MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR BAB 62 - Tidak Bisa Melakukan Apapun



Tepat jam 1 siang, Bagas keluar dari Polres Jakarta Selatan. Ia keluar  hanya bersama pengacaranya,


sedangkan  Roy sudah ditetapkan sebagai tersangka dan harus ditahan.


Bagas dan pengacaranya, Lukman mengajukan tuntutan kepada Roy Hutomo dan juga Hanaf Aditama. Roy dituntut dengan kasus penipuan dan penyalahgunaan kuasa dan Hanaf ditutut dengan kasus penipuan dan


penggelapan uang perusahaan.


Roy menyerahkan diri beserta barang bukti. Bagas pun memberikan barang bukti tambahan tentang aliran dana ke rekening pribadi Hanaf.


Berbekal semua bukti yang sudah lengkap itu, kini pihak kepolisian akan segera melakukan penangkapan kepada Hanaf. Menurut informasi, CEO ExstraFood itu saat ini sedang meresmikan salah satu yayasan miliknya, yayasan untuk memberikan kehidupan yang lebih layak untuk anak-anak yatimpiatu.


Lebih tepatnya adalah Yayasan yang ia bangun sebagai tempat pencucian uang.


Tanpa mengulur waktu, Bagas pun mulai memelajukan mobilnya mengikuti para penyidik yang mulai bergerak untuk menangkap Hanaf.


Hingga tak lama kemudian, mereka semua sampai di tempat tujuan.


Dapat mereka lihat dengan jelas, Hanaf yang berdiri diatas podium sana.


Menyampaikan kata sambutan dan banyak ucapan terima kasih untuk semua orang. bahkan dengan jelas pula ia menyebutkan nama istrinya. Nadia. meskipun saat itu Nadia tidak ada disana.


Tiap kali Hanaf berucap, para peserta peresmian yayasan itu bersorak, mengeluh-eluhkan kedermawanan sang CEO.


Sesekali hanaf pun tersenyum ramah, pada semua mata kamera yang sedang merekamnya.


Berdiri disini dan disaksikan semua orang, Hanaf begitu bangga.


Hingga saat matanya menangkap hal yang tak biasa, Bagas sang asisten adiknya berdiri diujung sana, dengan beberapa orang yang berbadan kekar. Seketika senyum Hanaf perlahan menyurut, merasa jika kedatangan Bagas itu bukanlah hal yang baik untuknya.


Selesai mengucapkan kata sambutan setelah beberapa saat lalu ia memotong pita, kini Hanaf turun dari atas podium.


Saat itu juga Bagas dan semua orang pun kembali melangkah, mendekati Hanaf hingga kini mereka semua saling berhadapan.


“Ada apa?” tanya Hanaf dengan tatapannya yang tak ramah, bertanya pada Bagas seraya menatapnya rendah.


Bagas tak langsung menjawab, ia hanya tersenyum kecil lalu meminta penyidik untuk langsung menjelaskan tujuan mereka.


Seketika Hanaf menyeringai, dalam hatinya ia berkata bahwa tak ada seorang pun yang bisa menangkapnya.


“Jangan macam-macam, sedikit saja kalian menyentuhku, aku akan tuntut kalian semua,” gertak Hanaf, bahkan beberapa bodyguardnya sudah bersiap melindungi sang tuan.


“Jika anda melakukan perlawanan, maka kami pun tak segan untuk bertindak sesuai aturan,” penyidik itu mengeluarkan pistolnya meski masih berusaha ia tutupi, karena kini mereka semua sedang berada di tempat umum.


Bahkan banyak anak kecil disekitar mereka. Yayasan, anak sambung. Tempat dimana banyak anak-anak yatin piatu yang akan menjadi penghuni di yayasan ini.


Melihat pistol itu, Hanaf bergeming, ia pun melihat sekitar yang mulai menjadikan mereka sebagai pusat perhatian.


Bahkan bisik-bisik para wartawan pun mulai terdengar. Ada apa? Kenapa? Dan sebagainya.


Tak ingin namanya tercemar, akhirnya Hanaf pun meminta para bodyguardnya itu untuk menyingkir dan  kemudian ia ikut para penyidik untuk pergi ke Polres.


Bagas hanya menggelengkan kepalanya kala melihat itu.


Hanaf, benar-benar sudah lupa daratan.


Harta dan tahta , membutanya merasa jadi orang paling tinggi di dunia ini.


Kembali ke Polres, Hanaf sudah didampingi dua pengacaranya, Anwar dan Rudi.


Tapi meski begitu, Hanaf tetap ditahan sebagai tersangka dan tak bisa mengajukan sebagai tahanan kota. Hal ini karena sebelumnya, Hanaf melakukan perlawanan ketika hendak ditangkap.


Brak!


Keras, Hanaf menggebrak meja penyidik itu.


“Kalian tahu siapa aku? Hah? Berani-beraninya kalian ingin menahanku!” bentak Hanaf, rahangnya mengeras, merasa tidak terima.


Beberapa polisi kemudian bertindak cepat untuk mencekal tubuh Hanaf, hingga Hanaf tak bisa bergerak lagi.


“Lepas!” pekiknya, namun tak ada yang peduli.


Hanaf kemudian menatap Bagas yang juga ada di ruangan itu, menatap dengan tatapannya yang tajam.


“Tunggu pembalasanku!” ancam Hanaf sengit.


Hanaf sadar satu hal, jika ini semua adalah ulah sang adik. Hanan lah yang mencari Roy untuk mengungkap surat wasiat itu dan mengumpulkan semua barang bukti tentang penggelaman uangnya. Menyadari itu, Hanaf sungguh marah dan merasa begitu benci.


Diancam seperti itu, Bagas tak takut sedikitpun. Ia malah bangkit dari duduknya dan menghampiri Hanaf.


“Maaf Pak, tapi saat ini Anda tidak bisa melakukan apapun. Ibu Mariam dan Ibu Nadia sudah tahu semuanya, brangkas itu udah terbuka.”


Deg!


Seketika, Hanaf tersentak.


Matanya membola, seolah tidak percaya atas apa yang didengarnya dari Bagas.


Ia bahkan menggeleng pelan, Tidak! Batinnya. Lalu kembali menatap sengit Bagas.


“Mama dan istriku tidak akan mempercayai kalian,” balas Hanaf.


Belum sempat Bagas menjawapi, Hanaf sudah ditarik oleh beberapa polisi yang mencekal tubuhnya. Hanaf ditarik untuk segera ditahan.


“lepas!” teriak Hanaf, memberontak.


Namun usahanya itu tak membuahkan hasil sedikitpun.


Dan malam itu juga, ia mendekam di penjara.