MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR BAB 80 - Sedang Bercanda



Sama halnya dengan Felli dan Bagas. Rombongan Hanan pun terjebak hujan deras. Tetapi beruntungnya mereka sudah masuk wilayah Kota.


Hanan tak dapat meneruskan perjalanan, karena derasnya air hujan membuat jalanan tidak terlihat terlalu jelas. Salah-salah nanti berujung kecelakaan.


"Han, bagaimana kalau kita makan empek-empek dulu, mumpung di sini, sekalian kita menghangatkan badan," saran Mariam, dan dijawab anggukan oleh semua orang.


Apalagi Sena, yang saat ini tengah hamil. Air liur wanita itu sampai mau menetes, hanya karena membayangkan makan empek-empek khas kota-nya.


"Iya, Mas. Aku tahu warung empek-empek yang enak, deket sini kok."


Melihat istrinya yang begitu antusias, Hanan tersenyum lebar. Lelaki itu mengusak puncak kepala Sena, lalu kembali menjalankan mobilnya menuju warung empek-empek yang cukup terkenal itu.


Sesampainya di sana, suasana terbilang cukup ramai oleh pengendara yang sengaja mampir menunggu hujan reda.


Sama halnya dengan rombongan Hanan. Sambil menunggu, mereka semua memesan masing-masing satu porsi empek-empek.


Hingga tak berapa lama kemudian, makanan dengan cita rasa asam, manis, asin itu sudah terhidang di meja bulat. Mereka semua duduk melingkar di atas anyaman bambu yang sudah di gelar.


"Kuahnya seger," ucap Nadia yang sudah mencicipi lebih dulu. Membuat Sena tidak sabaran. Sena segera mengambil sendok, tetapi Hanan menahannya.


Sena mencebikkan bibirnya.


"Aku suapi, biar Sayang pegang Noah saja."


Bibir mencebik itu berganti uluman senyum, dia mengangguk setuju. Dan akhirnya ibu hamil itu disuapi sang suami, perhatian kecil Hanan membuat Nadia teringat pada Hanaf, tetapi secepat kilat dia menghapus bayang-bayang itu.


Apalagi saat dia mendengar ponselnya berbunyi dengan nyaring dari dalam tas.


"Nad, ada telepon." Mariam menatap Nadia, untuk memberi tahu wanita beranak dua itu. Kebetulan tas Nadia berada disampingnya.


"Ah iya, Ma. Aku coba lihat dulu." Nadia meraih ponselnya, lalu melihat siapa gerangan si penelepon.


Nomor tidak dikenal.


Akhirnya Nadia mengabaikan panggilan itu, meski si penelpon tak menyerah untuk membuat panggilan, berharap Nadia mau mengangkatnya.


"Nomor tidak dikenal, Sen." Balas Nadia apa adanya. Kemudian kembali memakan empek-empeknya yang tersisa setengah.


"Siapa tahu penting, Mbak. Buktinya nelpon terus." Hanan angkat bicara. Karena ponsel itu terus berbunyi, entah kapan akan berhenti.


Membuat Nadia menghela nafas, dan akhirnya menggeser layar pintar itu. Baru saja Nadia menempelkan ponselnya di dekat telinga, terdengar di ujung suara seseorang yang begitu familiar, meski mereka baru bertemu beberapa hari.


"Halo, Mbak? Ini Saka." Sapanya lembut dan terkesan girang.


"Iya, halo."


"Mbak sudah sampai mana? Kehujanan apa tidak?" tanya Saka, perasaannya begitu cemas begitu hujan turun dengan derasnya. Seketika dia langsung ingat dengan Nadia yang ada dalam perjalanan menuju Jakarta.


"Aku baru sampai kota. Alhamdulillah aku dan yang lain tidak kehujanan, kita sedang mampir di warung empek-empek."


"Siapa?" Tanya Sena tanpa suara, dia hanya menggerakkan mulutnya.


"Saka." Balas Nadia menjauhkan ponselnya.


Dan jawaban itu membuat semua orang mengernyitkan dahi mereka masing-masing. Untuk apa Saka menelpon Nadia, pikir mereka.


Cih, bocah itu. Mau apa dia? Batin Hanan menggerutu.


Sedangkan Nadia terus bertukar kabar dengan Saka. Lelaki itu bilang bahwa dia mendapatkan nomor Nadia dari Aksa dan Axel. Tak menanggapi terlalu serius, perhatian-perhatian Saka hanya Nadia anggap sebagai seorang adik yang mengkhawatirkan kakaknya.


"Kalau ada apa-apa, telepon Saka saja ya Mbak Nanad."


"Iya, Saka. Terimakasih ya."


"Tidak perlu sungkan. Kalau Mbak Nanad butuh sosok seorang suami aku juga siap."


Dan Nadia hanya terkekeh mendengar ucapan Saka itu. Sekali lagi, dia hanya menganggap lelaki itu sedang bercanda untuk menghibur dirinya.