MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR BAB 48 - Mengangguk, Patuh



Tak mengulur waktu, setelah mengantar sang istri ke dalam kamar bersama dengan Noah. Hanan segera pergi ke ruang CCTV, semua rekaman CCTV rumah ini berada di ruang kerja sang


ayah dulu.


Namun sayang, saat hendak membuka pintu ruangan itu ternyata ruangannya terkunci.


“Mungkin disimpan mama,” gumam Hanan pelan, lalu berjalan menuju kamar sang ibu yang tak jauh dari sana.


Setelah mengetuk pintu dan mendapatkan izin masuk, Hanan segera membuka pintu kamar itu.


Dilihatnya, sang ibu sedang dipijat oleh mbok Darti.


“Ada apa Han?” tanya Mariam saat anak bungsunga itu sudah berdiri disisi ranjang.


“Mama menyimpan kunci ruang kerja Papa? Aku ada perlu,” jawab Hanan apa adanya dan Mariam mengungguk kecil.


“Sebenarnya kunci yang asli disimpan kakakmu, tapi kemarin mama buat duplikatnya, ada dilaci bawah,” jelas Mariam seraya menunjuk laci di meja nakas samping tempat tidurnya.


Mendengar  penjelasan sang ibu, Hanan mengerutkan dahinya, "untuk apa Hanaf menyimpan kunci ruangan itu?” tanya Hanan dengan nada tak suka.


“Han, panggil dia Mas.”


“Hem.” Jawab Hanan kesal.


“Mama tidak tahu, dulu dia mau pinjam, tapi pas mama minta tidak diberinya lagi, mama minta bantuan Nadia untuk dupikat kunci itu.”


Hanan hanya menganggukan kepalanya lalu pamit pergi ketika sudah mendapatan kunci yang dicari olehnya.


Tanpa menunda, Hanan segera kembali ke ruang kerja sang ayah dan mulai masuk kesana. Memeriksa rekaman CCTV  saat tadi  ia berada di kamar Noah.


Hanan berdecih, kala melihat rekaman CCTV itu. Ternyata benar yang diucapkan oleh Nadia. Setelah menuntup pintu kamar Noah, Tia tak benar-benar pergi, namun kembali membuka pintu secara perlahan dan mulai menguping pembicarannya dan sang istri.


Lalu tak lama kemudian barulah Tia pergi dan Nadia datang.


“Lora, Lora, apa hukumanmu kurang? Berani-beraninya masih mengusik hidupku.” Geram Hanan. Kemarahannya sudah diubun-ubun, ia segera keluar dari ruangan itu dan memanggil Tia.


Dan disinilah kini, Hanan duduk di ruang tengah dan menatap tajam Tia yang berdiri tak jauh dari hadapannya.


"Mulai sekarang kamu ku pecat, segera kemasi barangmu dan pergi dari rumah ini," ucap Hanan dingin, tak peduli meski melihat Tia yang ketakutan.


"Apa salah saya Pak? kenapa saya dipecat?" tanya Tia setelah cukup lama terdiam, memberanikan diri untuk buka suara.


Hanan menyeringai, siapa Tia sampai Hanan harus repot-repot menjelaskan.


"Apa yang dikatakan Lora padamu?" tanya Hanan yang tak menanggapi pertanyaam Tia tadi.


Mendengar nama Lora disebut, kedua kaki Tia bergetar. Ia meremat kedua tangannya merasa takut.


Kalang kabut, akhirnya Tia memutuskan untuk bersimpuh dan memohon maaf.


"Maaf Pak, maafkan saya," ucap Tia langsung, lalu ia jujur mengatakan semuanya, tentang Noah dan Sena.


Tapi sayang, kejujuran Tia itu tak mengubah sedikitpun keputusan Hanan. Saat itu juga, Hanan meminta Tia untuk segera pergi.


Bahkan Nadia pun datang kesana dan mendukung keputusan Hanan itu. Nadia berpesan pada Tia agar lain kali bekerja dengan tulus, tanpa harus ikut campur masalah sang majikan.


Tia menangis, tak bisa berbuat apa-apa.


Selesai dengan masalah Tia, Hanan langsung menemui istrinya di dalam kamar. Sementara Nadia membantu mbok Darti menyiapkan makan siang.


Hanan masuk dan melihat istri dan anaknya yang malah terlelap.


Melihat itu, Hanan tersenyum, merasa lucu.


Jika dilihat-lihat, Sena tak nampak seperti ibu sambung, melainkam kakak dari Noah.


"Apa aku setua itu?" gumam Hanan kemudian. Sesaat ia merasa tak percaya diri saat melihat wajah lugu Sena.


"Sayang," ucap Hanan, ia duduk disisi ranjang dan mengelus pundak sang istri dengan lembut.


Sena menggeliat dan melihat suaminya itu sudah kembali, Hanan pergi cukup lama, mungkin ada sekitar 1 jam.


"Kenapa lama sekali?" tanya Sena, ia memutar tubuhnya dan menatap sang suami. Matanya masih terus mengerjab, menyesuaikam cahaya yang masuk.


"Kamu lelah?" tanya Hanan tidak nyambung dan Sena mengangguk, gila jika dia tidak lelah, semalam 3 ronde dan tadi pagi 1 ronde. Tak hanya lelah, tapi dia juga merasa perih dibawah sana.


Mendengar itu, sontak kedua mata Sena terbelalak. Tak menyangka. Padahal kata Felli, Tia adalah gadis yang baik.


"Nanti aku akan cari babysister yang baru," timpal Hanan lagi dan Sena menggeleng dengan cepat.


"Tidak usah sayang, kan sudah ada aku, biar aku yang merawat Noah," ucap Sena tulus, ia sungguh-sungguh ihklas merawat bayi mungil ini.


"Aku juga tidak mau kejadian seperti mbak Tia terulang lagi, " jelas Sena lagi mencari alasan, alasan agar suaminya itu menggagalkan niatnya untuk mencari babysister yang baru.


Hanan tak langsung menanggapi, masih nampak berpikir.


"Bagaimana jika babysister yang baru adalah Felli, apa kamu akan menolak?" tanya Hanan dengan senyumnya yang khas, senyum licik.


Mendapat tawaran itu Sena langsung mencubit lengan suaminya cukup keras.


"Kalau itu aku tidak akan menolak," jawab Sena jujur.


"Sensen Sensen," balas Hanan, ia lalu menunduk dan mengecup sekilas bibir sang istri.


"Aku akan meminta Bagas untuk menjemput Felli, Besok dia sudah ada disini."


Sena, mengangguk antusias.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dan sesuai dengan ucapan Hanan, pagi ini ia memerintahkan Bagas untuk ke Palembang. Bukan urusam bisnis penting, namun masalah rumah tangga yang darurat.


Sampai-sampai ia harus kembali ke Palembang menggunakam helikopter itu.


Menjemput Felli.


Sampai di lapangan terbuka di desa itu, Bagas turun.


Berjalan dengan langkah tegap menuju rumah Felli, sebelumnya ia sudah lebih dulu ke rumah mertua sang Tuan, memberikan oleh-oleh.


Dan disinilah kini Bagas berdiri, tepat di hadapan rumah Felli.


Tanpa mengulur waktu, Bagas segera mengetuk pintu rumah itu. Dan tak berselang lama, pintu terbuka. Felli sendirilah yang membuka pintu itu.


Seketika semburat rona merah memenuhi kedua pipi Felli, ia sedikit menunduk merasa malu.


"Silahkan masuk Pak, maaf saya belum siap-siap, bapak datangnya cepat sekali," ucap Felli seraya membuka pintu rumahnya lebar-lebar.


Bagas melepas sepatunya diluar dan segera masuk.


"Kalau begitu bersiaplah, akan aku tunggu," jawab Bagas.


Pria ini lalu menelan salivanya dengan susah payah, melihat Felli yang hanya menggunakan baju daster rumahan. Memperlihatkan kaki jenjangnya yang nampak begitu putih dan bersih.


"Cepatlah," titah Bagas lagi yang merasa tidak kuat.


Kenapa gadis-gadis di desa ini cantik semua. Batin Bagas Heran.


Saat menunggu Felli itu, Bagas duduk ditemani oleh kedua orang tua Felli.


Bapak dan Mamak Felli banyak bercerita hingga Bagas merasa tak bosan sedikitpun, ia malah merasa seperti kekasih Felli yang sedang meminta izin untuk membawa anaknya itu pergi.


Berulang kali mamak Felli mengatakan tentang menitipkan anak gadisnya itu, menegur jika dia salah dan menjaganya.


Dan Bagas hanya bisa mengangguk, patuh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sapa Author 👋


Jangan lupa dukungannya ya, Insya Allah Hanan dan Sena akan up setiap hari jam 5 subuh.


Jika berkenan, terus berikan dukungannya ya, like dan komen sebanyak-banyaknya, Vote dan juga Hadiah.


Karena dengan dukungan kalian, buat author jadi semangat nulis, meski hujan badai ataupun panas terik 🙈😆


Salam HS (Hanan & Sensen)🌹