MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR BAB 76 - Saka Si Tukang Gerutu



Seharusnya selama 3 jam perjalanan mereka semua sudah bisa sampai di desa Sena dan Felli. Namun karena seringnya berhenti, mereka jadi butuh waktu lebih lama.


4 jam 30 menit perjalanan, akhirnya mereka baru sampai.


Di sambut dengan huru hara yang lebih parah ketimbang Hanan dulu. Membuat pemimpin ExstraFood ini berdecak kesal, bagaimana bisa pernikahan asistennya jauh lebih meriah ketimbang pernikahan dirinya?


"Sepertinya aku terlalu banyak memberi gaji pada Bagas!" umpat Hanan dan di dengar jelas oleh sang istri.


Sena bahkan langsung mencubit gemas pinggang suaminya ini. Dari tadi menggerutu terus. Padahal di tangannya masih menggendong baby Noah.


Rombongan mereka terpisah.


Keluarga Hanan semuanya bermalam di rumah Sena sementara keluarga Bagas di rumah pak RT.


Rumah Sena sudah di renovasi, di tambah banyak kamar agar jika besannya dari Jakarta kemari ada tempat untuk menginap.


Mereka semua masuk ke sana dan sedikit terkejut saat melihat seorang pria yang wajahnya asing. Namun tidak dengan Sena yang begitu familiar dengan wajah itu.


Wajah sang kakak, Saka yang ternyata sudah kembali.


Canggung pun terjadi, apalagi dari semua orang yang datang Saka terus menatap tajam ke arah Hanan, pun Hanan yang membalas tatapan itu tak kalah tajamnya.


Meski belum pernah bertemu namun Hanan yakin 100 persen jika pria ini adalah kakaknya Sena. Saka dan Sena begitu mirip. Meski tidak kembar tapi keduanya bak pinang dibelah dua.


Versi perempuan dan versi laki-laki.


"Ayo Bu masuk," ajak Sarni pada besannya, Mariam dan semua keluarga.


Memutuskan tatapan tajam antara anak laki-laki dan menantunya.


"Langsung istirahat di kamar saja yuk," ajak Sarni lagi, dan mengantarkan semua orang menuju kamarnya masing-masing. Aksa dan Axel akan tidur bersama Saka.


"Mentang-mentang aku belum nikah disuruh tidur sama bocil," gerutu Saka, meski begitu ia mempersilahkan kedua remaja itu untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Iya, mama Nadia."


"Nama yang cantik," seloroh Saka, padahal ia menilai wajah cantik Nadia.


"Kalian istirahatlah, Om akan keluar," timpal Saka lagi lalu meninggalkan Aksa dan Axel di kamarnya.


Saka keluar, mencari keberadaan sang adik dan ipar untuk di tatar tapi kemana-mana mencari ia tidak menemukan batang hidung kedua orang itu.


Dan Saka tahu betul dimana kini Sena dan Hanan berada, pasti di dalam kamar.


"Mentang-mentang sudah nikah, maunya di dalam kamar terus," gerutu Saka.


Saka si tukang gerutu.


Merasa kesal, Saka pun berniat mendobrak pintu kamar adiknya itu. Namun langkahnya urung saat tiba-tiba sang ibu datang dengan menggendong seorang bayi kecil di kedua tangannya.


"Jangan ganggu Sena Ka, nih gendong keponakan kamu!" titah Sarni pada sang anak.


Saka yang diperintah hanya bisa terpaku, kedua tangan yang biasa ia gunakan untuk memegang obeng di bengkel kini malah menggendong bayi mungil dan lucu.


"Jangan siksa aku begini Mak, cara yang lain saja," rengek Saka seolah ingin menangis.


Ya, 2 hari hari lalu Saka pulang, sujud sujud mohon ampun kepada kedua orang tuanya karena selama ini selalu mengecewakan mereka. Suka mabuk-mabukan bahkan bersikap kasar.


Merantau ke Jakarta ternyata Saka tidak ada apa-apanya, di sana lebih banyak pria brengsek dibanding dia.


Jika di kampung Saka suka membuli orang maka di Jakarta malah dia yang di buli.


Akhirnya Saka pindah haluan, dari brandal dan mulai bekerja di bengkel. Lalu lambat laun punya bengkel sendiri di Jakarta sana.


Merasa cukup sukses, Saka pun kembali pulang ke Palembang dan meminta maaf pada kedua orang tuanya.