MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR BAB 67 - Hanya Titipan



Menggeliat, Sena diatas tubuh sang suami.


Menggerakkan tubuhnya pelan-pelan, agar mobil yang mereka naiki tidak sampai bergoyang.


Sudah lama, mereka tidak melakukan percintaan didalam mobil. Dan ternyata, mereka berdua sama-sama merindukan sensani ini.


Bercinta, diantara takut ketahuan semua orang.


Keduanya terkekeh, saat pelepasan itu mereka dapatkan bersama.


Sena tak membuka bajunya, namun kedua isi dada itu ia keluarkan hingga menyembul.


Bergerak naik turun seirama dengan gerakan tubuhnya.


"Apa anda puas?" tanya Sena, dengan gayanya yang nakal.


Beberapa menit lalu, ia sudah memberikan pelayanan plus-plus pada sang suami didalam mobil ini. Bahkan hingga kinipun tubuh keduanya masih menyatu.


Masih sama-sama menyisahkan sedikit denyut-denyut akhir.


"Sangat puas," balas Hanan, jujur.


Keduanya kembali terkekeh, Sena sedikit menundukkan kepalanya saat melihat ada beberapa orang yang datang.


Kemudian berlalu dengan mobil mereka masing-masing.


Dirasa aman, Sena pun mulai mencabut diri. Membersihkan inti tubuhnya mengunakan tissue.


Dan dirasa sudah rapi.


Mereka segera bergegas pulang.


Hanan, hanya mengantar istrinya hingga sampai di depan teras rumah. Ia tak ikut masuk, Hanan kembali pergi menuju ExstraFood.


Berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan kondisi perusahaan milik keluarganya itu agar kembali stabil.


Sena masuk, dan melihat tak ada siapapun disana. Feli dan Noah mungkin berada di kamar.


Lalu mama Mariam?


Meski takut-takut, Sena pun memberanikan diri untuk menemui ibu mertuanya itu.


Berdiri didepan pintu kamar sang ibu mertua dan mulai mengetuknya secara perlahan.


"Ma?" panggil Sena, sedikit meninggikan suaranya.


Sayup-sayup terdengar, Mariam yang memintanya untuk masuk.


Dan dengan perlahan, Sena pun membuka pintu itu, melihat sang ibu mertua yang duduk disisi ranjang, tersenyum menyambut kedatangannya.


Sesaat, Sena seperti melihat wajah suaminya diwajah sang ibu mertua.


Mereka sama-sama tersenyum, namun nampak jelas jika itu hanyalah senyum yang dipaksa.


Mariam tahu, Sena baru saja pulang dari menjenguk Hanaf. Tapi Mariam, memilih tidak peduli.


Selepas percintaan mereka di dalam mobil tadi, Hanan akhirnya menceritakan semuanya kepada Sena.


Tentang Hanaf yang sudah babak belur saat pertama kali ia lihat. Tentang Hanaf yanh sudah berulang kali mengucapkan kata maaf. Tenang Hanaf yang sangat memohon agar sang ibu dan istrinya bersedia untuk menjenguk.


Jujur saja, Sena pun merasa iba pada iparnya itu. Apalagi saat sang suami juga memintanya untuk membujuk Mariam agar mau menemui sang kakak.


Meski ragu, namun kini Sena ingin mencobanya.


"Mama sudah makan?" tanya Sena, mulai membuka mulutnya, berbicara.


Dilihatnya, Mariam menganggukkan kepala.


"Maaf ya sayang, dihari-hari bahagia kamu dan Hanan, keluarga kita malah jadi seperti ini," balas Mariam dengan tatapannya yang sendu.


Mariam terus saja menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi.


Buru-buru, Sena menggeleng.


"Mama jangan meminta maaf, Mama tidak salah," jawab Sena cepat.


"Aku dan mas Hanan juga baik-baik saja Ma, kami tidak terpuruk, tidak marah ataupun kesal," timpal Sena lagi, menggebu.


Sena sungguh tak ingin Mariam terus merasa bersalah seperti ini.


Sena hendak kembali berucap, namun segera terhenti saat ia melihat sang ibu mertua menangis.


Air mata Mariam jatuh tak bisa dibendung.


Dan Sena sungguh tak tahu harus bagaimana. Akhirnya Sena, hanya memeluk sang ibu erat.


Mencoba memberikan ketenangan, mencoba menunjukkan bahwa mereka bisa menghadapi ini semua.


"Sen, saat ini kondisi perusahaan tidak baik. Jika perusahaan kita bangkrut apa kamu masih bersedia jadi istrinya Hanan? jadi menantu mama?" tanya Mariam, diantara isak tangisnya.


Tentang Sena, juga selalu ia pikirkan. Harusnya saat ini Sena dan Hanan menikmati waktu mereka berdua.


Namun Hanan, kini dituntut untuk menyelesaikan masalah diperusahaan dan pasti akan menyita waktunya.


"Ma, kenapa bicara seperti itu, apapun yang terjadi, aku akan tetap jadi istri mas Hanan, menantu mama," jawab Sena, yakin.


"Meskipun kita jatuh miskin?"


Sena mengangguk.


"Kita semua memang miskin Ma, semua yang kita punya hanya titipan," jawab Sena, hingga membuat Mariam tersenyum.


Bersyukur, ia bertemu dengan seorang gadis bernama Sena, yang kini menjadi menantunya.