MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR BAB 70 - Memilih Lupa



Kembali ke kamarnya sendiri, Hanan tak melihat sang istri dimana-mana.


Namun terdengar olehnya suara gemericik air di dalam kamar mandi.


Ia mengira, Sena hanya membasuh wajahnya, namun ternyata Sena malah mandi.


Keluar dari dalam kamar mandi itu hanya menggunakan handuk yang meliliti setengah tubuhnya. Bahu dan kedua kaki jenjang itu terpampang nyata.


"Kamu sudah mandi?" tanya Hanan, ketus. Ia menahan langkah sang istri, menahan Sena dengan tubuh tegapnya yang berdiri didepan Sena, menghalau jalan.


Sena, mulai merasakan firasat buruk, ia bahkan sampai memegangi handuknya erat.


"Ke-kenapa memangnya?" tanya Sena gugup, berbicara setelah ia mengumpulkan banyak keberanian.


"Harusnya tunggu aku," balas Hanan cepat. Mendengar itu, Sena mencebik, lupa jika tadi suaminya memang memintanya untuk menunggu.


Namun merasa Hanan akan kembali ke kamar masih lama, Sena malah mandi lebih dulu.


"Maaf sayang, aku lupa," pinta Sena sungguh-sungguh.


Hanan menghembuskan napasnya, lalu melenggangkan kedua tangannya diipinggang.


"Aku tidak butuh maaf," jawab Hanan, mengintimisadi. Ingin tahu bagaimana cara Sena untuk membujuknya.


"Jangan marah, nanti sora kan bisa mandi sama-sama." Sena, memegang dada suaminya, mengelusnya pelan agar tidak marah-marah.


"Nanti sore aku belum tentu pulang, aku masih harus lembur, karena itulah aku ingin memiliki waktu bedua denganmu pagi ini. Tapi kamu malah tidak menungguku."


Sena mencebik, suaminya ini paling bisa membuat ia jadi merasa bersalah.


"Kita bisa melakukannya disini, tidak perlu ke kamar mandi," balas Sena lagi yang sungguh tak ingin membuat suaminya kesal apalagi sampai marah.


Sadar jika ia salah, Sena lebih memilih untuk menyerahkan dirinya lebih dulu.


Dengan sendirinya, Sena menanggalkan handuk berwarna putih itu hingga terjatuh begitu saja diatas lantai.


"Jangan marah-marah, mas kan sudah tua, nanti kena darah tinggi lo," ucap Sena, ia bahkan mulai membuka baju koko yang dikenakan suaminya itu, membuka kancingnya hingga satu persatu.


"Dadamu semakin besar ya Sen," jawab Hanan, tidak nyambung.


Namun berhasil membuat kedua pucuk yang sedang dibicarakan itu menegang seketika.


Sena bahkan makin berdesir kala menyadari sang suami tengah menatap lekat liuk tibuhnya.


"Aku akan memberikanmu hukuman," ucap Hanan dengan suaranya yang sensual. Setelah bajunya berhasil dibuka sang istri, Hanan lalu mendorong tubuh istrinya itu hingga duduk disi ranjang.


Membuka kaki Sena lebar-lebar dan mulai memainkan jemarinya diinti yang sudah basah itu.


Sena melenguh, hanya dengan beberala jari yang dimainkan sang suami sudah mampu membuatnya melayang hingga ke nirwana sana.


"Remas dadamu sendiri," pinta Hanan dan Sena menurutinya.


Melihat wajah sang istri yang nampak menikmati itu, membuat Hanan memiliki kepuasan tersendiri.


Dan entak dimenit keberapa, Hanan akhirnya menyentak tubuh istrinya itu dengan kuat.


Ia melakukan penyatuan dengan tubuhnya yang berdiri disisi ranjang.


Sena sudah tak berkutik, berada dibawah kuasa suaminya ia hanya mampu mendesaah dan melenguh.


"Lain kali jangan lupa dengan keinginanku," ucap Hanan, diantara hentakkannya yang membabi buta, hingga membuat tubu istrinya terombang ambing.


"Kalau hukumannya seperti ini, aku akan terus memilih lupa, ah!" jerit Sena, karena sang suami menghentaknya kuat.


"Istri nakal," balas Hanan, keduanya terkekeh lalu kembali beradu hingga mendapatkan kenikmatan yang sama-sama mereka cari.


Pagi itu, Hanan kembali menumpahkan laharnya di inti tubuh sang istri. Hanan juga sangat berharap, jika benih-benih itu tak hanya terbuang sia-sia. Ia ingin, Sensen segera mengandung anaknya.