MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR 45 - Jangan Menatapku Seperti Itu



Setelah ijab kabul, beberapa tamu undangan memberikan selamat untuk Sena. Sebagai gadis yang tumbuh besar di desa ini, banyak pula para tetua yang mendoakan kebahagaiaan Sena.


Berharap pernikahan Sena akan langgeng sehidup sesurga, sakinah mawadah dan warohmah.


Tamu mulai berkurang saat magrib menjelang, malam Keluarga Sena memutuskan untuk tidak menerima tamu.


Saat hendak beristirahat itu, mendadak Mariam merasakan sakit kepala. Sakit yang membuatnya begitu tersiksa, darah tingginya kambuh.


Malam itu juga, akhirnya Keluarga Mariam membawa Sena untuk kembali ke Jakarta.


Mariam hanya bisa meminum obat dari dokter pribadinya, ia tak bisa sembarang meminum obat karena memiliki alergi.


Berulang kali Mariam meminta maaf pada Sarni, karena mereka terburu-buru sekali. Tapi sunggug, Sarni tak merasa keberatan sedikitpun.


Ia malah akan merasa bersalah jika terus membiarkan besannya itu merasa kesakitan.


Jadi mau tidak mau, akhirnya mereka pulang ke Jakarta malam itu juga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai di Jakarta, Hanan dan Sena langsung pulang ke rumah Mariam.


Sebelumnya, Hanan sudah meminta Tia untuk membawa Noah kesana, lengkap dengan semua barang-barangnya.


Sampai di rumah itupun, dokter pribadi Mariam sudah menunggu. Dan ternyata, Hanaf beserta keluaganyapun sudah ada disana.


Awalnya mereka ingin pulang besok, namun saat mendengar kabar Mariam sakit, Nadia mendesak Hanaf untuk segera pulang.


Dan disinilah akhirnya mereka semua berkumpul, keluarga besar.


"Mbak, kenalkan, ini istriku Sena," ucap Hanan pada kakak iparnya, Nadia.


Nadia tersenyum ramah, tak hanya menjabat tangan, ia bahkan langsung memeluk Sena memberikan kehangatan keluarga.


"Sena, kenalkan, mereka anak-anakku, Axel dan Aska," jelas Nadia.


Dalam sekejab saja, Sena dan Nadia menjadi dekat.


"Dimana mas Hanaf?" tanya Hanan yang tak melihat batang hidung pria bedjat itu, padahal mereka semua sudah berkumpul di kamar Mariam, melihat dokter Johan memeriksa keadaan sang ibu.


"Diluar Han, tadi masih terima telepon," jelas Nadia apa adanya, lalu ia bergerak mendekati sang mertua dan duduk disisi ranjang.


"Han, sebaiknya kamu ajak Sena ke kamar dulu. Biar mbak yang jaga Mama."


Hanan mengangguk, setuju dengan ucapan sang kakak ipar.


Tanpa babibu, ia langsung mengajak Sena untuk menuju kamar mereka. Kamar yang Hanan gunakan ketika masih remaja dulu.


"Sayang, tunggu disini sebentar ya, aku akan ambil minum," ucap Hanan setelah sampai di ruang tengah dan Sena mengangguk patuh.


Sena berdiri disana dan menunggu sang suami.


"Airin?" panggil seorang pria, saat Sena menoleh, ternyata yang datang adalah kakak iparnya sendiri, Hanaf. Sekaligus sang presdir ditempatnya bekerja.


Sena menundukkan kepalanya sejenak, hormat. Merasa tak enak hati dan canggung.


"Airin?" panggil Hanaf lagi saat ia sudah berdiri tepat dihadapan Sena.


Sena nampak begitu cantik dengan rambutnya yang digerai asal. Mengenakan dres lengan panjang dan setinggi lutut. Nampak pas ditubuh proposionalnya.


"Kamu Airin kan?" tanya Hanaf dan Sena bergeming.


"Kenapa kamu disini?" tanya Hanaf terus dan membuat Sena terpojok.


"Maaf Pak, nama saya Sena, bukan Airin," jawab Sena dengan suara lirih, ia masih merasa jika mereka dikantor, dan Sena sangat takut.


"Tidak tidak, kamu pasti Airin, mantan kekasih Hanan, cinta pertama adikku, ya kan?" jelas Hanaf gamblang.


"Eh tunggu, katamu tadi namamu siapa? Sena?" tanya Hanaf seraya kembali mengingat-ngingat.


"Ya ampun, maaf ya, jadi kamu Sena? istrinya Hanan? ku pikir kamu Airin, kalian begitu mirip. Apalagi lesung dipipi kirimu itu, atau mungkin Hanan menikahimu hanya karena kamu begitu mirip dengan Airin," sambung Hanaf.


"Sebenarnya dulu Hanan ingin menikah dengan Airin, tapi Lora mengagalkan itu, hingga akhirnya Hanan menikah dengan Lora."


"Hanan masih sangat mencintai Airin, aku sangat tahu itu."


Hanaf terus berbicara tanpa jeda, tanpa memikirkan wajah Sena yang sudah pias, dengan dadanya yang sudah merasa sesak.


Siapa Airin? apa masih ada yang disembunyikan mas Hanan dariku? Sena hanya bisa membatin, lidahnya kelu untuk berkata-kata.


"Sayang," ucap Hanan, ia datang dan langsung memeluk pinggang Sena, menariknya lebih dekat.


"Kamu kenapa?" tanya Hanan yang melihat wajah sang istri memucat. Melihat Sena yang bergeming, ia lalu menatap tajam pada sang kakak.


Apalagi yang diucapkan bedebah ini pada Sena? batin Hanan geram.


Melihat itu, Hanaf menyeringai.


"Malam pertama yang gagal," ucapnya dengan terkekeh, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar sang ibu.


Sampai didalam kamar, Sena melepas genggaman sang suami. Ia cemberut dan berjalan lebih dulu untuk duduk disisi ranjang.


Diperlakukan seperti itu, Hanan mengeryit bingung.


"Kamu kenapa?" tanya Hanan seraya ikut duduk disamping Sena.


Tapi Sena malah memalingkan wajahnya dan masih betah berdiam diri.


Mantan kekasih? cinta pertama? menikahiku hanya karena aku mirip dengannya?


"Sayang," panggil Hanan lagi yang belum menyerah.


"Apa yang dikatakan Hanaf?" tanyanya lagi dan lagi.


"Apa tentang Airin?" tebak Hanan, hanya satu itu saja yang bisa Hanaf gunakan untuk memperkeruh rumah tangganya, Hanan bisa menebak itu dengan begitu mudah.


Apalagi saat melihat wajah sang istri yang semakin ditekuk kala mendengar nama itu, Hanan semakin yakin. Jika ini semua memang hanya gara-gara satu nama, Airin.


"Kamu percaya denganku atau dengan pria yang kamu temui tadi?" tanya Hanan dengan suaranya yang tegas. Seketika Sena merasa takut, namun egonya masih menguasai.


Ini bukan tentang percaya pada siapa, tapi tentang kejujuran.


"Lihat mataku," pinta Hanan, ia bahkan menarik paksa Sena untuk menghadap kearahnya.


"Hanaf adalah kekasih Lora, sebelum dan sesudah Lora menikah denganku. Aku dan dia tidak memiliki hubungan yang baik, tapi aku masih menahan diri untuk menyembunyikan semuanya demi Mama dan mbak Nadia. Tapi kalau sampai dia membuatmu membenciku, aku tidak akan segan lagi untuk memberitahu semua orang tentang kebenaran ini," ucap Hanan dingin, ia bahkan langsung bangkit dari duduknya dan hendak keluar kamar.


Namun dengan cepat, Sena mencegah.


Ia memeluk tubuh suaminya itu erat, memeluk punggung Hanan. Melihat Hanan yang marah, sungguh membuatnya takut.


"Maafkan aku sayang, maafkan aku," lirih Sena, ia sadar ia salah. Ia lebih mempercayai orang lain daripada suaminya sendiri.


"Maafkan aku," pinta Sena lagi diantara isak tangis, ia sudah menangis dengan tersedu.


Mendengar isak tangis sang istri itu, Hanan menarik dan menghembuskan napasnya berulang, mencoba tenang.


Hanan lalu berbalik dan balas memeluk Sena.


"Aku bukan marah padamu, tapi pada pria badjingan itu."


"Aku juga salah. Maafkan aku Mas," lirih Sena lagi, ia mendongak dan menatap kedua netra sang suami.


Tatapan yang sudah mulai menghangat, tak sedingin tadi.


"Aku akan ceritakan semuanya padamu Sen, semuanya, aku hanya butuh waktu."


Sena mengangguk dengan cepat, lalu kembali memeluk suaminya erat dari arah depan.


"Kamu cemburu?"


Lagi, Sena mengangguk didalam dekapan suaminya itu.


Melihat itu, Hanan tersenyum. Lalu melerai pelukan mereka dengan paksa.


Hanan menggendong tubuh kecil istrinya dan menidurkannya diatas ranjang. Dan iapun ikut berbaring pula.


"Ini malam pertama kita menjadi suami istri, apa kamu tidak bahagia?" tanya Hanan, ia menindih setengah tubuh Sena dan bertumpu pada salah satu tangannya.


Mendengar itu Sena tersenyum, ia mengelus lembut wajah sang suami.


"Maafkan aku sayangku," pinta Sena sunguh-sungguh.


Bukannya menjawab, Hanan malah menatap intens pada sang istri.


"Jangan menatapku seperti itu," keluh Sena, ia bahkan mendorong menjauh muka Hanan.


"Kenapa?" tanya Hanan terkekeh.


"Tatapan mesum!" pekik Sena dan Hanan terbahak.


Malam itu, Hanan menceritakan semua tentang hubunyannya dengan Airin, lalu Lora dan terakhir Hanaf.


Tak ada lagi yang ia tutup-tutupi dari sang istri.


Bahkan Sena pun mengangguk patuh ketika Hanan memintanya untuk menjauh dari Hanaf.


Tengah malam, mereka baru terlelap. Malam ini tak ada penyatuan, karena mereka begitu leleh. Semalaman, mereka hanya saling memeluk erat, menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang membuat keduanya candu.