
Waktu berlalu semakin cepat. Tidak terasa sidang putusan atas kasus yang menimpa Hanaf akhirnya di gelar, hari ini juga. Duduk di kursi terdakwa, Hanaf terus mendengarkan pasal demi pasal yang menjeratnya.
Serta hukuman yang akan dia terima. Dia menunduk dalam merasa bersalah. Dalam hati kecilnya dia menangis, menyesali segala perbuatannya dahulu.
Apalagi pengkhianatannya di belakang Nadia, dosa itu terasa berputar-putar memenuhi otaknya, dan membuatnya hampir gila. Kini, satu-satunya wanita yang mampu menerima dia apa adanya, harus dia lepas dengan terpaksa.
Kelak dia harus menerima bahwa Nadia bukan lagi istrinya.
Hanan terlihat datang sendiri dalam sidang putusan tersebut. Mendampingi sang kakak. Sementara Mariam, masih belum mau menemui putra sulungny itu, entah kenapa setiap mengingat Hanaf, rasa bersalahnya kepada Nadia muncul secara bersamaan.
Dan hal itu membuat dadanya terasa sesak.
Sebenarnya aku tidak tega melihatmu seperti ini, Mas. Tapi kalau tidak aku lakukan, kamu tidak akan pernah berpikir untuk memperbaiki semuanya.
Hanan membatin sambil terus menatap Hanaf yang tertunduk lesu, dia bisa mendengar dengan jelas, hukuman yang diterima sang kakak, yaitu hukuman lima belas tahun penjara.
Akhirnya, hari itu Hanaf benar-benar resmi menjadi seorang tahanan.
Belum kering luka yang lama, Hanaf harus kembali dengan sebuah kenyataan pahit. Karena hari berikutnya, ketuk palu dari pengadilan agama membuatnya resmi bercerai dengan wanita yang dicintainya, Nadia.
Setetes cairan bening meleleh, membasahi pelupuk mata Hanaf. Dunianya benar-benar runtuh seketika. Semua yang ia punya, pergi begitu saja, lenyap tak tersisa.
Tak berbeda dengan Hanaf, Nadia pun sempat menitikkan air mata, cairan bening itu tiba-tiba mengalir begitu saja saat ketuk palu itu merubah statusnya menjadi seorang janda.
Dan Saka benar-benar menepati janjinya, dia datang bersama Mariam dan juga Sena. Awalnya dia sempat protes pada kedua wanita itu.
Yang dia mau, hanya dirinyalah yang mendampingi Nadia.
"Cih, menganggu saja." Gerutu Saka.
Dengan setia Saka duduk di samping Nadia. Setelah sidang perceraian itu berakhir, Saka tak bisa menahan diri lagi, melihat Nadia yang menangis, membuat hatinya ikut merasakan sakit, pelan dia menarik Nadia untuk bersandar di bahunya.
"Percayalah, Mbak. Setelah ini, kamu tidak akan menangis lagi, aku akan membuatmu tersenyum, setiap hari." Ucap Saka meyakinkan, membuat tangis Nadia semakin pecah.
Wanita itu menggigit bibir bawahnya kuat, sedangkan tangannya terus memegang dada. Saka membiarkan ibu dua anak itu melepaskan bebannya.
Hingga di rasa Nadia cukup tenang, Saka memiringkan tubuhnya, dan menatap Nadia yang menundukkan kepala.
Pelan, ibu jari itu mengusap pipi mulus Nadia, hingga Nadia akhirnya mengangkat kepala. Dia menatap Saka, yang menatapnya pula.
"Sudah, jangan menangis terus, nanti cantiknya ilang lho. Aku bisa pindah ke lain hati, kalo Mbak Nanad jelek."
Dan ucapan itu membuat Nadia memukul dada Saka. "Cih, katanya kamu setia."
Nadia mengelap sisa-sisa air matanya tak jadi menangis lagi, sedangkan Saka terkekeh.
"Kalo Mbak Nanad nggak nangis aku setia, kalo nangis terus ya tahu deh." Ucap Saka bercanda, Nadia mencebikkan bibirnya, membuat Saka semakin terkekeh karena gemas.
"Udah yah, jangan nangis lagi. Pokoknya sampe kapanpun, Saka bakal setia sama Mbak Nanad. Tapi kalo Mbak Nanadnya nolak aku terus ya jangan salahin aku."
"Mau apa kamu?"
"Jalur peletlah, selagi masih ada kesempatan buat dapetin Mbak Nanad kenapa nggak? Betul tidak?"
"Cih, dasar gombal aja!"