bisa? "
Nenek :"ya polsel nenek elit."
Nenek :"tapi sebaiknya jangan kau susul dulu. Nenek tau dia punya masalah kan? Biarkan ia menenangkan diri di sini."
Oxcel :"tapi nek semua khawatir ama yaya."
Nenek :"ya nenek tau. Kau kemari besok saja ya? "
Oxcel :"ah baiklah."
Nenek :"oke nenek matikan."
Tut.....
Oxcel meletakkan polselnya kembali.
"Siapa? " Tanya mereka berbarengan.
"Nenek lin. Sekarang yaya ada di sana." jawab oxcel.
"Nanti kita kesana kan? " ujar mei.
"Nggak. Yaya butuh penenang. Kita akan kesana besok." jawab oxcel sok dewasa.
"Ngga sekarang aja? Gue khawatir ama dia." kak vicko kini menyambar.
"Akhirnya lo ngomong juga. Gue pikir lo mau mogok ngomong." ledek kak briyan.
Tak.
Kak nico menjitak kepala kak briyan.
"Sakit ogeb."
"Lo tenang aja. Yaya pasti baik baik aja." jawab oxcel. Kak vicko mengangguk.
"oke kita semua kesana besok." ujar oxcel. Ia kembali memakan somainya.
"Oke." jawab mereka serentak kecuali kak vicko.
"Gue boleh ikut? "