
Mereka berjalan menuju restoran yang berada di dalam mall tersebut.
Tiba tiba dari arah belakang.
"Oxcel? " ucap nya.
Serentak vreya dan oxcel menoleh ke belakang.
"Diana? " ujar oxcel.
"Ini beneran elo kan?" ujar diana sambil tersenyum.
"Iya ni gue. Kok lo bisa di sini? " tanya oxcel.
"Kan gue udah bilang, gue asli indonesia. Lo kok juga di sini? Lo pindah ke sini? " ujar nya.
"Iya gue pindah ke sini." ujar oxcel.
Diana adalah teman SMA oxcel waktu di pranciss. Dan ia menyukai oxcel. Ia selalu berusaha menarik perhatian oxcel, tapi sayang oxcel sama sekali tidak meliriknya.
Diana memang cantik tapi ia selalu menggunakan pakaian yang sangat ketat dan make up yang sangat tebal. Itu yang membuat oxcel risih dengan diana.
"Eh cel ini siapa? " tanya diana menunjuk ke arah vreya.
"Ni cewek keyaknya demen deh ama oxcel. Ngga bisa di biarin ni. Kalo oxcel ama tu cewek nasib kak nisa gimana? Gue kerjain ah." batin vreya.
"Vreya pacar oxcel." dengan lantang dan tegas. Ia menjulurkan tanganya.
Diana membulatkan matanya. Ia benar benar tidak percaya bahwa oxcel yang terkenal sangat dingin waktu di pranciss mendapatkan pacar.
"Sis gue emang best dehh. Tau aja kalo gue ngga demen ama dia." batin oxcel, ia pun tersenyum lalu merangkul vreya.
Diana menerima uluran tangan vreya."eh, gue diana. Temen oxcel waktu di pranciss." diana gugup.
Vreya tersenyum." ya udah kita duluan ya." ujar vreya. Ia dan oxcel segera pergi meninggalkan diana.
"Masa sih oxcel punya pacar. Bukanya dia anti cewek banget ya? " batin diana sambil melihat punggung vreya dan oxcel yang semakin menjauh.
Di tempat oxcel dan vreya mereka masih berjalan menuju restoran, mereka tertawa saat mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
"Sumpah dah ngakak gue emeng bener bener ku ya. " ujar oxcel sambil tertawa.
"Iya dong gue gitu loh." vreya mulai besar kepala. Lalu mereka tertawa.
"Peka sebelum di kode." ujar oxcel.
"Gue punya mata batin, santai aja." vreya kembali tertawa.
Mereka sampai di sebuah restoran yang tidak begitu mewah.
Setelah memesan makanan mereka duduk di bangku yang kosong.
Vreya mulai sibuk dengan polselnya.
"Yaya, gue mau ngomong serius ama lo." ujar oxcel tiba tiba.
"Lo pasti mau ngomongin masalah yang kemaren itu kan? Udah lah males gue." pandangan vreya tidak berubah dari layar polselnya.
"Tapi ini gue bener bener mau ngomong serius ama lo."
Vreya membuang nafasnya kasar, lalu ia meletakkan polselnya dan menatap oxcel.
"Paan? " ucapnya ketus.
"Huuhh.lo bener bener ngga mau maafin vicko? " ucapnya.
Vreya memutar bola matanya jengah. "Gue bukanya ngga mau maafin tapi gue cuma butuh waktu aja. "
"Tapi kapan yaya? Semua orang juga punya cepek. Kalo lo ngebiarin vicko kaya gitu dia juga lama kelamaan bakal sadar. " ucap oxcel.
"Lo sebenernya sayang ngga sih ama vicko? " lanjut nya.
"Gue tau ini urusan pribadi lo, tapi apa salahnya sih maaf in orang. Dia juga ngga sepenuhnya salah di sini. "
"Ah, plis lah cel ngertiin gue. "
" gue udah coba ngertiin lo, tapi lo nya aja yang susah di mengerti-" ia menjeda ucapannya.
"Lo itu sebenernya udah suka ama dia, tapi lo aja yang ngga sadar sama diri lo sendiri. " lanjutnya.
"Terserah. " vreya mendengus kesal.
Sampai beberapa saat kemudian makanan mereka datang. Masing masing fokus dengan makanannya tanpa ada percakapan di antara mereka. Ya, vreya sekarang tengah kesal dengan oxcel, tapi percaya lah mereka tak akan lama seperti ini. Vreya tidak tahan jika ia tidak bicara dengan oxcel.
Sedangkan di sekolah.
Sekarang sedang jam pelajaran. Semua murid masuk ke kelas nya kecuali kak vicko. Ya mendengar kabar vreya tidak masuk lagi ia memutuskan untuk bolos sekolah.
Ia sedang berjalan menuju parkiran motornya. Tanpa sepengetauhan teman temanya karna ia dari tadi tidak bergabung dengan yang lain.
Dengan santai ia mulai melajukan motornya dan segera pergi meninggalkan sekolah.
Di kelas.
"Vicko mana sih? Lama banget masuk kelasnya. " ujar kak briyan.
"Jangan jangan vicko bolos lagi, kita ke parkiran yuk, liat motornya." kak nico dan kak briyan segera menuju ke parkiran sekolah.
Sampai di sana mereka tidak menemukan motor yang di cari.
"Nah bener bolos ngga ngajak ajak. " ujar kak nico.
"Gue mah ngga mau bolos,nanti xelina marah ama gue. Lah elu? Mei ngga marah ama lu? " tanya kak briyan.
"Ya marah sih. Ya udah lah yuk balik ke kelas." kak briyan dan kak nico kembali ke kelasnya.
Di sisi lain, kak vicko memberhentikan motornya di sebuah kedai coklat yang biasa ia kunjungi saat dengan vreya.
Ia masuk, memesan minuman dan duduk dengan tenang di bagian paling pojok dan dekat dengan jendela.
Ia membuka polselnya.
**chat.
Vicko Ganteng**
key, temuin gue di kedai coklat biasa.
____________________
Pesan singkat yang ia kirimkan untuk vreya. Tak lama kemudian pesan tersebut terbaca.
Kak vicko meletakkan polselnya dan meminum coklat panasnya. Hari ini sangat mendung, dan kak vicko yakin sebentar lagi akan turun hujan.
Setelah berjam jam menunggu, ya kak vicko menunggu sampai berjam jam. Bahkan sekolah mungkin sudah selesai. Hari sudah sore dan benar hujan telah turun dari tadi.
Kak vicko sudah memesan 3 coklat panas, ia tidak ingin meninggalkan kedai tersebut karna ia yakin vreya pasti datang.
Tak lama kemudian seseorang datang menghampiri kak vicko. Mereka adalah vreya dan oxcel.
Oxcel tau jika vreya mendapatkan pesan dari kak vicko, jadi ia berusaha keras untuk membujuk vreya.
Oxcel dan vreya duduk di hadapan kak vicko. Raut wajah vreya terlihat kesal dan sangat terpaksa, sedangkan kak vicko dan oxcel mereka hanya tersenyum.
"Mau apa? " ucap vreya, singkat dan acuh.
Kak vicko tersenyum tipis. Ia tidak menyangka bahwa pembicaraannya ini di awali oleh vreya.
perlahan kak vicko menarik nafasnya. Sampai ia mulai bicara.
"...