
"Woiiii bangunn......" oxcel berteriak pas di telinga vreya.
Ya hari ini adalah minggu. Semua teman teman vreya sudah sampai di rumah nenek lin. Mereka berangkat sangat pagi, sekarang pukul 06.15 dan mereka sudah sampai.
"Emm..."
"Woiiiii.... Keboo. " oxcel menarik kaki vreya.
"Huaaaa...." vreya berteriak.
Karna khawatir nenek lin langsung menghampiri vreya dan oxcel.
"Astaga oxcel." tegur nenek lin.
"Hehe maaf nek, yaya nya susah di bangunin." oxcel cengengesan.
"Ya ngga gitu juga." ucap nenek lin lagi.
Vreya masih berusaha mengumpulkan nyawanya.
"Oxcel? "
"Hem.. " oxcel tersenyum ke arah vreya.
"Kok lo di sini? " tanya vreya bingung.
"Nenek yang kasih tau kalo kamu di sini. Ya udah nenek keluar dulu." ucap nenek lin dan langsung meninggalkan mereka di kamar.
Vreya dan oxcel menatap nenek lin.
"Ngapain? " tanya vreya kepada oxcel.
"Jemput lo lah."jawabnya santai.
"Dih. Gue bawa motor kali, ngga ada kerjaan banget jemput gue sampe sini. " oceh vreya.
"Biarin. Udah cepetan siap siap udah di tungguin."
"Mau langsung pulang? Gue mah ogah."
"Lah gimana sih? "
"Gue masih mau di sini, kalo mau pulang pulang aja sendiri." jawab vreya ketus.
"Gua kesini kan jemput lo, beg*. Masa iya lo gue tinggal lagi di sini. "
"Yang nyuruh lo jemput gue itu siapa? Ngga ada kan? " vreya beranjak dari duduknya dan segera menuju kamar mandi.
"Padahal bang sanjaya yang nyuruh." batin oxcel. Ia menggelengkan kepalanya dan keluar dari kamar vreya.
Setelah 15 menit kemudian vreya keluar menggunakan celana pendek berwarna hitam dan baju panjang berwarna putih yang kebesaran hingga menutupi celananya. Baju kebesaran adalah baju favorit vreya. Jangan lupa dengan rambut panjangnya yang di biarkan tergerai.
Ia keluar dari kamarnya.
"Kalian? " vreya menatap semuanya bingung.
"Vreyaaa....." mei dan xelina menghampiri vreya dan memeluknya.
"Eh? Kalian ngapain di sini? " ucap vreya setelah melepaskan pekukanya.
"Lo ngga papa kan vre? Lo baik baik aja kan?" ucap mei sambil membolak balikkan tubuh vreya.
"Kita semua khawatir sama lo. Astaga lo kok ngga kasi tau kita kalo di sini? " sambar mei.
Yang lainnya hanya menjadi penonton setia saja.
"Ya, gue ngga papa. Duduk yuk." jawab vreya. Mereka akhirnya duduk kembali. Nenek dan kakek vreya sudah pergi ke perkebunan.
Nenek vreya memang sengaja memberikan waktu untuk mereka bicara. Nenek yang baik.
"Nenek udah ke perkebunan? " tanya vreya, ia duduk di sebelah oxcel.
"Hooh." jawab oxcel.
"Kalian semua ngapain ke sini? Rame banget?" tanya vreya lagi.
suasana menjadi hening. Hingga kak nisa memberanikan diri untuk angkat bicara.
"Emm, gue mau minta maaf ama soal kemaren. Gue tau gue salah, gue bener bener kelepasan kemaren. Lo mau kan maaf in gue." ucap kak nisa.
Vreya melirik ke arah oxcel. Oxcel hanya mengangguk dan tersenyum.
"Emm...iya kak vreya maafin kok, vreya juga tau perasaan kak nisa waktu itu. Ngga usah di pikirin kak. Vreya juga udah lupa." jawab vreya sambil tersenyum.
"Bijak sis gue..." ucap oxcel gemas sambil mengacak acak rambut vreya.
"Alay. " vreya merapikan kembali rambutnya.
"Gue ngga enak vre ama lo. " ucap kak nisa lagi.
"Udah lah kak, ngga usah di pikirin."
"Makasih ya vre. " ia tersenyum lalu menunduk.
"Ship lah mantab, jadi mau di lanjutin ngga kak? " goda vreya.
"Hah? " ucap mereka berbarengan. Oxcel yang sedang minum pun sampai tersedak.
"Kompak banget." vreya tertawa.
Mereka pun tertawa canggung.
"Kalian mau jalan jalan ngga? Gue bisa tunjukin tempat bagus di sekitar sini." ucap vreya lagi.
"Boleh, gue juga bawa kamera jadi kita bisa foto foto." ujar kak briyan.
"Ya udah, cusss. "
Mereka berjalan jalan mengelilingi desa. Vreya membawa mereka ke perkebunan nenek nya.
"Di sini bagus, foto kuy." ucap kak nico.
"Cis deh gue foto in. " ucap vreya.
akhirnya mereka pun berpose dan
Cepret cepret cepret
Beberapa gambar telah di ambil.
"Bagus juga, " ucap kak briyan.
"Ya dong gue gitu loh." vreya mulai besar kepala.
"Ngga usah di puji." kata mei.
"Gede kan pala nya." sambar xelina.
Akhirnya mereka pun berfoto foto.
Kak vicko?
Ia sekarang sedang bingung. Apa yang harus ia lakukan. Pikirnya.
Oxcel mendekati kak vicko.
"Lo ngga ngomong dari tadi. Kenapa? " tanya oxcel.
"Bingung gue. Apa yang harus gue lakuin? " jawabnya.
"Coba lo ajak ngomong dulu. Tu mumpung dia lagi sendiri." ujar oxcel. Ya memang vreya lagi sendiri. Mei, xelina, kak nisa, dan kak briyan sedang sibuk berfoto foto. Kak nico menjadi foto grafer mereka.
kak vicko langsung menghampiri vreya.
Ia duduk di sebelah vreya. Vreya melihat ke arah kak vicko. Ia langsung beranjak dari duduknya dan berniat pergi meninggalkan kak vicko.
Tapi kak vicko menghentikanya.
"Key gue mau ngomong ama lo." ujar kak vicko. Ia berdiri di hadapan vreya.
Vreya sudah tau niat kak vicko hanya untuk meminta maaf.
"Ngga penting. " ia pergi meninggalkan kak vicko dan mengampiri teman temanya.
Oxcel melihat itu dari kejauhan, ia langsung menghampiri kak vicko.
"Yaya butuh waktu." ia menepuk bahu kak vicko.
Kak vicko hanya diam.
-15.45
"Pulang sekarang ya vrey." mei memohon.
"Iya vrey besok kan kita sekolah." sambung xelina.
Mereka sedang berusaha membujuk vreya agar pulang.
"Yaya pulang aja ya, nanti ayah sama mama nyariin lagi." ujar nenek lin.
"Iya, yaya ngga mau kan buat mama sama ayah khawatir? " ujar kakek lin.
"Emm." vreya berfikir.
"Ya? " semua mengeluarkan puppy eyes nya.
"Ya udah deh. Tapi motor gimana? " tanya vreya.
"Ya bawa lah." jawab oxcel.
Mereka pun bersiap siap untuk pulang.
"Nek kita pamit ya." ujar oxcel.
Mereka mencium tangan nenek dan kakek lin secara bergantian.
"Hati hati ya. " ujar nenek lin.
"Salam buat ayah sama mama mu." kakek lin mengusap kepala vreya.
"Iya nek, kek. Ya udah yaya sama temen temen pamit. " vreya tersenyum dan menyusul teman temannya.
"Motor mau di bawa siapa? " tanya oxcel.
"Biar gue aja. " ucap vreya.
"Sendiri? " tanya oxcel lagi.
"Sama gue aja." kak vicko menyaut.
Semua pandangan tertuju kepada kak vicko.
"Oxcel, gue sama lo aja ya." vreya mengeluarkan puppy eyesnya.
"Tapi, itu kan udah ada vicko." ujar oxcel.
"Gue mau nya sama lo. " vreya merengek manja.
Huhuu oxcel tidak bisa menolaknya.
"Oke deh, tapi itu gimana?" oxcel pasrah.
"Gini aja, biar vicko ama kita terus, nisa, xelina, ama mei di mobil lo gimana?" usul kak nico. Semua mengangguk dan masuk mobil masing masing.
"Gue ngga bawa helm yaya." ujar oxcel.
"Emm..." vreya berlagak sedang berfikir.
Tiba tiba kakek dan nenek lin datang.
"Ni pake helm kakek." kakek lin menyondorkan sebuah helm.
"Kek ini helm kuno banget. " protes oxcel.
"Keren kok, iya kan ya? " ujar nenek lin.
"Iya, keren kok." vreya mengacungkan ibu jarinya.
"Ya udah deh." oxcel memakai helm ya.
"Nek kita pamit dulu ya." vreya melambaikan tanganya.
Nenek dan kakek lin tersenyum dan melambaikan tanganya.
Mereka pergi dari pekarangan rumah nenek lin.
-mobil kak nico.
"vic lo kenapa sih? Diem mulu dari tadi." ujar kak nico sambil menyetir.
"pasti soal vreya, iya kan?" sambar kak briyan. Ia duduk di bangku belakang sendirian.
"Lo demen ama vreya? "
Kak vicko masih tetap diam.
"Oyy, jangan jangan lo kerasukan lagi? " kak briyan tertawa.
"Kalian ngga tau perasaan gue," ujar kak vicko tiba tiba.
-mobil oxcel.
"Kak kalo gue liat, vreya bakal ngejauhin kak vicko deh. Iya kan? " ucap xelina, ia duduk di bangku belakang.
"Iya gue juga mikir kaya gitu." sambar mei.
"hemm gue liat juga gitu, dari tadi vreya ngejauhin vicko terus." ucap kak nisa sambil fokus menyetir.
"Kasian ya kak vicko, " xelina memelas.
"Iya, tapi kalo vicko demen ama vreya ngapa ngga di tembak aja ya? " ujar kak nisa tiba tiba.
"Tembak? Mati kali kak." mei tertawa.
"Ya itu lah maksudnya."
"Vreya itu ngga mau pacaran kak. Kalo kak vicko nembak vreya, fiks pasti di tolak." ucap xelina.
"Lah? Kok bisa? " kak nisa heran.
"Vreya itu pejuang karir kak, kak nis atau lah cewek pejuang karir itu kek gimana." jawab mei.
"Oh vreya itu pejuang karir toh." kak nisa mengangguk mengerti.
-di motor.
Vreya menyenderkan kepalanya di bahu oxcel.
"Oxcel, kok gue jadi serba salah gini ya." ucao vreya.
"Serba salah gimana?"
"gue juga bingung, gue ngga mau ngejauhin kak vicko, tapi gue juga ngga mau kejadian kaya gini keulang lagi."
"Nanti kita bicarain di rumah." oxcel mencoba menenangkan vreya.
"Hemm."
Ia meletakkan tanganya di paha oxcel. Vreya terus memikirkan.
"Apa yang harus gue lakuin selanjutnya? "
...