MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR BAB 61 - Mendadak Miskin



Sena dan Felli kembali ke rumah setelah cukup lama mereka berkeliling menggunakan mobil.


Bahkan saat ini Noah sudah tertidur dalam gendongan ibu sambungnya.


Noah, tertidur pulas di gendongan Sena.


Sampai di dalam sana, rumah itu nampak begitu sepi. Tidak seperti tadi yang begitu gaduh.


Sena dan Feli naik ke lantai 2, menuju kamar Noah.


"Fel, aku keluar ya," pamit Sena setelah ia menidurkan sang anak di dalam boxs bayi.


Sena melihat, Felli yang menganggukkan kepalanya.


"Pergilah, jika ada apa-apa segera beri tahu aku," jawab Felli kemudian.


Baik Sena ataupun Felli, keduanya sama-sama merasa jika keadaan di rumah ini sedang tidak baik.


Setelah berpamitan pada sang sepupu, Sena segera menuju kamarnya sendiri. Berharap jija suaminya itu berada di dalam sana.


Dengan tergesa, Sena membuka pintu kamar.


Ia masuk dan mengedarkan pandanganya, memindai tiap sudut ruangan dan tak menemukan siapapun disana.


Suaminya tak ada dan hanya menyisahkan ia seorang diri.


Seketika, tenggorokan Sena terasa tercekak. Entah kenapa, ia merasa menjadi istri yanh tak berguna.


Hanya tahu masalah ranjang dan bukan yang lainnya.


Disaat suaminya itu memiliki beban, Sena tidak bisa membantu meringankannya.


Menyadari itu, dada Sena langsung terasa sesak.


"Ku pikir kamu disini Mas," gumam Sena pelan, dengan kedua netranya yang mulai berkaca-kaca.


"Aku memang berada disini," jawab Hanan seraya memeluk tubuh sang istri dari arah belakang.


Seketika Sena tersentak, ia bahkan langsung menyentuh kedua tangan besar yang melingkari tubuhnya.


Hanan, baru saja dari kamar sang ibu. Mengantar sang ibu ke kamar sana setelag banyak kejadian tadi.


Nadia pun sudah bergegas pulang.


Saat menuju kamarnya, Hanan, melihat pintu kamar yang terbuka lebar. Dengam Sena yang memunggungi pintu itu.


"Kamu tadi kemana?" tanya Hanan, ia semakin memeluk erat tubuh sang istri, bahkan berulang kali menciumi tengkuk istrinya yang tebuka itu.


Sena, saat ini mengikat rambutnya tinggi seperti ekor kuda.


"Tidak kemana-mana, hanya terus berkeliling," jawab Sena apa adanya, dan terdengar begitu banyak kekesalan.


Menyadari istrinya tengah marah, Hanan malah tersenyum kecil.


Makin menenggelamkan kepalany diceruk leher sang istri.


Lalu dengan sendirinya, Hanan menceritakan semuanya pada istrunya itu. .Tentang surat wasiat asli milik sang ayah, tentang Nadia kakak ipar mereka, dan tentang Hanaf yang akan dipenjarakan.


Mendengar cerita sang suami, Sena, hanya tergugu.


Kehidupan orang kaya, memang terasa begitu mengerikan bagi dirinya. bahkan demi harta, mereka bahkan tak segan untuk saling membunuh.


"Bagaimana kabar mbak Nadia sekarang? dia baik-baik saja Mas?" tanya Sena beruntun, cemas. jujur saja, ia merasa begitu iba pada kakak iparnya itu.


Yang ternyata selama beberapa tahun ini sudah tahu semua penghianatan sang suami, lalu menutupi kebejatan suaminya pula.


Bahkan masih mampu menjaga kehormatan suaminya itu didepan semua keluarga.


"Mbak Nadia baik-baik saja sayang, dia menyerahkan semua kasus ini padaku dan dia memutuskan untuk pergi ke Bandung. Mbak Nadia juga akan mengajak Axel dan Aska ikut bersamanya."


Mendengar itu, Sena mengangguk kecil.


Satu tangannya naik, menghapus air mata yang entah kapan mengalirnya. Mungkin tadi, saat mereka membicarakan tentang Nadia dan juga tentang Mariam.


"Mas, janji satu hal padaku," ucap Sena, ia berbalik dan menatap sang suami lekat. Menggantungkan pula kedua tangannya di bahu sang suami.


"Janji apa?"


"Janji bahwa kita akan tetap bersama meskipun kita mendadak hidup miskin," jelas Sena, polos. Ia sungguh tak ingin harta mempengaruhi pernikahan mereka.


Namun mendengar itu, Hanan malah mengulum senyumnya, merasa lucu.


"Baiklah, tapi sebelumnya, kembalikan dulu black card ku." jawab Hanan, bercanda.


Namun seketika, Sena, mencebik, "Tidak mau," jawabnya ketus.


Hingga membuat Hanan tak kuasa untuk tidak menyesap bibir ranum yang menyebalkan itu. Menyesapnya dalam, hingga keduanya saling melilit.