
Waktu berlalu semakin cepat, tak terasa tiga bulan telah terlewati dengan berbagai macam hiruk-pikuk dunia. Kesedihan dan kebahagiaan silih berganti, datang dan pergi.
Namun, tepat hari ini di sebuah rumah besar yang di tempati oleh keluarga Hanan, tengah dihebohkan oleh satu ibu hamil yang sebentar lagi akan melahirkan.
Ada kepanikan tersendiri yang dirasakan oleh Hanan, bahkan dia yang paling heboh, padahal Sena masih bisa tertawa-tawa, saat kontraksi yang menghampirinya mereda.
"Sayang, aku masih menahannya." Ucap Sena, menenangkan suaminya, kekhawatiran Hanan sangat kentara.
Kini, mereka tengah bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Felli tengah mengemasi pakaian Sena, dan segala perlengkapan untuk calon bayi kedua orang itu.
Sementara baby Noah sedang diajak main oleh Mariam, sambil menunggu semuanya siap, karena mereka akan pergi bersama-sama.
Hanan menghela nafas panjang, setiap erangan Sena yang kesakitan benar-benar membuatnya terasa ngilu, dan dia tidak mau wanitanya itu terus merasakan lebih lama lagi, dia ingin anaknya cepat-cepat keluar.
"Baiklah, kalau sakit bilang sakit, jangan ditahan yah." Hanan mengelus puncak kepala Sena, dan menciuminya berulang kali.
Hingga semuanya telah siap, mereka pergi bersama ke rumah sakit, dengan diantar oleh supir. Karena Hanan ingin menemani Sena, apapun yang membuat Sena merasa lebih baik, akan Hanan lakukan, termasuk menerima cakaran dari kuku-kuku tajam Sena.
Seperti sekarang, setelah sampai di rumah sakit yang mereka tuju, Sena langsung dibawa ke ruangan VVIP yang sudah Hanan siapkan untuk persalinan istrinya itu.
Sena menjerit tertahan, merasakan mulas di perutnya, sekaligus rasa sakit yang datang beruntun. Dia mencengkram kuat tangan Hanan.
Rintihan pilu itu hanya berhenti beberapa saat saja, ketika frekuensi rasa sakit yang Sena terima mereda, hingga dia tidak bisa menahannya lagi. "Mas, bayi kita sudah ingin keluar."
Tangan Sena meremat pinggiran ranjang, sementara tangan yang lain senantiasa digenggam oleh Hanan.
Wajah lelaki itu semakin cemas. Hanya ada dia di ruangan ini untuk menunggu Sena, sementara Mariam, Felli dan baby Noah menunggu di luar ruangan.
Hanan berteriak, dia kalang kabut melihat Sena yang kesakitan. Hingga hari itu telah menjadi saksi perjuangan Sena untuk melahirkan buah cintanya dengan Hanan.
Sena telah melahirkan bayi cantik yang diberi nama Shasi Kirana.
Hari-hari mereka semakin terasa membahagiakan, bahkan Baby Noah kini sudah bisa berjalan, dan sesekali bermain dengan baby Shasi, anak sulung mereka itu kerap menciumi adiknya dengan wajah sumringah.
Dan hal itu semakin membuat hidup Hanan dan Sena terasa sempurna. Kini, Hanan bukan lagi sugar daddy, dia telah berganti julukan dengan hot daddy.
"Hot Daddy-nya Baby Noah dan Baby Shasi." Goda Sena sambil mencolek dagu Hanan.
Wanita itu terkekeh, dan kekehan itu berhenti begitu Hanan dengan cepat merengkuh tubuh Sena.
"Kalau aku hot Daddy, berarti Sensenku jadi hot mommy."
Hanan mengusak-ngusak wajahnya diantara dua bulatan Sena yang semakin menggunung, besar dan semakin menantang.
Wanita itu menggeliat geli dan tertawa keras dengan tindakan Hanan di atas tubuhnya. Sejenak keduanya saling memandang satu sama lain, hingga entah siapa yang lebih dulu memulai bibir mereka sudah menyatu, dengan decap bahagia, yang membuncah tak terkira.
Dan bahagia adalah akhir cerita kita.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Epilog.
Dalam waktu tiga bulan itu, Saka tak berhenti memperlihatkan kesungguhannya pada Nadia, janda anak dua yang menjadi wanita pujaannya.
Tetapi dia tidak pernah memaksa wanita itu untuk membalas perasaannya, apapun keputusan Nadia nanti, Saka akan terima. Yang terpenting dia sudah berusaha.
Hingga waktu yang dia rasa sangat tepat untuk mengungkapkan semuanya. Hari ini, tanpa sepengetahuan Nadia, lelaki itu berdiri dan mengetuk pintu si empunya rumah.
Dia jauh-jauh datang dari Palembang menuju kota Bandung, hanya untuk menemui tambatan hatinya.
Tak berapa lama kemudian, pintu rumah wanita itu terbuka, menampilkan sesosok tubuh langsing dengan tatapan terperangah merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Saka?"
Nadia memanggil nama itu dengan bola mata yang melebar sempurna. Sementara Saka, dengan debaran di dadanya, membalas tatapan mata Nadia.
Lelaki itu tersenyum sambil mengangguk.
"Ada apa?" tanya Nadia dengan kening yang mengernyit.
"Mau ngajak Mbak Nanad nikah." Celetuk Saka to the point.
Nadia kembali membelalakkan matanya. "Jangan bercanda, aku tidak suka bercanda yang keterlaluan." Nadia berucap ketus, takut Saka hanya main-main.
Dan Saka langsung bersimpuh di depan tubuh Nadia, dia mengeluarkan satu kotak yang berisi cincin berlian yang dia simpan di saku jaketnya.
Menunjukkan kesungguhannya.
"Aku tidak main-main, Mbak. Aku tahu hidupku tidak sempurna, maka dari itu aku meminta kamu untuk menjadi penyempurna hidupku. Mbak Nanad, pujaan hati Saka. Will you marry me?"
Menyaksikan itu semua, hati Nadia berdesir. Dia tidak menyangka akan mendapat kejutan terindah, dari orang yang sudah menemaninya selama ini, mengisi hari-harinya dengan tawa dan bahagia.
Hingga akhirnya, Nadia yang ingin membuka lembaran baru pun menganggukkan kepala. "Yes, i will."
Tamatatamatatatatata🤣🤣🤣🤣🤣
Terima kasih semuanya pendukung Sensenku sayang 😘😘😘😘😘😘
Baybay, jangan lupa baca ceritaku yang lain ya, emauah ketchup basah 😘