
Hari itu juga, Nadia langsung kembali ke Bandung. Saka, seseorang yang sudah menempel terus pada janda anak dua itu, berniat mengantar Nadia.
Namun,Hanan tidak mengizinkan Saka untuk mengantar Nadia, dia justru menyuruh supir untuk mengantarkan mantan kakak iparnya itu.
"Apa-apaan sih kamu ini, orang aku mau nganter Mbak Nanad masa nggak boleh." Sungut Saka pada adik iparnya. Dia bertolak pinggang dengan sorot mata tak ramah.
Sedangkan Hanan tidak peduli pada tatapan mata Saka, dia justru bersikap santai. "Bukannya tidak boleh, tapi akan lebih aman diantar oleh supir." Tukas Hanan.
Dan ucapan itu membuat Saka berdecih. Mariam yang melihat perdebatan itu mengulum senyum, dia seperti melihat dua bocah yang sedang berebut mainan.
Pelan, Mariam melangkah ke arah Saka, dan mengusap bahu lelaki muda itu. "Sudah, biarkan Nadia diantar oleh supir. Lebih baik, sekarang kamu menginap di rumah Mama yah."
Mendapat perlakuan lembut itu, akhirnya Saka mengalah, dia menghembuskan nafas secara perlahan, lalu membiarkan Nadia pulang ke kampung halamannya.
"Mbak Nanad hati-hati yah, kalau ada apa-apa telepon Saka. Oh ya, kalau lapar minta pada supir untuk mampir ke rumah makan dulu, jangan banyak mengobrol, lebih baik Mbak Nanad tidur saja pas di mobil. Dan_"
"Haish! Banyak sekali sih wejanganmu itu." Potong Hanan, sudah pusing sendiri mendengar celotehan Saka.
Dan hal itu justru membuat Nadia dan Mariam kompak terkekeh.
Saka melotot ke arah Hanan. Lalu merubah mimik wajahnya begitu mendengar Nadia berbicara padanya.
"Iya, Saka. Aku akan ingat semua pesanmu, terima kasih yah." Nadia mengulum senyum, membuat Saka tersenyum pula, malah terlihat lebih lebar.
Dan setelah mengatakan itu, Nadia pamit pada semua orang. Dia mengucap salam dan melambaikan tangannya, sudut matanya sedikit berair, semua kenangannya dengan Hanaf benar-benar tertutup hari ini.
Alhamdulillah. Ucap Nadia dalam hati.
*******
Semuanya terlihat menikmati hidangan yang tertata di piring masing-masing. Tapi tidak dengan Sena, ya ibu hamil itu hanya makan sedikit-sedikit, dia takut tubuhnya bertambah gemuk, karena semenjak hamil timbangannya sudah bertambah sepuluh kilogram, padahal usia kandungannya baru menginjak enam bulan.
"Sayang, kenapa makannya seperti itu?" Tanya Hanan, membuat semua orang menatap ke arah Sena secara bersamaan.
Sena melirik Hanan dengan bibir yang mencebik. "Takut gemuk." Balasnya singkat.
Balasan yang membuat Saka tergelak kencang, dan langsung mendapat pelototan dari mata Hanan.
Saka terdiam, sedangkan Hanan menghembuskan nafasnya secara perlahan, dia mengusap pipi Sena. "Sayang, aku sudah bilang berapa kali, mau bentuk tubuhmu seperti apapun aku akan tetap mencintaimu, yang terpenting sekarang, kamu dan anak kita sehat." Ucap Hanan begitu lembut.
"Iya, Sen. Jangan pikirkan hal lain, nanti kamu malah stres." Mariam ikut menimpali.
Tapi Sena masih kukuh, dan Hanan tidak menyerah dia masih terus membujuk Sena agar mau makan lebih banyak, supaya asupan yang masuk ke dalam tubuhnya terserap baik.
Dan saat Hanan tengah sibuk membujuk Sena, tiba-tiba pintu rumah diketuk oleh seseorang. Membuat satu keluarga itu menghentikan aktivitas dan saling memandang.
"Biar Saka yang buka, siapa tahu Mbak Nanad balik lagi." Ucapnya bercanda, dan langsung mendapat tabokan kecil dari Mariam.
"Hehe, bercanda, Ma. Yaudah Saka buka pintu, yang lain lanjutin aja makannya."
Setelah mengatakan itu, Saka berlalu dari meja makan, dia melenggang ke arah pintu utama, dan membukanya.
Di luar sana, berdiri seorang wanita cantik dengan tubuh yang begitu proposional, bahkan senyum menawan dengan lesung di pipinya semakin membuat wanita itu tampak begitu sempurna.
Dia, Airin.