
Setelah menumpahkan semua cairan laharnya di dalam tubuh Felli, kini keduanya saling memeluk erat.
Menikmati denyutan akhir yang masih begitu terasa. Setelah beberapa detik lalu sama-sama terbang ke nirwana.
Lagi, sedikit mengangkat tubuhnya, menatap sang kekasih yang masih berada dikungkungannya. Memperhatikan tubuh polos yang kini sudah banyak tercetak tanda merah.
Felli, menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Merasa malu kala sang kekasih terus menatapi dada sintalnya yang masih menegang.
Bagas tersenyum, mengambil kedua tangan itu dan menariknya keatas.
"Kenapa ditutupi? aku masih mau menikmatinya," desis Bagas, tepat ditelinga Felli hingga membuat gadis ini meremang.
Baru saja keduanya mendapatkan pelepasan. Ternyata Bagas masih menginginkannya lagi.
Terbukti dengan senjata itu yang masih terus menegang hebat. begitu terasa dibibir inti Felli yang sangat lembut.
"Mas, bagaimana jika aku hamil?" tanya Felli, ingat keduanya tak menggunakan pengaman dan sama-sama tak bisa menahan diri.
"Kenapa tanya kenapa? tentu saja aku akan menikahimu," balas Bagas, keduanya terus berbicara dengan lirih. Tak ingin membuat bany Noah terbangun.
Mendengar kata menikah, tentu saja Felli merasa berbunga-bunga, ia bahkan langsung tersenyum saat itu juga.
Seolah semakin berani untuk menyerahkan dirinya.
Felli bahkan bergerak bangkit dari tidurnya dan kini duduk diatas pangkuan Bagas, masih dengan tubuh keduanya yang menyatu, tak ingin lepas.
Menciptakan getaran nikmat saat keduanya saling bergerak.
"Bagaimana bisa Mas jadi pria yang membayarku waktu itu? seingatku namanya bukan Bagas," tanya Felli, seraya menerka-nerka kejadian beberapa bulan lalu. Sudah cukup lama.
Bagas tersenyum, ia lebih dulu membuat pinggang Felli bergerak baru mulai menjawab.
"Aku melihatmu saat berdiri didepan apartemen pak Hanan, sejak saat itu aku menyelidiku." balas Bagas jujur, matanya sejenak terpejam kala menikmati gerakan Felli diatas tubuhnya. Gerakan yang membuatnya candu.
Lalu saat membuka mata, ia langsung melumaati kedua benda Sintal itu. Felli melenguh, hanya mampu makin menggeliat dan mencengkram kuat rambut sang kekasih.
"Kenapa baru sekarang Mas mengatakannya padaku?" tanya Felli lagi, sebuah pertanyaan yang terdengar penuh dengan lenguhan.
"Karena aku ingin membuatmu jatuh cinta dulu padaku," jawab Bagas, lalu kembali melancarkan aksinya menikmati pucuk hitam itu.
Felli mengang, kala Bagas menyesapnya kuat, terasa sakit dan nikmat sekaligus.
Tahu sang kekasih kesakitan, Bagas pun mulai menggunakan lidahnya untuk meredam sakit itu.
Dan Felli makin bergerak tak menentu. Diposisi seperti ini membuat ia mudah sekali mendapatkan pelepasan.
Seolah atas dan bawah mendapatkan perlakuan yang pas.
"Mas," lenguh Felli saat gelombang itu nyaris datang. Dan Bagas makin meremaas kuat dada itu, membuat Felli akhirnya mendesah panjang.
Lalu ambruk didada bidang sang kekasih.
Bagas tersenyum. Ia suka sekali kala melihat wajah Felli saat pelepasan.
Tak ingin menyudahi, Bagas pun kembali membaringkan tubuh kekasihnya itu diatas ranjang.
Membalik tubuh Felli dan mulai menyerangnya dari belakang. Mulai bergerak maju mundur dengan menikmati indahnya lekukan tubuh kekasihnya itu.
Felli hanya mampu menutup mulutnya rapat-rapat, saat serangan membabi buta yang Bagas berikan membuatnya benar-benar malayang.
Dan entah dimenit keberapa, keduanya kembali tumpah bersama-sama. Bagas makin mendorong miliknya masuk lebih dalam, menikmati denyutan indah yang ia rasakan.
Dengan napas yang masih memburu, Bagas mulai menarik intinya keluar.
Lalu membisikkan kata-kata manis ditelinga sang kekasih yang sudah terkapar lemas.
"Sayang, aku akan mengurus syarat-syarat pernikahan kita, jadi setelah masalah pak Hanan selesai kita bisa langsung menikah," bisik Bagas, hingga membuat mafa Felli yang terpejam mulai terbuka.
"Sekarang aku akan turun, sebentar lagi subuh. Bersihkan tubuhmu," timpal Bagas lagi seraya menyentuh inti tubuh sang kekasih yang sudah sangat basah.
"Mas," lirih Felli, karena Bagas tak hanya menyentuhnya, namun memutar-mutar jarinya, menggoda.
Dengan terkekeh, Bagas mulai bangkit, memakai bajunya kembali dan keluar dari kamar itu dengan mengendap-ngendap seperti perncuri.
Memberikan ciuman jarak jauh sebelum akhirnya benar-benar menutup pintu.
Dan melihat itu, Felli malah makin tersipu, ia bahkan langsung menarik bantal dan menutupi wajahnya yang malu-malu.
Lalu berguling kesana kemari dengan tubuhnya yang masih polos itu.
Merasa sangat bahagia.