MY SUGAR

MY SUGAR
MY SUGAR 31 - Om?



Lora masih berdiri ditempat yang sama, meski Hanan dan wanita itu sudah menghilang dari pandangannya. Hatinya sakit merasa tidak terima. Wajar saja selama ini anak buahnya tak mengetahui tentang wanita itu.


Tak sembarangan orang bisa masuk ke dalam gedung apartemen ini, bahkan securiti akan menghubungi pemilik unit apartemen secara langsung jika ada tamu yang ingin bertemu.


Lora bisa masuk dengan mudah karena petugas keamanan itu mengenalnya sebagai istri salah satu penghuni apartemen, Hanan.


"Kenapa? kenapa kamu simpan wanita itu diapartemenmu Mas? apa dia ****** yang spesial?" gumam Lora geram.


Ia berdecih, kala menyadari wanita yang dilihatnya nampak lebih muda, dalam hati kecilnya pun mengakui jika wanita itu terlihat cantik.


"Aku tidak terima Mas, disaat aku mengandung anakmu, kamu malah enak-enakan dengan ****** itu. Aku tidak terima. Aku akan buat bocah itu pergi darimu."


Dengan langkah penuh amarah, Lora pergi darisana. Tapi nanti, ia akan kembali lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di basement apartemen.


Sena dan Hanan sudah duduk rapi didalam mobil, Hanan bahkan sudah menyalakan mesinnya dan berniat keluar.


Sesaat setelah memasuki jalan raya, ponsel Sena berdering. Ada panggilan masuk dari Mamak, sang ibu menelponnya.


Seketika Sena tersentak, sejuruh kemudian hatinya dipenuhi rasa bersalah. Sudah lama sekali ia tak menghubungi sang ibu.


"Assalamualailum, Mak," jawab Sena dengan sendu.


"Walaikumsalam, kenapa suaramu lesu sekali Nak? kamu sakit?" tanya Sarni perhatian, sudah begitu lama ia menunggu kabar dari sang anak, tapi Sena tak juga kunjung menghubunginya. Ia begigu rindu, akhirnya Sarni memutuskan untuk menghubungi lebih dulu, di jam pagi yang diyakininua sang anak belum bekerja. Bukan juga waktu istirahatnya di malam hari.


Mendapat perhatian dari sang ibu, Sena malah semakin sendu.


"Maafkan Sena ya Mak, Sena sudah lama tidak menelpon Mamak. Sena baik-baik saja Mak, Mak bagaimana kabarnya? bapak sehat kan Mak?" jawab Sena dengan banyak pertanyaan pula.


Diujung sana, Sarni tersenyum getir.


"Alhamdulilah Nak, Mamak sehat. Tapi ..."


"Tapi apa?" sambung Sena dengan cepat.


"Bapak malah kena struk Nak," jawab Sarni apa adanya. Suaminya, Rudi malah kini mengalami struk.


Tak lama setelah Sena mengirimkan uang. Sarni membawa suaminya untuk berobat. Tapi bukannya sembuh, kini suaminya malah mengalami struk.


Mendengar ucapan sang ibu, Sena mendadak merasa sesak dihatinya. Air mata luruh begitu saja.


Hanan yang melihat itupun segera menepikan mobilnya, Hanan tahu yang nenelpon adalah ibu dari kekasihnya ini, tapi Hanan tidak tahu apa yang mereka bicarakan.


"Ya Allah Mak," lirih Sena diantara isak tangis, sumpah demi apapun kini ia ingin pulang. Melihat keadaan mamak dan bapaknya secara langsung.


Sarni juga bercerita jika kini ia tak lagi berdagang di pasar apung, ia membuka warung kecil-kecilan di rumah. Sarni tak tega jika harus meninggalkan suaminya seorang diri di rumah. Sarni mengatakan, jika kini ia hanya ingin merawat suaminya itu. Bekerja dan uang bukan lagi priotitasnya, karena hartapun tak dibawa mati. Hanya amal yang akan menemani.


Seperti tersambar pertir, Sena mematung kala mendengar ucapan sang ibu. Gamang, ketika mengingat semua yang sudah ia lakukan selama ini.


Hingga ia menyadari satu hal, bisa saja bapaknya sakit tambah parah karena uang haram yang ia berikan.


Sena menangis, berulang kali ia meminta maaf pada sang ibu.


"Sudah Nak, jangan menangis lagi. Kamu fokus saja berkerja disana, jaga dirimu baik-baik. Mamak dan Bapak akan selalu mendoakan kamu Sen," jelas Sarni sungguh-sungguh, sebenarnya ia hanya ingin anaknya tahu kondisi sang ayah, bukan ingin membuat Sena bersedih.


Setelah bertukar kabar panjang kali lebar itu, akhirnya panggilan terputus. Menyisahkan Sena yang menangis, dengan tatapannya yang kosong.


"Kenapa?" tanya Hanan cemas, ia hendak menyentuh lengan Sena, namun tanpa sengaja dengan cepat Sena menepisnya.


"Kenapa?" tanya Hanan lagi dengan suaranya yang terdengar dingin.


"Maaf," jawab Sena seraya memalingkan wajah.


Lagi-lagi hening, keduanya sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri.


Hanan lalu kembali memelajukan mobilnya, bukan kearah kantor, melainkan putar balik ke apartemen mereka.


Sena yang melihat itu melebarkan matanya, seraya kembali menoleh kepada Hanan. "Kenapa kembali? aku mau kerja," tanya Sena, dengan nada sedikit tidak terima.


"Hari ini liburlah, tidak usah bekerja. Kurasa keadaanmu tak cukup baik untuk bekerja," jawab Hanan, matanya lurus menatap jalanan, tak sedikitpun menoleh pada Sena.


Gadis yang matanya sudah bengkak dan memerah, juga kedua pipinya yang basah.


"Kenapa Om sesuka hati mengaturku untuk bekerja atau tidak, memangnya itu perusahaan milik Om?" tanya Sena dengan kesal, Hanan selalu saja seperti itu, bertindak semaunya seolah memiliki kuasa.


Jujur saja, dalam hati kecil Sena ia merasa tak enak hati pada rekan kerjanya yang lain, ia sering sekali tidak masuk bekerja dengan alasan yang tidak jelas.


"Om?" tanya Hanan dengan tersenyum miris. Tak peduli dengan pertanyaan Sena, ia justru sangat terganggu dengan panggilan yang diucapkan oleh sang kekasih.


Mendengar itu, Sena mengigit bibir bawahnya. Merasa bersalah, namun entah kenapa lidahnya kelu untuk mengucapkan kata maaf.


Hening, benar-benar hening.


Tak ada lagi yang buka suara hingga mobil itu kembali masuk ke dalam basement apartemen dan parkir disana.


"Turunlah," ucap Hanan memecah keheningan.


Tanpa perdebatan Sena menurut, ia turun dan segera berlalu menuju lift. Tanpa menoleh ia meninggalkan Hanan, hanya terdengar suara deru mobil yang menjauh.


Setelah Sena turun, Hanan kembali melaju keluar.


Ada sesak dihati keduanya yang tak bisa diucapkan oleh kata-kata.


Ini, adalah pertama kalinya mereka bertengkar.


Di dalam Lift itu Sena termenung. Pikirannya kacau dengan semua yang sudah terjadi. Antara dirinya, Hanan dan kedua orang tuanya.


Sena sadar, diantara mereka yang salah adalah dirinya. Bukan Hanan apalagi kedua orang tuanya.


Memang, awal Sena memulai semua ini demi Mamak dan Bapak. Tapi kedua orang tuanya pun tak pernah memintanya untuk melakukan itu. Ini semua murni keputusannya sendiri.


Dan kembali berhubungan dengan Hanan pun ia tak pernah dipaksa, ia menerimanya sendiri dengan sukarela.


Bahkan selama ini, Hanan memperlakukannya dengan amat sangat baik.


Lagi, Sena menangis. Kini rasa bersalahnya bukan hanya kepada kedua orang tuanya. Tapi juga kepada Hanan, Sena merasa bersalah karena memperlakukan Hanan dengan begitu kasar.


Disaat pria itu tidak tahu apapun yang sedang dialaminya.


"Maaf sayang," desis Sena diantara isak tangis.


Kebahagiaanya bersama Hanan, tawa canda keduanya tergambar jelas diingatan. Dan dengan mudahnya Sena menghancurkan semuanya.


Sesenggukan, Sena keluar dari dalam lift. Dan kedatangannya itu, langsung disambut dengan mata membola milik Lora.


Sedari tadi, ia menunggu di ruang tunggu lantai apartemen itu. Tempatnya persis dihadapan lift lantai 20.